Love is Back

Love is Back
Episode 3



“Yuhuuu.... akhirnya tiba di apartemen juga!” ujar Jordan sambil melemparkan tubuhnya ke atas sofa yang empuk.


“Hei... jangan mengotori sofa itu sebelum kau mandi” kata Kelly sambil menatap adiknya.


“Ah... kakak, aku lelah setelah seharian menemani dirimu” ucap Jordan dengan nada mengeluh.


“Oh... jadi kau mengeluh untuk hal itu. Baiklah mulai besok kau tidak usah menemani ku!” ucap Kelly dengan berpura-pura marah dan meninggalkan Jordan.


Niken yang dari tadi mendengar ucapan kakak beradik itu pun dia langsung menepuk keras pundak Jordan karena sedikit kesal.


“Kenapa kau memukul ku?” tanya Jordan merasa heran.


“Dasar bodoh. Apa yang kau katakan kepada kakak mu barusan?” ujar Niken menatap Jordan dengan kesal.


“Aku hanya mengatakan jika aku merasa lelah karena menema--”


Jordan menggantungkan perkataannya sedangkan Niken masih menatapnya dengan tatapan yang sangat kesal.


“Astaga, apa yang tadi aku katakan kepada kakak ku, Niken?” tanya Jordan dengan rasa tidak berdosa sambil berjingkat dari sofa yang tadi dia tiduri.


“Kau kenapa bertanya lagi kepada ku?” ucap Niken sambil menendang kaki Jordan pelan.


Tanpa berkata lagi kepada kepada Niken, Jordan langsung menyusul Kelly ke kamarnya. Jordan mencoba mengetuk-ngetuk pintu dari luar tapi tidak terdengar oleh Kelly, karena gadis itu sedang mandi.


Jordan pun mencoba mengetuk pintu kamar Kelly sekali lagi sambil meminta maaf karena perkataannya.


“Ya tuhan, kenapa anak itu membuat keributan di depan kamar ku?” gerutu Kelly kesal, karena ritual mandinya jadi terganggu sebab dia sedikit mendengar ada orang yang memanggil-manggil dirinya.


Kelly pun langsung membuka pintu kamarnya dengan cara kasar sehingga Jordan yang sedang menyandar di pintu langsung jatuh kedalam kamarnya.


“Ada apa kau membuat keributan di depan kamar ku?” ketus Kelly.


“Kakak, kak aku minta maaf atas perkataan ku tadi kak. Aku tidak bermaksud mengucapkan kata itu tadi” ucap Jordan sambil memeluk kaki Kelly.


Kelly yang mendengar perkataan adiknya sambil memeluk kakinya langsung tersenyum untuk mengerjai adiknya.


“Perkataan yang mana?” ucap Kelly pura-pura tidak tahu.


“Perkataan yang tadi kak” ujar Jordan masih memeluk kaki Kelly.


“Niken, apa kau tahu maksud perkataan dari Jordan yang mana?” tanya Kelly kepada Niken yang dari tadi mematung di depan pintu kamarnya.


“Tidak, aku tidak tahu” ucap Niken pura-pura tidak tahu.


“Niken, kau tidak ingat perkataan ku yang tadi?” tanya Jordan menatap Niken, dia masih memeluk kaki Kelly.


“Tidak” jawab Niken singkat sambil menggelengkan kepalanya.


“Ah... sudahlah, ini sudah malam aku ingin istirahat” ucap Kelly lagi sambil mencoba melepaskan diri dari Jordan.


“Eh... kakak, tolong maafkan aku terlebih dahulu” ujar Jordan mengencangkan pelukan di kaki Kelly.


“Niken, bawa anak ini ke kamarnya” perintah Kelly kepada Niken.


“Tidak kak, maafkan aku terlebih dahulu” pinta Jordan.


“Hufft... jika kau tidak mau pergi, aku tidak akan memaafkan mu” ucap Kelly dengan nada berpura-pura memarahi Jordan.


Akhirnya mau tidak mau Jordan melepaskan Kelly dan berdiri untuk meninggalkan kamar kakaknya itu dengan perasaan bersalah akan ucapannya tadi.


“Oh... maaf tuan pintu, aku tidak bermaksud untuk membanting mu” ucap Kelly sambil berbicara kepada pintu kamarnya.


Tiba-tiba ponsel Kelly berdering sehingga Kelly harus mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas untuk melihat siapa yang menelepon dirinya, Kelly mengambil ponselnya sambil menautkan kedua alisnya dengan berpikir siapa yang menelepon dirinya saat ini, seingat dirinya Kelly tidak pernah memberikan nomor telpon kepada siapapun selain dokter yang merawat dirinya selama tujuh tahun ini.


“Halo siapa ini?” tanya Kelly saat mengangkat telpon itu dengan nada penasaran.


“Hei... babe. Apa kau tidak menyimpan nomor ku lagi, sehingga kau bertanya aku ini siapa?” kata penelpon dari sebrang sana dengan nada membentak sehingga Kelly harus menjauhkan ponselnya dari telinga.


‘Babe, siapa orang ini berani memanggil ku seperti itu?’ batin Kelly merasa heran sekaligus kesal karena dirinya di panggil sayang oleh si penelpon.


“Hei.. babe. Kenapa kau diam saja? apa kau tidak ingat dengan diriku?” tanya penelpon dari sebrang sana lagi.


“Tidak” jawab Kelly singkat.


“Oh ya tuhan, Kelly. Ini aku Daven!” ujar orang dari sebrang sana memberitahu nama dirinya.


“Daven...?”


“Who Daven?” gumam Kelly sambil berpikir untuk mencoba mengingat seseorang.


“Dasar Kelly bodoh. Apa kau sudah melupakan sahabat mu ini selama ada di Amerika?” ujar orang itu dengan nada membentak Kelly lagi.


Kelly pun langsung teringat oleh salah satu sahabatnya yang terkenal tomboi saat dirinya masih berumur belasan tahun lalu ketika dirinya masih sekolah SMA.


“Ah.. rupanya kau nona pria!” ucap Kelly sambil tersenyum mengejek.


“Hei... sudah tujuh tahun berlalu kau masih memanggil diriku dengan sebutan itu! Kelly, ingat ini nama ku adalah Daven Monica, bukan nona pria!” ucap Daven dengan sangat kesal karena panggilan Kelly.


“Ah.. aku lebih suka memanggil mu seperti itu. Lagipula siapa suruh ibu mu memberi nama itu?” ujar Kelly dengan nada mengejek lagi sambil mengambil selembar foto dari dalam tas kesayangannya.


“Haiyah.. sudah, sudah. Aku tidak ingin berdebat dengan mu tentang diriku lagi” ujar Daven.


“Kenapa memangnya nona pria? Memang benar bukan, kau ini diberi nama Daven oleh ibu mu karena sikap dan gayanya memang benar-benar mirip seperti pria!” ujar Kelly sambil memandang foto dirinya dan sahabatnya Daven saat masih sekolah SMA.


“Sudah cukup. Aku tidak ingin berdebat dengan dirimu karena masalah diriku. Sekarang cepat katakan kepada ku, kenapa dulu kau tiba-tiba pergi ke Amerika? bahkan tidak ada kabar apapun dari dirimu. Aku tahu bahwa kau ada di Amerika itu saja dari orang lain. Dan kenapa sekarang saat kau kembali dari Amerika tidak langsung menelpon diriku? apa kau ingin melupakan diriku, hah?” ucap Daven bertanya dengan nada sangat ingin tahu sekali sekaligus terdengar kesal.


“Kau menelpon diriku hanya untuk itu?” tanya Kelly.


“Tentu saja hanya untuk bertanya seperti itu. Memangnya kau kira untuk hal apa?” ujar Daven.


Kelly tidak langsung menjawab perkataan dari Daven sahabatnya itu. Memang benar tujuh tahun lalu Kelly dan adiknya pergi ke Amerika secara tiba-tiba sekali bahkan tanpa berpamitan kepada sahabat maupun orang tercintanya. Begitu juga saat dia tiba di Amerika, dia tidak menghubungi siapapun. Kelly pergi ke Amerika hanya dengan adiknya dan salah satu temannya yaitu Niken, yang sekarang menjadi asisten dirinya selama berada di Amerika.


“Kelly, kenapa kau diam saja?” bentak Daven lagi merasa tidak senang.


“Maaf, nona pria. Aku lelah, aku butuh istirahat. Kita bicara lagi besok, okay!” ujar Kelly dan setelah itu dia mematikan panggilannya dengan Daven.


Kelly pun meletakkan ponselnya di atas nakas dan setelah itu dia mencoba merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang sangat empuk sekaligus mewah itu. Kelly mencoba memejamkan matanya dan mencoba menghapus semua hal yang pernah terjadi kepada dirinya saat masih berada di sekolah SMA.


Baru Kelly ingin mencoba untuk memejamkan matanya, ponsel Kelly berdering lagi. Kelly pun hanya berdecak kesal dan mengambil ponselnya.


“Halo Daven, bukankah sudah aku bilang tadi? aku ini lelah, mari besok kita bicara lagi!” ucap Kelly kepada penelpon itu tanpa tahu siapa yang menelpon dirinya.


Penelpon dari sebrang sana tidak menyahut ucapan dari Kelly, sehingga Kelly merasa heran sekaligus kesal karena perkataannya tidak ditanggapi oleh penelpon yang dia anggap sebagai Daven, sahabatnya.


“Daven, a--”


“Sudah tujuh tahun berlalu, apa kau tidak ingat suara ku lagi, Kitty?” ucap penelpon dari sebrang telpon sana dengan suara yang sangat datar.