
Seperti yang dikatakan Ando, pria itu membawa gadis kelebihan daging itu keaparteman. Meksipun Olive menolak, catat menolak dan itu berarti Ando memaksa gadis itu untuk ikut bersamanya.
"Tunggulah disini, apa mau ikut masuk kedalam kamar." Ando mengedipkan sebelah matanya, membuat Olive mendengus kesal dan berlalu kearah dapur untuk mengambil minuman. Rasanya tenggorokannya begitu kering kerontang karena mogok bicara sejak tadi dan hanya terus mengumpati pria mesum itu dalam hati.
"Ndut..!" Ando berteriak dalam kamar, pria itu sengaja tidak menutup pintu kamarnya dan terbuka lebar.
"Apalagi sih. "Olive masih diam ditempatnya dengan menikamati minuman kaleng dan satu roti yang ada di atas meja. Yang jelas perutnya juga terasa lapar meskipun tidak mengeluarkan suara untuk membuang tenaga.
"Ndut, bisa tolong kemari!" Teriak Ando kedua kalinya, membuat Olive lama-lama kesal.
Gadis itu menenggak minumanya sampai habis lalu membuang botol kaleng kosong itu kedalam tong sampah.
"Awas aja kalau mau macam-macam." Gerutu Olive dengan kesal.
"Apa!?" Olive berdiri diambang pintu kamar dengan melipat kedua tangannya di dada.
Sedangkan Ando menatap Olive dengan kedua tangannya yang sedang memegang pakaian.
Olive menatap Ando sinis, seperti ingin menelannya hidup-hidup. Bukanya takut justru Ando malah gemas melihat ekspresi gadis Ndut itu.
"Bantu aku mengepak pakaian." Pinta Ando dengan wajah memelas.
Olive memincingkan matanya. "Hanya sedikit, besok aku akan pergi ke kota M untuk perjalanan bisnis." Lanjutnya yang sebenarnya tidak perlu Ando katakan pada Olive. Karena Olive bukan siapa-siapa juga.
"Kenapa menyuruhku, bukan menyuruh tunangan kak Ando sendiri." Olive berkata ketus, dengan posisi yang masih sama. Belum mau bergeser.
"Yang ada di apartemen ku kamu, lagian tidak ada wanita yang aku ajak kemari selain kamu." Ucap Ando yang juga sedikit kesal, karena Olive tidak mau membantunya, dan malah membahas tunanganya.
Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dihatinya, entah dirinya harus senang karena tersanjung dengan yang Ando katakan. Tapi kesadaran Olive mengingatkan jika pria mesum itu sudah memiliki tunagan.
"Ck, cepatlah bantu agar cepat selesai." Ucap Ando yang sudah kesal menunggu Olive untuk menantunya.
Dengan bibir dimonyongkan sepanjang lima centi meter dengan berat kakinya mendekati pria yang hanya menggunakan kemeja putih, jasnya yang berwarna merah sudah dilepas.
"Sini!" Olive merebut pakaian yang Ando pegang, dan menatanya kedalam koper kecil yang sudah Ando siapkan diatas ranjang.
Ando terseyum, meskipun wajah Olive masam dan kecut tapi gadis itu tetap mau membantunya.
Cup
Ando mengecup pipi Olive gesit, dan berlari keluar sebelum macan gendut itu ngamuk.
"Dasar sandal Ando jurik!!" Kesal Olive mengumpati Ando yang sudah tidak terlihat dan hanya terdengar suara pria itu tertawa keras diluar sana.
"Awas aja nanti, aku bejek baru tau rasa." Olive yang kesal memasukkan pakaian Ando asal. Hingga dirinya memegang sesuatu yang membuatnya bergeridik negeri.
"Hisss, kenapa ada sarung gajah sih." Dengan cepat Olive menaruh onderdil kurungan belalai gajah Ando dengan kesal. Dan menutup koper yang sudah berisi pakaian Ando selama pergi.
"Didekati karena pelampiasan, disayangi karena kasihan dan dijauhi karena bosan."
Olive menatap tulisan di berada diatas meja nakas Ando, tulisan itu seperti kata kiasan yang menyentil hatinya.
.
.
Slow update ya sayang..🥰 tetap dukung author 😘