Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Forest of Death Mist.




Sudah hampir dua bulan Adria bersekolah di Academy Filladevila, dan sekarang waktunya seseorang untuk beraksi.


Seorang pria berusia 28 tahun, memiliki wajah yang tegas, rupawan, serta berwibawa, matanya yang Semerah darah  , tatapan tajamnya itu bagaikan Elang, seekor predator yang hendak mengintai mangsanya. Tubuhnya yang tinggi membuat dirinya tampak sempurna, apalagi Aura yang ia miliki begitu sangat kuat, sampai membuat siapapun yang berada di sekitarnya gemetar, Pria itu ialah Xander Clifford, Seorang Grande Duke yang menguasai Wilayah Timur Kekaisaran Devillia, Anjing setia sang Kaisar Devillia yang sangat patuh.


Hari ini tepat Senin malam, telah satu Minggu berlalu saat Adria berangkat ke Academy, Xander sekarang jauh lebih leluasa untuk menjalankan misi yang diberikan lelah Sang Kaisar Devilia, Lucifer Darkness de Devilia, Mahluk terkuat yang ada di dunia ini, dalam seminggu ini ia telah menuntaskan beberapa misi yang di titah kan untuknya, dan sekarang adalah misi puncak untuknya.


Langit tampak gelap, kabut hitam pekat yang menghalangi pandang memenuhi area, tempat ini merupakan sebuah Area terlarang di Benua Tartarus, yang di sebut dengan "Hutan Kabut Kematian" tidak sembarang orang yang dapat masuk kedalamnya, karna siapapun yang masuk pasti akan mati, karena diserang oleh monster yang sangat berbahaya, serta racun  mematikan yang berasal dari kabut hitam ini.


Xander mengeluarkan sihirnya untuk menerangi pandangannya yang gelap, perlahan ia berjalan menyusuri hutan itu, pohon rimbun yang tinggi menjulang, memenuhi setiap sudut hutan, serta suara hewan buas dan juga monster yang memenuhi hutan terdengar sangat jelas, ringkihan, lolongan, dan suara gemericik air terdengar di telinganya yang tajam.


"Hutan ini sangat gelap, Aura yang di miliki hutan ini pun sangat kuat dan pekat, bau amis darah mulai tercium olehku" ujarnya.


Seekor monster berbulu yang sangat besar  mendadak menyerang Xander dengan sangat cepat dari belakang, Xander melihat kebelakang nya dan langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya lalu menebas monster itu tanpa bergeming. Darah yang sangat banyak keluar dari tubuh monster itu, monster itu pun terjatuh ketanah dengan tubuhnya yang terbelah dua, Xander menusukkan pedangnya ke tubuh monster itu, dan mengambil sebuah batu yang tertanam di dalam mahkluk itu.


Sebuah batu berwarna hijau tua, yang memiliki harga yang lumayan, apalagi kalau di jual di pasar gelap. Batu itu bernama Wild Stone yang ada di setiap tubuh Monster dan juga menjadi inti dari tubuh monster.


Misi Xander kali ini ialah membunuh , seekor monster yang memiliki tinggi sekitar 7 m, dan beratnya sekitar 120 kg. Monster itu bernama Poisen Mist Serpent, monster itulah yang menyebabkan kabut beracun memenuhi Hutan ini.


"Kabut nya semakin menebal, apa mungkin lokasinya sudah dekat" gumam Xander.


Sepanjang jalan Xander berhadapan dengan monster monster berbagai ukuran dan tingkatan, ia juga mengumpulkan Wild Stone dari semua monster itu, di belakangnya terdapat mayat monster yang sudah di tebas olehnya, sebagian dari monster itu tubuhnya terbelah, mengeluarkan darah yang cukup banyak, serta bau amis darah yang sangat menyengat, di sepanjang jalan Xander berhadapan dengan monster yang ingin membunuh dirinya, namun, Xander lah yang membunuh monster monster tersebut.


Suasana kini semakin mencekam, langit malam yang seharusnya di terangi Cahaya rembulan nyatanya sangat gelap yang hanya tertutup kabut hitam yang sangat tebal.


"Hutan ini seperti labirin, kalau aku tidak hati-hati, mungkin saja aku sudah tersesat lebih jauh lagi dari sarang Ular itu" ujarnya




"Sepertinya aku terlalu jauh memasuki hutan ini"


"Dimana gua itu, aku harus secepatnya bertemu Ular itu, dan menyerahkan Demonic Darkness Cristal kepada Yang Mulia" batinnya.


*Demonic Darkness Crystal merupakan Sebuah Crystal yang berada di dalam tubuh Monster terkuat yang ada di dunia, biasanya Crystal itu di berikan secara langsung oleh Monster tersebut kepada tuan yang dipilihnya, untuk menjadi Champions mereka.


Tubuh Xander sudah terlihat kelelahan karena ia mengeluarkan Kekuatannya selama 5 jam penuh, untuk menghalau semua monster tersebut.


"Sudah hampir dekat, Sepertinya di depan sana Gua yang di tempati mahkluk itu" ujarnya


"Apa seharusnya sejauh ini, aku harus secepatnya kesana."


Sekelebat bayangan datang dari arah belakang, sesosok bayangan pria bertubuh tinggi yang melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, melesat dengan kecepatan penuh menuju Xander yang ada didepannya. Pria itu kemudian turun kebawah dan duduk memberikan Hormat pada Xander yang berada di hadapannya itu, Xander yang menyadarinya berhenti melangkah dan melihat kebelakang nya.


"Ada apa kau menyusul ku" tanya Xander.


"Maaf tuan, Saya di berikan titah dari Kaisar untuk menemani tuan, maaf saya baru datang sekarang" ujar pria itu sembari menundukkan kepalanya yang tertutup jubah hitam.


"Apa yang sebenarnya yang mulia pikiran" gumam Xander.


" Gua itu berjarak 5km lagi dari sini, lebih baik kita berjalan, karna aku masih ingin menghabisi monster yang ada disini" ujar Xander.


"Saya akan mengikuti perintah yang tuan berikan" balasnya.


"Lebih baik kita beristirahat, aku sudah kelelahan, dan juga kondisi ku tak memungkinkan untuk pertarungan selanjutnya" ujar Xander yang tampak menyembunyikan kelelahannya.


Suasana malam itu semakin gelap, hampir tengah malam, dan mereka berdua membuat perapian untuk beristirahat sejenak, dan melanjutkan perjalanan esok pagi, Xander tertidur sementara bawahannya itu menjaganya.


Dua hari yang lalu sebelum Xander pergi ke hutan terlarang.


Aria, Minggu September 836.


Wilayah Kekuasaan Grand Duke Eelvia yang berada di timur Kekaisaran Devillia.(Aria Dome)




Suara langkah kaki melangkah di antara lorong lorong, Sir Edward selaku kepala pelayan di Eelvia Mansion berjalan dengan langkah yang terburu-buru, di tangan kanannya ia memegang sebuah surat berwarna putih, yang di beri Stempel Kekaisaran Devillia, kemudian ia pun berhenti di depan ruangan tuannya Grand Duke Xander.



Sir Edward mengetuk pintu dengan sopan dan berhati hati, "Permisi, Saya Edward maaf mengganggu anda tuan" ujarnya.



"Ada apa" ujar Xander dari dalamnya.



"Anda mendapatkan kiriman Surat dari yang Mulia Kaisar Devillia" ujar Sir Edward.



"Masuklah, pintunya tidak terkunci" ujar Xander.



Sir Edward menyentuh gagang pintu perlahan dan memutarnya, pintu terbuka dan terlihat Xander yang tengah berdiri di depan Jendela yang cukup besar, ia menatap arah luar yang diterangi cahaya mentari siang. Wajahnya yang tampan dan tegas terkena sinar mentari membuat mata merahnya berkilau.seakan hanya kesejukan, bukannya kengerian yang selalu Xander keluarkan dari Auranya yang kuat itu.



Sir Edward mendekati Xander perlahan, lalu menyerahkan Surat itu kepadanya. Xander mengambilnya dengan tangan kirinya tanpa melihat ke arah Soe Edward yang berdiri di sampingnya.



"Terimakasih, kau boleh melakukan pekerjaan mu sekarang" ujar Xander sembari membuka isi dari surat yang di pegang nya.



Kepada: Grand Duke Eelvia


Dari: Kaisar Devillia



Aku selaku Kaisar Devillia Mengutus Grand Duke Eelvia, Xander Clifford la Eelvia. Untuk melakukan penyelidikan Hutan Kabut Kematian dan juga Poisen Mist Serpent. Sekian isi surat ini.



The Lord of Darkness,


Lucifer Darkness de Devillia.



"Kenapa Kaisar tidak menyuruhku untuk ke kekaisaran" ujar Xander.



Kemudian  ia memasukkan surat itu kedalam Lemari yang berada di sampingnya.



Hari ini, Selasa September 836.



Tak terasa waktu pun berganti, suasana pagi di hutan itu terasa nyaman sekali sangat berbeda dengan suasana Malam hari yang sangat mencekam serta di penuhi berbagai monster dan hewan buas.



Xander dan bawahannya langsung pergi menuju gua dtempat dimana Ular itu berada, sesaat sebelum mereka beranjak dari tempat mereka, Mereka berdua melatih  mana dan Qi mereka beberapa jam, melakukan meditasi seperti halnya orang lain untuk memulihkan kondisi fisik mereka.



Kabut tebal yang dipenuhi racun itu tetap memenuhi hutan, walaupun mentari menyinari dengan sinarnya, semakin mereka mendekati gua itu kabut nya semakin tebal, racunnya pun tak kalah mematikan. Namun, mereka berdua memiliki kekebalan terhadap racun, karena kesatria Devillia dipersiapkan agar tahan terhadap racun apapun, hingga racun yang mematikan sekalipun.



Mereka berjalan sudah hampir 1 jam, gua itu mulai terlihat jelas walaupun samar akibat kabut yang menebal.




Pria berbaju hitam yang menjadi bawahnya itu mengikuti dirinya dan berdiam diri di depan mulut gua, tanpa masuk kedalamnya. Xander lah yang akan mengambil Batu itu untuk di berikan kepada Kaisar.



"Felix, aku ingin kau diam disini, aku akan masuk kedalamnya" ucap Xander pada bawahannya itu.



"Baiklah, saya mengerti" balas pria itu dan memberikan hormat kepada Xander.



Xander pun melesat begitu cepat kedalam gua, dan berhenti setelah ia menyadari bahwa gua itu terdapat monster yang siap membunuhnya kapanpun. Tanpa berfikir panjang lagi, Xander langsung menghabisi monster itu satu persatu, darah monster itu keluar akibat goresan besar yang dibuat Xander, beberapa monster tubuhnya terpisah, darah berceceran dimana-mana.



"Huh" Xander mendengus lelah.



"Apa gua ini masih sangat panjang, aku tak tahu masih berapa lama lagi aku harus seperti ini" ujarnya.



Xander bertarung melawan semua monster itu tanpa henti, sebenarnya ia tak pernah menyangka akan berhadapan dengan monster di dalam gua, karena seharusnya racun yang ada di dalamnya sangat berbahaya, sampai bisa membuat organ dalam membusuk.



Berbagai monster dari tingkat B sampai S, terus menyerang, di lantai gua penuh darah berceceran dari semua monster itu, Xander tak bergeming menghabisi mereka semua, ia terus masuk kedalam gua, ia sama sekali memperdulikan kondisi tubuhnya yang terlihat kacau, bahkan sangat buruk. Ini semua ia lakukan bukan hanya karena perintah Kaisar, akan tetapi untuk memberikan Batu itu kepada adiknya yang sangat ia sayangi, batu yang dapat melindungi Adria dari segala macam Kekuatan yang berbahaya.



Kemudian Xander menemukan sebuah pintu besar yang berada diujung Gua tersebut, ia membukanya perlahan dengan Qi yang ia miliki. Pintu perlahan terbuka, didalamnya terdapat Ular berwarna putih keperakan, sisik perak yang berbahan logam memenuhi setiap sisi tubuhnya terkecuali bagian sisi perutnya yang berwarna putih cerah, ular itu tertidur lelap, di tengah ular putih itu terdapat batu Cristal yang bernama, Mythical Greatest Crystal. Sebuah batu yang Xander incar untuk ia berikan kepada adiknya. batu itu hampir sama dengan Demonic Darkness Crystal, yang membedakan hanyalah inti dari kekuatan yang terdapat dalam kedua batu tersebut.



"Akhirnya aku menemukannya, aku harus segera mendapatkan batu itu bagaimana pun caranya" gumam Xander.



Wajah tampannya tampak kacau, darah memenuhi jasnya, wajahnya terkena cipratan darah, mata merahnya seakan membara di kegelapan gua. Namun, beberapa saat kemudian ular putih itu terbangun dari tidurnya, dan menyadari ada seorang Iblis tingkat tinggi yang masuk kedalam Sarangnya.



"Sss... Sss... Sss..." Ular itu berdesis kencang.



"Siapa dirimu, apa yang kau inginkan disini?" tanya ular putih itu.



Xander perlahan berjalan mendekati Mist Serpent, Mahluk Legenda yang menjaga Benua Tartarus selama berabad-abad. Ia merupakan Champions dari Maharani Kekaisaran Devillia yang meninggal 12 tahun yang lalu.



"Maafkan aku karena sudah lancang masuk ke tempatmu."



"Aku Xander Clifford Eelvia, Adik Sepupu dari Maharani Azalea Rein de Devillia." jelas Xander.



"Kau adiknya, sudah lama aku tak melihat keluarga Kekaisaran yang mengunjungi Sarang ku semenjak Kematian Lea 12 tahun silam." ujarnya dengan suara wanita yang lembut.



"Lalu apa yang kau butuhkan, pasti ada sesuatu sampai kau harus mempertaruhkan nyawamu sampai harus datang ketempat ini."



"Aku membutuhkan batu Crystal yang selama ini engkau jaga, karena sudah waktunya batu itu di berikan pada orang yang Kak Lea katakan." jelas Xander.



"Maksudmu, untuk gadis itu, aku akan memberikannya, tapi aku ingin gadis itu menjaga batu ini dengan baik, karena batu ini merupakan jantung dari Kekaisaran yang aku jaga selama berabad-abad." Tegas Ular putih itu.



"Baiklah, akan saya sampaikan padanya." balas Xander.



Kemudian Ular itu berubah menjadi sesosok wanita dewasa yang cantik, rambut serta kulitnya berwarna putih, matanya berwarna keperakan. Wanita itu mengambil Batu suci dan memberikannya pada Xander tanpa menyentuh tanah.



Xander pun menerimanya dengan rasa hormat.



"Terimakasih karena Anda telah mau memberikan Batu ini." ucap Xander.



Setelah itu Xander melesat meninggalkan tempat itu, pintunya pun tertutup dengan sendirinya. Ular yang berwujud wanita itu tersenyum, lalu kembali ketempat nya semula, dan berubah menjadi sesosok ular putih yang besar.



~~~ Kekaisaran Devillia ~~~



Di dalam ruangan Kaisar, Xander masuk kedalamnya, dan terlihat sang Kaisar yang tengah duduk di kursinya yang berwarna merah berbalut emas, di depannya terdapat meja berwarna coklat keemasan yang di atasnya terdapat buku buku, tumpukan kertas, pena, dan Cap Kekaisaran, dan juga segelas Kopi.



Wajah sang kaisar tidak pernah menua, ia terlihat seperti seorang pria berusia tiga puluh tahun, matanya berwarna biru tua cerah seperti langit malam, rambutnya hitam berkilau terkena sinar mentari siang. Tidak ada yang pernah menyangka sesosok Kaisar yang berada di hadapan Xander ini sangat lah penyayang, yang dunia tahu ialah Kaisar Devillia merupakan seorang Tirani yang bengis dan kejam, itu fakta. Namun, ia juga memiliki sifat baik dan Penyayang terhadap rakyatnya dan juga keluarganya, kecuali orang luar. Sesosok Mahluk terkuat yang ada di Dunia, dengan Auranya yang sangat kuat dan pekat, tatapan matanya sangat tajam, dirinya penuh dengan wibawa bagaikan seorang pemimpin.



"Terimakasih karena sudah mau melaksanakan perintah dariku, maaf aku selalu membuat dirimu kerepotan, karena seharusnya aku yang pergi kesana." ujar Sang Kaisar dengan suaranya yang tegas.



"Tidak mengapa ini sudah tugas saya sebagai salah satu Kesatria Kekaisaran."



"Xander, aku ingin secepatnya kau memberikan Batu itu kepada Adria, aku sangat menghawatirkan dirinya. Aku takut Kekuatannya kehilangan kendali seperti dulu." ujar Kaisar.



"Baiklah yang mulia, Sabtu ini saya akan pergi ke Cylia untuk memberikan batu ini."



"Kau boleh pergi sekarang, aku tidak akan memberikan tugas lagi untuk dirimu selama beberapa bulan." Tegas sang Kaisar.



"Baiklah yang mulia, Terimakasih," ujarnya.



Xander keluar dari sana dan pergi menuju rumahnya di Demonia. Sebenarnya bia sangat merindukan adiknya, tapi Filadelvia merupakan Academy yang terdapat siswa dari berbagai negara, dan menggunakan sistem Asrama. waktu kunjungan kesana hanya pada hari Sabtu dan Minggu.



![](contribute/fiction/7055300/markdown/43907148/1685954395114.jpg)