
Hari hari ku di Academy perlahan membuat cara ku memandang dunia berubah, dan juga caraku bersosialisasi, entah kenapa aku sangat menikmatinya, walaupun ada beberapa orang yang tidak menyukai diriku, tapi aku tak memperdulikan hal semacam itu, lagi pula aku punya teman-teman ku disini.
Angin perlahan berhembus kencang, masuk kedalam kelas melewati jendela yang terbuka, kami semua memperhatikan Bu Eleina yang menjelaskan tantang sihir, ia menjelaskan semuanya dengan pelan dan lembut, sesekali ia bertanya pada kami tentang apa yang telah ia jelaskan.
Rambut coklatnya di gerai, diberi jepitan berbentuk mawar merah disisi kirinya, sangat cantik dan menawan, seperti seorang ibu.
"Baiklah, apa ada yang bisa menjelaskan tentang sihir pembentukan disini." tanyanya.
Kemudian Fabian yang duduk tepat di belakangku mengangkat tangan kanannya.
"Fabian, apakah kau bisa menjelaskan dasarnya." ucap Bu Eleina.
"Bisa bu." Kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Sihir pembentukan merupakan sebuah sihir yang dapat membentuk sesuatu benda mulai dari partikel terkecilnya dan mengubah benda atau membentuk menjadi benda yang diinginkan. Namun, biasanya sihir pembentukan hanya dapat mengubah benda sesuai massa dengan benda yang akan diubah." jelas Fabian.
"Baiklah, penjelasan mu benar, silahkan duduk." ujar Bu Eleina.
Seisi kelas bertepuk tangan, lalu Fabian duduk di kursinya, aku menoleh kebelakang.
"Kamu sangat pintar Fabian, semua kamu yang jawab, aku tidak sempat menjelaskan, Kamu serakah."
"Maaf, tapi jam pelajaran hampir usai, bagaimana kau ikut dengan aku dan Kurtis untuk istirahat bersama." tawarnya.
"Baiklah, tapi tadi pagi Kak Austin juga mengajakku Istirahat." balasku
"Jadi kau pilih yang mana, Pria yang kau sukai atau kedua temanmu?" tanyanya.
"Entahlah, tapi sebentar lagi kak Austin pasti akan menjemput diriku." Kataku.
"Sepertinya sangat mustahil kalau aku harus bersaing dengan Idola Academy ini." keluhnya "Huh"
"Tapi, bukankah kau juga termasuk salah satunya, seisi kelas ini sangat menyukai dirimu, apa mungkin kau tidak sadar." "Geniusnya kelas satu" ledekku.
"Aku tidak perduli, aku juga tidak menyukai mereka, aku bukan kak Illan."
"Baiklah, Tuan Genius." ledekku lagi.
"Baiklah semuanya, kelas sudah usai kalian boleh beristirahat, tapi tunggu bel berbunyi." tegas Bu Eleina.
"Baik Bu." jawab seisi kelas.
"Benarkan kataku, kak Austin menjemput." ucapku, yang melihat kak Austin yang tengah berdiri di balik dinding kelas.
"Ya, pergilah."
"Bagaimana aku menghampirinya, sedangkan semua siswi di kelas kita mengerubungi Kak Austin." kataku.
"Berarti Adria ikut kami berdua." celetuk Kurtis di depanku.
"Kau menganggu kami saja." balas Fabian.
"Adria, Pangeran berkuda putihmu sudah menunggu, apakah kau tetap diam bersama dua orang pengawal mu." Teriak Flor di dekat pintu keluar.
Kurtis dan Fabian melihat kearahnya, wajah Kurtis terlihat sangat kesal dengan perkataan sepupunya itu.
"Siapa yang kau maksud dengan pengawal." balasnya emosi.
"Entahlah, kenapa kau marah dasar pangeran bodoh."
"Lebih baik kalian diam." ujar Fabian kesal.
"Baiklah, aku akan kesana."
Seisi kelas membicarakan diriku, di Antara mereka berbisik iri satu sama lain, aku hanya mendengarkan samar, aku juga tidak perduli.
Siswi yang mengerubungi Kak Austin perlahan menjauh dan memberi ku jalan, sementara kak Austin aku lihat tengah bersandar di dinding kelas bagian luar, dengan kedua lengannya yang disilangkan.
Austin melihat kearah ku, lalu tersenyum manis.
"Akhirnya kamu keluar juga." ucapnya ketika melihat diriku.
"Maaf." ujarku.
"Kalau begitu kita pergi sekarang, aku sudah bosan berdiri disini." ujarnya.
Sesaat kemudian Kak Illan berlarian kearah kami dengan tergesa-gesa.
"Austin, apa yang kau lakukan. Aku tidak mengizinkan dirimu berdua dengan Adria." ujar Kak Illan kesal.
Aku hanya melihat mereka berdua dengan tatapan heran, tapi sebenarnya aku tahu pasti hal ini akan terjadi, tapi aku tak menyangka akan secepat ini.
"Maafkan aku, tapi aku tidak akan melukainya. Tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang kalau adikku berdua dengan seorang pria licik seperti dirimu, kau tahu seberapa tidak sukanya kami dengan keluarga mu yang hanya memikirkan kekuasaan." ujar Illan.
"Jangan samakan aku dengan ayahku, aku tidak gila kekuasaan seperti dirinya. Lagi pula aku lah yang seharusnya menjaga Lady Adria, karena itu janjiku dulu padanya."
"Persetan dengan janjimu, aku tahu kau berharap memiliki Adria, dan dengan begitu kau bisa menguasai Kekaisaran Devillia. Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan."
"Kalian berdua tenanglah, aku tak mengerti apa yang kalian katakan, Janji, Kekuasaan, memiliki diriku. Apa yang kalian maksud." jeritku
"Adria, maafkan aku, tapi mungkin kau sudah lupa karena waktu itu kau masih berusia tiga tahun." ujar Austin
"Alben?"
"Adria jangan dengarkan dia, dia hanya ingin memanfaatkan dirimu." timpal Illan.
"Maaf kan aku, tapi lebih baik kalian menyelesaikan permasalahan kalian bertiga di tempat lain, apa kalian tidak malu?" sela Fabian.
"Aku tahu permasalahan kalian, aku akan membantu. Bagaimana kalau kita pergi ke Paviliun Academy, di sana lumayan sepi jadi tidak akan ada orang yang akan mendengarkan percakapan kita." sambung Fabian.
Austin dan Illan membalas dengan Anggukan, lalu kami pun berangkat bersama kesana.
Setelah kami sampai, aku duduk di sebelah Kak Illan Fabian di tengah , dan Kak Austin di sampingnya.
"Baiklah, Sebelumnya kalian berdua pasti tahu siap aku, aku mengetahui Rahasia Keluarga Kekaisaran Devillia dan juga masa lalu mereka." ujar Fabian membuat diriku kaget.
"Huh." "Padahal kalian sudah dewasa, tapi kenapa kalian bertingkah layaknya anak kecil." sambung Fabian.
"Aku tahu bahwa Adria adalah, ~~~ dan hal itu harus ditutupi, aku sadar hali itu saat aku berbicara dengannya kemarin saat aku mengantarkan buku bersamanya."
"Tunggu bagaimana kau bisa tahu itu?" sela Kak Illan.
"Aku tahu sebelum Adria dan aku berbicara bersama, tapi lebih tepatnya pada saat aku Pertama kali melihatnya."
"Huh, ternyata rahasia sebesar itu bisa di ketahui seorang Genius seperti dirimu, aku tak menyangka." balas Austin.
"Sebenarnya aku yang menyimpan rahasia aku atau kalian." ujarku.
Mereka bertiga terlihat sangat tertekan, aku tak tahu apa alasannya, dan aku baru mengetahui bahwa Kak Austin adalah teman kecilku. Hari ini benar-benar di luar dugaan ku.
"Maafkan aku, aku tahu ini sebuah Rahasia. Lalu Adria, adalah Mawar putih yang harus kami lindungi." ujar Austin.
"Mawar putih, aku!."
"Adria, kau ingat saat hari pertama, apa yang aku katakan itu benar. Aku tak bercanda atau apapun, sejujurnya Sebastian, Austin, dan Fabian. sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, tapi mereka membantu merahasiakannya." tutur Illan.
"Berarti, tidak mungkin. Kau tahu aku sudah lama mengira kau sudah mati, karena waktu itu semuanya." ucapku tak percaya.
Air perlahan keluar dari mata ku, membasahi pipiku yang kemerahan, aku tak pernah percaya dengan kenyataan ini, dan seberapa rindunya aku dengan sesosok orang yang kini berada di sampingku. Rasa rindu, kecewa, amarah, menjadi satu dalam diriku dan keluar lewat kedua mataku, lalu terjatuh begitu saja membasahi seragamku.
Kak Illan kemudian memeluk diriku, ia mengusap air mataku perlahan dengan jarinya. Aku tak percaya sesosok yang aku rindukan belasan tahun lamanya yang aku kira sudah tiada kini memeluk diriku erat, sesosok Kakak Laki-laki yang sangat aku rindukan dan aku sayangi, yang sekarang Menganti namanya dan membuang nama Darkness. Constantine Darkness, nama asli dari kakakku.
Dua hal yang tak pernah aku bayangkan, sekarang terkuak begitu saja, Austin merupakan teman masa kecilku, dan Illan yang merupakan Kakakku yang telah lama menghilang.
Austin dan Fabian hanya memandangi kami, sementara Illan tetap memeluk diriku dengan erat dan lembut.
Angin perlahan meniup dedaunan yang berada di lantai, sinar mentari membuat mataku silau. Entah aku harus bahagia, marah, atau kecewa. hal yang tak pernah aku duga, kini menjadi kenyataan. Aku menangis hanya karena kakakku, air mataku tak kunjung berhenti tetap mengalir walaupun Kak Illan menyekanya berkali kali, entah apa yang harus aku katakan, aku hanya bisa menangis.
"Maaf kan aku Adria, sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat, sejujurnya selama ini aku juga sangat merindukan dirimu, aku tak ingin kehilanganmu lagi. Maafkan aku telah menjadi seorang Kakak yang buruk untuk mu, maaf kan aku yang telah membuat dirimu menderita selama ini. Aku tak tahu, aku takut untuk kembali, aku takut bertemu dengan dirimu lagi. Aku takut kau marah padaku karena tahu aku masih ada. Maaf kan aku." mohonnya
"Tidak mengapa, Kakak tidak salah, dunia ini yang salah. Tapi aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dunia dan juga masa lalu." balasku.
"Jadi apakah aku sudah tenang, maafkan aku karena tidak pernah kembali menemui dirimu, maafkan aku telah menjadi kakak yang buruk untukmu, kalau tidak ada Xander aku tak tahu lagi siapa yang akan menjaga dirimu." ujar Illan menenangkan diriku.
Aku tersenyum kecil dan menyeka air mataku, "Tidak apa apa, Kakak tidak salah. Aku lah yang lemah." ujarku.
"Baiklah, kita berdua akan pergi" ujar Fabian.
Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan kami, aku tahu Sepertinya masih ada yang ingin mereka bicarakan kepadaku tapi aku menangis, mereka tidak jadi membicarakannya.
Setelah mereka pergi, aku kembali larut dalam kesedihan tangisanku semakin kencang, aku merasa semakin hancur karena kenyataan, tapi aku juga bahagia. Entah apa yang seharusnya aku rasakan, Kecewa atau senang.
"Adria, liburan nanti aku akan kembali ke Devillia, pasti mereka akan terkejut bukan, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi saat aku kembali, karena aku sudah membuang sisi Demon ku, dan Menganti sepenuhnya dengan sisi malaikat. Apa mungkin ayah akan marah!"
"Aku tidak tahu, mungkin saja Ayah tidak akan marah, kalau Ayah marah aku akan membela kakak, aku tahu ayah tidak akan bisa memarahi diriku, karena aku putri yang paling dia sayang." balasku
"Mau aku belikan secangkir teh?" tawar Kak Illan.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
Kami pergi bersama ke kantin Academy, sepanjang jalan Kak Illan membicarakan tentang bagaimana kehidupannya selama ini saat berada diluar. Aku tertawa kecil di saat ia membicarakan hal yang lucu, aku sangat menikmati momen ini, momen yang sudah lama aku rasakan selama tiga belas tahun lamanya. Karena pada sat itu Kakakku di culik oleh Manusia, dan ibuku di bunuh oleh Assassin.
"Adria, bagaimana dengan Ayah sekarang?" tanyanya.
"Entahlah, ayah sekarang sangat sibuk. Bahkan ia sama sekali tidak mengunjungi Aria selama dua bulan ini, dan semua pekerjaannya ia berikan pada Kak Xander." balasku.
"Yah, aku juga merindukannya, dulu dia sangat tegas padaku, padahal aku baru berumur lima tahun, dia sangat kejam. Bahkan memaksaku agar meneruskan gelarnya, aku pikir dia sangat gila. Aku tidak mau menjadi seperti dirinya, lebih baik aku seperti ini."
"Tapi Kakak kan merupakan salah satu dari 100 orang terkuat di dunia, aku akan mendukung ayah kalau seperti itu."
"Kau ini sama saja, aku tidak suka kekuasaan. Apa kau akan berfikir aku pantas menduduki tempatnya?"
"Kau kan anaknya, dasar. Kakak sama sekali tidak pernah berubah." ejek ku.
"Adria juga sama, masih tetap manja seperti dulu, padahal bulan depan kau sudah berusia 16 tahun.
"Lalu bagaimana dengan kakak, tahun depan sudah berusia 18." timpal ku.
"Kau ini." balasnya kemudian mengacak rambutku.
Aku lihat keras langit, seekor burung terbang melingkar di atas, lalu melesat turun kearah kami berdua. Saat aku lihat lebih teliti ternyata itu burung elang milik Kak Xander yang biasa mengantarkan pesan, burung itu diberi nama Remus. Aku tak tahu kenapa Kak Xander mengirimkan pesan lewat burung bukan dengan pos seperti biasanya.
Burung itu kemudian mendarat di pundak kiri ku, Kak Illan yang berada di sisi kananku mengambil Segulung kecil kertas yang berada di kaki kiri burung itu, kemudian ia membukanya.
"Kenapa ia mengirimkan pesan dengan burungnya?" gumamnya.
"Entahlah." balasku.
Kemudian kami membukanya bersamaan.
Aria, 13 Agust 836
Adria, Sabtu nanti aku akan pergi ke Cylia. Aku ingin menjenguk mu, maafkan aku akhir akhir ini aku sangat sibuk, jadi tidak bisa bertemu dengan dirimu. Aku harap kau tidak marah, aku akan pergi bersama Serena. Aku juga akan memberikan hadiah kecil yang di berikan oleh yang mulia Kaisar.
Xander Clifford.
Aku pikir apa ternyata ini, berarti dua hari lagi dia akan kesini bukan.
"Ternyata dia sangat perhatian dengan dirimu yah, syukurlah dia bisa menggantikan apa yang seharusnya menjadi tugasku." ujar Illan.
Aku tersenyum kecil. "Hadiah! Apa yang akan aku dapatkan?" gumamku.
"Mungkin saja buku baru atau apapun itu, atau mungkin sekotak teh edisi terbatas yang sangat langka."
"Hadiah yang aku inginkan hanyalah keluarga kita utuh seperti dulu, tapi itu mustahil ibu telah tiada."
"Tapi ada aku kan, pasti Ibu di sana sangat bahagia melihat dirimu yang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti dirinya."
"Kau sangat mirip seperti ibu, mata merah rambut hitam yang bergelombang." ujarnya.
"Lalu bagaimana dengan kakak yang sangat mirip dengan ayah, mata biru dan rambut hitam." ujarku dan kemudian tertawa kecil.
Burung Elang itu terbang kembali ke Devillia, aku menggulung kembali kertas itu dan menyimpannya di sakuku. Setelah menjalani hari ini, saat sore hari aku kembali ke Asrama, dan membatu yang lainnya mengurus seisi Asrama yang hampir berantakan.
Karena bulan depan akan ada sebuah Festival penyambutan jadi setiap sudut Academy harus di bersihkan dan di rapihkan sebaik mungkin, di Academy kami merayakan dua buah Festival dalam satu semester dan dua buah lagi saat semester selanjutnya. Festival ini bertujuan untuk menyemangati para Murid Academy agar semangat sebelum ujian berlangsung, dan disaat ujian telah usai akan ada Festival pergantian Semester dan juga pertanda ujian telah usai, lalu hari liburan musim dingin dan tahun baru pun tiba, aku tidak sabar kembali ke Aria.