
Dee ...
Aku sudah memberinya sebagian kisahku, Tan. Aku ingin dia yang menulisnya. Semua agar kita bisa beriringan tanpa harus berada pada sisi yang berbeda.
Tanpa ia perlu berdiri anggun di pinggiran hatiku. Kebingungannya adalah kesakitan individuku. Bisa tidak, kita bernafas bersama seperti biasa? Ia tak boleh membuatku merasa kalau ia memiliki beban hidup.
Yah, itulah kalimat yang ingin kusampaikan pada tokoh utama kita itu. Manusia yang paling kucintai di dimensi manapun. Dia mau berjuang untuk reilikul mimpi yang kuciptakan untuknya.
Dia rela difitnah ayahku. Aku harap ia bisa tahan dan bersabar sampai batas waktu yang aku takdirkan di sini. Dalam ritual mimpi Keluarga Bulan.
Jika aku boleh berfilosofi, maka kehidupan ini adalah obat nyamuk. Garis lingkaran berbeda-beda yang berpusat pada titik kosong sebagai zat tak kasat mata. Di dalam ritual yang aku hadirkan untuk Tan, membuktikan ketangguhannya sebagai menantu terbaik, yang akan menggarisbawahi keturunan Keluarga Bulanku.
Seperti misi Tan yang kini menggerayangi jalan plot mimpiku, seolah-olah berada dalam lingkaran obat nyamuk paling relevan nun mematikan. Misi yang Tuhan berikan untuknya adalah ketidakpastian terbesar, sebagai bukti bahwa zat Maha Tinggi itu adalah sutradara terbaik di jagat semesta ini.
Dan Albert Einstein akan berteriak, “Dunia adalah ketidakpastian yang nyata!” Meski teriakan itu hanya buaian, Tan tentu paham sejatinya ia berada di alam rekayasa Tuhan yang entah apa namanya.
Aku merasa bersalah membawanya ke mimpi itu. Namun hasrat untuk bertemu dengannya mengikis rasa iba. Kalian boleh menganggapku iblis.
◌◌◌◌◌
Tan …
Selama hampir empat jam, aku menatap atas ruangan yang tak begitu bercahaya dan akhirnya tertidur dengan pipi menempel di tanah, tanpa semen dan berdebu. Sampailah pada titik pikiran yang berharap semua itu hanya mimpi dan setelah terbangun nanti, aku berada di bukit belakang rumah seperti biasa.
Seperti kisah fantasi. Aku merasa sudah seperti Nabi Yunus yang terperangkap dalam ikan paus. Pikiran aneh tercipta di batang otakku. Aku hanya jelmaan bocah pelontos sepuluh tahun dalam dunia rekaan Dee, mana mungkin Tuhan memberiku mukjizat.
“Tak boleh kau sebut, adikku,” suara seorang lelaki membentur kesadaranku.
“Rey? Kau kemari? Di mana suara itu? Kak, kau tega membiarkanku terlena dalam tidurku di tempat ini? Ibu tak mencariku?” aku mulai terangsang untuk panik.
Imajinasi bermain liar membunuh diriku sendiri. Aku berucap yang bukan-bukan tanpa kendali pikiran waktu itu. Sedikit penasaran. Kemelut kekhawatiran hanya diisi oleh silabus berpola, berujung pada kalimat, “Aku tak bisa menyerah.”
“Pergilah. Kau merebut kebebasan kakak. Kau sudah membuat ibu membenciku,” ucap halusinasi serupa Rey tersebut.
Lenyap …
“Tan … bangun. Sadarlah!” suara lain datang mengganggu.
Dunia sementara itu lenyap. Mataku perlahan tercuat. Tidak, belum berakhir.
“Tan?”
Masih bergelombang dengan nada yang sama. Walau penglihatan masih buram, tak bisa dipungkiri, sosok gadis berpakaian seperti Dee duduk bersila miring ala kaum hawa, tepat di hadapanku.
Kalian benar, Teman ... ia datang. Aku menyadarinya. Terkejut tapi tak peduli.
Kelelahahan batin, dua kata paling cocok untuk kesehatan mentalku selepas serangan kasar itu. Aku dan wajah keheranan abadiku mulai ada terpampang. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Disuguhi pemandangan fantastis.
Persis manusia yang telah kehilangan segenap harapan untuk mendeskripsikan keindahan karya seni. Lemas dan rapuh. Aku bersandar di tembok kotor berlendir. Namun betapa menakjubkannya tempat itu.
Kota bawah tanah. Bukan gua atau ruang bawah tanah biasanya. Kau mesti tahu, mengapa? Karena ini, kota bawah tanah Derinkuyu di Turki yang melegenda. Derinkuyu, sebuah distrik yang terletak di Provinsi Nevsehir.
Dan entah plot seaneh apa yang Dee mohonkan. Sepertinya aku dibawa ke tempat itu, karena permohonan rakyat Turki untuk hukuman setimpal pada orang berbahaya bagi keselamatan mereka semua. Tentu saja, status keturunan terakhir Keluarga Bulan akhirnya harus ditanggung.
Aku secara tersirat, telah berjanji pada kakak Dee dan Dee sendiri, sebagai hutang moral. Meski yang dicari pemerintah adalah Dee, aku harus secara sukarela menggantikannya dan difitnah Tuan Abraham semata-mata demi ibuku.
Meski saat itu, aku belum selebihnya sadar dengan semua niat Dee dalam penciptaan plot mimpi itu. Hatiku berkata dia memiliki maksud baik di luar dari plotnya. Aku Bahkan saat itu juga, belum mengerti tentang arti Keluarga Bulan. Padahal sudut pandang itu tak berlaku sama sekali.
Dan di dalam kota bawah tanah itu, 'Traveler’ lebih sering dilarang memasukinya. Meski arsitekturnya yang indah layak menjamin kenyamanan mata yang menatap. Kalau tak salah, ada ratusan anak tangga yang diperbolehkan untuk dijejali.
Selebihnya, daratan bawah tanah seluas lebih dari empat ribu kilometer persegi mengundang jalan buntu. Dan lagi, kegelapan sumur. Aku tak tahu pasti jumlah sumur tersebut. Yang jelas, tak terlihat dasarnya.
Seorang penduduk Cappadocia dulu, memperluas gua tempat tinggalnya. Ia tak sengaja menemukan ruangan misterius yang terukir pada batu di samping tempat tinggalnya. Awal ditemukan. Saat itu 1963.
Posisiku cukup jauh dari rute melarikan diri yang tersedia di kota bawah tanah ini. Namun strategis sebagai kurungan bagiku. Tak jauh dari penglihatan orang saat beberapa waktu mulai masuk.
Dee mungkin mudah mengetahui keberadaanku sebagai yang paham rutenya. Persis seperti mengetahui bau alami seorang ibu sewaktu bayi. Aku menerawang apa yang terpapar di depan mataku.
“Kau ini apa? Dimana aku berpangku disitu langit kau junjung. Seperti di film saja. Aku merasa serupa ‘Drunken Master’ sekarang. Kalau ayahmu tahu bisa-bisa nanti …”
“Sst …” suit Dee memotong laju ucapanku.
"Kenapa?"
"Nampak kau selalu puas ketika meledekku. Aku tak peduli. Sekarang ibu dan ayahku tak ada di sini. Tan, ayo kita berpindah," ujar Dee lembut. "Meski bernamakan tempat wisata, namun aku khawatir kau sebagai seorang awam, akan memasuki bagian dalam terlarang yang hanya boleh dimasuki para arkeolog."
“Kau tak peka? Lihatlah! Kehidupan memang penuh kejutan. Dimana letak bahayanya?” lantunku sambil menyiratkan wajah agar Dee memperhatikan keindahan yang kulihat. “Dan bagaimana kau menemukanku? Kau ke sini naik apa? Betapa jauh perjalanan yang kau tempuh kalau sekedar jalan kaki sendirian.”
“Tidak.”
“Lalu?”
Dee memutar pandangan ke belakang.
“Nanti kuceritakan secara rahasia.”
Aku hanya menerima empat kata itu mentah-mentah ke telinga.
“Tuhan penulis terhebat, kan? Aku tak ingin sombong karena berusaha menandingi syair-syair-Nya yang paling menakjubkan. Bahkan mungkin, aku dan kau termasuk dalam tulisan tangan-Nya,” kataku merisalahkan semua sudut pandang. “Maaf karena aku tak pernah berpikir dua kali. Yah. Aku ini memang selalu membuat masalah. Aku hebat kan, Dee?”
Ada senti perasaan yang tengah dipupus Dee kurasa. Awalnya Dee nampak bingung. Lalu kemudian tersenyum.
“Tapi, apa ini yang disebut kunjungan?” lanjutku. “Seharusnya kau konfirmasikan dulu padaku sebelum datang. Aku kan bisa memintamu membawa bahan peledak.”
“Bu-buat apa?”
“Aku ingin mengakhiri permainan mimpi ini. Aku ingin membunuh setengah perjalanan cerita ini … dengan meledakkan alurnya.”
“Mana bisa, kau baru saja tersadar dari pingsan. Panjang ceritanya jika harus memenuhi syarat konyolmu ,” lagak Dee. “Logikamu terlalu kacau, Tan.”
“Memang apa salahnya bercanda sedikit di saat dunia menimpa kita dengan keras?” aku menyimpan kegetiran yang dalam.
Masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, tentang alasan ia berada di sini. Meski itu mimpi, Dee sedikit ceroboh dalam membangun latarnya. Yah, sayangnya itu tak terjadi. Nanti kita akan sama-sama tahu, Teman.
“Terserah. Jangan menyerah sekarang. Kau masih punya hutang moral padaku, kan? Katanya mau menolongku. Lagipula, kenapa kau begitu yakin kalau ini mimpi? Apa wajah cantikku ini rekayasa mimpi?” Dee berkelabat. “Aku tak datang berkunjung. Kita harus ke luar. Kau aneh masih bisa bercanda di saat seperti ini."
Dee langsung berdiri. Gerakannya seolah ingin menemui seseorang di luar. Dalam detik yang seirama, aku menahan kepergian kecil itu. Diraihnya sedikit kain lengan bajuku. Seketika itu pula Dee terhanyut oleh maksud di balik keseriusanku.
“Maaf karena membuatmu khawatir. Seharusnya tak kubiarkan kau bergelimang kecemasan. Mestinya cukup aku yang berlumpur kesalahan. Jangan menangis, aku tak akan mengutuk diriku karena sudah melabeli diri dengan kekhilafan. Kau tak akan kuat untuk suatu kecemasan. Biar aku saja yang mencemaskanmu.”
“Dasar, kau sungguh berandal yang anggun. Kau ternyata pembual yang tahu cara membuatku menangis," katanya.
“Aku pikir itu efek karena kau menguap,” aku menimpali dengan nada mengejek.
“Kapan aku menguap?” nada Dee meninggi, tangannya hampir memukul bahuku karena kesal. Tapi tidak jadi.
“Sekarang ini, kau tak sedang berbohong, kan?”
“Kenapa aku memaksa berbohong jika tak bisa kulakukan?”
“Kalau kakakmu tak memberitahuku tentang ucapanmu pada biarawati itu, sudah kubunuh diri sedini mungkin di kamar kosong itu.”
Dee menerima ujaranku. Dan aku mulai merenung kembali sebentar.
“Huf … kalau benar, aku tak ingin bangun. Tuhan, nanti saja bangunkan. Tunggu aku melangkah sedikit lagi. Akan kubantu dia lebih jauh. Ingin sekali kukeluarkan dia dari perbudakan atas nama kasih sayang itu.”
Seusainya, uapan pengorbanan itu tertayangkan …
"Dee, setelah kupikir-pikir ... betapa bodoh dan tak dewasanya dirimu. Baiknya kau tinggalkan saja aku di saat seperti ini …,” aku berusaha pelan sebaris dengan letupan nafasnya.
“Mana bisa,” Dee menjawab spontan. “Akan kuusahakan untuk mengurangi kerisihanmu. Jadi, berhentilah bertingkah tak nyaman di dekatku. Apa karena yang terjadi hari itu?”
Seakan tak mendengar, aku terus saja bermain dalam pikiranku. Ada kalimat yang menggegerkan mata batinku.
“Dan hari itu, ibu mematuhi perkataan iblis hanya agar aku pulang. Tuhan, maafkan aku telah menjadi anak setan yang membiarkan Surga duniaku diradiasi sinar hitam keputusasaan.”
“Selama ini, kau bisa bertahan hidup tanpa ibu. Jadi, kau akan baik-baik saja bersama Rey,” ucap ibuku yang bergentayangan dalam memoriku.
Aku seakan mencicip waktu. Aku bahkan berharap bisa menolongnya dengan memberikan bom handmade dan keluar secara kasar. Aku rasa itu bunuh diri namanya.
“Kau kemari seharusnya membawa CH47!” aku mulai lagi.
“Apa itu?”
“Sejenis pesawat tempur kalau tak salah.”
“Kau masih bisa melawak? Di saat seperti ini?”
“Memang bagaimana keluarnya? Daritadi aku memintamu menunjukan jalan. Kita sudah ada dalam masalah, kenapa pikiran kita harus dibuat beban masalah lagi?” keluhku.
“Ada ventilasi di sini, gudang senjata, dan rute untuk melarikan diri. Kita bisa pakai pilihan terakhir.”
“Kenapa kau harus menyebutkan senjata? Mana bisa, itu terlalu berbahaya.”
“Itu karena kau terlalu banyak bicara makanya aku lambat berpikir. Katanya mau keluar tapi melawak terus-menerus.”
"Yang melawak itu kau, kan?"
"Tapi kau melawak secara sikap, dasar pria aneh."
"Jadi mau menyerah sekarang? Kalau begitu tak usah ikut aku dan membusuk saja di sini seperti ikan teri. Kau tak bisa mengimbangi semangat hidup yang aku miliki."
“His, kau ...,” ujar Dee kesal.
Beberapa detik usai mengumpulkan nafas yang baik ...
“Dee … apa kau tak menyesal sedikitpun?”
“Aku hanya sedikit kecewa.”
“Oh?”
“Lebih baik kecewa daripada menyesal karena dampaknya di hati hanya sebentar.”
“Lihat? Kau selalu melakukan apa yang ingin kau lakukan,” kataku dengan lagak mengkritik. “Kau selalu berkehendak sesukamu tanpa memikirkan perasaanku."
Usai kalimatku itu mencuat, lagi-lagi Dee sambil memasang raut cemberut yang menggairahkan.
“Ah, entahlah!”
Hus ... angin berhembus kecil.
“Ngomong-ngomong, apa itu yang ada di tanganmu?” tanyaku.
“Oh, pakai ini,” kata Dee dengan nada memaksa. “Punyamu sudah lusuh.”
Dee membalik badan kemudian atas dasar kevulgaran yang tengah kulakukan. Kau sudah tahu pasti. Maaf.
“Terimakasih, ini sesuai untukku. Baju putih dan celana hitam seperti sebelumnya.“
◌◌◌◌◌
Dee ...
“Lihat lukisan indah di dinding itu,” takjubku kemudian sembari meluruskan jari telunjuk ke arah sebuah warna-warna beragam di dinding gua. “Kau lihat bahayanya dari sisi mana? Belum juga kau jawab pertanyaanku.”
Arah pikiran Tan yang ini tak aku ketahui.
“Tan, jawab aku! Heh, jangan sampai kau mengubah anak kalimat lagi. Aku yang membawamu berada dalam masalah, jadi kumohon agar kau kembali. Orang-orang seantero Turki mengetahuimu, mereka yang meminta agar kau di masukan ke tempat ini. Benar-benar ‘unlogical’,” kelabatku.
“Ta-tapi…,” Tan gelagatan. “Kenapa kebencian mereka sampai membawaku kemari?”
“Nanti saja kuceritakan.”
Dan aku tetap dipaksa untuk membeberkan alasan yang Tan ingin dengar. Alasan kebebasan yang direnggut paksa. Tujuannya mengalir ke arah eksekusi nantinya. Tan diputuskan akan berhadapan dengan sesuatu yang lebih merepotkan lagi.
Aku mungkin kejam karena menciptakan plot seperti itu. Tetapi, ini semua demi kebahagiaan bersama di luar dari ritual masalah mimpi ini.
Dan satu titik masalah tentang hutang moralnya padaku, baru bisa terbayar setelah ia menyelamatkan kebebasannya sendiri. Mengarah pada penghapusan noda-noda kebencian rakyat Turki padanya, yang murni dari keinginan Tan.
Ia menginginkan kebencian itu padam. Melalui serangkaian tujuan-tujuan kecil nantinya. Dan ujungnya terletak pada apa yang menjadi magnet pertemuan antara dirinya dengan aku.
Aku perlu memberitahukan ini sedari awal, meski kau belum tahu cara Tan menyudahinya nanti. Semua adalah plot mimpi yang kulaporkan pada Tuhan. Dia kuharapkan juga, bisa sekaligus menjadi pria tangguh dan menantu idaman yang dicintai Keluarga Bulan, terutama oleh ayahku.
Aku, yang sejatinya adalah gadis kecil di luar dari dunia rekaanku, yang selalu memperhatikannya saat menimba air di sumur belakang rumah bukitnya. Aku akan membantu tokoh utama kita yang begitu aku sayangi itu, dari dalam cerita ini.
Tanpa sepengetahuannya di awal. Ya, setelah ia berhasil menemukan cara meraih kunci kebebasan kami dan mencegah hal serupa terjadi di dunia nyata. Demi ibunya, Dr. Alison.