
“Terima kasih paman, karena telah mengantar ku pulang” ucap Kelly kepada Halim ketika mobil yang dikendarai oleh pamannya itu berhenti di depan lobby apartemen.
“Sama-sama, Kelly. Oh ya, kau jangan lupa untuk mempelajari naskah audisinya, ya!” kata Halim memperingati Kelly.
“Baik paman, aku pasti akan mempelajarinya” ujar Kelly sambil tersenyum dan dia langsung turun dari mobil milik Halim.
Sedangkan di kamar apartemen Kelly, Jordan dan Niken merasa cemas sekali karena gadis itu belum kembali sampai sekarang. Niken mencoba menelpon Kelly, tapi telponnya malah dimatikan oleh gadis itu, sehingga Niken merasa semakin cemas. Tiba-tiba pintu apartemen pun terbuka dan tampak Kelly yang baru kembali, kedua orang itu pun langsung terasa lega.
“Kelly, kau ini kemana saja? kenapa kau kabur dari rumah sakit?” bentak Niken karena dia sangat marah.
“Kak, kau ini kemana saja? apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Jordan dengan pertanyaan yang hampir sama dengan Niken sambil menghampiri kakaknya itu.
“Maaf, maaf. Lagi pula aku baik-baik saja! tadi aku bertemu dengan paman Halim untuk membicarakan audisi di J entertainment!” jawab Kelly seraya mengelus senyuman di bibirnya.
“Paman Halim? kalau begitu kenapa kau tidak memberitahu kami? kenapa kau harus kabur dari rumah sakit?” tanya Jordan lagi, kali ini dia bertanya dengan nada yang agak kesal.
“Emm... itu, aku memang ingin pergi sendiri saja” jawab Kelly sambil tersenyum dan dia langsung menuju ke lemari pendingin untuk mengambil air minum.
“Eh.... tunggu kau tidak boleh minum air dingin” Niken menghentikan Kelly yang ingin meraih air minum.
“Kenapa?” tanya Kelly dengan merasa heran.
“Dalam kondisi mu seperti ini, kau harus banyak minum air hangat bukan air dingin” ujar Niken sambil menutup kembali kulkas yang dibuka oleh Kelly.
“Iya baiklah” ujar Kelly dengan wajah lesu.
“Kak Kelly, kau bilang tadi kau bertemu dengan paman Halim. Bagaimana kabarnya?” tanya Jordan.
“Emm... dia baik-baik saja” jawab Kelly.
“Apa paman Halim bertanya tentang ku, kak?” tanya Jordan antusias, dia berharap sekali jika Halim menanyakan tentang dirinya.
“Tidak” jawab Kelly berbohong.
“Hah... apa paman Halim sudah tidak ingat lagi tentang ku?” kata Jordan merasa tidak senang dengan jawaban kakaknya.
“Untuk apa dia bertanya tentang anak nakal seperti dirimu?” kata Kelly dengan sengaja mengusili adiknya yang kelihatan agak kesal itu.
“Pilih kasih sekali. Kenapa dia masih ingat dengan kakak, tapi tidak ingat dengan ku?” Jordan merasa tidak terima sambil menunjukkan wajah cemberut.
Kelly yang melihat tampang adiknya yang seperti itu hanya bisa tersenyum kecil, rasanya dia senang sekali mengusili adiknya itu. Sedangkan Niken yang dari tadi tampak terlihat kesal, kali ini dia merasa lega ketika melihat senyuman Kelly yang sedang mengusili Jordan, dan setelah itu dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap mereka berdua.
*********
Sore harinya Kelly sedang membolak-balik lembar naskah pemberian Halim untuk audisi di J entertainment, dia berulang kali membolak-balik lembar kertas itu sampai merasa bosan sekali. Rasanya heran sekali kenapa semua adegan dalam naskah ini tidak begitu masuk akal ketika dia baca berulang-ulang, sebenarnya naskahnya yang tidak masuk akal atau dirinya yang tidak bisa berakting lagi?
“Kelly” panggil Niken kepada temannya itu.
“Iya ada apa Niken?” tanya Kelly tanpa menatap Niken.
“Dari tadi aku perhatikan dirimu, kau hanya membolak-balik naskah itu. Sebenarnya ada apa?” tanya Niken sambil duduk di sofa yang letaknya ada di hadapan Kelly.
“Aku juga tidak tahu. Tapi kenapa aku juga merasa ada yang aneh dengan naskah ini?” ucap Kelly dengan suara agak heran.
“Apa yang aneh dari naskah itu kak?” tanya Jordan yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Kelly.
“Ah.. untung kau datang Jordan. Coba kau lihat naskah ini!” ujar Kelly sambil menyerahkan naskah itu kepada adiknya.
“Coba biar aku lihat” ujar Niken meminta lembar naskah kepada Jordan.
Jordan pun memberikan lembar naskah kepada Niken. Saat melihat lembar itu, Niken juga merasa sangat bingung kenapa naskah itu bermasalah.
“Apa-apaan ini? kenapa semua adegan dan ekspresinya sama saja?” ucap Niken heran.
Kelly pun merebut kembali lembar naskah itu dan melihat semua adegan secara saksama dan mencoba untuk berlatih.
Sedangkan di tempat lain, Halim sedang menelpon seseorang. “Tenang saja nyonya, aku sudah membuat naskah adegan untuk audisi seperti yang nyonya perintahkan!” ucap Halim kepada orang itu.
“.....”
“Baiklah nyonya. Lagi pula aku tahu, Kelly adalah seorang artis yang sangat berbakat dan dia juga sangat berbeda dari artis lainnya yang hanya mencari ketenaran!” ucap Halim lagi kepada atasannya dan setelah itu Halim mengakhiri panggilan telepon dari atasannya.
“Mega, aku pasti akan membuat putri mu menjadi orang yang sukses seperti yang kau inginkan!” janji Halim kepada seseorang.
**********
Kelly berlatih adegan yang ada di naskah sampai larut malam, saat dia latihan Kelly tidak mengkhawatirkan kondisinya yang sedang lemah. Kelly merasa jika dia lemah, dia pasti telah menunjukkan kepada dunia bahwa dia adalah orang yang penyakitan. Dia tidak ingin seluruh dunia tahu bahwa dia memiliki penyakit dan dunia mengasihani dirinya.
Tiba-tiba ponsel Kelly berdering dan rupanya yang menelpon adalah Halim.
“Halo paman, ada apa menelpon ku malam-malam begini?” tanya Kelly.
“Paman hanya ingin memastikan, apa kau sudah mempelajari naskahnya?” tanya Halim.
“Sudah paman. Tapi kenapa aku merasa semua adegan sama saja? padahal menurut ku semua ekspresi dari tiap perkataan dari naskah ini berbeda!” tanya Kelly penuh ingin tahu sekali.
“Kau memang artis yang berbakat Kelly. Baru ada setengah hari saja kau sudah bisa mengerti sedikit dari naskah itu!” ucap Halim dari sebrang telpon sana dengan merasa kagum.
“Maksud paman?” Kelly malah tidak mengerti dengan ucapan Halim itu.
“Tidak ada. Sudah itu saja yang ingin paman katakan, sekarang lebih baik kau istirahat saja. Tidak baik untuk kesehatan mu, jika kau tidur larut malam!” ucap Halim mengelak dari pertanyaan Kelly.
“Oh... baiklah paman” Kelly merasa tidak puas dengan jawaban Halim dan setelah itu mengakhiri panggilan.
Kelly masih berpikir apa maksud dari Halim, apa maksudnya dia bisa mengerti sedikit dari naskah itu? Kelly pun kembali melihat lembar naskah itu dan berlatih. Beberapa menit kemudian senyuman penuh arti pun mengulas di wajahnya. Dia sekarang mengerti maksud perkataan Halim tadi.
Tok.... tok... tok...
“Kelly, apa kau sudah tidur?” tanya Niken dari luar kamar Kelly.
Mendengar teriakkan dari Niken, Kelly langsung berpura-pura untuk tidur, karena jika Niken tahu bahwa dirinya belum tidur, pasti dia akan diceramahi lagi. Niken yang tidak mendengar sahutan dari Kelly, dia pun langsung pergi, karena bagi dirinya jika Kelly tidak menyahut itu berarti menandakan bahwa Kelly sudah tidur.
Setelah dirasa tidak mendengar suara Niken lagi, Kelly menghembuskan nafas lega dan dia kembali menduduki tubuhnya di tepi ranjang untuk kembali melihat naskah lagi.
“Aku yakin, aku pasti bisa untuk lolos dalam audisi di J entertainment. Karena ini adalah mimpi ku yang terakhir untuk mencapai puncak kesuksesan ku sebelum aku meninggalkan dunia ini. Aku juga tidak tahu apakah penyakit ku ini akan sembuh atau tidak, tapi karena dokter Alexander mendiagnosa penyakit ku bisa bertahan sampai empat tahun lagi, aku harus menggunakan kesempatan ini untuk membuat hidupku berarti!” ucap Kelly seorang diri berusaha untuk memberi hidupnya semangat.
Kelly pun menaruh lembar naskah itu di atas nakas, dan setelah itu dia meminum obatnya lalu dia pun merebahkan dirinya untuk istirahat.
.
.
.