
Xiau Yu ketakutan saat melihat peluru yang ditembakkan oleh paman Michael, peluru itu terus melesat kearahnya dan pada saat itu?
"Ugh!" Ellen menghalangi peluru itu menggantikan menantunya karena dia tidak sanggup melihat menantunya mati dan dia tidak mau kehilangan calon cucunya.
Peluru itu mengenai tepat dada kirinya dan menembus jantungnya.
Xiau Yu berteriak histeris begitu juga dengan Michael, dia tidak menyangka ibunya akan menggantikan istrinya menerima timah panas itu.
Pada saat itu juga, Ron dan para anak buahnya langsung menerobos masuk kedalam dan menembaki anak buah Alex dan Jesica.
Baku tembak mulai terjadi dan dalam sekejap mata saja, anak buah Alex dan Jesica bersimbah darah dan mereka berdua dikepung oleh anak buah Michael dengan puluhan senjata diarahkan kearah mereka.
"Michael, jangan kira ini akan berakhir." teriak Alex marah.
Michael menangis dan mendekati ibunya yang sudah bersimbah darah dan tampak tidak berdaya, dia menyesal karena terlalu lama bertindak tapi bagaimanapun dia harus mendapat waktu yang tepat.
Dia sungguh tidak menyangka pamannya akan menembak istrinya, jika bukan ibunya yang menghalangi peluru itu mungkin saat ini istrinya yang akan bersimbah darah. Jika itu terjadi maka dia lebih tidak sanggup lagi Kehilangan istri dan anaknya.
"Ron panggil ambulan, cepat" teriaknya dibalik tangisannya.
"Mom, bertahanlah! Sebentar lagi ambulans akan segera tiba." ucap Michael sambil menggenggam tangan ibunya.
"Jangan Khawatirkan mommy sayang, segera selamatkan istri dan anakmu terlebih dahulu." pinta ibunya dengan lemah.
Michael segera menghampiri istrinya dan membuka ikatan ditangan dan Kakinya, setelah ikatannya terlepas, Xiau yu segera menghampiri ibu mertuanya sambil menangis.
"Mom, Mommy." Xiau Yu menggengam tangan ibu mertuanya.
"Aku tidak apa-apa sayang, jangan menangis."
Xiau Yu mengangguk dan menghapus air matanya, walau begitu tetap saja air matanya terus mengalir.
"Tuan, bagaimana dengan mereka?" tanya Ron.
Michael menghapus air matanya dan segera menghampiri pamannya dan Jesica.
"Uncle ,kau sudah keterlaluan dan aku tidak akan memaafkanmu!!"
"Keponakan busuk, memang apa yang bisa kau lakukan padaku? Ini negara hukum dan jika kau berani membunuhku disini maka kau akan mendekam dipenjara untuk seumur hidupmu." teriak Alex.
"Jadi paman bisa membunuh ibuku tanpa dihukum? Begitu maksud paman?! Kali ini aku tidak akan bermurah hati lagi pada kalian." ucap Michael dengan dingin dan matanya menatap pamannya dan Jesica dengan tajam.
"Ron, bawa pamanku dan wanita jalangnya kepenakaran buaya! Lempar mereka dan biarkan mereka dimakan oleh buaya-buaya yang lapar!" perintahnya.
"Michael, jangan lakukan ini! Maafkan aku." teriak Jesica ketakutan.
"Seharusnya kau tahu konsenkuensinya sewaktu kau menculik istriku!" ucap Michael dengan dingin.
"Istriku tidak akan memaafkanmu, baj*ngan!!" teriak Alex.
"Uncle, jika aunty bertanya maka aku akan katakan padanya bahwa kalian kawin lari dan meninggalkannya. Apa uncle pikir aunty tidak akan percaya padaku?" tanyanya dengan sinis.
Alex terkulai lemas, skandalnya dengan Jesica sudah diketahui oleh istrinya gara-gara foto yang dikirimkan oleh Michael. Walaupun dia bisa melukai Ellen tapi dia tidak bisa membunuh Michael.
"Ron, bawa mereka! Aku muak melihat mereka dan segera lempar mereka, ingat jangan biarkan ada satupun yang tersisa, kau harus memastikan buaya-buaya itu mencabik-cabik mereka tanpa sisa." perintahnya.
Ron mengangguk dan berkeringat dingin, siapapun yang berani mengganggu Michael maka akan berakhir dengan tragis.
Alex dan Jesica langsung dibawa oleh anak buah Ron keluar dari ruangan itu, Jesica berteriak histeris, dia benar-benar ketakutan dan salah melangkah. Karena keserakahan membuat dirinya harus mati dengan tragis bersama selingkuhannya.
Michael kembali menghampiri ibunya yang tampak sudah hampir kehabisan darah sedangkan Xiau yu terus menangis disamping ibu mertuanya.
Michael segera memeluk istrinya dan menenangkannya, walaupun hatinya juga pedih melihat penderitaan ibunya tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Michael, mommy minta Jagalah istri dan anakmu dengan baik." pinta Ellen disela nafasnya yang tersisa.
Michael memegangi tangan ibunya dan air matanya kembali mengalir.
"Aku berjanji pada mommy, apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti istri dan anakku."
Ellen tersenyum, tangannya terangkat untuk mengelus wajah putranya untuk terakhir kalinya.
"Mommy sayang padamu Michael tapi maaf mommy harus pergi karena daddymu sudah menunggu mommy disurga." ucap ibunya dengan lemah.
"Jangan berkata seperti itu mom, ambulans sebentar lagi tiba jadi mommy bertahanlah." pinta Michael sambil menangis.
"Ma..af sayang." kata Ibunya dengan suara yang semakin lemah.
Xiau Yu hanya bisa menangis disamping mereka dan dia merasa menyesal, seharusnya dia yang terbaring disana bukan ibu mertuanya.
"Mommy sayang pada kalian." ucap Ellen dan dia berusaha mengusap kepala putranya dan setelah itu, tangan Ellen terkulai lemas Karena dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Mom, mom!" Michael memanggil ibunya dan menggoyang tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa.
Xiau yu hanya bisa memeluk Michael dari belakang dan menangisi kepergian ibu mertuanya.
Mereka seperti itu begitu lama untuk menumpahkan kesedihan mereka karena kehilangan sosok yang sangat menyayangi mereka.
Saat Ambulans tiba, tubuh Ellen dibawa kerumah sakit dan tidak ingin menunggu lama, Michael membawa tubuh ibunya ke Australia dan memakamkannya disana.
Walaupun sedih harus kehilangan ibunya tapi dia Sangat bersyukur istrinya baik-baik saja begitu juga dengan anak mereka bahkan setelah beberapa bulan kejadian itu, Xiau Yu melahirkan seorang putra yang tampan untuknya.
Tidak terasa memang dan sudah banyak yang terjadi, hari ini Michael sedang berada dikantornya dan sedang mangadakan rapat.
Pada saat itu Ron masuk kedalam ruang rapat dan menyerahkan sebuah amplop berwarna pink kepada Michael.
Michael membuka surat itu dan membacanya dan pada saat itu juga, sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
Michael segera bangkit berdiri dan membubarkan rapatnya, dia juga memerintahkan Ron untuk mengeluarkan mobil karena dia akan kembali kerumahnya.
Saat tiba di rumahnya Michael segera berlari keatas sambil membawa surat yang dipegangnya sedari tadi. Michael membuka pintu kamarnya dan tersenyum melihat istrinya sedang menepuk putra mereka diatas ranjang
Michael menghampiri istrinya dan naik keatas ranjang dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur putra mereka.
"Apa maksud surat ini sayang?" tanyanya sambil memberikan surat itu kepada Xiau yu.
Xiau yu tersipu malu, itu surat yang dia tulis dengan sepenuh hati untuk suaminya.
"Itu isi hatiku." jawabnya sambil tersipu malu.
"Apa ini pernyataan cintamu?" tanya Michael.
Xiau yu mengangguk dan menyembunyikan wajahnya yang memerah sedangkan Michael terkekeh dan mencium dahi istrinya.
"Terima kasih sayang, i love you." bisik Michael.
"Hm, aku tahu. Aku juga mencintaimu."
"Oh my." Michael mengangkat dagu istrinya dan mencium bibirnya dengan mesra.
Xiau yu memeluk suaminya dan membalas ciuman suaminya, dia benar-benar bahagia saat ini dan dia harap mereka akan selalu seperti itu.
Michael melepaskan bibir istrinya dan mengusap wajahnya, dia juga mencium wajah istrinya dengan lembut.
"Apa putra kita baik-baik saja?"
"Ya, dia sangat tampan sepertimu."
Michael tersenyum dan mengelus pipi putranya dengan lembut.
"Andai mommy masih ada, dia pasti akan senang." ucapnya dan dia terlihat sedih.
Xiau yu mengusap wajah Michael dengan pelan dan berkata:
"Mommy pasti sudah bahagia disana dan dia pasti melihat kita dari surga." hiburnya.
Michael tersenyum dan mencium telapak tangan istrinya, sekarang dia sangat bahagia dengan istri dan anaknya dan Michael merasa ibunyapun bahagia bersama ayahnya disurga.
Tidak berapa lama putra mereka terbangun dari tidurnya dan tertawa saat melihat mereka.
Xiau yu mengangkat sikecil Jhon Smith dan memberikan kepada suaminya, Michael menggendong putranya dan mencium pipi putranya dengan lembut dan setelah itu, Michael mencium pipi istrinya dan berbisik ditelinganya.
"Terima kasih sayang."
Xiau yu tersenyum dan memeluk suaminya, dia juga mencium wajah suaminya dengan mesra.
Banyak yang telah mereka lalui, diawali dengan sebuah surat cinta yang salah dan sebuah ancaman. Membuat mereka menikah dengan sebuah perjanjian tapi kini pernikahan mereka menjadi nyata karena mereka saling mencintai.
Kini mereka sangat bahagia bersama dengan buah hati mereka dan yang pastinya, mereka akan selalu seperti itu sampai maut memisahkan mereka.
END