Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Illan Constantine.




" Tidak, bagaimana mungkin," " Kalian semua dengarkan aku! Berusahalah agar tetap sadar, karena hanya itu cara agar kita bisa terlepas dari Illusi yang ia buat" Teriak Fabian kepada Kami bertiga.


Lalu kami pun melakukan apa yang ia katakan, kami berusaha tetap sadar sementara Fabian Menghisap Sihir itu kedalam Dimensinya.


"Dimension" Teriaknya.


Kemudian sihir itu menghilang, tanpa kami sadari mereka sudah berada di wilayah kami, dan Laila tengah menghadapi mereka ber empat, dengan sekuat


tenaganya.


"Tiana bertahanlah kami akan membantumu" Ucap kurtis.


Kami pun sesegera mungkin mendekati mereka, aku berlari sekencangnya sementara Fabian dan Kurtis terbang, setelah kami cukup dekat dengan mereka bertiga kami langsung mengeluarkan sihir.


" Floral Wall" ( Dinding Bunga).


" Chrono Manipulasion" (Manipulasi Waktu).


" Blaze of Hell" ( Api Neraka).


Sihir kami pun berhasil menyelamatkan Tiana, Kurtis melindungi Tiana dengan sihirnya, ia membuat dinding di sekitar Tiana, lalu Sihir Waktu Fabian berhasil menghentikan waktu mereka bertiga, Sementara aku berhasil membuat mereka terbakar dalam Sihir Apiku.


" Adria cepatlah menuju Wilayah mereka, lalu kalahkan Illan secepatnya, kami akan menyusul selesai mengalahkan mereka."Ucap Fabian kepadaku aku pun secepatnya Terbang menggunakan Sayap ku, Sayap berwarna hitam kelam muncul dari punggungku, kemudian aku pun terbang secepat mungkin menuju Kak Illan yang tengah bersiap-siap di tempatnya..


" Kalian hebat juga mampu memojokkan kami, tapi kami belum mengeluarkan kekuatan kami sepenuhnya." Ucapnya.


" Kami akan berusaha semaksimal mungkin, bagaimana pun hasilnya aku tidak perduli, karena dalam pertarungan pasti ada kemenangan dan Kekalahan" Tegasku.


" Nona kau Cukup tangguh juga ya." Ucapnya.


Lalu ia berkata kepadaku, dan kata² dia itu hanya aku yang bisa mendengarnya


"~ ~ ~ ~ ~" Ucapnya


"Kemudian... ~~" Ucapnya lagi.


" Bagaimana kau tahu itu, Hal seperti itu hanya di ketahui beberapa orang saja, sebenarnya kau ini siapa" Ucapku.


" Rahasia, lalu untuk pertanyaan mu yang Ke2, aku hanya Manusia biasa, karena aku Ras Campuran jadi aku bisa digolongkan sebagai manusia" Jelasnya.


" Ba--- bagaimana bisa kenapa." gumamaku.


aku benar benarterkejut dengan hal yang ia katakan tadi Itu membuat diriku terancam kau tahu hal yang ia katakan benar² sangat berbahaya bagi Ras Demon dan juga sangat berbahaya bagi diriku sendiri. Karena sudah jelas kami masih di anggap sebagai Musuh Dunia, kalau orang² tahu, pasti seluruh orang² yang masih membenci kami akan berusaha untuk membuat Kekaisaran dalam bahaya.


" Aku mohon jangan beritahu hal itu pada siapapun apapun pasti akan aku lakukan. Aku mohon." Ucapku.


" Darkness" Teriak Illan, Seketika di sekelilingku dan Illan di penuhi Kegelapan yang sangat pekat yang aku lihat hanyalah kegelapan, aku tak bisa melihat apapun Kemudian perlahan Illan mendekati diriku di tangan kanannya ia memegang pedang, lalu ia menyalurkan mana ke pedangnya Ia pun melesat ke arah ku Sementara aku tak mampu bergerak sedikitpun, seakan akan ada yang menahan tubuhku.


Seketika pedang itu menyentuh pinggangku dan aku pun terjatuh. Aku tak mampu berdiri seperti sedang berada di dalam hipnotis yang sangat kuat, Kepalaku terasa sangat pusing, perutku sangat sakit, aku merasa mual, Sementara tubuhku seperti tercabik cabik berkali kali.


" Dark Defense" ucap Illan.


" Kau sudah lihat bukan perbedaan kekuatan yang kita miliki, aku harap kau bisa berlatih lebih banyak agar dapat melampaui kami" ucapnya.


Kemudian setelah ia berkata pada itu padaku, ia menghilangkan sihir kegelapannya dan melesat ke arah teman² ku dan dengan begini kekalahan sudah berada di depan mata, karena teman² ku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka berempat sementara aku hanya berdiam diri menahan rasa sakit di tubuhku akibat serangan yang tadi Ia berikan.


Kemudian Tracy Mengeluarkan sihirnya.


" Undinee Terra" Ucapnya yang membuat tanah menjadi bergelombang dan membuat keseimbangan mereka tidak stabil.


Kemudian Prissy mengeluarkan sihirnya.


" High Gravity" Teriaknya.


Gravitasi di sekitar mereka seakan menjadi sangat berat yang membuat Kurtis dan yang lainnya jatuh, mereka bertiga tidak bergerak sedikitpun kemudian Illan pun membantu mereka bertiga.


" Flame Darkness" ucapnya.


Lalu Api Hitam mengelilingi mereka bertiga, dan mereka pun berhasil mengalahkan kami.


"Dengan ini semua, kami menang." Ucap Flavian dengan bangganya.


Prissy dan Tracy sangat senang akan hal itu kemudian mereka mengembalikan keadaan seperti semula, Api hitam Illan pun menghilang.


Di waktu saat Illan melepaskan Sihirnya, Sebastian mendekati diriku ia berlari cukup cepat ke arahku.


" Adria, Apakah kau baik² saja" ucapnya padaku penuh dengan ke khawatiran


" Ah, Mu--- mungkin Tubuhku terasa sangat sakit, A--- aku tak bisa bergerak sejak tadi" Kataku terbata bata.


" Aku akan menyembuhkan dirimu, Bertahanlah, aku akan membicarakan hal ini pada Illan." Ucapnya.


" Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri. Tenanglah, lalu jangan mempermasalahkan hal ini, lagi pula aku yang tidak hati hati." ucapku.


" Tidak! kau harus secepatnya di bawa ke ruang kesehatan. Aku akan segera menyembuhkan dirimu" Tegasnya.


Kemudian ia pun membawaku keluar Arena ia membawaku ke ruang kesehatan, dan kami masuk kedalam, di dalamnya ada seorang Gadis yang sedang duduk di atas kursi berwarna putih, ia berambut hitam kelam bergelombang di atas pinggang, ia memakai seragam Perak, serta jas berwarna putih, ia memakai kaca mata berwarna hitam, di balik kaca matanya terdapat mata yang sangat indah, mata itu berwarna seperti langit malam yang di hiasi beribu bintang.


Kemudian Sebastian menaruh ku di atas Ranjang yang ada di sampingnya.


"Liz cepatlah, Adria sedang kesakitan, sepertinya ia mendapatkan Serangan sihir tingkat tinggi milik Illan" Tegas Sebastian Khawatir.


" Baiklah, kau juga harus membantuku" ucap gadis yang di panggil Liz itu dengan tenangnya.


Lalu mereka berdua menyembuhkan diriku menggunakan sihir penyembuhan.


" Greater Heal"


Secara perlahan tubuhku terasa membaik, kepalaku pun tidak terlalu pusing, rasa mual ku perlahan menghilang.


" Terimakasih karena sudah menyembuhkan diriku" ucapku pada mereka berdua.


" Sama sama, lagi pula ini memang tugas ku." Ucap gadis itu sambil tersenyum tulus.


" Adria aku akan meninggalkan dirimu, ada urusan yang perlu aku lakukan" Jelas Sebastian.


" Liz jaga Adria baik baik sampai aku kembali" tegasnya.


" Tenanglah, lagi pula aku akan slalu disini aku akan menjaga kekasihmu" ledeknya


" Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu" tegas Sebastian, Kemudian ia pergi keluar.


•Info Dadakan


*Liz merupakan Murid tahun Ke2 yang


memiliki kekuatan penyembuhan paling kuat... Ia merupakan seorang Manusia yang mampu mengalahkan Sihir penyembuhan para Elf dan Peri... Ia juga termasuk salah satu Anggota Dewan Siswa


*Liz adalah adik dari Sebastian,


Nama lengkapnya Elizabeth Vivianne .....


*Marga, Klan, dan asal usul tidak penting disini, murid yang sengaja menggunakan ketiganya akan dihukum, dan yang paling parah di keluarkan dari Academy...


*Kayak peraturan di Kenja no Mago, Ha-ha-ha ( Tawa Rimuru)


Sementara itu Sebastian Menemui Illan yang sedang berada di ruang Dewan Sihir Illan yang sedang menyembuhkan, ketiga Anggota baru mereka yang mengalami luka di tubuhnya, usai Illan menyembuhkan merek bertiga, Sebastian langsung mendekatinya dan memegang kerah baju Illan wajahnya terlihat sangat marah, semua yang berada di ruangan itu tercekak dengan perlakuan yang Sebastian lakukan.


" Illan apa yang kau lakukan pada Adria, sampai ia terluka separah itu, kau sudah membahayakan nyawanya, bukankah sudah aku katakan jangan lakukan hal yang diluar batas" Teriak Sebast yang sedang tersulut emosinya.


" Itu, Aku tidak sengaja, aku tidak bisa mengendalikan emosi ku dan mengeluarkannya begitu saja, aku akan bertanggung jawab kepada Adria." Jelasnya dengan tulus.


" Ah... Kau selalu saja seperti itu. Tak pernah berfikir apa yang akan terjadi selanjutnya" Ucap Sebast sambil membanting Illan ke lantai.


" Sebastian sudahlah, lagi pula Illan sudah mengakui kesalahannya, agipula kenapa kau sampai segitunya, aku tahu kalian adalah Rival, tapi jangan sampai seperti itu. Aku mohon" Ucap Prissy ketakutan.


" Benar, tenangkan lah dirimu, lebih baik kau beristirahat aku tahu kau sedari kemarin cukup sibuk, istirahatlah" Ucap Flavian menyadarkan Sebastian.


Illan pun bangkit dari jatuhnya dan kembali duduk di kursi.


" Sebastian antarkan aku ke tempat Adria, aku akan bertanggung jawab, aku tahu aku keterlaluan Maaf" Ucapnya menyesal.


" Baiklah, Ikut aku." tegasnya.


Illan pun mengikuti Sebastian, mereka berdua Pergi Keruangan kesehatan.




Di saat Sebastian meninggalkan mereka.



" Yang tadi aku hanya bercanda, jangan fikirkan itu" Ucap Liz sambil membenarkan kacamatanya. Lalu ia mengambil sebuah botol berwarna hijau dari Laci.



" Adria, Ini Elixir yang terbuat dari Bunga Luxinia, Elixir ini akan mempercepat penyembuhanmu.



" Tapi, bukankah Luxinia itu adalah bunga yang paling berbahaya bagi Ras Demon, sepertinya aku tidak bisa meminum itu."


Ucapku.




" Tidak mengapa, aku juga tidak terlalu tahu hal itu, itu sudah menjadi Rumor yang paling terkenal di Demonia. Aku juga tak tahu kenapa" ucapku.



" Adria apakah kau sudah membaik" tanyanya.



" Mungkin. Tapi kepalaku masih agak pusing, Tidak apa-apa kok, pasti aku akan sembuh." Ucapku



" Huh, Syukurlah. Kalau begitu aku akan mencarikan obat yang tepat untukmu." Ucapnya.



" Terimakasih Kak Liz." Ucapku.



Lalu pintu di ketuk oleh seseorang, seseorang itu pun berkata.



" Permisi, apakah aku boleh masuk kedalam?" Ucapnya.



" Sebentar akan aku bukakan." Balas Liz.



Kemudian Sosok pria tinggi memakai seragam Dewan Siswa, matanya berwarna biru cerah, rambutnya Abu keperakan masuk kedalam ruangan.



"Austin, Untuk apa datang kemari, tidak seperti biasanya 25 menit lagi masuk kelas. Apa kau ingin berpura pura sakit" Bentak Liz pada Pria itu.



" Liz, aku hanya ingin melihat Adria, kudengar ia terluka akibat salah satu seniornya.Jadi aku pergi melihatnya." Jelasnya.



" Kak Austin, Untuk apa melihatku" Ucapku.



" Apa tidak boleh aku melihatmu yang sedang kesakitan." Balasnya



Kemudian ia mendekati diriku dan duduk di kursi yang tadi Liz duduki.



" Boleh kok, tapi bukankah kakak sibuk Aku takut membuat kakak repot" balasku.



" Yah aku baik baik saja, lagi pula ada yang bisa membantu semua pekerjaanku." ucapnya



Lalu pintu terbuka, terlihat 2 sosok Pria memakai Seragam Biru tua dengan lencana yang terpasang di dada kiri mereka,


Mata mereka terpaku padaku dan Austin.



Tatapan Sebastian sekaan marah karena Austin ada di sampingku, sementara Illan menatapku dengan penuh penyesalan, lalu mengalihkan matanya pada Austin, tatapan matanya seketika berubah seperti burung elang yang siap menerkam mangsanya.



" Untuk apa kau ada disini? Bukankah biasanya kau tidak perduli dengan Wanita, apa yang kau inginkan dari Adria" Ucap Sebastian dengan penuh Amarah yang semakin memuncak.



" Aku hanya ingin menjenguknya, lagi pula Adria tidak keberatan " Balas Austin datar



" Gawat nih, pasti Sebastian bakalan marah besar, aku harus menghentikannya" ucap Liz dalam hati.



Kemudian ia berjalan menuju Austin dan membisikkan sesuatu di telinganya, lalu Austin pun pergi.



" Cepatlah, atau kau ingin aku hancurkan disini juga" Ancam Sebastian pada Illan yang ada disampingnya.



" Baiklah, aku mengerti." Balas Illan



Kemudian ia pun mendekatiku dan duduk di atas kursi putih tadi.



" Adria, maafkan aku. Aku sudah kelewatan tadi... Aku akan bertanggung jawab akan hal tersebut." Ucapnya.



" Kak Illan, Tenanglah aku sudah memaafkan kakak, lagipula aku tahu kalau kakak menguji diriku" balasku.



" Aku merasa bahwa kita pernah bertemu, tapi aku melupakannya, apakah mungkin kakak pernah bertemu diriku karena saat aku melawan kakak, aura kakak sangat familiar" jelasku



Seketika Illan Tercekat, ia seperti menyembunyikan rahasia dariku, dan kata kata yang ia ucapkan saat kami bertarung juga membuat diriku gusar.



" Mungkin hanya firasatmu saja, aku akan menyembuhkan dirimu, kau seperti ini karena aku, jadi biarkan aku menyembuhkan dirimu" ucapnya datar namun penuh kekhawatiran.



Illan pun menyembuhkan diriku dengan sihirnya, Rasa sakit ku perlahan menghilang dan aku sudah kembali seperti sebelumnya.



"Terimakasih, aku sudah jauh lebih baik sekarang, lalu bagaimana dengan yang lain" Tanyaku.



" Yang lain sedang dalam pemulihan, nanti mereka juga sembuh" Ucapnya.



" Ah baiklah, aku akan kekelas nanti, aku tidak ingin melewatkan hari pertamaku" ucapku.



" Tapi kau masih butuh istirahat, jangan paksakan dirimu." Ucap Liz.



"Benar, istirahatlah, nanti akan aku sampaikan pada Bu Eleina" Timpal Sebastian



" Tidak apa-apa kok, lagi pula aku sudah membaik" balasku.



"Baiklah kalau itu keputusan mu, aku akan mengantarmu kekelas." Ucap Illan.



" Terimakasih, baiklah aku akan pergi sekarang" balasku.



Sementara Sebastian tampak kesal dengan prilaku kami berdua, ia sedari tadi menyilangkan tangannya dan menyenderkan tubuhnya di belakang pintu sambil melihat Adria dan Illan.



![](contribute/fiction/7055300/markdown/43907148/1685715751499.jpg)