
Tan …
“Tapi, aku mendengarnya sendiri saat kau …”
“Aku hanya pura-pura. Tak usah kaupikirkan. Apalagi kaumasukan dalam hati. Sandiwaraku hebat, kan?” Dee tersenyum menanyakan.
Sembari terus mengarahkanku menuju rute pelarian yang disebutkan di tengah percakapan.
Secara kebetulan ada sesuatu menghantuiku. Dalam detik itu, belum juga kupahami kebebasan yang dimaksud Dee dari cerita kami. Menurutmu apa? Siapa tahu akses pikiranmu lebih kencang terkoneksi.
Untuk urusan semacam ini aku belum begitu lihai memahami. Aku harap memiliki cadangan waktu untuk meniti semua ini lebih mendalam. Otakku akan kusajikan lebih liar, lebih fantastis, lebih sederhana, dan menyeluruh. Oke, kita sambung lagi.
Di sisi ini, cerita Dee menjejaki keseluruhan diriku. Di luar nalar. Terkadang urat mataku nyeri dibuatnya. Bahkan pijatan kata-katanya meremas otakku guna berpikir cepat.
Ada dua kemungkinan, aku yang gila atau dia yang stres. Namun hatiku sungguh tak dapat berpaling. Dengan ini, aku pun mendesakmu untuk bertahan mendengarkanku.
“Kau itu … kenapa selalu ingin terlihat jahat?”
Dee enggan menjawab.
“Kau tahu, itu sama sekali tak mempan. Sandiwara kau masih amatir,” sambungku menyembunyikan kenyataan, bahwa aku sempat linglung dan hampir putus asa karena perkataan Dee kala itu.
“Aku tahu rahasia itu. Aku tahu korelasi hubungan, tentang identitas Keluarga Bulan dan tulisan tangan yang dirisaukan orang-orang astrofisika itu. Mereka mencari ibumu, ingin membunuhnya dan juga ayahku."
“Sepertinya ayahmu menyembunyikan rahasia besar tentang Keluarga Bulan. Kau adalah putrinya, kan? Apakah kau bahkan tak mengerti jika ayahmu menganggap kau produk gagal, seperti yang kakakmu ujarkan padaku? Dan yang kaubawa dengan teka-teka dalam buku nubuwah itu,” ujarku mengganti arah pembicaraan.
“Tan ...”
“Beritahu sekarang!"
“Kau tahu manuskrip kuno yang kau bawa waktu itu?”
“Iya,” balasku mendadak santai, meski sinyalnya berbohong.
“Ada unsur yang menggambarkan bagaimana masa depan bisa dibicarakan secara gamblang. Pernah juga, diusahakan keras oleh Isaac Newton dalam pencarian maksud kode-kode aneh di dalamnya. Ayahku pernah menceritakan sedikit abstraksi soal kitab itu. Aku dengar juga, manuskrip itu telah dikembalikan ke penjaga Vatikan."
"Itu, yang jadi biang masalah adalah manuskrip yang aku bawa itu disimpulkan sebagai hasil rangkuman spekulasi semata? Apa ibuku benar-benar menuliskan semuanya, ya?”
“Entah.”
“Sekarang manuskrip itu diserahkan pada Presiden Turki sesuai usulan dari penjaga Vatikan.”
“Oh.”
“Yang benar apa? Manuskrip atau buku? Kau selalu mengulang dua kosakata untuk menyebutkannya.”
“Mana kutahu,” balasku risih.
“Semua malah menyalahkan kau secara berlebihan, sampai tempat ini diasingkan sementara sebagai tempat khusus kau dipenjara,” terang Dee.
“Aku sudah tak peduli lagi dengan semua itu. Kau … jadi itu alasanmu menuduhku sewaktu di Aya Sofia? Kau berteriak-teriak mengatakan aku pencuri barang rahasia. Karena diceritakan ayahmu?" entah kenapa kurasakan diriku membeludak.
“Ternyata akar peradaban manusia yang berisi perang, pertikaian, serta kebrutalan tanpa kesetaraan, semua bersumber dari itu," kataku lagi.
“Apa maksudmu?” Dee tercerahkan untuk sekedar penasaran yang kritis.
“Aku tak mengerti arah pembicaraanmu.”
“Sama seperti tuduhan sembarangan yang ayahmu ciptakan padaku saat itu. Aku mengerti,” kataku sederhana.
“Sejarah manusia memang sudah begini dari dulu. Lahir dari prasangka yang berbuah rumor tak berpangku. Kemudian menelurkan semua kosakata negatif dari pemikiran mereka sendiri tanpa melibatkan hati. Jika pun ada cinta, hanya sekian raga di antara mereka," Dee menambahkan.
"Selebihnya tertimbun oleh dominasi mereka yang mengandalkan manipulasi pikiran sendiri-sendiri. Ujungnya, keyakinan pun melepuh layaknya makanan kotak yang kemudian seenaknya diaduk-aduk dan dirubah," lanjutku.
Detik itu, aku mencoba mengembalikan diri sebentar.
“Jadi, yang ingin kau katakan adalah kebencianmu padaku? Karena rumor bodohku tentangmu saat itu? Yang hanya berakar dari informasi yang bahkan belum matang sebagai pengetahuanku sendiri? Iya, kan?” entah kenapa Dee seperti itu jadinya.
“Tidak, kau salah. Maksudku dunia ini. Aku hanya menjadikanmu subjek nalar untuk memahami semua ini. Maaf, sudah membuatmu merasa dibenci. Aku rasa cerita ini tak akan ada habisnya.”
“Lalu, apa keputusanmu? Kau masih ingin berpikir lebih lama di tempat seperti ini?”
“Tak usah membahas itu.”
“Kau terlalu memikirkan. Seharusnya yang perlu kau lakukan adalah …”
“Berpikir?”
“Berpikir membuatmu otomatis akan merencanakan atau akan melakukan. Jika hanya memikirkan semata, kau hanya membuat dirimu diam di tempat. Hidup akan mengikis semua yang memilih beku. Bukankah mempekerjakan keinginan kita adalah cara keluar dari masalah kita sendiri?” Dee seakan menjadi tokoh filsuf kali ini.
“Ya sudah, aku tak akan memikirkan masalah berat itu lagi. Kepalaku juga sakit karena terlalu memikirkan palung dunia dan manusia-manusia tukang aduk tersebut. Hanya saja, berpikir tentang apa?” tanyaku.
“Tentang kebebasanmu sekaligus kebebasanku.”
“Lalu?”
“Tentu saja kita berpikir untuk keluar! Ya ampun … kau pandai membuat aku kesal separuh hati.”
“Iya, baiklah. Kita keluar sekarang, kan? Jadi, sudah kau putuskan jalur pilihannya?” aku seraya bangkit, menyambut kebaikan Dee dengan sangat toleran.
“Manuskrip dalam bentuk salinan buku itu, seolah bisa dipindahkan isinya dalam satu wujud kesimpulan baru. Sesuatu yang berisi gambaran masa depan? Seakan murni, buku terangkum berdasarkan rujukan daya pemikiran cerdas melalui medium sebuah benda teologi. Wah, ibumu luar biasa, Tan!”
“Bukan benda itu yang merangkak dalam pikiranku sekarang. Aku sudah yakin, Tuhanku tak akan membangunkan diriku dari mimpi sebelum tahu makna tulisan tangan Tuhan yang ibuku maksudkan. Ada kode lain yang Tuhan sisipkan entah di bagian mana dari semua yang kualami hingga menit ini."
Aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan. "Tapi … karena kau seorang Kristiani, aku tidak memaksamu untuk percaya.”
Aku benar-benar nampak yakin kalau aku tengah terjerat hadiah Tuhan ini.
“Tapi nyawamu lebih dipertaruhkan sekarang! Itu kan hanya teka-teki silang virtual dari pemikiran ibumu? Kita bisa rangkum semua kalau ujung masalah ini mulai terang.”
“Rasanya tak semudah itu. Lagipula aku juga memiliki janji yang harus dituntaskan di sini.”
“Apa?”
“Hutang moralku padamu. Hah … kenapa ada dua bintik masalah? Yang pertama adalah jawaban pertanyaan ibu, dan kedua … masalah kebebasanmu yang menjadi hutangku.”
“Itu … sudah kubilang akan kita dapati garis terangnya nanti!” Dee berujar bak menyembunyikan sesuatu.
Aku kurang yakin tapi perlahan mulai datang samar-samar sisa ingatanku akan akhir cerita ini. Meski belum setengahnya. Ya, Dee menyimpan sesuatu yang menjadi alasan betapa mudahnya ia berpangku kepercayaan padaku sedari awal.
“Kenapa kau sebegitu yakin?” pertanyaanku berlanjut.
“Entahlah, firasatku berbicara, tulisan tangan Tuhan itu juga menjelaskan masalah keduamu dan yang pertama menjadi bagian rangkuman tulisan tangan itu juga.”
“Jadi?”
“Jadi kau harus peka agar bisa membacanya.”
“Bagaimana bisa? Itu kan bermakna tulisan Tuhan?”
“Menurutmu manusia bisa menggunakan sudut pandang Tuhan?”
“Mana bisa, itu mustahil.”
“Benar, memakai sudut pandang manusia lain saja kita tak bisa, kecuali kita bertanya langsung atau hidup lama dan bersama orang itu. Makanya bisa terlahir rumor serta prasangka buruk, hasil ciptaan manusia seperti perkataanmu sebelumnya.”
“Artinya?”
“Artinya kita hanya bisa membaca itu berdasarkan kapasitas keyakinan kita pada Tuhan.”
“Begitu, kah?”
“Tentu saja, satu-satunya cara adalah memakai tingkat keimananmu terhadap Tuhan yang kau percayai, Tan,” Dee mengakhiri dengan menggemaskan.
Dan kami mulai berganti arah dan tergerak melangkah.
"Dan sebetulnya aku heran kenapa kau bilang kalau ini hanya mimpi? Sudah kubilang kan, masih saja menurutmu wajah cantikku ini hanya sebuah halusinasi?” canda Dee dengan intonasi yang parau.
“Tak ada sangkut pautnya dengan parasmu itu. Semua wanita Turki itu memang manis-manis.”
“Kau tak diminta Tuhan untuk menjalankan misi menatap gadis-gadis,” tekan Dee.
“Terserah. Buku ibuku itu … atau kukatakan saja manuskrip itu terbilang punya andil besar tentang alasan, kenapa seseorang rela membantai suatu kaum hingga dianggap penjahat besar. Dan kau harus ingat kalau itu adalah pemberian ibuku. Memang itu adalah nyawa kedua bagiku, meski sekarang tidak lagi."
Aku menatap Dee lebih serius. "Namun tekadku sudah bulat. Dan aku sangat yakin, kalau bukunya direbut ayahmu saat aku pingsan sebelum diserahkan oleh orang-orang Astrofisika kepada penjaga Vatikan. Lalu dengan seenaknya ia menyalahkanku. Dan berhentilah memuji diri sendiri.”
Dee tak menjawab dan bergerak lagi. Membuatku bertanya lagi, “Kau mau menipuku lagi? Katanya mau menuntunku keluar? Jangan lagi berbuat gila, hei!”
Entah sisi mananya dari Dee yang bisa diterima. Semak kekhawatiran menyerang urat hatiku. Nampaknya Dee akan melakukan hal bodoh, namun kemudian berbalik dan bertatap lagi denganku.
Ia sekilas seperti sedang berbisik pada seseorang di bagian lain. Bunyi berkelontangan dan denting langkah kaki beradu. Dalam beberapa detik, ia sudah bersama sekelompok pria.
Seketika merasa malu. Sebelum kata-kata tercurahkan dari mulut mereka, sontak aku membuang muka. Tak ingin kelemahanku dikasihani oleh orang-orang yang aku kagumi. Iya, lelaki pirang yang sebelumnya membelaku saat sebelum diusung kemari.
Awalnya hanya kemurungan, namun kali ini lengkap. Dua pemuda menyentak jiwaku. Sementara aku tak melontarkan kekesalan apa-apa, kecuali terus memandang kelakuan aneh yang Dee lakukan.
“Jangan pernah merasa rendah diri anak muda, Tuhan tak suka," ucap salah seorang biara muda yang aku tandai wajahnya.
“Tan, ini Martinus kakakku. Dan ini Aaron, dia pamanku,” terang Dee.
“Em … iya. Ah, pantas saja anda membela saya waktu itu. Tak heran, terkadang kakak dan paman lebih mengetahui apa yang dirasakan adik dan keponakannya,” aku sumringah.
“Dee … aku minta maaf dengan kondisiku yang seperti ini, tetapi aku senang harus bertemu denganmu dan juga kalian. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku,” lanjutku penuh harap.
Dee mengikrarkan senyum gairah.
“Paman, aku tahu seharusnya kita tak boleh berada di sini. Oh ya, kawan-kawanku sudah menunggu di luar,” kata kakak Dee yang bernama Martinus itu.
“Kalau begitu kau harus tutup mulut,” gertak Paman Aaron menakut-nakuti.
“Kau pantas dikagumi,” lanjut Tuan Aaron memuji kemudian pada keponakannya dengan suara bosan, padahal seharusnya ia lebih dulu merespon perkataan diriku padanya.
“Aku mendengar semua tentangmu dari Dee secara rahasia. Juga tentang manuskrip itu. Dan laki-laki itu benar, kan?”
Paman Aaron mulai. Menuju pada percakapan yang mengarah pada satu titik terang.
“Benar, ibuku pernah menyebut nama itu.”
“Orang-orang dan para peneliti lebih mengetahui kalau ia melarikan diri ke bagian lain di benua biru. Dan mereka mengatakan, tengkorak kepala lelaki kejam yang dulunya pernah hampir membantai suatu kaum seluruhnya itu, telah ditemukan. Namun, beberapa juga mengatakan, ia melarikan diri ke suatu pulau di penjuru Timur,” terang Paman Aaron.
Suaranya mampu terdengar hingga ke ruang bawah tanah ini. Wajar saja, suara mampu merambat dan menggema di ruang yang dikelilingi benda padat berrongga.
“Apa perlu kunci?" pinta Paman Aaron.
“Kunci? Darimana memperolehnya?” aku bertanya rendah.
“Ini ulah pemikiran Dee, kau tak perlu risau.”
“Maksudnya?”
“Aku pikir seharusnya tempat ini tak perlu kunci. Bukannya ada rute melarikan diri?” Martinus menyarankan.
“Astaga … mereka sama anehnya dengan Gadis Bulan ini,” batinku. “Meski itu masih sekedar hipotesis.”
Perlindungan mereka ini membuatku was-was. Walau sebetulnya sangat menguntungkan, di luar sana kurasa akan ada ancaman yang jauh lebih menyulitkan. Kuulangi, di luar akan ada kesulitan yang lebih mengerikan.
Kami menaiki dua ratus lebih anak tangga dan perlahan-lahan menyempit di celah tembok, ketika sadar ada sekelompok orang memasuki. Seharusnya aku punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan kulakukan. Merencanakan langkahku lalu segera kabur.
Duk …
Dee tak sengaja membuat suara gaduh. Orang-orang di luar itu sadar. Namun hanya satu orang dari mereka yang spontan bereaksi cepat dan tak butuh waktu lama berada dekat untuk menangkap kami.
Sontak Paman Aaron melayangkan satu buah pukulan, ke salah seorang penjaga terdekat sebelum mereka menyatu. Kami secepat mungkin mengambil kesempatan untuk menjauh.
Dengan keringat dingin menguyur pelipis, kami terus berjinjit-jinjit menaiki tangga, berusaha agar sesegera mungkin sampai ke atas. Menempuh ruangan sempit nan sesak dan dijepit tembok-tembok berseragam. Walau harus ini yang aku jalani, aku tetap bersyukur Dee tak ikut dijebloskan ke sini bersamaku.
Bukan mustahil, bila memperhatikan kekejaman ayahnya, menjadikan dugaanku bukanlah sesuatu hal yang mustahil. Tak lama, seorang lelaki tua menghadang. Lelaki yang kau sendiri juga mungkin menginginkan kebaikan cinta untuknya.
“Ayah?” Dee terkaget-kaget.
Di wajahnya, hanya tutupan berkemas cerah menghalangi wajah aslinya. Itu hanya kiasan saja. Dan beberapa pendeta dan orang-orangnya yang masih muda tercecer di belakangnya.
“Tak perlu sungkan,” tutur Tuan Abraham.
“Tan, Dee, pergilah. Biar kami yang berurusan dengan ayah,” kata Martinus berani. Aku dan Dee menuruti.
“Kalian lebih memilih membela seorang penjahat daripada ayah yang selalu membangga-banggakan kalian! Sampai-sampai kalian menerima saja negara kalian dirusak ******* itu! Dee, kau … sedikit saja lanjutkan niatmu lebih jauh, jangan harap kau bisa kembali lagi ke Gereja manapun di Turki!"
Kami berdua tak jadi melangkah.
“Ayah …”
“Itu hanya asumsi Anda! Bagaimana mungkin rumor tentangku bisa dijadikan fakta? Semua orang hanya menjadikanku sebagai objek sangkaan,” kataku masuk dalam pembicaraan, seakan sengaja memimpin kebutaan hati Dee yang nampak hanya bisa terkurung dalam lembah ketakutannya.
“Jangan takut,” bisikku agak kejauhan pada Dee. “Kebenaran yang lahir dari dugaan bisa membunuh orang lain. Kebenaran, bisa berasal dari siapa saja dan dari mana saja. Tapi kebenaran hakiki hanyalah bersumber dari fakta.”
“Tapi faktanya kau hanyalah ******* pembual, yang bicaranya setinggi patung benua Amerika. Apanya yang bukan fakta?” balas Tuan Abraham dengan percaya diri sekali.
“Kalian telah membunuhku secara tak langsung,” ujarku meluap-luap dan sekarang nampaknya mendidih.
Dee meremas lembut tanganku. Tak sadar dirinya berbuat demikian. Kontrol otaknya tak memerintahkan. Aku sulit menolak dosa yang satu itu dalam keadaan demikian.
Mungkin semata naluri dari dalam dirinya. Pandangan Dee sesaat ditorehkan ke arahku.
“Jangan disentuh,” kataku.
Dee belum mengerti.
“Jangan sentuh tanganku dengan cara begitu. Itu cara yang dimurkai Tuhanku, Dee."
“Apa kau sedang berfilosofi sekarang?” tanya Dee pelan.
Aku merasa ada sinyal kasih sayang untuk saling menutupi kekurangan. Dee merasa dilindungi oleh hangatnya kepedulian lelaki di sampingnya itu, ialah aku. Tak tahu harus apa agar keraguannya sirna. Lalu mendadak, aku berkelebat tegas.
“Aku tengah berpikir sekarang,” kataku membalas pertanyaan filosofi tadi, seraya menghela tanganku dari remasan jemari Dee.
Aura Dee nampak lebih menyala seketika. “Ayah, sudah cukup. Aku bagaikan peladen. Tak pernah punya rumah. Itu adalah neraka yang sudah ayah ciptakan sendiri! Bukankah ayah selalu menyortir diriku dengan kalimat-kalimat penghargaan?"
"Dan Ayah kemudian mengajarkanku arti warna-warna biasan itu menyimbolkan akan indahnya pelangi perbedaan? Ayah lupa? Kapan Tuhan kita pernah mengajarkan kita untuk memakan bangkai orang lain?" ujar Dee lagi dengan lantang.
Kekesalan yang dipendamnya selama ini keluar bersama emosinya yang meletus-letus. Dia sudah layak menimbun kejahatan hidup yang menimpalinya selama ini. Maksudku, Dee melampaui batas energi emosionalnya sendiri.
“Dee, tapi pria itu …” Tuan Abraham menahan diri.
“Aku menemukan kedamaian dalam dirinya. Dia adalah orang pertama yang mengakui keberadaanku, yang jauh lebih mengerti aku daripada diriku sendiri, daripada negeri ini, dan daripada dunia ini,” Dee tersedu-sedu.
Maaf jika kalian berpikir ini terlalu berlebihan, Teman. Yang terjadi memang seperti itu.
Aku dibuat berekspresi tak menentu. Serasa digerayangi stroke ringan mendengar pengakuan hati Dee.
“Hei Gadis Bulan, kau tak sedang mengajakku berakting lagi, kan?” tanyaku agak gelisah.
Pembawaanku memang begitu. Entah gen siapa yang kuwarisi. Bisa-bisanya tetap tenang meski angin sedang topan-topannya. Pikiranku bahkan masih sempat mengejek Dee yang sudah cukup diliputi aurora warna merah. Merah keberanian.
“Putriku, mustahil kau menaruh cinta pada seorang *******? Apa kau sukarela bila dianggap sampah oleh seluruh rakyat Turki?” kembali Tuan Abraham memasang empati hitam tak bertahta.
Meski tetap saja Dee memasang wajah tak peduli. “Memang, tapi itu di mata manusia, tidak di mata Tuhan,” Dee seolah menghipnotis suasana.
“Kau gila! Menurutmu bisa memakai kaca mata Tuhan?” lantang ayahnya.
“Tidak,” jawab Dee lagi. “Aku hanya percaya. Dia yang di atas sana selalu mudah memasuki hati mahluk-Nya, yang di situ ada lapis kelembutan. Bagaimana ayah bisa melihat tulisan tangan Tuhan kekasih gelap ayah itu, kalau hatimu begitu keras dan kaku, ayah?”
"Kekasih gelap?" aku membatin. "Apa yang dimaksudkan Dee itu ... ah, kurasa aku terlalu muda untuk terlibat nominasi calon menantu idaman.
Lagi-lagi, kata-kataku terpakai. Dee cepat sekali belajar. Mungkin keahliannya memang belajar. Kalau ibuku hanya ahli manipulasi kata-kata.
Ibuku pernah bilang, “Petunjuk Tuhan terkadang ada pada hati nurani. Kita saja yang kurang porsi untuk menerawang diri sendiri lebih dalam.”
Aku merasa Dee sudah layak bereinkarnasi menjadi seorang muslimah dengan pemikiran selembut dan setegas itu.
“Tak perlu kau sambung, Dee,” ujar Tuan Abraham.
“Berhenti menahan diri adikku. Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” kata Martinus. Dee lalu turun lagi ke ruang sebelumnya.
Tak lupa tangan Dee sontak mengail lagi helai bajuku hingga terbawa bersamanya. Kalimatku tentang larangan sentuhan itu seakan tak berlaku dalam situasi ini.
Aku tercengang dan lantas mengikuti. Namun aku menahan, membalikkan lagi ke arah sebelumnya.
“Sudah, ikut aku sebentar," katanya.
Benar-benar kembali lagi ke arah sebelumnya. Entah apa yang ia pikirkan. Di bawah, Dee menghirup nafas tipis sekuat-kuatnya. Sepertinya oksigen di ruang bawah tanah ini sangat miskin.
Padahal seharusnya semakin ke bawah, maka oksigen akan semakin melimpah. Mungkin Dee mencoba merefleksikan sebuah ketenangan hatinya.
“Ada baiknya kau berpikir lebih dingin, Dee,” kataku cemas.
“Sudahlah, kita hanya perlu pergi sekarang,” ajaknya lagi.
“Kenapa juga kau harus masuk ke sini lagi?”
“Sebentar, Tan!” pinta Dee seraya membungkuk dan mengambil benda yang ternyata adalah kalung berkepala huruf D yang terjatuh.
“Kau kembali untuk itu?” aku bertanya acuh. "Kepala kalungnya berbentuk huruf D. Apa itu simbol keturunan terakhir Keluarga Bulan kalian?"
“Iya.”
“Haha, biarawati yang masih muda sepertimu memang kadang-kadang sungsang dan rumit ditebak,” aku lagi-lagi membullinya.
Dee tentu malu pada nuraninya andaikan terus berpatokan, pada kehidupan yang bukan pilihannya. Ia pun kembali beranjak sembari mengailku yang tetap di sampingnya.
“Hei, bagaimana bisa kau nekad dengan otak seperti itu?” tanyaku seraya terus pasrah, ketika gelang tangan bajuku disortir Dee menuju luar.
Martinus dan Tuan Aaron di batas tadi, menahan Tuan Abraham dibantu kawan-kawannya yang berjumlah belasan orang. Entah kapan mereka masuk. Ketika itu pula para orang-orang penjaga yang tadi mereka hindari, sekarang tengah mencoba menangkap Martinus dan Tuan Aaron.
Namun sebelum itu terjadi, perhatian mereka pun turut menyusul aku dan Dee. Aku rasa orang-orang itu adalah dua polisi tanpa pakaian kebesaran mereka. Ya, selain pendeta-pendeta yang menemani Tuan Abraham, mungkin.
Aku menahan Dee. Mencoba menanti semangat orang-orang tadi, yang nampak berupaya mengakhiri pembekuan gerakan terhadap Tuan Abraham dan orang-orangnya. Semua kembali terkumpul.
Hingga cukup lama, suara kaki manusia-manusia mengintai. Sudah ada polisi bersiap mencegat. Belum sampai menyadari keberadaan aku serta Dee. Seraya itu, aku mendekatkan tangan di dada. Mendoakan diriku dan Dee.
“Tuhan," hanya panggilan itu yang bisa membuatku tenang.
Namun mimpi dari keinginan Dee malah terjadi sebaliknya. Kami tersudut. Dee memang yang menginginkan semua ini terjadi berdasarkan rencananya. Dan aku hanya bisa berprasangka baik pada Tuhan, untuk menyetujui mimpi itu terjadi.
Sayangnya aku baru menyadari semuanya setelah cerita rekaan Dee, yang melibatkan diriku itu berada di titik akhir. Tanpa ada iming-iming, polisi tadi hadir.
Polisi lain dengan seragam jati dirinya. Sementara aku dan Dee masih tersendat untuk tahu harus berlari ke mana setelah mencapai luar.
Mendadak, pergelangan tanganku dipatungkan oleh seseorang dari arah yang tak kusangka, polisi. Dengan sangat disayangkan, untuk kesekian kalinya, aku merasa kebodohanku untuk kabur merugikan diri sendiri dan juga saudara-saudara baruku.
Buk …
Sebuah kesiagaan. Mendadak, jeratan polisi tadi menjadi longgar. Langsung terjatuh karena hantaman batu dari layangan tangan Dee menghantam tengkuknya.
“Luar biasa, Dee!" aku berseru kagum meski sebetulnya masih merisaukan aksi gila biarawati muda di sampingku itu.
Sedikit ada spasi. Walau aksi tersebut tak sepenuhnya menghentikan kemudi pergerakan si polisi. Sementara penutup kepala biarawati milik Dee, terlihat menjadi longgar.
Sementara itu …
"Kita ke samping, menuju padang tanah. Tak ada pilihan lain,” suruh Tuan Aaron mengambil alih suasana.
Dan keponakannya Martinus tak ketinggalan. Sekarang harus mendapati kendaraan agar bisa mencapai kota.
“Lurus saja,” pimpin salah seorang kawan.
Di sisi lain, tangki keberanianku mulai disedot kelelahan yang memuncak.
“Tak ada trem. Jaraknya sangat jauh!” keluhku pada Dee.
“Ya Tuhanku yang mencintai Muhammad, jika ini mimpi, bolehkah aku minta satu saja buroq? Untuk kupulang dan membawa Dee bersama-Mu," kataku membatin.
"Cerita ini terlalu berat bagiku. Katanya Kau tak akan menguji hambamu di luar kesanggupannya, kan? Maafkan aku, bantu aku,” sambungku membatin. Memelas Tuhan.
Polisi mengubur mimpi kawan-kawan Martinus untuk kabur. Apalagi dengan gagahnya, mereka sudah mengendarai mobil kebesaran mereka.
“Mereka melarikan diri?” suara seruan dari mereka dan terasa mendesak.