
Tan …
23 Maret 2019, di Kota Paris
10 Tahun Lebih di Luar Dari Ritual Mimpi Ciptaan Dee
Aku terbesit secara virtual meladeni tugas Professor Vundegurt kemarin malam. Meneleponku di saat kebencian akan hari-hari membosankan, sama saja menambah masalah. Secara terperinci itu konyol.
Tapi aku tak mungkin menolak mentah-mentah tugas itu. Katanya, aku mesti berjibaku pada seorang kewarganegaraan Tanzania berkulit sama seperti malam hari. Hitam.
Tujuannya di sebuah kafe popular di wilayah Saint Germain des pres. Pertemuan malam itu bahkan kurang bisa disebut pertemuan formal. Seorang bergelar Professor dari tanah Tanzania berdarah Belanda itu, merinci sebuah tugas yang harus diselesaikan.
Ketika ide itu menampakkan dirinya, seketika sifat dosenku itu muncul lebih liar. Hasilnya adalah aku yang ceroboh menerima tantangan pria berambut putih, yang mau menerimaku sebagai penerima beasiswa itu. Orang Indonesia sepertiku rasanya gamblang akan ketidakmungkinan sebuah keyakinan.
Dan kau mesti tahu … aku tengah berpura-pura menjadi seorang ateis yang tengah mencari Tuhan secara terang-terangan. Dan satu-satunya selain diriku yang mengetahui fakta ini adalah Professor Vundegurt.
Lelaki ini merangkul semua sudut-sudut kepolosanku, dalam ruang pencarian data-data Islam. Sebab itulah ia memintaku merangkai essai itu.
“He is a new as a good muslim,” singkat professor bercerita.
Digandrungi oleh darah Tanzania yang melekat di nadinya. Aku beruntung bersama pikirannya setiap hari. Menyebabkan aku terjun indah ke dasar permasalahan besar dan menimpaku secara bertubi-tubi di kemudian hari.
Lelaki mualaf dari Tanzania, itulah dia yang harus kutemui sebagai poin masalah ini dan sebagai subjek yang harus menemaniku sesuai arahan Professor.
Namun ceritaku ini bukanlah boneka dalam tulisan essai. Karena aku hanya ingin menemukan Dee secepatnya. Tapi kurasa tak mudah. Beberapa hari ada rongga kesadaran memasuki diriku, tepat di jantung nurani. Terbesit Dee yang kemungkinan bisa kutemui melalui tugas essai ini.
Kalian boleh menganggap ini tak masuk akal tapi percayalah aku bisa melakukannya dan tak ada kebetulan di dunia ini. Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya bahkan untuk manusia paling berdosa sekalipun. Maaf aku berlebihan.
Pokok pikiranku berlayar kepada konsekuensi tugas ini. Aku menelpon sahabatku, John Joseph Massawe untuk menjemput diriku usai berdiskusi dengan Professor. Namun John mengatakan tidak perlu. Dia sendiri yang akan menuju ke tempatku. Malam hari di kafe itu aku sudah bertatap kehidupan dengan lelaki dari Tanzania itu.
Ketika bertemu, ada firasat aneh menjebakku. Dan kami duduk di sebuah kafe bernama ‘de Flore’ yang ada di Paris bersama John. Dan faktanya itu adalah tempat ia bekerja. Maaf baru memberitahumu. Professor tiba-tiba meneleponku sebagai candaan jarak dekat, sebelum beberapa kalimat terbalas.
“Hey, Tan! You are so bad in fortune, haha.”
Aku masih tidak mengerti semantik kalimatnya. Dia selalu seperti itu. Seorang ahli ilmu linguistik yang bergelora hingga mengidolakan seorang Chomsky. Chomsky, seorang bapak ilmu bahasa yang melakukan penelitian terhadap pola pikir dan isi penalaran otaknya sendiri.
Menggambarkan betapa kecerdasan diri bisa terukur oleh individu pemiliknya. Dan aku tak bisa membayangkan lebih daripada itu untuk menjerat sebuah kesimpulan besar. Jika ada tugas, aku selalu merasa berhadapan dengan seorang Chomsky jika dipanggil Professor Vundegurt.
“I am with my close friend,” balasku datar.
“You meet someone else? Is it for long time?” suara Professor terdengar pasi.
Aku tahu dia tengah dilanda konflik jiwa mualaf. Yah, dia juga seorang mualaf sejak beberapa minggu terakhir. Penyebab pencetusan pemikiran akan tugas essai itu.
“Nothing the space time to look for the good source,” keluhku padanya.
Berharap ia akan mematikan teleponnya karena kode kurang bergairahku. Yang menjadi lebih dominan dari itu semua adalah balasan Professor.
Kalian perlu ingat kalau aku sebelumnya berkata tentang tak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalimatku menerpa diri sendiri. Kalian ingin tahu apa yang Professor ujarkan?
“Tan, your best source is your close friend. I have prepared him for you."
Aku spontan mengangkat wajah ke arah John dan menebak kebenaran hipotesis mendadakku.
“John? You are …”
John tersenyum menandakan kebenaran hadirnya. Namun aku masih ragu kalau perkataan Professor benar. Dan aku tak tahu cara memahat perasaan seperti itu. Jika mesti kulukiskan, pastilah kata-kata itu nista dan tiada harga untuk ditulis.
Aku lanjutkan. Siapa sangka Professor Vundegurt memata-matai sentimeter hidupku. Professor bercerita singkat padaku. Professor tahu aku butuh sahabat. Dan John adalah seorang di kepalaku beberapa hari belakangan.
Ia mengerti aku ingin bertemu John. Dan seorang berjasa yang mengantarnya berimigrasi keyakinan, tak lain adalah John Joseph Massawe, sahabatku. Narasumber terbaik yang menjadi pilihannya tak lain adalah lelaki berkulit petang di hadapanku malam itu.
Sedikit ada senyuman. Namun ternyata tidak. Tidak sama sekali. Malam itu adalah titik dari semua bencana yang mengubahku menjadi iblis terindah yang akan kau kenal. Hanya untuk membawa Dee kembali bersamaku.
Niat terbesarku untuk merahasiakan sejarah tersembunyi di tahun 1946 itu lebih kecil daripada menemukan serpihan sisa aroma tubuh Dee. Aku mengambil jalan paralel yang sulit untuk menyelesaikan tugas Professor Vundegurt tanpa kehilangan bau kehidupan gadis itu. Dan semua tak akan semudah denyut perkiraanku.
Aku menginstal pemikiran John untuk mengusir penat kebingunganku akan tugas essai itu. Tentu satu-satunya cara adalah berdiskusi dengannya, narasumber yang professor yakini terbaik untuk tugas essai itu.
Belum mampu aku menebak alasan Professor menginginkan aku menyusuri essai perangkul dunia tersebut. Setidaknya seperti itu asumsi Professor sekaligus harapan misterinya yang aku tidak tahu.
Saat kudatangi John pukul 09.37 malam usai kesepakatan visual, ia nampak murung drastis. Oksigen wajahnya terlihat kusam. Aku jadi tak yakin akan mewawancarainya malam itu.
Dan seperti biasa, ia selalu terlihat berpikir saat manusia-manusia pembeli kopi mondar-mandir dalam niatan pulang. Lalu aku melihat peluang merenggut waktunya.
"Kau baik-baik saja?" bukaku.
John tak menggubris kepura-puraanku, dalam berbahasa Inggris sebelumnya sebagia pembuka pertemuan yang konyol. Ia duduk di kursi pelanggan dan menempelkan kening berlemaknya ke meja. Ia mulai kehilangan dirinya.
“Nothing to be got here,” lanjutku mencoba meledek dan mengemis kesadarannya yang nampak sangat kelelahan. “Are you sure want to be here?"
“Hem ...” hanya itu yang terdengar darinya. "Berhentilah mengejekku dengan bahasa Inggris yang tak penting itu, Tan."
Ya, akhirnya ia berhasil mengembalikan dirinya utuh. Aku pun turut duduk di sampingnya. Menunggu impian sementaranya berakhir. Saat menatap keletihan John, aku termenung akan alasan Professor Vundegurt memilih John sebagai narasumberku. Pasti ada alasan.
“Kau di sini untuk merampas kebebasan lagi, Tan?” gumam John tiba-tiba. “Selalu ada yang spesial ketika ada cinta tulus di setiap harinya. Iya, kan?”
“John?”
“Apa maksudmu?”
“Haha, maaf sebelumnya aku tak sadar bahwa itu kau. Aku begitu kecapaian dengan istriku.”
“Hem, iya.
“Kau ingin memulai wawancara dengan pikiran lelahku?"
“Aku tidak …”
“Aku sedang merindukan istriku, Tan. Kau tahu filosofi dari kerinduan seorang suami?”
Aku berpikir. Ya, John memang baru menikah setahun lalu. Dan aku masih di Turki saat itu. Ketika kakak dan ibuku ke Indonesia, aku memilih tidak ikut untuk menunggu Dee saat ingatanku tentang mimpi sepuluh tahun lalu tercerna kembali.
“John, kemana istrimu? Mengapa aku tak pernah melihatnya bekerja denganmu di sini?”
“Dia ke Indonesia sebulan lalu. Dia adalah seorang yang amnesia. Kau tahu mengapa aku mencintai Islam dan menjadi mualaf setahun lalu?”
“Iya, kau sudah menceritakannya dulu. Istrimu yang mengajarkan Islam padamu. Tapi, aku baru tahu kalau dia seorang yang amnesia? Kau menikahinya di saat …”
“Benar, panjang ceritanya. Jika kau bertemu dengannya kau mungkin bisa mengerti tanpa harus diberitahu.”
“Tapi …”
“Jika kau butuh pemikiranku tentang essai itu sebagai seorang mualaf, maka datangi saja istriku.”
“Kenapa aku harus mengganti narasumber?”
“Karena pikiran terbaikku lebih dalam terekam dalam kasih sayang istriku. Maaf belum memberitahumu, dia seorang Jurnalis.”
“Itu buruk.”
“Buruk?”
“Seorang jurnalis yang kaliber biasanya suka berpetualang dan susah didapati pemikirannya.”
“Tenang saja, dia masih di Indonesia. Dia sudah berangkat sebulan lalu. Selepas mengambil data orang-orang Rohingya yang diusir dari Myanmar dan mengungsi ke perbatasan Bangladesh.”
“Indonesia ya ..."
“Kau sudah lama tidak ke sana, kan? Kau bisa sekaligus melihat kakak dan ibumu.”
“Aku tidak yakin.”
“Jika pesimis dari awal, lebih baik mundur saja. Kau akan memuntahkan waktu sia-sia.”
“Ya, aku akan ke sana. Tapi denganmu.”
“Aku?”
“Kau harus bersamaku dalam situasi kerinduan massal ini, John. Kau tak ingin menjemput kepingan rindumu di khatulistiwa?”
John memiringkan bibir dan dagunya, “Tapi, Tan …”
“Kau tak pernah mau memberitahu nama asli istrimu. Keysha adalah nama samaran yang kalian ciptakan. Kau bahkan tak pernah menceritakan kasus kronologi pertemuanmu dengannya secara benar.”
“Iya, kita ke sana dan kau akan tahu sendiri jalan ceritanya secara hakiki. Apa kau sanggup bertukar pikiran dengan seorang yang hanya mencintaiku satu-satunya?” John berlagak seperti kumbang jantan yang hanya seekor di hamparan bumi.
“Dasar, kau ini,” aku berkelibat kecil. “Lalu apa nama samaran dari istrimu padamu?”
“Nama samaranku mirip seperti nama kakakku.”
“Hem, kau punya kakak juga rupanya. Tetapi, kau selalu ingin aku menebak isi pembicaraanmu dan tak pernah memberitahu langsung bahkan jika itu hal kecil seperti nama,” aku tersentak akan hal yang John selalu sembunyikan dariku.
“Sebuah nama sebuah cerita.”
“Kau berfilosofi sekarang?”
“Haha, Tan, mari kita diskusikan sebentar essaimu sebelum bertransfer pikiran pada manusia kelas atas seperti istriku.”
“Baik, tapi bukannya kau kelelahan?”
“Benar juga. Bagaimana kalau kita diskusikan ini di atas pesawat?"
“Jadi, kau akan ke Indonesia bersamaku?”
“Ya, kurasa itu harus. Aku tak tahu jadinya jika hanya menitipkan nomor ponsel istriku padamu dengan mental berkarat.”
“Oh?”
“Bercanda, Tan. Maksudku, aku tak tega kau berhadapan dengannya untuk masalah essai ... yang isinya bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya selama menjadi penulis.”
“Hem, begitu. Yah, orang lain selalu bisa menilai diri kita secara ekstensif lebih baik, John," aku merasa John masih memanipulasi sesuatu.
“Jadi, kapan kita memesan tiket pesawat?”