Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Battle Royale




Kami sudah berada di tengah-tengah arena, kami saling berhadapan satu dengan lainya, sementara Sebastian yang mengawasi kami bertarung, Wajahnya yang sangat tenang bagaikan air danau.


"Peraturannya sederhana. Kalian cukup bertarung satu sama lain sama seperti biasanya, Kelompok yang berhasil masuk ke Wilayah lawan dan mengalahkan semuanya ialah pemenangnya, lalu jangan gunakan senjata sungguhan, kalian akan hanya menggunakan senjata biasa, lalu jangan sampai membuat lawan sampai terluka parah, Aku harap kalian tidak keterlaluan." "Aku akan mengawasi kalian hingga akhir kalau sampai kalian melanggar maka aku yang akan secepatnya bergerak!" Tegas Sebastian kepada kami.


"A--- aku takut. Apakah ini akan baik baik saja, firasat ku mengatakan bahwa ini bukan hal yang baik" Lirih Laila di sampingku.


"Tenanglah. Aku yakin kita akan baik-baik saja" ucapku menenangkan dirinya


" Tapi aku masih tidak yakin karena a--- aku tidak sekuat kalian" Ucapnya.


" Jika kau merasa seperti itu, kau tidak akan bertambah kuat, kau tahu Sesungguhnya kekuatan itu berasal dari Dasar hatimu dan akan berkembang menjadi sesuatu yang kuat sesuai dengan keyakinan yang kau miliki, Lagi pula aku tidak sekuat apa yang kau bayangkan, Kau dengar bukan kata Kak Sebastian, aku pernah kehilangan kendali Jadi tenanglah kau bukan satu-satunya" Jelasku dengan tenang.


"Apakah itu benar, Terimakasih Adria, aku akan berusaha, tapi bukankah kau saat Uji Percobaan beberapa minggu lalu kau berhasil mengalahkan Pak Hilary dalam Satu kali Serangan, Kau tidak sama sepertiku, Saat percobaan itu aku tak berhasil menyentuh Penguji sedikit pun." Ucapnya yang membuatku seketika tercekak


"Ah itu yah, Kalau itu mungkin saja Pak Hilary sedang tidak fokus, jadi aku berhasil mengalahkannya dalam ujian itu. " Kataku sambil menundukkan kepala.


"Dari tadi kalian membicarakan apa!?" Tanya Kurtis yang mengagetkan kami berdua.


"Tidak, bukan apa-apa, ini tidaklah penting." Balas Laila.


"Kalau begitu kalian Fokuslah, Pertarungan kita akan segera dimulai Aku harap kalian dapat mengalahkan Kakak kelas kita dengan mudah, terutama untuk Kak Flavian Aku kesal dengannya" Jelas Kurti


"Baiklah. Ayo kita bersiap, sepertinya mereka sudah tidak sabar menghajar kita berempat" ucap Fabian.


Sementara itu, Sebastian langsung membuat sihir perlindungan.


" Vallus" Ucapnya Yang kemudian dinding berwarna putih Transparan memisahkan antara Arena dan tempat duduk.


Kami pun mengambil senjata kami yang terdapat di tengah arena, Aku mengambil Pedang kayu, sementara Laila mengambil Tongkat kayu, semua Senjata terbuat dari kayu. Karena kami tidak boleh menggunakan senjata sungguhan, Sejujurnya itu membuatku terbebani.


Aku bosan dengan pedang kayu seperti ini.


Pertandingan pun di mulai, Sebastian telah memberikan aba-aba Kami pun bersiap di arena. Aku dan Kurtis akan menjadi Penyerang, sementara Fabian akan menjadi Penjaga kami, dan Tiana ia yang menjaga Wilayah. Tanpa peringatan,


Mereka sudah mengeluarkan kekuatan mereka dan berhasil mengenai kami.


aku pun tidak mau diam saja, Aku segera melapisi Pedangku dengan Mana dan mengarahkan kemereka, Sementara Kurtis Mengeluarkan daun kecil yang runcing mengambang di atas. Kemudian ia menembakkan daun² itu secara membabi-buta ke arah Flavian, Flavian pun menghalangi dengan sihirnya, kemudian Dedaunan itu jatuh begitu saja, namun Kurtis Langsung menambahkan kecepatannya. Sementara aku Membalut pedangku dengan mana, dan kemudian menggunakan Teleportasi menuju Tracy. dengan cepat aku sudah berada di belakangnya, Kemudian aku pun mengarahkan pedangku kearah lehernya, namun sayang seranganku digagalkan olehnya, ia menggunakan sihirnya untuk membuat penghalang dari tanah danan refleks aku langsung mundur kebelakang, Dan menyiapkan kembali kekuatanku, Sementara itu Fabian berlari ke Wilayah Lawan dengan cepatnya Kemudian ia terbang dan menarik Busur yang sedari tadi ia genggam. Kemudian Anak panah yang di selimuti mana dan sihir tersebut, Menuju ke arah Prissy yang sedang melihat kami bertarung seperti yang aku duga, panah itu berhasil di jatuhkan dengan Sihir Gravitasinya, kemudian Prissy mengarahkan tangannya ke Arah Fabian dan Fabian jatuh Seketika pertarungan ini seperti berat sebelah, karena Kakak kelas kami memiliki sihir yang jauh lebih kuat dari kami, Kami pun tidak mampu melawan mereka sama skali.


"Cepatlah tunjukan kekuatanmu, bukankah kau adalah anak dari Profesor paling Jenius di Cerelium" ucap Prissy kepada Fabian yang sedang tidur di atas tanah.


"Diamlah aku tidak sama seperti Ayahku." balas Fabian yang diselingi rintihan kesakitan"Aaargghhhh" rintihnya.


Sementara itu Kurtis yang sedang menghadapi Flavian, Terus mengeluarkan Dedaunan itu tanpa henti, kemudian ia berkata.


"somnia illusio" Ucapnya yang membuat kabut tebal berwarna Putih mengelilingi Flavian dan kemudian ia mengeluarkan senjatanya itu kembali Terdengar suara sayatan dan rintihan di dalam kabut tersebut.


Sementara aku tengah sibuk menghadapi Kak Tracy dengan semua kemampuanku lalu aku kembali menggunakan sihirku pada pedangku Aku gunakan sihir air agar pertahanannya hancur.


"Aqua defense" Ucapku sambil mengarahkan pedangku kearahnya, lalu air dari pedangku mengenai dinding Tanah yang ia buat, seketika dinding itu runtuh dan sihir yang aku gunakan mengenai lehernya, ia pun basah terkena air.


"Cukup bagus, aku kira kau hanya bisa menggunakan sihir Teleport, tapi kau juga bisa menggunakan Sihir lainya, baguslah aku akan serius kali ini" ucapnya.


Sementara kami bertarung Laila Memasang Sihir di sekitar Wilayah kami agar mereka tidak bisa masuk kedalam.


Sementara kak Flavian masih terperangkap di dalam kabut yang di buat Kurtis, berpuluh puluh daun runcing mengarah ke dalamnya yang membuat Kak Flavian kesakitan seketika Kabut itu menghilang seakan terhisap oleh sesuatu dan Flavian pun terlihat tengah berdiri sambil mengangkat tangan kanannya ke atas kemudian muncul sebuah lubang hitam yang tidak terlalu besar, lubang itu membuat Curtis tertarik kedalamnya.


"Dimension" ucap Fabian.


"Kau fikir sihir seperti itu mampu membuatku terluka" Ucap Fabian Meremehkan.


Sementara itu Curtis berusaha terbang dengan kedua sayapnya agar tidak tertarik kedalamnya.


"---ah mana mungkin seharusnya ia terluka parah, tapi kenapa ia baik² saja bahkan pakaiannya sama seperti sebelumnya" gumam Curtis.


" Floral tower" Ucap Kurtis yang membuat sebuah tanaman hijau berduri muncul dari tanah dan kemudian menariknya. Kurtis pun berhasil lolos dari sihir Flavian.


" Sial, sial, sial." Gerutu kurtis


"Aku tak tahu dia sekuat itu, seharusnya aku tidak meremehkannya dan lebih berhati hati" Ucapnya.


" Aero dinamica" Ucap Laila tiba tiba yang membuat mereka terhempas cukup jauh, sementara kami bertiga bersiap melancarkan serangan balik, Lalu dengan kesempatan ini kami bertiga pun menyiapkan Serangan dengan menyatukan kekuatan kami ber empat.


" Floral Poisen" (Tanaman beracun)


" Dark Flame" (Api Kegelapan)


" Crystal Dimensions"(Cristal Dimensi)


" Trinity Attack" Teriak kami bertiga


Kemudian Daun yang diciptakan oleh Kurtis menyatu dengan Cristal yang dibuat Fabian, sementara Sihir apiku Menyelimuti Cristal Fabian... dan Sihir Angin Tiana membuat Cristal meluncur jauh lebih cepat dan mengenai mereka berempat.


Mereka pun terkena sihir kami, tubuh mereka terbakar dan terkena racun. Kemudian Sebuah Cahaya yang menyilaukan mendekat ke arah kami. Kami pun menghalangi penglihatan dengan sihir.


" lux Illusion" Teriak Illan.


"Kalian Berempat tidak akan bisa keluar dari Illusi yang aku buat ini Illusi ini akan membuat kalian merasakan rasa sakit yang amat parah jika kalian memberontak" Ucapnya.


" Tidak, bagaimana mungkin semua dengarkan aku! Berusahalah agar tetap sadar, atau sakiti diri kalian sendiri, karena hanya itu cara agar kita bisa terlepas dari Illusi yang ia buat" Teriak Fabian kepada Kami bertiga.


Lalu kami pun melakukan apa yang ia katakan, kami berusaha tetap sadar sementara Fabian Menghisap Sihir itu kedalam Dimensinya.


"Dimension" Teriaknya.


Kemudian sihir itu menghilang, tanpa kami sadari mereka sudah berada di wilayah kami, dan Tiana tengah menghadapi mereka ber empat, dengan sekuat


tenaganya.


"Tiana bertahanlah kami akan membantumu" Ucap kurtis.


Kami pun sesegera mungkin mendekati mereka, aku berlari sekencangnya sementara Fabian dan Kurtis terbang.