
Ando melakukan perjalanan bisnis bersama bos-nya, pria itu berjalan dibelakang dua insan sepasang suami Istri.
Bibirnya sejak tadi tidak diam, bukan karena mengunyah makanan. Melainkan karena komat kamit karena kesal melihat kebucinan suami istri yang tak lain adalah bos-nya sendiri.
"Kita ketemu satu jam lagi." Ucap Nathan, bos nya yang menggiring Istrinya masuk kekamar hotel.
Sedangkan Ando hanya melengos, kembali berjalan melewati kamar khusus pasutri itu.
"Ck, nasib jomblo. Kalau lagi sendiri." Gamamnya dengan kesal.
Berada di kota M, selain bekerja Ando juga ingin berlibur. Sudah lama dirinya tidak pernah merasakan liburan sejak menjadi asisten bos sekaligus temanya itu. Dan kini dirinya akan mengenakan waktu sebaik mungkin.
Mengecek ponselnya, Ando tidak mendapatkan pesan yang dia inginkan, melainkan pesan dari tunanganya yang mengatakan jika satu minggu kedepan dirinya ada pekerjaan diluar kota, jadi mereka tidak akan bisa bertemu.
Ando mengehela napas, tubuhnya yang sedikit lelah membuatnya merebahkan diri di atas ranjang empuk kamar hotel.
Meskipun sudah bertunangan, tapi Ando merasa tidak terjadi sesuatu, hingga dirinya biasa saja.
Tapi sejak dirinya bertunangan, pria itu tidak lagi bermain jaran megol dengan wanita, hanya saja Ando menggarap gadis polos yang membuatnya selalu penasaran.
Meskipun begitu dirinya tidak sampai membobol gawang gadis polos itu. Ando hanya ingin meninggalkan jejak dengan hasil karyanya untuk pertama kali.
Satu jam sudah berlalu kini Ando mendampingi Nathan untuk menyelesaikan masalah di proyek yang Nathan kerjakan bersama dirinya.
Keduanya sangat serius mempelajari dan mencari solusi agar cepat selesai.
"Sebaiknya lu pilih seseorang yang tepat Nat, gue yakin ku tau orangnya."
Mereka menghabiskan waktu sampai malam hanya untuk merombak semua yang memang tidak bisa diperbaiki. Dan tentu saja semua itu butuh dana suntikkan untuk kembali memulainya.
"Nat, sudah malam kasihan bini lu." Ucap Ando memperingatkan atasnya itu, jika sudah menyangkut pekerjaan Nathan pasti akan lupa semuanya.
Melihat jam dipergelangan tangannya, Nathan menyudahi pekerjaannya dan menutup berkas yang sejak tadi membuat keduanya lupa waktu.
"Gue balik dulu." Nathan bergegas keluar ruangan kerjanya.
Ando hanya geleng kepala, apa dia nanti juga seperti itu, saat sudah memiliki istri. Pikirnya dengan menerawang.
"Ck, kenapa malah wajah si Endut sih."
Decaknya kesal, karena saat membayangkan memiliki istri, tapi malah bayangan wajah Olive yang muncul bukan Mita yang notabennya tunanganya sendiri.
Karena kesal dihantui bayangan Olive. Ando memilih ikut menyudahinya pekerjanya, mungkin akan dilanjutkan di kamar hotel.
Sedangkan ditempat yang berbeda, Olive setengah mati melakukan olah raga agar tumbuhnya memiliki hasil. Gadis itu begitu semangat untuk memiliki tubuh ideal agar pria brengsekk dan mesum seperti Ando tidak memandang remeh dirinya.
"Hah." Olive menjatuhkan dirinya diatas matras, napasnya memburu, dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya.
Sudah dua hari dirinya tidak mendapatkan pesan dari pria mesum itu, dan Olive sama sekali tidak menggubris hal yang menurutnya harus dikatakan tidak penting.
Setelah pergi dari apartemen, Olive berharap jika Ando mencarinya, tapi harapannya pupus karena ternyata setelah hari itu, Ando sama sekali tidak mencarinya meskipun dalam bentuk pesan, dan disana Olive benar-benar merasa sakit hati.
"Sumpah, aku ingin kurus tuhan..!" Olive berteriak didalam kamarnya yang menggema, tidak perduli mamanya yang pasti ngomel-ngomel diluar.