LO-D

LO-D
PERMULAAN PALING TRAGIS



Dee …


“Just when the caterpillar thought the world was ending, he turned into a butterfly," begitulah ucapan Pro Verb yang menggambarkan betapa aku memang sangat berdosa, menciptakan ritual mimpi untuk Tan. Semoga dia selalu dalam lindungan Tuhan.


TUHAN selalu ingin cerita yang spektakuler bagi hambanya yang visioner. Manusia seperti itu disebut sebagai ‘manusia di atas rata-rata’. Mereka adalah orang sulit namun senang melakukan hal-hal mustahil yang bahkan berada di luar kapasitasnya.


Mereka adalah manusia-manusia yang tak takut menentang dunia dan selalu punya cara gila, untuk membuat ‘passion’ mereka terwujud. Namun tak lupa menanam moral.


Maka Tan telah menjadi bagian dari golongan tersebut. Ia rela difitnah ayahku yang ingin tak diketahui rencana alat pemusnah massal itu. Tan rela hanya karena alasan rasa kesepian seorang gadis.


Gadis aneh ... yang bahkan dirinya tak yakin dengan statusnya sendiri ini. Tidak, bukan itu saja, ada alasan yang lebih menyudutkan dan mengagumkan.


Tak terlihat namun sangat menggairahkan. Ia percaya bahwa manusia sebenarnya bisa saling memahami satu sama lain hanya dengan satu kosakata.


Kosakata yang ibunya menginginkan agar Tan menemukannya. Meski sekarang ia tengah bergulat dalam dunia mimpi ciptaanku. Tan tetaplah semenderita ini.


Dan sekarang, polisi Turki terus membuntuti. Tan bingung dan situasi nya lebih sukar. Hingga  daerah berpasir dan berbatu yang meski tak seberapa luas pun menjadi saksi.


Dari posisi Tan kini, terlihat telah ada dua polisi berseragam tadi yang seperti siap meladeni. Siap membombardir. Siap menerjang.


“Aku lupa kalau polisi itu manusia  cerdik. Lebih cerdik daripada kancil. Mereka tetap mengejar kita dan tak menghiraukan kawanan paman dan kakakmu yang menahan. Ayahmu dan orang-orangnya,”  kata Tan terengah-engah. “Mereka tahu kita lah akarnya.”


“Tan, aku sudah tak kuat,” kataku sembari memegang bahu kirinya.


Aksi untuk berlari dari polisi Turki pun tak terelakkan. Kegelapan malam menambah aksi panas ini. Betapa Tan dianggap sangat berbahaya hingga menyuruh polisi, untuk memboikot lelaki ini ke kota bawah tanah tadi. Tubuh Tan terus terguncang oleh hentakan semangatnya.


Namun tangannya masih terus membawaku. Sejak ini dimulai, reaksinya adalah yang paling lambat. Terbukti sekarang ia dan aku cukup jauh tertinggal dari yang lain meski berlainan kompas tujuan.


Para kawan kak Martinus telah berlari jauh di depan Tan dan sebagian masih membantu Paman Aaron dan Martinus. Sementara aku sedikit lebih dekat dengan Tan. Para mahluk berseragam itu semakin mendekati.


Dalam kondisi sangat tak nyaman seperti ini, Tan sendiri sebenarnya mungkin malas berada di tengah-tengah situasi semacam ini.


“Untung saja ini malam. Kalau siang, bisa-bisa aku mengalami angin duduk,” kata Tan.


“Kau masih sempat bercanda pria konyol?” aku agak gusar.


“Setidaknya, aku rasa mereka tak membawa pistol. Iya, kan?”


Dengan tekad setebal baja, setelah mengusir segala rasa ketakutan, Tan bersiap untuk menantang  mereka  semua. Denyut nadiku kian  menggebu-gebu. 


Walau harus kehilangan buku itu, tak masalah, melihat aku berjuang, ia jadi tak ingin bersikap cengeng. Jiwa sepuluh tahun dirinya tertimbun. Tak payah manja hanya karena kehilangan sebuah buku.


Namun bagaimana ia bisa  kembali  tanpa titipan ibunya? Mungkin pertanyaan ini yang hinggap dipikiran Tan, sampai bersikeras tetap harus mencari buku yang tak lain adalah manuskrip itu.


Ya, berisi informasi senjata pemusnah massal di Bulan. Ayahku lah sebetulnya yang memberikan itu pada Dr. Alison dan memfitnahnya di luar dari mimpi ini sebagai rencana.


Aku ingin menggagalkan rencana ayah dengan cara membawa Tan ke dalam mimpi ini. Aku sungguh ingin dia mengerti, cara mencegah masalah ini tak terjadi di dunia nyata saat ia berhasil menemukan kuncinya di diriku. Mengisyaratkan bahwa ia tahu makna dari ini semua.


“Dee, berpikirlah!”


“Apa?”


“Sekarang!” seru Tan sedikit membentak.


Aku tak paham maksudnya.


Dan kini, tepat hampir lewat waktu tengah malam ditemani bentangan udara bebas, was-was yang menyelimuti Tan menyempit. Selepas menyuruh aku bergerak ke tempat lain, Tan lantas terjungkir ke tanah saat ingin berlari ke arah lain pula.


Sangat tak enak jika ia menyeru dan orang-orang itu untuk berbalik arah. Keterpurukan melanda. Semestinya ia lebih cepat mengambil posisi terdepan atau mengambil langkah kreatif.


Kami kurasa memang sangat minim jam terbang, jika berbicara soal melarikan diri. Semestinya kami berdua hanyalah jelmaan bocah berkepala.


Tragisnya, Tan lebih memilih melawan dunia. Sebab raganya telah tegap menyambut kedatangan para polisi Turki itu. Ia sudah tak waras.


Tan adalah mahluk berkepribadian ganda. Bagaimana tidak? Ia menyeru kekuatan kadang pula membenamkan kelemahan. Semestinya ia tahu, dirinya sedang tak dibekali keberuntungan.


Nasib hitam mengantarkannya menghadang pedang. Betul. Ia santai saja sedari tadi sembari tetap fokus memandang tajam ke arah para polisi Turki yang sedikit lagi menerjang.


“Tunggu!”


Seruan parau mengejutkan Tan. Suara yang bersumber dari seseorang di garis depan. Tan memperhatikan sekitar tebing bebatuan. Seleret cahaya kuning menyiram, terdengar dengkingan, dan berkedap-kedip.


Kedipnya selaras bersama radius suara yang ditimbulkan. Bentangan tanah cukup luas kini dihiasi sorotan cahaya kuning. Cukup bisa dilihat dari segala penjuru.


“Tan!” suara lelaki menggaung yang kemungkian besar itu Martinus.


Tan berlari namun bisa beradu cepat dengan para polisi. Tapi tak lama lagi, mobil dan kekaratan suara itu akan menggerayangi gendang telinganya. Sementara aku hanya bisa memperhatikan dan mendoakannya.


◌◌◌◌◌


Tan ...


Belum agak terang tanah, Tuan Abraham sejatinya pun berhasil menyusul dengan bantuan kendaraan polisi yang lain. Cahaya biasan bak batang-batang surya kini mengisi area sekitar tempatku berada bersama polisi, membuka kedatangan Tuan Abraham.


Di sini hanya ditemani angin penggigil. Sedangkan kawan-kawan Paman Aaron sudah lebih dulu bersemayam di tempat yang sekiranya aman. Sepuluh detik kurang lebih, aku disentak haru.


Ditanggapinya tantangan itu serius. Tanda sayat menyayat akan menanti. Semua itu merangsang warga Turki setempat untuk melihat. Pemandangan penuh ini serasa menjadi pemanis buatan bagi kehidupan.


Warga Turki setempat yang tak seberapa mulai terlihat, merubah dekorasi suasana dengan lihai. Dan aku tersadar akan hal itu. Aku curiga. Ada ketegangan di wajah mereka.


“Tan, kau baik-baik saja?” suara seorang wanita berlari gontai memecah kebisingan.


“Dee, jangan kemari!” seruku seraya berpaling menyaksikan tindak Dee yang meresahkan.


“Kau sudah gila putriku,” kata Tuan Abraham menyaksikan Dee yang menyirat kebencian, sehingga pedang di kalbunya ia cokol.


Aku mengambil kesempatan. Segera ia berlari mencari ruang guna menghindari keberingasan orang-orang berpangkat itu.


“Ah, woi!” suara jeritan dan teriakan begitu menggetarkan telinga. 


Sekelompok lelaki. Kurang tahu berapa jumlahnya. Aku hitung dulu. Yang jelas di atas sepuluh. Nanti kau akan kuberitahu.


“Teman-teman!” seru Martinus yang tiba-tiba sudah ada di situ.


Sahut menyahut terjadi di semua penjuru. Semua orang bergelimang bertanda adu hujaman tak dapat terelakkan. Tak terkecuali aku yang kelelahan. Seketika itu pula aku lengah dan dibekukan oleh salah seorang polisi.


“Berhenti! perintah seorang pria yang tak lain adalah Tuan Abraham. Ia memanfaatkan keberhasilan polisi itu meringkus ragaku. Kali ini, Tuan Abraham mendekati.


Mengambil kesempatan yang tak datang berkali-berkali. Seraya menyarungkan ujung sebilah pisau tajam di sisi leherku. Polisi yang jumlahnya tak seberapa itu pun nampak terkejut dengan keputusan yang diambil Tuan Abraham.


“Kakak, kau sudah gila? Itu terlalu berlebihan! Sejak kapan kau belajar berkorelasi dengan benda tajam?” ujar Paman Aaron yang berposisi diantara kawan-kawan Martinus.


“Para buangan seperti kalian,  enyahlah karena aku ingin  membantai pria ini,” perintah Tuan Abraham.


Entah apa maksudnya berucap kata-kata hina yang tak beralasan itu. Ia seakan tak peduli meski adiknya Aaron menyulut ketenangan. Aku adalah yang paling tak beruntung, karena kelalaian menyebabkan pelarian dadakan  yang sebelumnya sudah terencana  rapi, buyar dalam hitungan detik.


Atau aku yang salah, Teman? Mungkin sama sekali tak rencana. Semua alur berjalan seperti seharusnya. Protesnya nanti saja.


“Tiada manfaat kau membela seorang penjahat di bumi Tuhan ini saudaraku, Aaron. Kau kini telah menjelma menjadi sebutir perunggu yang tercuci ulang,” kata Tuan Abraham menyombongkan diri.


“Jangan hina Paman Aaron seperti itu! Kau, kaulah orang yang memberi manuskrip palsu pada ibuku dan memfitnahnya. Kau membenciku karena kau mengetahui aku adalah putranya. Bagaimana mungkin ibuku bisa jatuh cinta pada tukang fitnah sepertimu dulu," aku berujar pelan dan memandang tajam.


Menatap tajam ke arah Tuan Abraham yang memegangiku dari belakang. Lelaki tua itu tersenyum miring.


“Aku tak terima! Kalian ini hanya memahami sesuatu dari kulitnya saja. Ini fitnah, aku sama sekali tak mengetahui tentang Keluarga Bulan dan hal yang dirahasiakan mereka," kataku memberi tekanan kedua.


"Aku berlari-lari seperti orang bodoh hanya demi melindungi Dee, temanku, putri dari orang yang sebenarnya memliki rahasianya sendiri tentang Keluarga Bulan. Logika kalian sudah dilumuri rantai kebencian!” kataku lagi lebih keras.


Aku sebetulnya belum begitu yakin bisa memenangkan keadaan. Struktur keberanian diriku telah diisap kekecewaan. Aku berharap saat itu, semoga ibu membaca permohonan maaf dariku karena menyimpan fakta, kalau ibu sebenarnya juga mengetahui rahasia besar tentang Bulan. 


Meski masih dalam ritual mimpi, aku tetap ingin melindungi ibu. Di sisi lain, aku juga tak tega mengkhianati Dee. Benar memang jika ia adalah apa yang dicari-cari oleh pemerintah Turki, namun aku tak bisa mengatakan itu karena Dee sudah mau melindungiku.


Kami akan melewati fitnah dan menemukan cara untuk meluruskan permasalahan identitas Keluarga Bulan, tanpa harus ada yang terluka. Yah, di saat aku belum menyadari bahwa semua itu plot rekaan Dee. Di tengah-tengah kerumunan, Dee menderling air mata.


Tak percaya aku mampu menyuarakan kata-kata selevel itu. Semua menuruti kelemahan mental masing-masing. Dewi Fortuna tengah pulas. Untungnya Tuhan tidak demikian.


“Setidaknya kita tak tunduk  pada perusak sepertimu,”  kata salah seorang polisi di situ.


Meski Paman Aaron membisu lantaran sedang berpikir atau membuat suatu keputusan, rupanya kakaknya berada satu bobot jika bicara soal pertentangan.


Beberapa detik setelah adu emosi, terlihat salah seorang tentara tiba di tempat. Entah kenapa, aku sedikit lega atau mungkin hanya tak tahu harus berbuat apa lagi.


Ritme cerita seakan berubah dalam sekerlip alur. Daun tua itu gugur dari tangkainya. Paman Aaron harus berhenti bermimpi lebih jauh. Ia mesti menerima tiupan angin menjatuhkannya dari pohon kehidupan.


“Pa-paman ...,” suara Dee begitu tertekan.


Mereka, kenapa melakukan itu? Permulaan paling tragis semacam ini, apakah Dee benar-benar berniat menciptakannya?


Aku saat itu tak memikirkan apapun. Pemandangan tembakan tadi membuatku mengalami kesombongan emosional. Suara gemericik menelan sunyi di sepertiga malam.


Pendeta lain melaju kencang meninggalkan area setelah menemani Tuan Abraham kembali. Dan ia senang meski harus meninggalkan adik dan anak laki-lakinya terluka tembak.


“Andai semua ayah seperti itu, apa jadinya sebuah negeri?” gumamku  sambil mengedarkan mata, memperhatikan situasi.


Aku rasa tidak begitu. Tuan Abraham tentunya tahu, ia tak akan bisa berencana lebih dalam untuk orang-orang yang melawan keberanian.


Dia tetap mencintai kakaknya. Membiarkan orang yang berposisi  mengurus itu adalah keterpaksaan yang tak bisa ia lawan. Dan Dee menjadi satu-satunya pengecualian. Masih ia ingin putrinya tetap menenun nyawa.


Kata ibuku dulu: “Tak ada kebenaran dari pemikiran yang berbeda tentang pemikiran itu sendiri. Kecuali jika pemikiran itu berupa informasi yang sudah menjadi pemahaman akan pengetahuan kita sendiri.”


Jika aku boleh berpendapat, benar itu tak sungguh-sungguh benar dan salah pun tak benar-benar salah. Apa aku salah? Kalian boleh mengkritik, Teman.


Pengandaian dari masing-masing  manusia-manusia di sini seperti terpuruk. Dalam pada itu, situasi ini setidaknya terlihat tak seimbang. Meski jiwa tertimpal,  lapisan kedua nurani harus pandai menyeimbangkan.


“Kalau kau terlalu bergantung pada dunia, kita tak akan berkembang  sedikitpun. Jadilah bebas. Jangan biarkan dunia mengaturmu. Aturlah kehidupanmu sendiri. Bukankah Tuhan sudah meminjamkan kuasa untuk memilih dan memilah?" ucapan seseorang dalam ingatanku.


"Lakukan itu agar kau bisa jungkir balikkan dunia seperti impianmu. Selama kepedulian ada kau gandrungi, maka layaklah kau mencapai kebebasan. Lalu tebarkan angin kebebasan itu pada langit dan bumi,” kata-kata kak Rey teringat sepintas. 


Walau mungkin tak cukup menyemangati aku yang tengah kritis. Aku kesal pada Dee yang terus saja memperhatikan arah belakang. Seolah gadis itu tak kuat melihat diriku menampung luka. Menahan rasa khawatir yang membelenggunya.


Sementara betis berbuluku terus-terusan dikerumuni darah. Aku demikian resah bila saja tentara tadi menembaki Dee, seperti apa yang dilakukan pada Paman Aaron. Oleh karena itu, aku berpaling dan hanya bisa pasrah.


“Aku lapar sekali. Kak Rey, apa tidak bisa membangunkanku saja dari mimpi bodoh ini. Aku ingin bangun dan makan baklava buatan ibu,” kataku yang masih bisa bercanda dalam hati kala itu.


Aku sedikit memperhatikan satu persatu publik setempat yang menyaksikan. Dee bergerak aktif ke arah tentara tadi. Terjadi sebuah percakapan merdu. Kita akan paham nanti. Aku tak mengunci diri dari sudut pandang tentara dan polisi itu.


Lagipula, mereka melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Aku tak membenci mereka. Saat lapis kesadaranku mulai terendap, mataku sedikit memantau dengan kabur ekspresi Dee yang nampak tengah memaksa tentara itu untuk suatu toleransi.


Yah, semua lebih cepat dari yang aku duga. Semua berjalan efisien dan menurutku, kekurangannya adalah … ah, sudahlah! Sempat  tanda tanya ini menggerayangi sinyal kepekaanku.


Cerita mimpi yang ia buat ini seolah Dee  benar-benar belajar menulis dari tokoh figur seperti Agatha Cristie. Namun efek visualnya, lebih mengena pada rentetan metafora tanpa tersendat dari seorang Vladimir Nabokov, bersama kisah LOLITA-nya.


Dee menggambar ruang dimensi sporadis layaknya JK. Rowling.  Meski tak sehebat dua pengarang yang menulis “Catatan Kecil Josephine” dan penulis “Harry Potter” itu, aku masih bisa merasa dibodohi. Sebab di sini aku menemukan jalur teka-teki dimensi yang meski tak terlalu rumit menurutku.


Dan membongkar pelaku kriminal jauh lebih mudah, dibanding menemukan kosongan atas nama rumah dan kasih sayang. Di mana kita menaruh orang tersasar dengan pikiran seperti Dee dan ayahnya? Aku semakin lupa dan penasaran cara Dee menciptakan plot untuk menyudahi cerita rekaannya ini.


Terakhir, terasa jelas letak perbedaan Rey dan Martinus. Layaknya Tuhan yang mengulurkan tangannya ke dalam cerita ini, aku sebagai penceritamu merasa diberi hadiah tujuan seluk kehidupan.


Yah, ‘tujuan’  yang mengarah pada Dee secara kasat mata. Semua bersama bait lagu dari Dee, yang telah menjadi milikku dalam nyanyian hati kami berdua. Lagi-lagi, semua ini untuknya. Untuk Dee.