
Dee …
Seorang tokoh besar bernama B.J. Habibie dari negeri khatulistiwa, Indonesia pernah berkata, "Jadilah pribadi yang selalu siap menghadapi tantangan yang ada di depanmu."
Tan terlebih dahulu dibawa ke sebuah rumah sakit, di dekat Hotel di Marmaris. Aku memang menyekenariokan itu pada Tuhan dalam permainan mimpi yang kumohonkan. Pada kenyataannya, Keluarga Bulan itu memang sebah data terbesar dan paling berbahaya di abad ini.
Orang-orang di di dunia nyata hanya beberapa saja mengetahui, termasuk ayahku dan juga ibu Tan. Dan Tan di dalam mimpi sepuluh tahun itu, belum mengetahui apa-apa.
Ia hanya menyimpulkan kalau diriku adalah keturunan terakhir Keluarga Bulan, sebagai produk gagal yang harus ia lindungi. Aku menerima sebutan Gadis Bulan darinya.
Sementara saat itu, Tan terpulas lelap sedangkan nafasnya kian di ujung trakea. Seketika dua orang disekitarnya sadar, kesayupan gagal mengindahkan. Sebab letih.
Aku memandang sesuatu yang sebetulnya sangat sederhana. Salah seorang dari keduanya lantas berdiri. Tiada lagi gerimis tangisan. Dan aku benar-benar kehabisan stok air mata.
“Kakak, waktuku habis. Saatnya menuruti perintah ayah. Jika pria konyol ini sadar, tolong sampaikan permintaan maafku karena harus membalik muka,” pintaku memasang wajah kerelaan.
"Bilang juga … berjanjilah untuk berusaha tidak mati sebelum menghapus kebencian ayah," kataku lagi.
“Apa maksudmu membalikan muka?” tanya kakakku yang sudah pasti kalian tahu siapa.
“Ah, katakan saja seperti itu, Kak,” ucapku dan beringsut pergi.
Secara tak langsung, Martinus kupaksa mengerti. Dan tak lagi menjawab karena sudah sampai ke tahap rasa pengertian. Pertama membaca, terlintas di pikiranku, entah kenapa aku dan kakak harus berada di rumah sakit?
Aku bahkan lupa urutan alur mimpi yang kubuat. Tuhan selalu tahu yang terbaik. Yang pasti, Paman Aaron telah kubuat meninggal lebih awal sesuai urutan plot.
Seharusnya Tan dibawa tapi saat itu ia mendapat toleransi. Mungkin ayah mengizinkan. Nampaknya seperti itu mengingat kalimat tentang permintaanku pada tentara sebelumnya.
Ah, aku belum cerita ya? Saat Tan pingsan, aku memberanikan diriku seperti itu. Kelelahan itu memblokir ingatanku akan alurnya.
“Kita dianjurkan banyak-banyak berpikir, bukan banyak memikirkan. Kosakatanya saja sudah beda. Terlalu banyak memikirkan hanya mengarahkan kita pada konsekuensi tak berkesudahan. Melambungkan pada kecemasan masa depan yang berlebihan, hingga lari dari kenyataan,” kataku mencoba membuat kakakku memahami keputusasaan-ku.
“Mungkin itu yang tengah kuhadapi sekarang, Kak. Membawa kotak kepala di luar dari logika bisanya sungguh melelahkan. Tetapi … begitu bukan, harapan Tuhan?” aku melanjutkan.
Aku menyikapi hal baru sambil tetap berangsur ke luar ruangan. Kebingungan kecil hinggap di pikiran Martinus kurasa.
“Tak pernah kakak melihatmu sampai sejauh ini hanya karena seorang pria, Dee” kata Martinus, masih melihat punggung adiknya ini terhapus ayunan pintu.
Lantas kemudian pintu kudorong lagi sedikit ke dalam. Bidikan perkiraan Martinus silau sesaat.
“Dan lagi,” ucapku, sebelum benar-benar terhapus dari pandangan Martinus. “Sampaikan pada Tan, kunci hidupnya dititipkan oleh-Nya padaku.”
Sepenggal visualisasi kematangan kata-kataku tadi, aku hamburkan bisu. Serupa ulat yang penasaran arah impiannya dalam kepompong. Aku demikian silau.
Kejenuhan menafsirkan segala bentuk rupa pernyataan cerita ini, menjadikanku percaya satu hal, kita sedang menonton perangkai teater milik Tuhan.
◌◌◌◌◌
Tan …
“Ah,” aku mengerang kecil.
“Oh, sudah sadar?”
Aku menunjukan kesayuan pada Martinus, yang jadi manusia pertama ditampilkan mata. Aku masih belum lentur. Sembari mendongak ke atas, aku menutup penglihatan sementara. Bagaikan pasrah dengan dunia seperti apa yang datang memeluk lagi nantinya.
Baru saja sebentar tertawa ke kota ini. Sungguh sejuta sayang, Tuhan menerbitkan cerita yang berbeda. Perantara aku dan Dee semakin jauh. Tentu bukan karena Tuhan tak mencintaiku. Yang termuat adalah sebaliknya.
Kini rumah neraka di sana tiba-tiba saja aku rindukan. Terlintas begitu saja di pikiranku. Aku mengerang kesakitan. Lima belas menit mataku sedari tadi terbuka, hanya ada orang-orang berlumuran luka tembakan yang menemani sekelilingku dan Martinus.
Orang-orang sebelumnya. Kalau tadi kejar-kejaran, aku tak bisa menghitung jumlah pasti kawan-kawan Martinus itu. Sekarang bisa tapi hanya sisanya. Jumlah mereka yang di rumah sakit adalah tujuh orang.
Aku sendiri pun dalam kondisi sama. Aku berpikir tentang kesempatan hidup yang ditawari tentara itu. Layak menjadi terapi menyakitkan bagiku, sebelum rencana eksekusi yang akan menimpa. Nanti kau akan tahu.
Aku ingat ini. Dee tak ada maksud rencana kekerasan terhadapku untuk alur mimpi ciptaannya. Satu lagi, toleransi ciptaan tentara itu, memang berhubungan dengan ajakan percakapan Dee saat mataku ingin menutup terakhir kali.
“Kau harus bertahan kawan muda, untung kau masih hidup,” kata lelaki yang lagi-lagi kau tahu siapa.
“Aku akan mati,” lirihku sederhana.
Martinus pura-pura tak mendengar. Dianggapnya itu sebagai lanturan diriku semata. Aku diselipkan di antara himpitan bantal empuk yang saling menutup sempit. Dan aku berkutat dengan kekhawatiran. Sedikit kelonggaran.
Aku percaya Dee tak akan tega membunuh tokoh utamanya. Karena ia ingin reinkarnasi itu mencapai tujuannya. Keluar dari rongga masalahnya. Bagiku, dia tetaplah tokoh pembantu yang budiman dalam ritual yang kami jalani.
Ucap ibuku suatu hari: “Sangat kurang ajar mereka yang mengakhiri hidup dan memotong detak cerita hidupnya. Padahal Tuhan sedang membacanya. Bunuh diri sama saja memupus senyum harapan-Nya. Selayaknya kita yang sakit hati andaikan tokoh utama harus mati ditengah cerita.
Yah, padahal Tuhan ingin kita mencapai akhir bahagia. Jika pun ingin mati, matilah secara wajar dan alami. Dan terima kematian itu pada akhir kisah saja. Entah untuk tujuan mulia, ataupun memang sudah saatnya melapangkan takdir.
Overview: Kata kuncinya adalah ‘membaca’. INGAT INI SAMPAI AKHIR AGAR KEAJAIBAN ITU KALIAN DAPATKAN. Kalian akan paham tujuan cerita kami ini nanti.
Cerita yang di luar cerita ini, adalah perdebatan antara aku dan Brown di kafe itu. Membahas masalah apa yang dihadirkan setelah aku dan Dee keluar dari plot mimpi nantinya. Dan aku mengingat yang ini.
◌◌◌◌◌
“Kau belum mati, jadi tak usah khawatir berlebihan … tak baik buat kesehatanmu," ucap Martinus di sampingku, menempelkan pandangan kasih sayang seorang kawan.
Kalau mati pun, aku tak akan mati sungguhan. Hanya memisahkan diri dari mimpi itu.
Artinya, dunia tempat tinggal kita sekarang memang karya fiksi Tuhan. Layaknya aku dalam mimpi itu, apa menurutmu dunia kita juga seumpama karya fiksi dan Tuhan adalah penulisnya?
Ataukah kita memang bermimpi dan Tuhan tengah tersenyum, dengan lanturan kita yang tak habis bilangannya? Mungkin itu makna dari dunia hanya sementara.
“Ma-Martinus … mana Dee? Apa ayahnya memaksanya pulang?” aku dipatok kecemasan di atas rata-rata.
Martinus mencoba menyuruhku tenang dengan bahasa isyarat. Memasang muka telapak tangan kanan. Hatiku nyaris histeris. Aku sudah berpegangan tangan dengan Martinus.
“Paman Aaron, beliau bagaimana?”
“Kau sedang demensia?”
Aku merasa terpukul. Mengingat lagi semuanya secara utuh. Kematangan kesadaran diriku yang belum stabil.
“Dalam mimpi, biasanya akan banyak jackpot, tapi tak satupun datang padaku. Hah … sepertinya aku harus tetap berusaha. Mungkin benar, keberuntungan hanya berpihak pada mereka yang peka dan mau berusaha," kataku.
"Tak ada keajaiban tanpa usaha. Meski mimpi, aku lupa kalau ini masih di dunia. Masih ada darah dan luka. Harusnya aku lebih berhati-hati menilai kehidupan ini,” kataku lagi usai mendapati kematian Paman Aaron dalam memori.
“Bukannya dalam mimpi darah dan luka juga ada?” Martinus berkelebat rendah. “Ini Turki, Turki yang nyata, bukan fantasi … kenapa kau bilang ini mimpi?”
Aku berpikir. Tapi mendadak tak kuat lantaran tiba-tiba mengingat kali terakhir, menyaksikan diriku terbunuh oleh ibuku sendiri dalam permulaan mimpi alur. Dan aku yang saat di rumah sakit mungkin lebih sengsara daripada sebelumnya.
“Itulah kenapa aku katakan … ini masih di dunia,” aku mulai aneh.
“Dee.
“Dee?”
“Dia sudah kembali. Sebelum pergi, dia berpesan padamu.”
Mendengar itu … aku mencoba menahan rel perkataan. Martinus bercerita singkat lalu terjadi percakapan setengah panjang di sana.
“Entah maksud adikku itu apa.”
“Oh.”
Aku terkoyak resah dijejaki cerita Martinus.
“Di mataku … Dee itu sebetulnya memiliki naluri seorang muslimah yang lembut dan amat penyayang,” kataku.
“Haha,” Martinus tertawa.
“Kenapa?”
“Dee benar, kau sangat aneh dan konyol. Meski begitu, itu membuktikan kau bukan orang jahat … atau bajingan berkelas!”
Martinus membeludak namun tawanya tertahan oleh jemarinya yang menutup bibir.
“Ba-bajingan? Berkelas?”
“Bukan aku yang bilang, tapi adikku."
"Martinus, kau terngiang oleh kalimat metafora adikmu itu?"
“Dee dititipkan kunci hidupmu oleh-Nya. Kau memegangnya, jadi kita harus tetap beriringan,” kata Martinus, langsung mengganti topik, menyadari renunganku yang dirasa berat untuk dikebiri.
“Ya ampun, seperti cerita di webtoon saja,” kataku. “Apa yang dipikirkan pemerintah Turki sampai aku dibiarkan terlalu lama menghamburkan karbondioksida seperti ini?”
Dan aku seolah sengaja mengganti lagi topik pembicaraan.
“Itu yang dikabarkan awak media,” ujar Martinus.
“Bagaimana bisa?”
“Jangan salah paham, ini hanya buaian sementara. Setelah ini, masalah baru akan menghampiri lebih buas lagi. Kau akan dibawa ke sana, menuju tempat di mana seseorang harus menanggung beban moral paling menyiksa.”
“Aku tak peduli.”
“Kau harus peduli!”
"Aku berpacu pada ketidakpedulian. Jadi, untuk apa?” aku merespon dingin kemudian.
“Untuk apa aku susah payah melakukan semua yang tak aku sukai? Kenapa aku harus menguliti diriku dengan kabut kebencian orang lain terhadapku?” aku berujar lagi.
“Bodoh, itu karena kau tokoh utamanya, Tan.”
Aku beku sejenak.
“Hah … ini bukan ekspresi yang tepat. Hei … tapi coba lihat, ayahmu menempelkan pisau di nadiku waktu itu. Dan polisi itu melancariku dengan pistol, tentu saja aku berkecamuk! Rumor dangkal mereka juga meringkus harga diriku di negeri ini … aku sungguh kesal!”
“Hanya kesal?”
“Apa maksudmu?
“Maksudku, kau tak membencinya?”
“Sudah kukatakan, menolong Dee adalah sebuah keharusan. Aku hanya fokus pada Dee. Aku tak membenci raga pria yang telah menyumbang spermanya untuk kau lahir itu," kataku pelan.
"Aku Hanya membenci kebencian dalam dirinya. Itu saja. Menghapus kebencian ayahmu, menjadi cara mengucapkan terimakasih pada ibumu karena sudah melahirkan dia," sambungku.
“Kalau begitu, akan aku lindungi kau dari polisi dan media. Tinggallah di sini sementara waktu.”
“Kau bisa?”
“Tentu saja. Tak hanya adikku. Aku juga salah satu orang yang menginginkan kau agar mencapai akhir bahagia.”
“Benarkah?"
"Hm," Martinus mengangguk. "Aku masih belum mengerti, kenapa ayah memilihmu menjadi korbannya hanya demi menyelamatkan status keluarga kami. Aku yakin Dee sendiri tak nyaman berada di rumah yang ia sendiri tak menganggapnya sebagai rumah."
"Aku juga sempat mendukung prinsip ayah untuk mengakhiri dunia ini dan menyetujui tentang senjata pemusnah massal itu. Yang diwariskan keluarga kami. Hingga mereka menyebut kami Keluarga Bulan. Namun melihat sikap Dee, pandanganku berubah. Mungkin ayah tak sepenuhnya salah karena ia hanya disakiti masa lalunya," lanjut Martinus.
Dia lalu berhenti sebentar guna melanjutkan ungkapannya.
"Tapi aku tak ingin punya prinsip lemah dan menyerah dengan dunia seperti ayah. Mungkin niat ayah baik tapi caranya salah. Apalagi setelah melihat Dee yang membelamu dan kau yang rela difitnah ayahku hanya demi melindungi pencarian keturunan terakhir Keluarga Bulan. Aku pun tak tahu alasanmu. Apa kau dan ayahku memiliki koneksi tentang rahasia di Bulan juga?"
Aku tahu akan tiba saatnya Martinus bertanya hal demikian. Namun aku tak mungkin memberitahunya karena sama saja membocorkan tentang ibuku.
“Jika mereka memahami esensi dari tindakan, tentu tak akan membuat orang lain jadi korban. Hah … bahkan dunia harus malu pada pemuda ini,” lirih Martinus melanjutkan.
“Aku hanya ingin menyelamatkan kebebasan kita serta Dee, menghapus kebencian ayah kalian, dan terakhir … menyelamatkan negeri ini dari kesalahpahaman mereka terhadapku," jawabku.
"Aku rasa Dee sudah memikirkan cara, agar ayah kalian mau jujur tentang kebenciannya terhadap dunia. Aku rasa semuanya bertitik pada satu hal. Hal yang ibuku pernah katakan," lanjutku.
“Apa?”
“Tulisan tangan Tuhan.”
“Buku Nubuwah itu? Dee menceritakannya padaku.”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Itu hanya pembuka jalan pertemuanku dengan Dee serta masalah ini. Jawabannya akan kita temukan jika kita sudah merebut kembali kebebasan itu, kebebasan kita. Kebebasan sehingga kita bisa leluasa dan tak tersudut. Kembali ke awal semula," jelasku.
"Jangan biarkan rakyat Turki berlama-lama membenci kita. Jika sudah banyak tekanan begini, barulah aku tersadar betapa mahalnya kebebasan itu," lanjutku.
Namun belum aku pahami kebebasan yang Dee inginkan. Dia tak dibenci siapa-siapa, lantas merasa terkurung?
“Sewaktu di kamar kosong saat pertama bertemu denganmu, bukankah sudah kukatakan tentangnya?” tanya Martinus serius lagi.
“Kau sudah memberikan tulisanku padanya?”
“Iya.”
Aku sedikit lega mendengar jawaban itu.
“Aku yang kakaknya saja, tak pernah mengerti kegundahan dan kegelisahan Dee. Tapi kau? Ah, sudahlah. Seharusnya kondisimu yang terpenting sekarang. Kalau satu tak pergi, tak ada yang pergi, supaya adil. Tapi kalau kau bersikeras, kau bisa lakukan itu saat lukamu sembuh total," jelas Martinus sembari mensinyalir titik akhir perbincangan.
"Tentu tak akan ia tega melihat aku dalam keadaan diikat tangannya di batang besi, lalu membiarkan penduduk mencemooh diriku esok pagi," sambungnya.
“Kau benar, itulah yang kuinginkan. Luka seperti ini bukan apa-apa. Aku tak akan kabur dari eksekusi,” kataku namun dengan nada yang lugas.
Memendam kesakitan bersama puing-puing kebodohan sendiri. "Dan bagaimana caranya kau masuk kemari, Martinus? Kau juga pingsan waktu itu, kan?”
“Tak perlu membahasnya. Akan aku bebaskan kau dari semua tuduhan ini ... tunggulah," Martinus nampak percaya diri dan langsung menopang aku berdiri.
Saat suasana masih tengah malam dan rumah sakit sedang sepi, semua keberanian ini membinarkan kepercayaan.
“Kemana lagi kita? Apa kita akan menyulut api peperangan lagi? Ah … Tuhan, aku sungguh benci pertikaian," aku menampilkan keluhan padanya.
Ada seseorang terbangun. Aku sekedar memberi senyum. Ingin diri ia bangun namun tak sanggup. Kakinya yang luka ta menghambat niatnya.
“Kita juga harus pergi bersama mereka,” kataku. “Aku rasa ini masih poin buat kita. Setidaknya ini tidak lebih buruk dari terserang penyakit endemik, kan?"
“Kau bisa bercanda di saat seperti ini? Kau harus ikut rencanaku. Kita biarkan saja mereka memulihkan diri di sini."
Salah seorang terbangun, “Kami ikut!"
Dan saat itu rencana berubah. Diikuti akhir pulasan orang-orang tertindas itu. Meski mereka berbeda keyakinan denganku, aku tetap menyayangi keberanian dan kepedulian mereka.
“Kalian semua ..."
“Kita selamatkan kebebasan pria ini, kebebasan kita, Martinus,” ucap salah seorang kawan.
“Iya, baiklah. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan di sini. Dee membutuhkan kita, kau ingat janji yang kau bebankan padaku waktu itu, kan, Martinus?” aku menatap Martinus datar.
“Iya, sekarang kita temui kawan-kawanku lagi yang masih tersisa. Kau tahu, entah kenapa aku jadi sangat percaya padamu. Aku akan membantumu keluar dari dunia gelap ini. Kau bilang sedang bermimpi, tapi aku coba percaya saja, terserah kau," jawab Martinus.
“Aku ini hanya ingin memecah teka-teki pertanyaan ibuku. Terpenting lagi, buku yang aku bawa pertama kali harus cepat kutemukan dan pulang menemui kakakku," kataku.
“Oh, kupikir kau tak punya keluarga.”
“Tentu saja punya.”
Beberapa detik tak berjalan.
“Hei, Martinus … ka-kau?” aku tak jadi berucap melihat semangat Martinus yang membantuku bangkit.
Keberanian itu diikuti oleh kawan-kawan kami.
“Mari kita percaya kalau kita bisa melakukannya. Kau ingin jadi pahlawan dan mengambil kembali buku itu, kan?” tanya Martinus padaku yang masih beku dan menganga setengah terbuka.
Responku hanyalah senyuman.
Buku yang dimaksud Martinus adalah buku yang dicuri ibuku dari Tuan Abraham. Namun ibu difitnah sebagai yang mencurinya dari Perpustakaan Vatikan. Buku itu berisi rahasia Keluarga Bulan dan visi misinya.
Tuan Abraham menceritakan pada pemerintah Turki kalau ibuku adalah dalangnya dan aku adalah keturunan terakhir yang mereka cari. Keturunan terakhir yang perlu dimusnahkan. Andai Dee memiliki pemikiran seperti ayahnya, aku tak akan mau menolongnya.
Tetapi melihat ada pelurusan dalam prinsipnya sebagai keturunan terakhir, aku jadi ingin menyelamatkannya dan juga kembali ke awal semula, saat ibu melempar buku itu ke dalam sumur usai mendorongku ke bawah bukit.
Saat terbangun aku bertemu Dee dan mendengar semua ceritanya tentang Keluarga Bulan. Termasuk rencana ayahnya. Itulah beberapa inti masalah yang mungkin belum sempat kuberitahukan pada kalian. Kami ketahuan dan aku dijadikan ide fitnah dan keselamatan diri oleh Tuan Abraham, karena aku memegang bukunya.
Namun, aku mendeskripsikan ketidakpedulian lagi akan buku itu pada Martinus. Yang terpahat di visiku detik itu, bagaimana aku membayar hutang moral diriku pada Dee. Hal sederhana yang wanita itu inginkan.
Keutuhan hati. Luka di tubuhku seolah ciut dan musnah, seketika mendengar beberapa kata-kata emas dari Martinus sebelumnya.
Daguku kuangkat. Mataku memancarkan sebuah keyakinan yang besar. Buku itu pun pasti telah disembunyikan rapat-rapat oleh Tuan Abraham.
“Aku tak begitu paham isi buku yang dirahasiakan dan sekarang menjadi milik Vatikan itu. Tetapi yang jelas, aku lebih ingin mengetahui alasan kau ingin pergi ke negeri di Timur itu,” kata Martinus lagi.
“Soal itu … aku juga masih ragu. Tetapi, buku itu hanya sebagai plakat sampingan saja dalam cerita ini. Sebagai penemu alami diriku dan Dee di tempat itu," kataku.
“Wah, entah kenapa aku jadi yakin kau ini sedang bermimpi.”
“Iya, kau paham? Saat kedua lapis bibirnya meniup ketakutanku lalu mulai mengendarai keberanianku di saat yang sama. Yah, di tempat itu, di Aya Sofia,” tuturku mempesona.
Tapi aku tetap akan mencari tahu. Menguak tulisan Tuhan yang di mana Dee menyuruhku untuk dibaca saat di kota bawah tanah itu. Yah … memakai keimananku katanya. Ibuku merangkum semuanya dalam manuskrip itu. Namun bukanlah tulisan tangan yang dimaksud Dee ataupun ibuku.
Mulai dari apa yang menjadi kejanggalan Isaac Newton, ketika dia gagal memecahkan suatu teologi dalam Kitab Perjanjian Lama. Termasuk juga misteri Hitler dan manipulasi sejarah, terangkum dalam manuskrip itu. Kurasa ada kaitannya dengan buku dan prinsip ayahmu. Dia menginginkan akhir dunia yang cepat, sesuai pandangannya.
"Pandangan seperti apa yang kau pahami, Tan?"
"Pandangan terhadap rasa sakit yang sejarah hadirkan pada dunia, dan juga masa lalu ayahmu sendiri. Satu hal yang tak ada, letak keberadaan lelaki itu setelah perang dunia ke-II mulai memperlihatkan ujungnya. Keberadaannya yang masih misteri dan kebetulan ibuku berasal dari Indonesia. Menjadi alasan aku ingin mencaritahu."
“Itu rumit menurutku, Tan. Meski jujur, aku tak terlalu tertarik dengan buku dan manuskrip itu.”
“Yah, nanti saja kalau cerita bagian awal ini sudah selesai. Sekarang aku hanya ingin bilang sesuatu pada Dee,” sambungku seolah tak peduli dengan pendengaran kawan-kawan kami yang mengikuti di belakang.
“Apa maksudmu dengan cerita bagian awal?"
"Em, itu ..."
"Haha, sudahlah. Mengenai perkataan yang ingin sekali kau sampaikan pada Dee, kau ingin mengutarakan suatu bentuk perasaan sebagai seorang pria, kan?”
“Bukan. Ah, sudahlah. Martinus, kita ke luar!"