
Dee …
PAGI HARI, rencana gila itu terbayang begitu menakutkan. Bagi Tan, pahit manis dan asam negeri ini seakan sudah kenyang mengisi kekosongan relung batinnya. Kelabu, memutih, ketika menghitam pun serasa sama. Apa yang bisa mengubah suatu negeri? Pertanyaan dari kezarahan hatinya. Seumpama ‘teripang’, suatu rencana bisa saja diam terbawa arus atau justru malah bersembunyi di kerumunan pasir laut.
Dengan hal semacam ini, ia jadi ditugasi Tuhan mengubah sebuah negeri. Tak hanya sebuah, ini bisa berpengaruh ke hati manusia manapun. Raja kecil manapun. Ini juga sekiranya akan menyatukan perbedaan dan simfoni kebencian. Bukan hanya itu, bakteri-bakteri dari dalam juga akan sadar dengan sanggar tebal di tangannya.
Keberangkatan menggunakan mobil milik Paman Syam. Mobil Pick Up jenis Double Cabin membawa kami. Paman Syam menyetir. Tiga orang di belakang mobil yang terbuka. Raut wajah semuanya hampir penuh akan kecemasan. Orangtua berhati lembut itu sungguh pertama kalinya kau temui, kan? Dia rela saja menerima dan merelakan keponakan angkatnya ini berjuang demi orang asing yang baru dikenal.
“Orang-orang itu. Mengapa berkeliaran? Kau mengatakan sudah meminta mereka membawa anak-anak itu, kan, Martinus? tanya Tan sedikit geram melihat kawan-kawan Martinus sebelumnya.
Firasatku mengatakan ada yang tak benar.
“Memang sudah. Aku menyuruh mereka untuk mengulur waktu sedikit. Perlu spasi cukup lama antara Dee dan Paman Syam sebagai pembicara nantinya melalui bantuan siaran radio. Jika kau menyerahkan diri, kemungkinan kau mesti menunggu di balik jeruji dan hanya bisa menyaksikan. Sebelum itu juga, kau harus berurusan dengan orang-orang di pengadilan agar rencana kita berjalan,” jelas Martinus.
“Begitu …, syukurlah.”
“Kau bersyukur? Ya ampun, sejak kapan kau sepolos ini,” Tan mengejekku lagi entah sudah yang ke-berapa. Aku sudah terbiasa dengan itu.
“Lalu, pengadilannya?”
“Di pusat,” jawab Martinus pada Tan.
(Aku tak ingin berlama-lama)
“Kita tidak akan ke sana terlalu pagi kan, Paman?” tanya Tan.
Paman Syam hanya memberi semburat jempol dari ruang pintu yang berada di posisi penyetir.
Tan …
“Anak-anak di pondok sebagian masih sangat dini. Jadi Paman Syam menginginkan mereka sendiri yang membawa anak-anak itu untuk menolong kita,” ujar Dee polos.
“Siapa lagi?”
“Orang-orang pedalaman sekitar.”
Walaupun sempat heran, alhasil aku senang akan ketulusan komplotan itu. `
“Mereka kawan-kawan kita sebelumnya,” kata Paman Syam.
Yah, aku harus memperbaiki harga diri Dee dan menyelamatkan martabat orang-orang buangan itu. Tentu karena aku tahu rasanya dibuang. Ingin sekali aku singkirkan dan kubur dalam-dalam.
Namun matahari di pertengahan bumi begitu serasa membakar. Petala langit menyala-nyala ingin berkobar. Dan di depan sana, pengadilan Turki siap menyambut. Sebentar tangan berharap, hati merenung, berharap akan kemudahan dari Yang Maha Esa.
“Dee … Martinus?”
Dua orang sasaran pertanyaanku kompak menoleh.
“Entah kenapa, tiba-tiba aku berpikir, aku memang belum harus mati, dan aku benar-benar tidak jadi ingin mati. Karena aku tahu, aku punya kakak dan seorang ibu di ruang dan dimensi yang berbeda. Tapi di sisi lain, aku tak ingin meninggalkan negeri ini. Aku menyayangi orang- orangnya, penduduknya, dan juga budayanya. Aku mencintai negeri ini. Juga kalian berdua.”
Terukir garis senyum di bibir manusia-manusia itu. Mungkin saja aku bisa kembali. Atau juga tidak dan menetap di masa ini dan koma selamanya. Itu sekedar dugaanku.
◌◌◌◌◌
Dee …
Tan, demi kejujuran dan semangatku, ia rela melawan aturan dan dianggap penjahat. Apa pedulinya. Lagipula orang-orang itu amatlah terbatas untuk urusan meriset hati orang lain. Setidaknya begitu pemikiran Tan yang kupahami.
Sementara sesuai rencana, Tan mungkin sudah termenung dengan situasinya di balik penjara. Gambaran yang terjadi adalah, di pertengahan gedung pengadilan, mendadak dan sangat cepat, para pembela dari pedalaman yang Tan ujarkan saat itu, ditambah sebagian besar para kawan Martinus yang tersisa masuk ke dalam ruangan. Ada lima orang, sisanya tengah menjemput anak-anak itu. Berarti … jumlah anak- anak yang akan dibawa adalah sepuluh orang. Baru akan meramaikan kursi kosong mereka sudah dikebiri aneka suara layanya gonggongan fauna liar.
Yah … Tan benar-benar mengurus semuanya. Terlalu lama jika aku menceritakan bagaimana percakapan Tan dengan para polisi saat ia menyerahkan dirinya hingga persidangan ini dimulai. Jika nekad kuceritakan detail, hanya akan membuatmu tertidur, Teman.
Aku dan Paman Aaron bersiap mengumandangkan sebuah kabar kebenaran. Hanya Martinus yang masuk ke ruang pengadilan.
“Dia itu?”
“Pengkhianat negeri."
“Dia pembantu si peneror itu! Mereka yang menyimpan pemusnah masal di Bulan!”
“Anak Tuan Abraham yang satunya lagi.”
Tan pasti termenung di balik jeruji besi yang cukup jauh dari ruang pengadilan ini. Yang bisa ia lakuan hanya berharap aku dan Paman Aaron berhasil dengan suara kami.
“Apa tujuan kalian pembelot? Ini tak ada gunanya. Jelas-jelas kalian itu pendusta.":
“Ya …!!”
“Jangan merasa suci!,”
Aku bisa mendengar suara-suara dari ruang pengadilan itu dari ruang penyiaran karena bantuan ponsel yang menghubungkan aku dan Martinus. Namun tak hanya itu.
“Huuu …” disambung sorakan hinaan dari yang lainnya.
“Kita akan memulai sidang!”
(Gaya berceritaku kaku untuk hal ini. Kuharap kau tenang.)
Tan hanya bercokol di tempatnya sekarang. Ia ditemani juga oleh radio kecil.
“Apa pembela dari yang tertuduh ingin memulai pembelaannya?”
Yang terjadi adalah apa yang kakakku Martinus katakan setelah bagian paling membawa emosi ini usai. Saat itu Martinus memberi isyarat.
“Kami tidak ingin bersidang, Pak. Saya Martinus, izinkan saya untuk mengusulkan agar kita sama-sama melihat kesaksian pembela dan dibantu benda ini,” Martinus membawa sebuah radio khusus dan diletakkan di meja di depannya kemudian. Sesuai rencananya.
“Dee, aku harap kau tepat waktu,” Martinus memohon kecil.
Orang-orang mendengarkan. Beberapa menit masih tak ada sinyal. Tak ada suara siapapun muncul. Sampai sepasang mulut saling berujar di ruangan penyiaran. Kau pasti tahu siapa mereka.
“Ini sudah waktunya. Perhitungan jam sembilan Martinus sudah sampai di sana, kan?”
“Iya. Dee … Paman tak paham dengan ini.”
“Ini tugas saya, Tuan,” kata seorang penyiar.
“Terimakasih mau membantu kami, anak muda,” kata Paman Syam. “Kau mahluk baik yang sangat langka.”
“Tes … tes …”
“Tuan bernama Martinus? Ini kami dari ruang penyiaran. Kau bisa menghubungi kedua kerabat anda ini. Masuk …” kata lelaki itu dengan memanjang vocal ‘u’, gaya nada penyiar radio pada umumnya.
Orang-orang di ruangan sidang bersama pikiran mereka sendiri-sendiri.
“Siapa?”
“Mengapa harus memakai itu?!”
“Di mana lelaki bernama Tan?!”
“Dia memakai ‘joker’ nya untuk memanipulasi kebenaran.”
“Muncullah ke permukaan dengan jati dirimu sendiri, jika ingin diakui keberadaannya oleh banyak orang!”
Kalimat pencitraan itu menguap ke segala penjuru ruangan.
“Paman?”
“Sudahkah? Martinus lebih lambat daripada bayanganku.”
“Kau bisa Paman?”
“Iya, aku akan mulai.”
Dalam ruang pengadilan masih berhimpun kepingan suara gonggongan orang-orang itu. Kawan-kawan Martinus dan para orang pedalaman hanya bisa suram.
“Aku Syam. Seorang Muslim …” suara itu akhirnya dimulai.
“Salah seorang yang menjadi bagian mayoritas di negeri ini. Seorang pengajar di pondok. Aku tak memiliki keluarga. Satu-satunya keluarga terdekatku adalah seorang gadis Kristiani yang pemberani dan menghargai kebebasan orang lain. Itu saja, dan biarkan puteri Tuan Abraham yang melanjutkan.”
“Apa-apaan orang itu?”
“Dia bicara apa?”
“Gadis itu dibilang puterinya …”
“Apa Tuan Abraham sudah tak mengakuinya?”
Orang-orang berkelabat dengan udara yang tak jelas. Dan aku pun mengangkat kalimat. Aku melihat Tan terlebih dahulu dalam pikiranku, seakan benar aku bisa memandangi kerapuhan Tan, yang hanya berpaku pada kepasrahan di penjara. Kurasa iden Tan memang benar dalam plot mimpi kami. Kalau Tan tak berani mengambil resiko seperti itu, ia akan berlari terus dari media dan entah kapan akan terbangun dari misi Tuhan ini. Rahasia yang aku simpan darinya kemungkinan juga tak akan terkuak dan terjebak tanpa bisa membukakan pintu kebebasan itu.
Tan …
“Berani sekali Nona itu. Kenapa dia sampai repot-repot membelamu?” ujar seorang polisi yang mengawasiku bersama radio di tangannya, yang disedikan kepolisian atas dasar permintaan dan rencana yang kami beberkan terbuka.
“Masih muda tapi masalahmu sudah sebesar itu … anak muda,” ucap seorang tahanan di belakangku dengan semburat senyum sinis. Namun aku tetap tersenyum dengan makna yang lain.
“Wanita sangat dihargai, itu yang Tan ajarkan padaku. Untuk itu aku sebagai saksi dan bukti betapa orang-orang pinggiran di luar sana, orang-orang yang selama hidupnya pernah mendekam di penjara bawah tanah, bukanlah pendusta,” Dee masuk dengan pembukaan akan jati diri kawan-kawan Martinus itu. “Mereka penuh akan kebenaran. Aku mungkin tidak lagi dipercaya sebagai anak seorang pendeta ataupun seorang calon muslimah di kota ini. Tapi yang jelas, rumor tak berpangkal kalian hanyalah iblis kejam yang tak ber-Tuhan.”
Orang-orang berkisik. Terdengar liar dari radio kecil di tangan polisi yang mengawasiku. "Mungkinkah Puteri Helen itu bermaksud kita menjadi medium fitnah?”
"Bisakah Anda lebih pelan, Nona Dee? Kita baru saja memulai. Tak perlu terburu-buru begitu."
“Aku mempercayainya."
"Mempercayai seperti apa maksudnya? Bukankah lelaki bernama Tan itu adalah pencetus senjata pemusnah itu?"
"Kalian semua bisa mempercayaiku. Senjata itu tak perlu dibahas dulu sebagai alasan apapun. Yang kedua adalah betapa mengerikannya hak untuk menyampaikan sebuah komentar, entah itu pahit atau manis. Kebebasan berbicara memang suatu ketetapan alami. Tapi sebagian besar dari kita menyalahgunakan hak itu. Wartawan dan para polisi jadi kekurangan keprofesionalan mereka dalam meminimlisir efek rumor tersebut … dikarenakan asumsi tanpa esensi kalian yang membuat mereka hanya menurut saja secara potongan kertas.”
"Kendalikan diri Anda, Nona. Sidang ini sesuai pengabulan dari pemimpin negeri ini atas permohonan kalian sebelumnya. Jadi, terbukalah secara teratur dan baik. Poin pertama, apakah Tan adalah teman Nona?"
“Statusnya lebih dari itu."
"Bagaimana itu bisa terjadi? Kami juga akan berusaha pelan-pelan menerima apapun bentuk jawaban Nona. Sesuai permintaan pemimpin kami, kalian diberikan hak untuk menyampaikan hal-hal yang seharusnya didengar orang banyak.
"Begitu ya, pantas saja Tan merencanakan penyerahan diri seperti ini."
"Benar, itu adalah syaratnya. Ia memang kami minta untuk menghadirkan saksi sebagai pembicara hari ini."
"Tuan, saat pemuda itu menyematkan arti sebuah kejujuran, aku sadar, kebenaran tidak sepenuhnya berisikan unsur kebenaran,” suara Dee mulai terdengar keletihan. “Kata bermakna sebaliknya, terkadang hanya kosakata yang manusia ciptakan ketika mereka berada dalam ranah kesetanan. Saat di mana Tuhan sedang tak ada di hati mereka.”
"Kenapa Nona memulai dari hal-hal psikologi semacam itu?"
“Tan … dia mengerti bagaimana kesepianku. Dia menyelamakanku dari sesatnya hidup dan menunjukku jalan yang benar untuk keluar dari semua lubang hitam.”
Gaya bicara dan kalimat-kalimat Dee terasa menggugah. Meski masih ada selembar keraguan nampak di wajahnya yang bisa kulihat dari mata hatiku. Mungkin ia bersama tundukannya memperlihatkan itu.
“Kau masih sanggup, kupu-kupu Paman Syam?” aku membatin. Kuharap Paman Syam memberi kelembutan dengan analogi sebutan yang biasa terlampir dari dirinya pada Dee sejak wanita itu masih lima tahun, seperti yang Dee ujarkan sewaktu di Pondok. Bahkan tak diketahui ayahnya. Sejak beberapa saudara Dee meninggal seperti yang Martinus katakan jauh di awal, Dee sudah menjadi produk gagal di mata ayahnya itu.
Beberapa orang yang tadi menggonggong kini entah kenapa terlihat sayu dan seakan ingin ikut terbawa. Sayangnya tidak …
“Kalimat Puteri Helen di radio itu terlalu banyak metafora … kami tak mengerti!”
“Ya …
“Benar sekali …”
“Justru jika tak ada dia, negeri mimpi ini tak akan keluar dari zona kepalsuan!” sambungnya kemudian tiba-tiba. Menyerap bahan persediaan kata-kata orang-orang itu dalam beberapa hitungan detik saja.
“Palsu?”
“Mimpi katanya?”
Gaduh dan bisik-membisik kembali terjadi di dalam ruangan. Tidak hanya itu, penduduk lokal dari berbagai daerah, yang sempat mendengar itu langsung melalui sinyal radio, telah dibuat memuncak kadar emosinya.
Tuk … tuk … tuk …
Ketukan pemimpin sidang membuat seolah-olah itu benar-benar sidang dalam sebuah ruang mimpi. Yah, sidang jarak jauh tanpa subjek tersangka. Sementara aku hanya cemberut mendengarkan Dee berkutat hal berlebihan tadi. Akal Martinus untuk kegiatan aneh itu benar-benar sukses setengah jalan. Namun kalian harus sadar, kalau plot mimpi yang dibuat oleh Dee benar-benar membingungkan dan membuatku pusing. Kenapa mendadak harus mengarah ke pengadilan? Kurasa saat itu, di ruang mimpi itu sebelum kami mencegah hal serupa di dunia nyata, Dee menaruh harapan dalam setiap sketsa alur yang dimohonkannya pada Tuhan. Harapan agar ke-tidak-masuk-akalan ini menjadi lebih sederhana di dunia nyata nantinya.
Aku mendengar hakim dari radio kecil di tanganku, "Nona Helen, silahkan lanjutkan.”
“Aku yang berada di usia dua puluh tahun dan hidup di negeri ini, tentunya sangat mengenal hukumnya. Perlu kalian semua ketahui, Tan datang dari dari waktu sepuluh tahun sebelum masa sekarang."
Tanda tanya, kurasa seolah muncul bergelantungan di batok kepala orang-orang itu.
“Apa maksud wanita itu?”
“Kalian rupanya cuma sekumpulan penghayal!”
“Tenanglah …” potong hakim lagi.
“Dan jujur, Tan menyempatkan waktu untuk menyerukan padaku sebelumnya, buku Nubuwah tentang pemusnah dari Jerman, penyelamat di masa depan bernama Mahdi, dan karakter-karakter lain dari buku salinan itu. Namun kita semua salah, buku Nubuwah dan manuskrip itu tidaklah sama. Aku memahaminya ketika Tan mengatakan kalau ia tidak mengetahui perbedaannya bahkan yang ia bawa sejak awal itu pun … membuat kami bingung sendiri. Hingga penjaga Vatikan semakin memperjelasnya dengan mengatakan bahwa apa yang dilansirnya, sama sekali berbeda dari apa yang termuat berdasarkan pengetahuan tentang itu. Dulu, sebelum meninggal, Isaac Newton sempat mencoba mencari tahu kebenaran tentang kode rahasia Tuhan dalam Lima Kitab Perjanjian Lama, dan manuskrip itulah yang benar," Dee memaksa dirinya sangat deras. “Aku tak lagi bermetafora jadi kuharap kalian semua yang mendengar ini … mengerti sebenar-benarnya.”
"Nona Dee, maaf sebelumnya, apakah Nona mengerti dengan situasi dunia saat ini?"
"Kita tak perlu membahas masalah senjata pemusnah massal itu lagi. Tan adalah korban. Jika kalian tetap memenjarakan Tan, maka orang di balik ini semua, akan membahayakan bumi kita."
"Sebentar, apa maksud Anda, Nona? Kalian diberikan kesempatan sebagai orang-orang yang perlu menjelaskan saja, kalian tak boleh merubah status apapun."
"Tetapi status Keluarga Bulan itu memang salah!"
"Tenanglah Nona. Oke, bisa Nona lanjutkan lagi tanpa bergejola?"
"Buku hasil rangkuman seorang sejarawan yang bunuh diri sepuluh tahun lalu. Maret 2007. DR. ALISON,” lanjut Dee.
“Dee, kau …?” aku terpikirkan sesuatu yang aku rasa kau juga tahu. Mendengar suara Dee dari radio lain, aku jadi menerka semuanya dalam prasangka yang bukan-bukan.
“Sejarawan terkenal Turki yang memutus ruhnya lantaran tak kuat mewadahi semua kebencian rakyat Turki padanya waktu itu. Surat lusuh oleh bekas hujan yang ditemukan polisi menjadi bukti betapa kebencian yang ia tampung amat meresahkan."
"Apa Nona berada di sana?"
"Aku kan sudah mengatakan kalau aku dan Tan, tidak berasal dari masa sekarang. Ini adalah plot ciptaanku sendiri jadi terserah aku. Apa aku membuat kalian semua bingung?"
"Nona, ini bukan waktunya bercanda atau menunjukan sisi humor. Keluarga Bulan adalah hal paling serius yang Turki ketahui dan juga sudah diketahui negara-negara adidaya."
"Aku mewakili Tan sebagai tokoh utama yang memperhatikan ku berbicara sekarang. Jadi, tenang saja, Tuan. Kami tidak justru ingin mengajari dunia cara bercanda dengan serius."
"Apa kaitannya dengan Dr. Alison? Bukankah dia gagal diburu polisi di kediaman di bukit Izmir?"
"Hm, mengenai itu, bunuh diri yang berlangsung tak lama setelah ia memutus nyawa kedua putranya. Ia menodong ke bawah bukit rumah mereka. Sebuah surat keputusasaannya yang terkotori tanah sehabis hujan, yang berisi betapa menampung kebencian orang-orang padanya itu melelahkan. Lebih melelahkan daripada menahan sakit ditusuk seribu pedang,” ucap Dee penuh mental seolah menciptakan hujan penasaran yang terbenam. “Ayahku dulu mencintainya, Dr. Alison. Tetapi cinta ayah dikhianati karena Nona Alison hanya ingin mengungkap informasi tentang Keluarga Bulan, keluarga kami. Kami lah Keluarga Bulan!"
"Itu adalah sebuah kejujuran yang besar, Nona. Kau tahu akibatnya mengatakan kejelasan tadi?"
"Aku tak peduli. Aku tak tega jika Tan harus eksekusi mati pada akhirnya."
"Lalu, Tuan Abraham?"
"Ayahku sebetulnya pria baik. Dia hanya kehilangan cahaya hidupnya setelah dikhianati Nona Alison. Ayahku jadi membenci dunia ini dan menginginkan sebuah rancangan untuk memusnahkan kehidupan dalam sekejap. Orang-orang Astrofisika pun berpura-pura tak mengetahui dan membuat seolah-olah Tan adalah keturunan terakhir Keluarga Bulan. Bukan Tan, akulah orangnya. Akulah orang yang harusnya kalian lenyapkan agar ayahku, Tuan Abraham bisa kembali memiliki cinta di hatinya. Tan, dia hanya mencoba melindungi identitasku. Dia adalah wujud dari ayahku yang dulu saat sebelum ia ditinggalkan Nona Alison. Aku pun tak tega jika harus melakukan hal sama pada Tan seperti yang dilakukan Nona Alison pada ayahku. Aku menyayanginya. Bunuhlah aku, akulah yang harus kalian putus rantai keturunannya. Karena semua informasi dalam manuskrip yang telah disalin dan disimpan Dr. Alison, sudah ayah beritahukan padaku semuanya padaku. Sejarawan dan juga seorang dokter hewan itu, mungkin akan bahagia jika aku akhirnya dibunuh."
"Jangan seperti itu, Dee. Ibuku justru menginginkan aku melindungimu dalam ritual mimpi ini."
Beberapa detik, aku tak mendengar suara apapun lagi dari radio kecilku.
“Tan sama sepertiku, yang juga mengalami konflik batin serupa. Hanya saja ia rela membahayakan diri, hanya demi menghapus kebencian kalian padanya, padaku, dan juga ayahku. Aku juga berharap kalian memaafkan ayahku. Akulah orang yang harus ..."
"Tunggu, Nona. Kami masih mencerna semua maksud perkataanmu."
"Percayalah padaku, Tan tak bersalah, aku mengenal wangi kebaikannya lebih cepat dari siapapun,” ujar Dee lembut.
Darimana kaudapatkan … informasi konyol itu. Ini rahasia yang kau maksudkan? Siapa kau sebenarnya? Padahal yang terjadi tak seperti itu. Apa Rey mati setelah melihat aku jatuh ke sumur? Apa bunuh diri terjadi untuk kedua kalinya? Keputusasaan? Frustasi tinggi yang tak wajar? Aku hanya bisa membatin.
"Tetapi pria itu, siapa dia sebetulnya? Apa dia kekasih Nona?"
"Dia ..."
"Kenapa Nona begitu memperdulikannya? Bukankah bagus jika ayah Nona memfitnahnya sehingga status Nona berhasil selamat? Di mana-mana, orang akan lebih memilih keselamatan dirinya sendiri jika berhubungan dengan hidup dan mati."
"Itu ... ah, entahlah. Kalian semua bisa menganggap aku apa saja terserah. Jika aku meninggal dalam mimpi ini, maka aku dan Tan akan selamat dan mulai mencegah hal serupa di dunia nyata."
"Lagi-lagi Nona bicara hal bodoh dan tak masuk akal. Apakah kalian sekumpul keluarga yang memiliki penyakit halusinasi tingkat tinggi?"
“Ibu Tan adalah sejarawan muslim yang menulis buku itu."
"Oh, sungguh? Jadi, dia adalah putranya?"
"Pemimpin negeri ini saja mempercayainya dan meminta agar sidang terbuka ini dilaksanakan. Jadi kenapa kalian semua tak bisa untuk percaya dengan semua pengakuanku? Hanya saja, Tuan pemimpin kita itu, kehilangan penasehatnya lantaran teror di gedung sebelumnya.”
"Harusnya Tuan Abraham yang dihukum!"
"Benar, cari Tuan Abraham!"
"Dia sudah membahayakan putrinya sendiri."
"Dia juga memfitnah orang lain. Orang-orang Astrofisika itu juga harus ditangkap!"
Riuh perubahan pandangan menggema sampai ke radio kecilku. Kurasa Martinus mengalami kram karena terlalu lama berdiri memegang speaker penghubung.
"Tuan Martinus?" panggil hakim.
"Di mana posisi sumber suara sebenarnya dari Nona Dee dalam speaker itu?"
"Tak jauh dari sini."
"Apa dia tak ingin menunjukkan diri? Kami sudah memiliki keputusan untuknya, untuk Anda, dan juga pria bernama Tan itu."
"Ya, baiklah. Terimakasih, saya akan memintanya datang kemari."
Dee dan Paman Syam hadir sepuluh menit kemudian. Ya, sesuai informasi Dee padaku di belakang layar nanti setelah ini. Seperti cerita Dee setelah pengadilan ini selesai, ia berkata padaku kalau seseorang tiba-tiba masuk. Ia berjas rapi lengkap dengan wibawanya yang tak ketinggalan. Mendatangi hakim lalu memberikan sebuah surat yang nampak begitu formal namun tak segitunya. Dan Dee terdiam dalam ruang adegan yang menyendatnya sementara. Hakim menunjuk Dee untuk maju mengambil surat itu dan membacanya sendiri.
Aku harap ini masih sempat mengisi kepercayaan kalian. Semoga. Aku masih mendengar ketulusan wanita itu sekarang. Laki-laki itu … datang ke dunia ini karena ingin memperbaiki sejarah dan masa depan. Bukan malah mengisi kekosongan hati kita semua. Karena itu, sebagai definisi manusia dengan kehendaknya akan pilihan yang diberikan Tuhan untuk kita, bersihkan saja. Ini permintaanku. Tanpa harus menyebut nama.
Kepala Negara Turki.
Sementara Dee masih terus bertahan menayangkan suara tunggalnya …
“Sejarah telah banyak di manipulasi. Iluminati, para penemu-penemu pertama, tragedi WTC di Amerika, dan mungkin banyak lagi. Lensa masa lalu yang tak dibersihkan lebih kita pakaikan pada anak-anak kita. Dan mereka memakai kaca mata buram itu untuk mentah-mentah mengarungi masa depan. Anak-anak yang merupakan raja-raja kecil terhormat kita semua, lebih menderita karena menelan setengah matang sejarah palsu di beberapa bagian,” ujar Dee terisak dalam. "Buktinya adalah Tan dan diriku. Kalian bahkan termakan fitnah sederhana dari ayahku dan juga kebohongan orang-orang yang memiliki koneksi untuk meracik senjata pemusnah itu dengan ayahku. Termakan manipulasi yang tak terlihat. Dari dulu dunia memang seperti ini. Jadi, wajar saja ayahku ingin memusnahkan daratan dengan niat baiknya yang salah jalan. Di sisi lain, aku mohon maafkan ayahku."
Air mata Dee terlena dengan derasnya. Aku bisa melihat saat aku sudah berada di belakangnya karena dibawa para polisi. Hati seorang wanita lebih dalam dari samudra. Panah tak akan sanggup menembusnya. Tapi kata-kata mampu menembus kedalamannya. Aku percaya itu. Kalau diperhatikan. Di luar riuh sayup terdengar tajam melengking.