LO-D

LO-D
THE EVIDENCE OF LIFE



Tan ...


Aku mengingat perkataan tangis ibu, saat sebelum menodongku ke bukit. Baru kusadari ibu adalah yang paling menderita saat itu. Dan beban ibu mengarah padaku. Aku merasa benar-benar akan bertemu mahluk Tuhan pencabut nyawa. Dipaksa hidup di dalam dunia ciptaan Dee di saat aku ingin mati.


Sekiranya pilihannya antara menyelamatkan negeri orang dengan resiko dibenci, kembali ke dunia luar tanpa membawa pulang rencana apa-apa, atau meninggalkan Dee dan merelakan dimensi waktu ... merenggangkan ikatan romansa aneh ini.


Aku masih khawatir akan bayang-bayang tentang ucapan kakakku. Khawatir bila aku masih belum siap dan ikhlas menerima apa yang akan aku terima. Pemuda yang hakikatnya jelmaan bocah sepertiku semakin resah oleh alur yang Dee inginkan.


Dee …


Ada tiga, lima, tidak, enam orang yang sudah terlihat pasrah, dalam posisi terlentang dan terikat tangannya. Mereka adalah para  kawan-kawan kakakku yang pada hakikatnya, ingin berunjuk rasa soal kebebasan dan fitnah yang tak berdasar, namun justru itu yang diterima.


Jika mereka tak melakukan itu, ayah akan melancarkan niatnya menggunakan senjata pemusnah massal itu ... saat orang-orang memfokuskan kebencian pada Tan.


Tan merasa bertanggungjawab karena sudah melibatkan mereka.  Meski sejatinya, ini adalah keputusan mereka sendiri. Kesadaran, sekali lagi berpengaruh besar terhadap nilai kualitas pemikiran seseorang.


Aku bisa melihat dengan mudah dari atas gedung. Tan tak mengetahui aku telah lebih dulu tiba. Sementara aku menghela nafas panjang, berteduh diri. Sesekali melirik ke arah kawan-kawan Martinus bersama Tan, sedang terpejam pasrah.


Kau boleh menganggapku iblis lantaran penciptaan alur mimpi yang kejam untuk Tan. Aku punya alasan, sebagai yang tahu akhir cinta dalam kasih sayangku padanya.


◌◌◌◌◌


Tan …


Aku tahu kalau Dee nampak bingung, seolah berusaha mencari cara untuk melakukan sesuatu. Ia berjinjit- jinjit menuju atas gedung yang lain. Apa yang dipikirkannya?


“Bukan begitu rencana aktingnya. Astaga, gadis itu, " aku bergumam keras dalam hati tanpa sadar.


Sekali lagi gadis itu merepotkan di  mataku. Seraya sesekali menengadah ke atas, melihat Dee berbicara dengan seorang pemimpin. Ditarik-tariknya pelan pakaian  pemimpin negeri di atas sana.


Sementara dari sudut pandangku, pemandangan campuran di atas gedung itu memusnahkan mental kami semua. Penguasa negeri dan orang-orang awam yang tak mengetahui senjata pemusnah mengintai dunia, benar-benar membuatku ingin melindungi semuanya.


Bagiku detik itu, melindungi mereka dari kebencian terhadapku sama saja melindungi ibuku juga. Termasuk Dee.


Dee, dialah getar pertama yang memberi gratis kebebasan padaku. Tapi aku menginginkan dia selamat dari dunia mimpi ciptaannya sendiri. Bukannya menyerah, aku hanya ingin mencegah hal serupa terjadi di dunia nyata, di luar daripada mimpi ini.


Jika aku gagal dalam ritual plot itu, maka Untuk itu, aku hanya perlu menerima eksekusi itu. Aku hanya perlu mati untuk bangun dengan cepat. Begitulah pemikiran sesuatu di awal, sampai pada akhirnya Dee memberitahu secara tersirat, kalau semuanya masih belum bisa diperbaiki di dunia nyata.


Aku berniat menemui Dee dan menemui orang-orang Astrofisika itu. Menghancurkan semua informasi tentang Keluarga Bulan dan mungkin ... terpaksa membunuh Tuan Abraham. Namun setelah waktu mengalir ke bagian yang lain, Dee sudah mengantisipasi hal itu. Ada hal yang masih ingin ia tunjukan padaku sebelum mengakhiri semuanya.


Aku bahkan bersyukur, jika Dee memilih mengikuti pemikiran ayahnya tentang memusnahkan umat manusia ... hanya karena membenci semua pertikaian dan peperangan, aku tak akan rela difitnah dan menggantikannya.


Aku demikian rela mati dan difitnah ayahnya sendiri agar rencananya berhasil, hanya agar Dee tidak mati. Hanya agar Dee tidak merasakan kebencian siapapun. Karena dia memiliki prinsip berbeda dari ayahnya, lantas aku mau melindunginya. Dan detik itu mulai sadar tentang ucapan terkahir ibu. Alasan ibu memintaku melindungi Dee.


Cukup sudah ia dibenci oleh ayah dan ibunya sendiri, karena dianggap produk gagal. Karena dianggap keturunan terakhir Keluarga Bulan yang memiliki informasi, tentang senjata pemusnah itu. Dee bahkan menyadari jika aku melindunginya dan dia tak meninggalkanku. Dia memilih berjuang bersamaku menemukan cara mengakhiri semuanya, tanpa harus ada darah.


Dan aku sadar, mimpi hasil dari permohonannya pada Tuhan ini bertujuan memperbaiki hal, yang akan terjadi serupa sepuluh tahun kemudian di dunia nyata. Karena aslinya kami hanyalah bocah yang masih suka mengeluh dengan masalah di dunia nyata, di luar dari mimpi ini. Dee, ia telah turun dan sejajar dengan kami.


Dee …


“Sanggupkah seseorang hidup tanpa memiliki kebebasan? Berperang lalu menang. Ketika menang mereka terus menyerang sampai ke titik terakhir, menyebabkan pertumpahan benda cair merah yang lebih banyak. Tak pernah puas meski telah mencapai tujuannya. Lalu apa bedanya dunia dengan neraka?” aku terus terisak dan menguatkan tangan menutup telinga.


Tan melirik sesekali dari bawah dan seolah mendengar terkaman batinku. Aku sudah tahu ia melihatku.


“Meski ini mimpi, apa boleh aku menyerah sekarang, Tuhan?” kelakarku. Aku tak tega terhadap tokoh utama yang kucintai itu menanggung beban moral, karena keegoisanku untuk sekedar bisa berjuang bersamanya. Bahkan meski kutahu garis cerita Tan sebagai Tuhan dari cerita ini, aku tetap tak sanggup.


Tan …


Tak ada tempat baginya pulang. Ia tak pernah tersenyum lama dengan materi ayahnya. Keheranan terbesarku adalah, dosakah kita bila jatuh rasa karena sama-sama menginginkan kebebasan?


Yah. Aku sudah tak peduli lagi dengan Hitler untuk bagian awal rencana ceritaku, dalam dunia rekaan milik Tuhan itu. Alam sadarku, dan bahkan Buku Nubuwah tentang Keluarga Bulan itu, tak ingin lagi kupeduli.


Sebab kurasa benar, arah jawaban pertanyaan ibu sekaligus hanya satu, tulisan tangan Tuhan itu terpaut pada Dee yang menjadi kunci hidupku dari-Nya. Tak hanya tentang aku, sebab aku pun yakin Dee memang menyimpan  suatu rahasia. Seperti yang  Martinus beberkan padaku, sewaktu di rumah sakit. Satu kata di lesung nuraniku, kebebasan.


Apa maknanya? Apa artinya semua itu? Adakah kau tahu di mana bisa kita menemukannya?  Apa yang lebih mahal daripada itu?


Semua pertanyaan ini setidaknya terpahat tegas, ratusan inci jaringan pikiranku. Secara garis besar, semua masalah aku dan Dee bersumber  dari akar serabut yang sama, kebebasan yang terenggut dan kami ingin merebutnya kembali demi bisa berpangku kedamaian batin. Dee memang sedikit menyiksa diri dalam menulis alur mimpi itu.


“Mungkin lebih baik mati daripada hidup tanpa kebebasan,” aku bergumam pelan.


Beberapa langkah  mundur tengah terambil oleh  kaki-kaki para eksekutor itu.  Diayunkannya ke atas benda panjang nan tajam itu. Nampak eksekusi itu akan dilakukan serempak. Masing-masing orang-orang bersama pikirannya.  Menelusuri  pelan ke mimik mukaku dan kawan-kawan seperti ada daya tarik di luar dari biasanya.


Setidaknya dalam pose ini, aku masih bisa berpikir, ke mana burung-burung terbang, lalu kemudian berhenti untuk satu kelelapan? Ah … mengapa saat aku akan mati baru terpikirkan hal sederhana semacam itu?


Aku tidak  akan sungguh-sungguh mati. Hanya memisahkan diri dari mimpi ini. Maafkan aku, Dee. Tapi aku tak menyalahkannya karena berakting yang bukan harapanku.


Lama menunggu cacian. Aku memanaskan semangat terlebih dahulu setelah mental siap memadat. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lisanku dalam beberapa menit ke depan, benar atau salah, akan mengubah drastis masa depan dunia fantasi itu. Masa depan melalui perubahan sejarah.


Ibuku: “Karena perubahan yang baik adalah bukti nyata dari kehidupan.”


◌◌◌◌◌


“Aku ingin hidup!” seru suara itu menggelegar sampai ke bawah. Menghentikan beberapa detik pelaksanaan eksekusi.


“Aku ingin bebas!” suaranya semakin deras.


Semua mata tercuri. Aku mengenali lengkingan itu. Tak sadar aku senyum meski sebentar. Lalu berubah lagi menyemburkan kilas balik nasibku.


“Aku ingin bahagia!” suara itu kini jauh lebih tegas. Seorang wanita berjinjit turun ke bawah dengan membawa butiran semangatnya.


“Dee?” aku mendongak ke atas. “Dasar bodoh, apa dia sudah gila, Gadis Bulan?”


Lontaran itu terasa berat untuk sekedar menjadi kalimat utuh.


“Haruskah aku mengajarimu lagi  tentang ke-masabodohan? Berhenti memberiku kesempatan mencicipi kepedulianmu itu, tolong,” aku berteriak sangat keras dan panas.


Dee tiba di bawah hingga sampai  tepat di wajahku. Suara telapak  tangan menjadi permulaan. Lebih awal dari apapun juga. Lebih berani dari siapapun juga. Dan tangisan lagi-lagi membentuk kristal air mata.


Setengah payah gadis itu, nampak berusaha menghentikan bola-bola cair dari pelipisnya agar tak  tumpah. Ia murung sepertiga menit. Selepasnya, mungkin karena tak kuasa lagi, lentik jemarinya menari lagi siap menamparku. Mungkin akting yang baik menurut dia seperti itu. Entahlah, bisikanku padanya rasanya tak seperti itu.


"Apa tak kau perhatikan sikapmu? Kau pikir apa yang kau lakukan?” aku mendobrak ketidakmampuan Dee mengontrol ruang emosinya, ketika berada di hadapanku penuh keberanian. Aku paham apa yang terhimpit di hatinya saat itu.


“Kau pandai bicara tentang keadilan. Kau tahu semua jika aku bertanya masalah kebebasan. Lalu ini yang aku saksikan? Apa pesanku pada Martinus tak sempat kau saksikan? Tak kupercaya kau memilih menyerah,” ujar Dee setengah mendidih.


'‘Tan, berikan tanganmu, aku akan mempercepat mimpi ini. Ini terlalu berlebihan untuk ditanggung olehmu. Aku terlalu jahat menciptakan bagian eksekusi ini," Dee berhenti sejenak.


"Sekarang kita menuju ruang di mana masih ada cinta dan drama wajar. Kita menuju rumah Pondok Sulaimaniyah dan aku akan memberimu jawaban dari semua masalah ini. Akulah orang yang menciptakan ..." lanjutnya.


Belum sempat aku mendengar kata terakhir kalimat Dee, saat meraih tangannya ... aku berpindah dan terbangun dalam sisi yang berbeda. Namun aku belum benar-benar keluar dari plot ritualnya.