Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)

Lux ET Tenebris (Filadelfia Academy)
Flashback.




Gadis berseragam hitam dengan lencana emas di dadanya tengah duduk di hadapanku, ia membuka sebuah buku catatan dan menuliskan sesuatu di atasnya, sementara di kiri ku duduk seorang pria berambut hitam bermata biru muda, yang tengah ketakutan tanpa alasan yang cukup jelas, aku hanya diam memandangi seisi ruangan bercat Cream dengan furniture nya yang berwarna coklat gelap, di ruangan ini di penuhi beberapa orang berseragam hitam sama seperti gadis di hadapanku ini. Tatapan mereka seakan tidak menyukai keberadaan diriku, Aura yabg mereka keluarkan pun sangat menakutkan, tak seperti Aura kebanyakan orang.


"Huh, baiklah jadi kalian berdebat di hari pertama sekolah." ujar gadis itu


"Baru pertama kali aku menghadap kasus yang seperti ini,aku tidak akan menghukum kalian,aku hanya akan memberikan beberapa nasihat,jadi aku harap kalian tidak mengulangi perbuatan kalian" tegasnya


"Ternyata wakil ketua Dewan sihir juga pembuat onar, aku dikit hanya seniornya saja yang melakukan kekacauan di Academy" gumam pria berambut hitam di belakang gadis itu


"Zephyr diamlah!" tegas gadis di hadapanku


Kemudian pria yang di panggil Zephyr olehnya pergi keluar ruangan, lalu disusul beberapa anggota lainya, mereka menatap diriku tajam seakan sekumpulan predator buas yang hendak memangsa diriku, sejak dulu hubungan antara Dewan Sihir dan Dewan Keamanan memang buruk, mereka selalu mengejek dan bertengkar.


"Baiklah, coba ceritakan detail kejadiannya, aku harap kalian berkata dengan jujur!" ujar gadis itu


Kami berdua pun mengatakan yang sejujurnya, dan di sela sela kami berbicara tentang kejadian itu, kami berdebat yang membuat gadis di hadapanku mengusap dadanya. Setelah dua jam berlalu kami pun selesai membicarakan semuanya, lalu gadis di hadapanku ini memberikan nasehat dan beberapa kata yang membuat kami menerimanya. Kemudian kami pun keluar dari ruangan itu, aku bergegas keluar dan bertemu dengan kak Prissy yang tengah duduk di taman Academy, aku dan dia berbicara beberapa saat.


"Adria apa yang dikatakan Naomi, apa Naomi memarahi dirimu? dia itu gadis yang lembut tapi sangat tegas, bahkan Illan sangat menyukainya sejak pertama masuk,tapi sayangnya Illan diam saja" ujarnya


"Yah entahlah,Kak Naomi hanya memberikan beberapa nasihat, dia juga menjelaskan banyak hal dengan lembut dan tegas, tapi yang membebani diriku adalah Anggota Dewan Keamanan lainnya yang seakan menanggap diriku ancaman"


"Mereka semua memang seperti itu sejak dulu, yah mau bagaimana lagi, sejujurnya sejak dulu Anggota Dewan Keamanan adalah para Siswa yang memiliki Kekuatan Kegelapan, biasanya mereka diisi Ras Demon, arcBeast, Dark Elf, dan lainnya. Sementara Dewan Sihir berisi Anggota yang membuat masalah, contohnya aku" jelasnya


"Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti


"Yah, aku pernah menghancurkan penginapan seseorang dengan kekuatanku saat mengejar penjahat di tempatku" ucapnya malu


"Penginapan?" gumamku


"Aku bahkan jauh lebih parah, aku tak bisa mengendalikan kekuatan terbesarku, dan juga Qi yang aku miliki"


"Qi?" "Aku sangat paham tentang Qi, Sabtu ini aku akan mengajarkan Qi khusus untukmu, tapi kita harus ke perpustakaan untuk mempelajari hal lainya"


"Sekarang saja bagaimana?" tanyaku


"Baiklah, lebih cepat lebih baik" balasnya


Kami pun pergi menuju ruang perpustakaan yang terletak di tengah tengah Academy, di sepanjang jalan aku berbicara banyak hal dengan Kak Prissy, menurutku dia gadis yang sangat baik, tapi dia tidak seFeminim seperti kebanyakan gadis lainnya.


Dilain tempat Kurtis dan Fabian tengah bersantai di Asrama mereka, Kurtis yang tiduran sambil membaca buku, dan Fabian yang sedang membuat sesuatu di mejanya.


"Ah bosan, hari ini sangat menyebalkan" ujar Kurtis yang merebahkan kedua tangannya di kasur.


Aku menoleh kearahnya "lalu apa yang kau inginkan sekarang" ujarnya


"Yah entahlah, aku tidak tahu. Flor sangat menyebalkan, lalu Anak malaikat itu, dia sok banget"


Aku meletakkan alat alat, yang aku pegang. "Kalau begitu, tenanglah, aku tahu terlebih lagi dari pagi sampai siang kita dipermainkan para Senior."


"Bukan kau saja yang kesal, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang"


*Semacam Mpls.


Tiba tiba pintu dibuka dengan sangat kencang.


"Braaakkk" kami menoleh bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan, bermalas-malasan" ujar pria yang membuka pintu tersebut.


"Untuk apa kau kesini Senior?" Tanya ku


"Bukan urusan kalian, aku hanya ingin memeriksa setiap Murid baru disini, kalian bangunlah, kita harus keluar!"


"Aku tak ingin mendengar bantahan kalian sedikitpun" ujarnya sambil mengeluarkan sihir di tangan kanannya.


"Ya baiklah" jawab kami


"Ian sangat menyebalkan, ingin rasanya aku memenggal kepalanya" Kurtis menggerutu


"Sudahlah, ikuti saja dirinya. Kalau tidak kita yang akan dipenggal" bisik ku perlahan


"Dengar, aku yang menjadi penanggung jawab kalian berdua selama sebulan atau lebih, jadi aku harap kalian menuruti diriku" ujar Ian di depan pintu


"Baik Senior" ucap kami berdua pasrah.


"Jadi kita akan kemana?" tanya ku


"Entahlah, mungkin aku akan mengajak kalian ke neraka bersama"


"Omong omong, Tracy menuggu kita di Taman Academy"


"Kak Tracy untuk apa, apa hubungannya dengan kami?" gumam Kurtis


"Kalian cepatlah bersiap, ganti seragam kalian, dasar payah"


"Ingin rasanya aku menghajar pria itu, huh" batin kurtis


"Baiklah, tunggu sebentar kami akan mandi dulu" balasku


"Aku akan menunggu" ujar Ian di hadapan kami.


Aku dan Kurtis pun pergi meninggalkan Ian yang tengah berdiri di depan pintu kamar mereka.


Ian menyenderkan tubuhnya di pintu kamar "Tch, dasar anak anak payah, kalau bukan Sebastian yang menyuruhku mungkin aku tidak akan mau menjadi mentor mereka berdua, "Mereka sangat payah, kekanak-kanakan, lemah, dan terlalu melebih-lebihkan." ujar Ian yang tengah menghitung dengan jarinya


Flavian Ignatius, itulah dirinya salah satu Senior di Dewan Sihir, Kekuatannya berada di atas kami, namun masih di bawah Kak Illan dan Kak Sebastian. Rambut kuning mata Emas, itulah dirinya.


Berbeda dengan diriku, aku hanyalah seorang manusia biasa, tidak memiliki hal Khusus, sedangkan Kurtis merupakan Putra Mahkota Kerajaan Sylvia, Kerajaan Ras Elf yang berada di selatan Pegunungan Aragona. Terkadang aku iri dengan mereka, terlebih lagi Adria yang merupakan Putri Grand Duke Elvia. Sudah sewajarnya Adria memiliki Mana yang banyak, dan memiliki sihir serta tubuh yang kuat. Entahlah, aku hanya iri namun, aku tersadarkan oleh Kak Sebastian yang merupakan salah satu Murid terkuat Academy, walaupun dia hanya seorang Manusia sama seperti diriku.


Kurtis memakai kemeja hitam, dan celana abu-abu, rambut coklatnya ia lap dengan handuk ya yang berwarna kuning. Dari matanya yang berwarna hijau cerah terlihat sangat kesal, aku hanya bisa terdiam dan masuk ke kamar mandi, bergantian dengannya.


"Kurtis, aku harap kau diam saja, jangan membuat masalah dengan orang itu" Ujarku, Kurtis hanya membalas dengan anggukan.


"Kau tahu, pria jenius seperti dirimu sangat berbeda denganku yang berfikiran dangkal, makanya aku menyukai dirimu sebagai teman" ucap Kurtis yang menepuk pundak ku


Aku membalasnya dengan senyuman kecil, "tolong jaga kacamata ku" ucapku sambil melepaskan kaca mata hitam yang menutupi iris biru keabuan ku.


Tracy yang tengah duduk di kursi taman, menunggu keberadaan ketiga rekannya.


"Membosankan, mereka terlalu lama" ujarku sambil merenggangkan kedua tangan.


Aku melihat sekeliling, para murid baru yang memakai baju santai mereka berjalan disekitar taman, ada yang tengah mengobrol satu sama lain, berlari mengelilingi taman, lalu berpacaran, serta ada yang melatih skill mereka dengan merusak fasilitas sekolah, aku tidak terlalu perduli dengan yang terkahir itu, karena urusan Dewan Keamanan.


Dari jauh seorang gadis muda berambut Coklat half Twins, ia mengenakan Dress kuning polos, dan hels putih, ia melambaikan kedua tangannya kepadaku, namanya Moana teman sekelas ku, dan satu ras denganku bisa dibilang dia sahabatku.


"Hai, Tracy lihat aku" ujarnya dari kejauhan, dan kemudian berlari mendekat.


Aku pun membalasnya lambaiannya.


"Duduklah di sampingku" ucapku


"Baiklah, kau sendirian kenapa" ujarnya


"Aku sedang menunggu beberapa orang payah."


"Pfttt, hahaha, siapa orang payah yang sedang kau tunggu, apa mungkin Flavian" ujarnya


"Yah begitulah" balasku


"Huh. Kau ini memang aneh yah, apa yang kau harapkan dari pria seperti dia, tak bisa apa-apa selain menggerutu, aku lebih menyukai Illan daripada dirinya" ucapnya


"Kau sama saja seperti gadis lainnya, yang sangat tergila-gila dengan ketiga orang aneh yang hanya mengandalkan wajahnya saja"


"Tapi yang aneh hanya Illan bukan, dia sangat tampan dan juga kuat, tapi sejak kelas 1 dia hanya mengejar Naomi yang sudah jelas biasa saja kepada dirinya" ujarnya


"Entahlah, aku tidak terlalu menyukai pria tampan, aku hanya menyukai diriku sendiri" balasku


"Terserah apa yang kau katakan, aku hanya ingin Tracy ku baik baik saja" ucapnya yang membuat diriku sedikit canggung.


"Ah, Terimakasih. Apa Liz tidak mencari dirimu?" tanyaku


"Benar juga, pasti dia sedang mencari diriku sekarang, dan lihatlah dia sudah berada disini" ujarnya sambil menunjuk kearah Liz yang tengah berlari, rambut hitamnya diikat, mata birunya menunjukkan bahwa ia sedang kesal."


Liz pun berlari mendekati kami.


"Ah, Kenapa kau santai disini , hadeh." ujar Liz sambil memegang kedua lututnya karena kelelahan.


"Umm, itu entahlah aku pikir kau ada disini jadi aku kesini dan bertemu Tracy, begitulah" ujarnya


"Entahlah, aku tidak terlalu memperdulikannya" ucapku pada liz


"Tracy, maafkan aku, tapi aku harus membawa Moa secepatnya, kalau tidak kami akan gagal" ucap Liz wajahnya menggambarkan bahwa ia sedang kesal dan khawatir akan sesuatu.


"Ya baiklah, bawa Moa secepatnya, sepertinya ia sudah tidak sabar untuk melihat Murid baru yang Tampan" ucapku


"Terimakasih" ucap Liz sambil membungkukkan tubuhnya


"Ya, kau tidak harus berterimakasih ataupun membungkukkan tubuhmu, Posisimu jauh lebih tinggi daripada diriku" ucapku sambil mengarahkan tanganku keatas.


"Ah, baiklah kami akan pergi" ucapnya


"Hati hatilah"


"Iya, kau juga" balasnya


"Mereka ini, sangat menyebalkan dan tidak asik" batin Moa yang kesal.


Dilain tempat, Sebastian tengah mengurus berkas berkas seta Dokumen yang menggunung di mejanya, sepertinya ia akan lembur hari ini, dan harus menetap di ruang Dewan sampai malam, Sama halnya dengan Austin yang memiliki segunung kertas di mejanya, wajahnya cukup kesal, karena dia hanya ingin kebebasan, dan melihat Adria.


lalu Liliana membantu beberapa murid baru di Asramanya.