Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
One day II.




Tanpa aku sadari hari yang aku nantikan tiba, Kak Xander dan Kak Serena datang mengunjungi diriku nanti siang. Karena ini hari libur, dan kemarin Kak Sebastian juga sudah memberikan kami hari libur juga untuk hari ini, jadi aku akan pergi keluar bersama mereka, aku bosan beberapa bulan ini selalu di Academy, aku juga ingin mengelilingi Cylia.


Mentari pagi menembus jendela kamarku, aku yang baru selesai mandi merasakan kehangatan yang di berikan sang mentari. Aku berganti pakaian dengan sebuah gaun berwarna biru tua panjang di bawah lutut, yang berhias motif Mawar putih di sisi bagian bawahnya, terdapat pita yang di sisi kiri pinggang ku, berhias permata biru di tengahnya, dan sepatu Hitam berukiran mawar.


Rambut Hitam ku yang panjang di atas pinggang aku gerai, di kedua sisinya aku buat kepangan dan diberi jepitan mawar putih, setelah semuanya aku rasa siap, aku mengambil tas selempang biruku dan pergi dari kamarku.


Aku membuka pintu kamar perlahan, dan kembali menutupnya, para Siswi perempuan sangat ramai di koridor Asrama, dengan pakaian Casual mereka, kebanyakan mereka menghias wajahnya. Penampilan yang tak biasa di Academy, karena kita lebih sering memakai Seragam, dari kejauhan Kak Prissy dan Kak Tracy melambaikan tangannya ke arahku, aku pun berlari mendekati mereka, di belakang mereka Laila tengah duduk di atas kursi Asrama, Kak Tracy memakai dress biru dengan rompi berwarna hitam, rambut birunya di gerai dan dihiasi pita biru tua, lalu Kak Tracy memakai baju dengan model yang sama tapi Dress nya berwarna Oranye tua, Rambut coklatnya yang bergelombang ia ikat dengan pita jingga tua, merek berdua juga memakai Sepatu hitam yang sama. Lalu Laila yang memakai Gaun putih kebiruan yang terbuat dari sutra, gaun Khusus para malaikat, yang berhiaskan sulaman dedaunan yang terbuat dari perak sungguhan, rambut biru mudanya ia sanggul dan di beri jepitan angsa perak di bagian atasnya.


Mereka sangat cantik tak seperti biasanya, terlebih lagi Kak Prissy dan Kak Tracy yang memakai Dress yang sama, sejujurnya ini kali pertama para Dewan liburan dan memakai pakaian Casual, aku sangat bahagia, Laila juga terlihat sangat cantik dan lembut, ia tak menghiasi wajahnya sedikitpun, dari kejauhan aku lihat para Dewan Sihir pria tengah menunggu kami, aku hanya tertawa kecil melihat Kurtis yang kelelahan menunggu, dan Kak Sebastian yang kesal karena kami.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Sepertinya para pria kelelahan menunggu kita." ujarku.


"Biarkan saja, aku tidak perduli. Untuk apa memperdulikan para pria di bawah sana." celetuk Tracy, kemudian tertawa lepas melihat para pria di bawah.


"Sudahlah, ayo kita turun." ujar Kak Prissy sambil mendorong Aku dan Kak Tracy, Laila bangkit dari duduknya dan mengikuti kami dibelakang.


•••


Kami berempat sampai di depan gerbang, para pria terlihat sangat kesal dengan kami, sementara Kak Illan yang tengah menyelidiki Gedung Asrama, aku tahu pasti dia tengah mencari Kak Naomi. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya, lagi pula itu urusannya. Kak Prissy mendekati Kakakku, lalu berdiri di belakangnya.


Kak Illan mengenakan jas yang terbuka berwarna hitam yang bersulam benang emas, serta kemeja biru muda yang terbuat dari sutra, dan rompi biru tua yang tepian kerahnya di hiasi emas murni. Wajahnya terlihat sangat tampan, mata birunya berkilau di bawah sinar mentari pagi. Rambut hitamnya sangat rapih tak seperti hari biasanya, bagian kirinya ia kepang dan di selipkan di belakang telinga, aku tak tahu Kakakku setampan ini, senyumannya sangat manis mirip seperti Ayah, ya secara keseluruhan ia memang seperti Ayah kami.


"Illan, apa yang kau sedang lakukan. Kalau mencari Naomi ia sudah pergi sejak Fajar tadi." ujar Tracy.


"Dia pergi kemana?" tanyanya acuh.


"Aku tidak tahu, bukankah Count Victoria dan Countess Victoria sudah datang jam delapan tadi."


"Kenapa kau tidak menghubungi aku pagi tadi."


"Ekhem... " aku mengganggu pembicaraan mereka.


"Baiklah apa mau mu?" Tanya Kak Illan padaku lembut.


"Entahlah, mungkin kebebasan. Aku bosan berdiri disini, sementara kalian mengabaikan diriku." ujar ku.


Seseorang melangkah ke arahku, aku mengalihkan kepalaku kebelakang dan mendapati Kak Austin yang mendekati diriku.


"Kalau mereka mengabaikan dirimu, bagaimana kalau kita pergi mengelilingi Cylia berdua saja?" tanyanya, ia mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan putih, ia mengenakan jas putih ber sulam emas, serta kemeja dan rompi kebiruan yang bersulam benang perak. rambut biru peraknya tertiup angin, iris birunya terlihat indah di sinari cahaya mentari pagi, dia sangat tampan. Apa aku pantas berdua dengan pria seperti dirinya. Beberapa Siswa perempuan melihat kami berdua iri, di belakangnya.


"Yah, Baiklah" jawabku semangat, tidak memperdulikan sekitar kami.


"Mereka berdua sama saja." gerutu Kurtis yang tengah duduk di atas kursi dekat gerbang Asrama.


"Tidak, Adria akan pergi bersama kami, kau pergi saja jauh jauh dari Adria."ujar Illan, yang secepat kilat sudah menggenggam lengan kananku.


"Tapi bukankah kau akan pergi bersama Naomi nanti, kasihan Adria kalau begitu." Timpal Prissy.


"Sudahlah, kalian ini selalu saja. Lebih baik kita berangkat bersama." usul Sebastian.


"Baiklah." jawab kami semua.


Aku dan Kak Austin bergandengan tangan,  sementara Kak Tracy dan Kak Prissy mengolok olok Kak Illan, merek bertiga berjalan di depan kami semua. Kurtis dan Fabian membicarakan beberapa hal yang hanya mereka pahami, sementara Kak Sebastian dan Kak Flavian diam melihat tingkah kami.


***


"Austin, apakah kau tidak pergi bersama bawahan mu? Kudengar mereka akan pergi ke taman hiburan di Cylia!" celetuk Kak Illan di depan kami.


Kak Austin terlihat geram, namun tetap berusaha tenang di hadapanku.


"Aku tidak terlalu suka pergi dengan mereka."


"Jadi, kenapa seorang Austin sang penerus keluarga Lavles yang terhormat, ingin pergi bersama kami semua yang hanya sekumpulan debu." ujar Illan tanpa berfikir lagi.


"Huh... " dengus nya


"Kalau tidak ada Lady Adria, aku juga tidak akan bersama kalian!"


Semua orang tertawa kecuali Laila dan aku.


"Bisakah kalian berhenti, aku tak mengerti apa yang kalian pikirkan sungguh" ujarku.


"Baiklah, aku akan berhenti. Tapi setelah Xander datang aku tak ingin kalian berdua lagi."


"Ya, bukankah Kakak akan pergi dengan Kak Naomi ke Taman hiburan." balasku.


"Anak kecil seperti dirimu tahu apa."


"Kakak!" Teriakku.


"Ya baiklah, maaf."


***


Tiga jam kami menghabiskan waktu bersama, sebentar lagi Kak Xander dan Kak Serena akan tiba di Academy. Kami pun berpisah dan bertemu orang tua kami masing-masing, kak Illan mengikuti diriku menuju gerbang Academy. Sedari tadi ia mengoceh beberapa hal yang tidak jelas, aku hanya mendengarkannya sesekali aku bertanya, walaupun itu tidak penting.


Kemudian kami pun sampai setelah berjalan cukup lama menuju gerbang Academy, aku duduk di kursi yang berada di dekat gerbang, dan Kak Illan yang berdiri di sampingku. Beberapa menit kemudian kereta kuda pun sampai, Kak Serena melambaikan tangannya ke arah kami, aku membalasnya dan kemudian berdiri dari dudukku.


Satu kereta kuda Utama, tempat Kak Xander dan Kak Serena, lalu satu kereta kuda biasa di belakang, tempat para pelayan.


Mereka berdua turun dari kereta, beberapa pelayan membawa beberapa bingkisan di tangan mereka, mereka masuk kedalam Academy untuk menaruh itu semua di kamarku, aku memberikan kunci kamar kepada kepala pelayan, seorang wanita berusia 36 tahun, bernama Madame Kyle Walker.


Serena memeluk diriku erat, aku membalas pelukannya, rasa rindu selama dua bulan ini sangat menyakitkan, entah kenapa mereka tidak pernah datang, seharusnya Kak Serena sendiri saja yang menjenguk ku di Academy.


"Bagaimana perkembangan mu dua Minggu ini." tanya Kak Xander.


"Yah, begitulah." balasku.


Aku pun melepas pelukan kak Serena, dan menatap kedua Kakak laki-lakiku.


Kak Xander menatap Kak Illan dengan tatapan tajam, Kak Illan pun membalas tatapannya, Xander terlihat sangat terkejut ketika mata mereka bertatapan, aku melihat mereka merasa ingin tertawa.


"Jadi, bagaimana Devillia saat ini? Lalau bagaimana kondisi Ayahanda?" tanya Illan dengan santainya.


"Kondisinya baik-baik saja. Namun, ia sangat sibuk beberapa bulan ini." balas Kak Xander.


"Maafkan aku, apabila ia membuat dirimu sibuk, aku dengar dari Adria, Ayah menyerahkan pengawasan Adria seluruhnya padamu, pasti Kau Kesusahan bukan." ujar Illan.


"Ini sudah jadi tugasku, aku tidak masalah."


"Baiklah, ayo kita naik. Aku ingin pergi mengelilingi Cylia." ajakku.


Aku menarik lengan Kak Serena menuju kereta utama, merek berdua pun mengikuti di belakang kami.


"Kak Serena, aku ingin seharian penuh mengelilingi Cylia, aku bosan menghadapi masalah di Academy, dan harus berurusan dengan murid yang bermasalah. Mereka membuat diriku pusing, terlebih lagi tugas dewan yang banyak...


"Lalu Kak Illan tak pernah mengerjakan tugasnya, lalu menyerahkan pekerjaannya pada teman sekelas ku."


Illan tecekat mendengar perkataan ku, aku tertawa licik, Kak Xander tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, sementara Kak Serena menutup tawanya dengan tangan kanannya.


"Aku lapar, sebaiknya kita mampir ke Restoran terdekat." ujar Kak Illan.


"Baiklah, kita makan dulu." balas Kak Xander.


"Tapi aku ingin pergi membeli sesuatu, makannya nanti saja."


"Tapi aku mau makan sekarang, urusanmu nanti saja."


"Kalian bisa diam tidak, apa kalian tidak malu sudah dewasa masih saja berdebat."


"Yah, bukan salahku," balasku.


"Yang akan membayar itu aku, jadi aku yang akan mengatur kalian berdua bocah."


Kak Serena tertawa kecil, dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


***


Cylia Heaven, itu nama restoran yang kami datangi, Restoran ini menjual makanan laut yang paling lezat di Cylia, beberapa Keluarga Bangsawan dan pengusaha yang menjenguk anaknya bersekolah di Filadelvia mengunjungi restoran ini. karena Cylia yang merupakan pulau kecil, hanya restoran ini yang paling mewah dan terbesar, dan juga menjual beraneka ragam makanan laut.


Aroma makanan laut memenuhi Restoran yang berbentuk setengah lingkaran itu, aroma yang sangat lezat yang menusuk hidung, sehingga membuat siapa pun lapar dibuatnya, bau kecap manis dan juga saus tiram tercium sangat harum yang bercampur dengan ikan dan berbagai makanan di sana. Entah kenapa, aku berubah menjadi lapar setelah ini. Aroma ikan bakar yang berbalut kecap manis pun menusuk hidungku, aku ingin segera turun dari kereta dan memesan semua makanan di sana.


"Kakak, cepatlah aku ingin turun." ujarku.


Mereka bertiga hanya menggeleng melihat tingkahku yang sudah lapar, kusir kereta memberhentikan kereta kuda di belakang kereta lainya. Kami bertiga turun dari Kereta, yang kemudian di sambut beberapa pelayan Restoran itu.


Aku berjalan perlahan di belakang Kak Xander, Kak Illan berada di samping kananku, Kak Serena di belakang. Kami di antar oleh salah satu pelayan kelantai atas, kami pun duduk di meja VVIP yang terletak di bagian Luar, meja berwarna hitam yang terbuat dari marmer, yang diatasnya berukiran kerang dan bintang laut, lalu kursi yang seperti sofa, yang sangat empuk berwarna tosca.


Suasana dari atas terlihat sangat indah, air laut yang bergelombang, para nelayan yang tengah menangkap ikan, serta para wisatawan yang menikmati indahnya pantai Cylia.


Panorama yang memanjakan mata, sama persis dengan pantai Aria. Aku jadi rindu rumah.


"Pesan semua yang kalian mau, aku sudah memesan dari tadi." ujar Kak Xander.


Kemudian aku mengambil buku menu yang terletak di atas meja, segala jenis makanan dengan harga yang luar biasa mahal berderet berurutan di tiap lembar. Aku pikir, bahkan seorang iblis seperti kami masih makan makanan seperti ini, makanan yang membuang buang uang.


Setelah puas aku melihat lihat daftar harga yang bisa membuat uang jajan mingguan ku habis, aku pun memilih Lobster dan Jus, Kak Illan memesan Ikan bakar dan Teh, lalu Kak Serena yang memesan Ikan Salmon dan jus.


"Apa Kakak baik-baik saja, jangan-jangan. Kakak mengambil uang dari pajak Aria." Celetukku.


"Apa kau pikir kita semiskin itu Sampai  aku melakukan korupsi Adria?."


"Yah, soalnya kata kak Prissy pemimpin desanya pernah melakukan korupsi, terlebih lagi kakak yang menguasai satu wilayah." timpal ku.


"Terserah kau saja, lebih baik kau fokus dengan masa depanmu, karena kau pasti akan menjadi seorang Grand Duchess."


"Kalau begitu, aku akan menikah dengan Austin, bukankah dia pria yang meyakinkan."


Kak Xander dan Kak Illan tercekat mendengarnya, mereka batuk disaat yang bersamaan.


"Pria yang seperti itu tak pantas menjadi suamimu." ucap mereka bersamaan.


"Tapi aku akan menjadi Duchess Lavles, aku tidak perduli dengan kalian, lagi pula Kak Xander, Kak illan akan menikah bersama Kak Naomi nanti."


"Adria, kau harus berada di tingkat ke delapan, baru membicarakan tentang pernikahan." ucap kak Xander kesal.


"Aku ada di peringkat ke empat, berarti empat lagi bukan, tapi tujuanku adalah peningkat ke 12, aku tidak ingin lemah."


"Bagaimana pun caranya, kau harus menjadi seorang Swordmaster, bukankah kau ingin melampaui kedua kakakmu?" balas Kak Illan.


"Kalian ini, aku bukan kalian yang hanya mengandalkan penampilan dan kekuatan, aku tak sehebat kalian paham."


"Tunggu, berarti tidak secara langsung Adria memuji kami berdua Tampan dan kuat, begitu." ledek Kak Illan.


"Terserah kalian!" kesalku.


Beberapa saat kemudian pesanan kami sampai, para pelayan itu melayani kami dengan lembut, sesaat aku melihat kebawah, kereta kuda berwarna putih, dengan Symbol keluarga Lavles berhenti di depan gedung restoran, Austin dan Ayahnya keluar dari sana, kemudian ia melihat keatas Restoran ini, mata kami pun beradu.


Kak Illan yang melihat diriku langsung menutupi mataku dan mengalihkan pandanganku kearahnya.


"Adria, cepat makan sebelum makanan mu dingin." ujarnya.


Kami berempat pun menyantap makanan kami, aku menyeruput segelas es di hadapanku dan kembali menyantap lobster yang besar, hampir memenuhi piringku.


"Setelah ini aku ingin pergi pandai besi. Kalian pergi saja sesuka kalian." ujar Kak Xander di tengah kami makan.


"Aku ikut." sahut kak Illan di sampingnya


"Baiklah." balasnya.


Selesai makan, kami kembali menuju kereta kuda, aku melihat sekeliling yang semakin ramai pengunjung, Austin juga terlihat di lantai tiga Restoran ini, ia tengah menyantap makanannya bersama Ayah dan adik kecilnya. Kami berempat langsung masuk kedalam kereta.


Sesampainya kami di depan pandai besi, mereka berdua  turun dari kereta, meninggalkan aku dan kak Serena. Kereta pun melaju meninggalkan mereka berdua.


°•°•°


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" tanya Illan.


Aku melihatnya sesaat, Lalau pergi kedalam tempat pandai besi itu, Illan mengikuti ku tanpa rasa ragu. Seorang Dwarf yang cukup tua berusia ratusan tahun menatap kami lekat lekat, aku merogoh saku dalam jasku mengambil sebuah lempengan emas berbentuk bulat pipih yang ber Symbol Mawar putih, dan dua buah pedang di depannya. Lalu menunjukkan pada Dwarf dihadapan kami.


Dwarf itu mengangguk kecil.


*Dwarf\=Kurcaci


"Baiklah, akan aku antar anda berdua ketempat itu." ujarnya.


Kami mengikuti Pria Dwarf itu, menuju halaman belakang Tempat Pandai besi berada dan menuju sebuah pintu rahasia yang hanya di ketahui keluarga kekaisaran Devillia, sekitar ±500 silam, Cylia merupakan Kekaisaran Devillia. Namun, karena suatu kejadian Devillia pindah ke benua Tartarus.


Kami berdua menuruni tangga, sementara Dwarf tua itu berdiri di atas sana, menunggu kami Samapi dibawah.


Suasana di dalam siji sangat gelap dan lembab, aku menggunakan sihir untuk menerangi jalan, bangunan ini terbuat dari batu yang bercampur dengan besi yang sangat kuat, tempat ini telah berdiri selama 10.000 tahun lamanya, sampai sekarang masih tetap utuh, karena dibuat secara khusus untuk menjaga rahasia kekaisaran Devillia.


"Kenapa kau menunjukan kepadaku tempat seperti ini?" tanya Illan kepadaku.


"Kau wajib tahu tempat ini, bagaimana pun juga takdir Devillia berada pada tanganmu." balasku.


"Apa Adria tahu tentang ini semua? Tempat ini benar benar rahasia, seharusnya tidak ada yang tahu bukan! Lalu siapa Dwarf yang tadi itu?"


"Dwarf itu bernama  Greg, dia telah lama menjaga tempat ini dan juga merawatnya."


"Kau yakin, dunia tidak akan mengetahui ini, peristiwa 500 tahun silam mungkin akan kembali terjadi."


"Kau pikir, siapa yang menyebabkan hal tersebut."


"Itu. Sudahlah kau malah balik bertanya."


Semakin kebawah, tempat ini semakin gelap dan Berisi beberapa lukisan tua yang sudah lama, di antaranya terdapat lukisan Putria Adrianne Rein de Devillia, yang merupakan Kakak sepupuku. Ia adalah Putri Mahkota Kekaisaran Devillia. Namun, ia telah tiada beberapa tahun lalu, sama halnya dengan adiknya Azalea Rein de Devillia yang pergi 12 tahun silam.


"Entah kenapa aku merindukan dirinya, padahal dia sudah Bereinkarnasi sama seperti diriku." gumam Illan.


"Apa maksudmu?" tanyaku heran.


"Yah, setelah kita kembali ke Academy aku akan menunjukannya padamu."


"Apa tempat ini sangat panjang? Kapan kita akan sampai?"


"Tunggu saja, sebentar lagi kita akan sampai tempat ini tidak sepanjang yang kau pikirkan"


Setelah Iklan bertanya padaku, kami hanya diam setelahnya kami pun sampai di depan sebuah ruangan yang berada di antara lorong ini, ruangan itu tertutup oleh pintu kayu berwarna merah. Aku memegang gagang pintu  dan memutarnya perlahan, pintu terbuka didalamnya terdapat lemari buku tua yang berisikan puluhan buku-buku, serta beberapa senjata kuno.


Aku arahkan sihir kehadapan ku, menerangi ruangan itu, aku menekan tombol lampu yang berada di sisi kanan pintu itu, lampu menyala walaupun sinarnya redup, lampu ini cukup usang, sudah lama ketempat ini tidak di kunjungi seseorang.