
Pagi hari Olive sudah siap dengan pakaian sekolahnya, gadis itu juga membawa pakaian ganti karena pulang sekolah dirinya dan juga sahabatnya sudah sepakat dan janjian untuk mendatangai komplek pinggir kota seperti biasa.
"Mah, Olive tidak mau sarapan." Ucap Olive yang sudah duduk dikursi dan meminum susu coklat yang Mamanya buat.
"Yakin? nanti kamu pingsan?" Cibir Mama Olive dengan julid.
Olive mencebik, "Pingsan tinggal digelundungin." Jawan Olive sambil pamit.
Mobil papanya belum selesai diperbaiki, dan kemarin dirinya terpaksa mencari go-car saat pergi dari apartemen Ando. Karena Olive tidak ingin lama-lama diaparteman pria mesum yang ternyata sudah memiliki tunagan.
Dilain tempat, Ando sudah siap dengan penampilannya yang rapi. Pria itu keluar apartemen pukul enam lewat tiga puluh menit. Sebagai asisten Ando harus lebih dulu sampai kantor, menyiapkan keperluan atau agenda bos-nya untuk hari ini.
Dan lusa dirinya dan Nathan bos-nya harus meninjau ke kota M.
Tidak sempat sarapan Ando berniat mampir di penjual roti pinggir jalan. Pria yang tidak kaya tapi memiliki banyak uang itu selalu mampir di kedai roti yang menurutnya sangat enak untuk mengganjal perut dipagi hari.
Saat berhenti didepan kedai penjual roti tidak sengaja dirinya melihat gadis yang baru saja turun dari ojol dan mengantri di kedai roti.
Bibir Ando mengulas senyum, pria itu keluar dari mobil sports miliknya dan berjalan menghampiri Olive yang berdiri menunggu penjual memberikan pesanannya.
"Berapa pak?" Tanya Olive yang ingin membayar.
"Lima belas ribu neng."
"Biar aku saja yang bayar." Ando tersenyum saat Olive menatapnya dengan wajah terkejut. "Bisa ambil lagi jika ingin nambah." Ucap Ando lagi sambil tersenyum.
"Tidak usah kak, ini pak uangnya dan terima kasih." Setelah itu Olive pergi, tapi tangannya dicekal oleh Ando.
"Lepas kak!" Olive berontak. "Ck, aku mau sekolah." Ucapnya lagi yang belum lepas dari cekalan tangan Ando.
"Biar aku antar." Ando ingin menarik tangan Olive kemobilnya, tapi gadis itu hanya diam ditempat dan berusaha melepaskan tangannya.
Ando menatap wajah dan kedua mata Olive, membuat Olive membuang pandanganya.
"Kamu seperti gadis yang sedang marah pada kekasihnya."
Olive menatap Ando tajam dengan wajah kesal.
"Maaf, saya harus pergi." Setelah mengatakan itu Olive langsung menaiki ojek yang sejak tadi menunggunya.
Apa pria itu tidak tahu jika sudah membuat baper anak gadis orang, lalu dihempaskan dengan kenyataan, padahal baru saja merasakan senang seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan di hatinya.
Bagaimana tidak baper jika diperlakukan dengan lembut dan juga Ando pria yang tidak kaku membuat wanita dan para gadis yang berada didekatnya merasa bahagia termasuk Olive yang baru mengenal dekat dengan pria bahkan sudah merasakan sentuhan pria ditubuhnya.
Ando menatap motor yang membawa Olive pergi, pria itu mengusap wajahnya kasar, "Ck, kenapa juga mikirin bocah." Gumamnya tidak perduli, dan langsung memesan roti yang dia inginkan untuk dibawa kekantor.
Drt...Drt...
Ponselnya berdering Ando mengambilnya dari saku jas yang dia pakai.
"Ada apa Mit?" Tanyanya sambil membuka pintu mobil.
"..."
"Baiklah tunggu disana."
Mita yang baru saja tiba di bandara meminta tunanganya untuk menjemput, wanita itu memang tidak memiliki kendaraan pribadi, dan Mita naik pesawat dari Bandung ke Jakarta.
Dipertigaan jalan lampu merah, kedua mata Ando kembali melihat Olive yang baru saja turun dari motor karena rambu-rambu sedang berwarna merah.
Gadis itu mendekati dua anak yang sedang duduk di trotoar dan memberikan bungkusan yang dua pegang tadi, dan Ando tahu jika didalamnya berisikan roti yang gadis itu beli tadi.
Bibir Ando tidak berhenti mengulas senyum, entah mengapa hatinya menghangat walau hanya melihat Olive berbuat kebaikan dengan sesama.
"Kamu memang gadis baik, tapi sayang bukan tipe ku."