LO-D

LO-D
OVERVIEW



“Benarkan?” tanyaku datar pada Brown.


“Sebaiknya konfliknya lebih diperbesar sejak awal,” saran Brown kaku. “Itu bisa membuat John tenang di negeri sana meski selama-lamanya tak bisa lagi kulihat warna hitam kulitnya.”


Aku sedikit memaksa pemikirannya. John nampak murung. “Tidak! Kita harus jadi Tuhan yang pengasih untuk cerita ini. Bukankah sebuah cerita yang menarik terkesan sederhana? Tokoh utama kita harus dipenuhi kelemahan agar ia belajar cara tak menyerah dan mencintai Dee dengan tulus."


“Hem, ia akan jadi lelaki tangguh yang mengorbankan harga dirinya,” Brown berekspresi seperti apa aku tak paham bentuknya. Seorang Tanzania berdarah Inggris sepertinya memang penuh piramida analisa.


“Baiklah, apa?” lanjut Brown.


“Aku ingin menulis semua teori.”


“Oh?”


“Apa ada yang aneh?”


“Kalimat itu terdengar penuh dengan simbol ketidakmungkinan. Bagaimana mungkin sebuah teori bisa disatukan layaknya tubuh manusia? Karakter Dee hanya sebagai alat pencipta rintangan bagi Tan?"


"Ya, namun kita akan bergantian memerankan mereka masing-masing. Dan aku sebagai Tan, tetaplah menjadi tokoh utama cerita ini."


"Kita akan menggunakan dua sudut pandang?"


“Bisa.”


“Caranya?”


“Aku tak suka hal yang serius. Tapi kita bisa memakai filosofi paling negatif yang di mana tak ada cinta sama sekali di situ.


“Itu akan menjadi tak beradab, Tan.”


“Menurutmu begitu?”


“Kemana arah pembicaraan ini?”


“Aku hanya ingin keimanan diriku bisa menetaskan cinta ini pada Dee selama sembilan bulan sepuluh hari.”


“Kau gila?”


“Itu kenyataan.”


“Kalau begitu kita telusuri lebih dalam. Bagiku, semua komentar negatif itu sudah menghamili beberapa potong frase kata yang sudah kau susun di essai itu.”


“Lalu?”


“Kita bunuh mereka.”


“Tidak.”


“Kau harus jika ingin obsesi bodoh pada Dee bisa terwujud rapi.”


“Masalahnya … apa cinta harus hitam pekat begitu?”


“Kau yang memulainya.”


“Tapi itu keterlaluan!”


“Jangan berlagak suci! Kau harus menjadi penjahat agar semua orang mencintainya. Kau tak perlu menjadi pahlawan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian manusia. Itu karena …”


“Ya, aku mengerti.”


“Kau sanggup?”


“Lebih dari yang kau bayangkan.”


“Oke, pertama-tama kau hapus pesan dalam essai itu.”


“Untuk apa? Bukankah itu memulai bangkai sejarah lagi? Semua manusia sudah lama hidup dalam manipulasi sejarah. Ini tidak boleh berlanjut.”


“Segeralah!” Brown entah kenapa menyimpan substansi kepedulian yang samar. “Tapi jangan buru-buru. Ada cinta terlarang yang harus mengorbankan sebuah keyakinan di sini. Akar masalahnya terletak pada filosofi negatif itu. Aku akan terjun bebas guna menemukan kuncinya."


Brown lalu berhenti sejenak berbicara, menghela nafas, lalu kembali berkata, "Tan, jika pada akhirnya kau menjadi iblis terindah yang akan dikenang manusia dalam cerita, tetaplah kembali pada John setelah semua orang mencintai Dee. Juga setelah kalian terbangun dari mimpi itu dan terlepas dari fitnah besar."


Baik, sebelum cerita ini dimulai, perkenalkan aku Tan dan tadi telah selesai makan gado-gado. Aku berniat menceritakan pada Brown Joseph Massawe, sahabatku, mengenai iblis terindah. Satu-satunya yang terkenang dalam lembaran ingatan tak bertumpu, adalah kejahatan sudut pandang kami berdua; aku dan John adiknya.


Kami akan menciptakan sosok lelaki yang penuh kelemahan, namun ia tak pernah berhenti sampai akhir untuk mencintai Dee, gadis yang akan menciptakan masalah besar baginya. Aku dan Brown akan menghadirkan keduanya sebagai dua sisi yang berbeda. Brown akan memerankan tokoh Dee. Tenang, meski lelaki, ia lihai mengambil psikologi wanita.


Tak ada kebaikan berarti dalam cerita ini jika kau hanya memakai asumsi filosofi asmara layaknya bola-bola tak bundar. Keajaibannya agak sedikit berbeda. Dan penuturan semuanya, seperti lampu lalu lintas di pinggir jalan namun tak satupun mahluk mematuhinya. Karena aku mengedit kisahnya di laptop ini berdasarkan kejahatan berapi-api.


Aku harus berperan dalam cerita mati-matian ini bersama Brown. Jika memungkinkan, adiknya Jhon akan membantu untuk melayangkan bagian kedua cerita. Menuliskannya menjadi LO-D. John resmi melayang dari bumi nantinya. Brown tak keberatan jika aku tuliskan semuanya sebagai kelanjutan dari keabadian cerita kita ini.


Kau jangan mencaci maki cita rasa keburukan yang kami kelola hingga akhir. Mungkin. Jika aku putar balik waktu, maka saat itu aku duduk di kafe de flore bersama seseorang yang kalian sudah tahu siapa. Kisah kedua dari keajaiban yang aku tawarkan.


Yah, itu edisi pertama dari gabungan pikiranku dan Brown. Aku mulai bisa merangkai plot dan menuliskan cerita LO-D dari apa yang terjadi sebelumnya. Dee telah menjadi penulis terbaik bersama kisah LO nya.


Aku rasa kalian juga mulai menerima cerita yang sebentar lagi akan kami awali. Ketika sebutan nama ‘Tan' tertuju padaku, artinya sebuah kode darinya bahwa cerita kejahatan cinta ini sudah dimulai.


Aku di sini turut menjadi penulis pendampingnya membangun sesi kedua saat aku sebagai Tan berhasil keluar bersama Dee dari mimpi ciptaannya pada Tuhan. Lalu kami akan mencegah hal serupa di dunia nyata dan mencari Dee.


Sama seperti saat kami bekerja sama menyiratkan ulang kisah kebebasan awal ini nantinya. Dan aku ingin kalian dua kali lebih berstamina daripada cerita sebelumnya di sepuluh bagian terakhir bab. Dan setelah beberapa kuota perasaan habis, kami mulai berperan merdu.


Saat seorang perebut wanita orang bergentayangan, dalam misi rahasia membongkar status keperawanan pikiran. Itu disebut dengan elastisitas versi roh jahat. Sebab aku memerankan diriku sebagai iblis tunggal bermuka tampan yang pada akhirnya lebur dan mati suri karena cinta.


Aku harus menjadi pria tanpa harga diri paling elegan di muka bumi. Demi Dee, demi Turki, dan keselamatan ibuku di dalam cerita ini. Menemukan filosofi negatif, status palsu, kejantanan yang kokoh oleh kebencian, hingga bertitik terang pada asmara terlarang.


Asmara yang membumihanguskan persahabatan aku dan John. Benar-benar tragedi konyol. Yang paling parah, menyelamatkan Keluarga Bulan dan pandangan pemerintah Turki pada mereka yang dianggap berbahaya.


Jika kalian sudah fokus membaca dan menyimak cerita bagian pertama maka kalian akan mengerti nanti. Namun tak masalah jika belum, sebab di bagian setelahnya adalah dunia nyata, bukan lagi diri kami seorang prematur dengan hobi menangis. Dan aku harap ia sudah menuliskan kisah itu menjadi LO-D nanti di pertengahan.


Saat semua terbengkalai …


“Kau sudah tahu harus ditaruh di mana posisi Dee?”


“Ya, aku sendiri yang akan merebutnya dari adikmu jadi bersiaplah. Aku benar-benar akan menjadi iblis idiot yang jatuh cinta padanya,” jawabku pada Brown dengan ekspresi biasa-biasa saja.


Dan cerita itu pun merumput di padang asmara. Dimulai dari tulisan propaganda Tuan Abraham yang menitipkan sejarah kelam pada Dr. Alison dan manuskrip tentang senjata pemusnah massal di Bulan.


Ibuku, aku minta maaf padanya sebagai salah satu inti dari cerita ini. Baik, ini diawali dari sebuah overture yang akan menjadi dasar kebencian dan lahirnya Keluarga Bulan.


0verture ...


Seumpama perahu kertas di pertengahan samudra ...


Kematian ataupun bunuh diri, seolah menjadi kosakata paling positif yang pernah disimak jantung telinga. Benar, kali pertama pemikiran ini tumbuh di kepalamu saat membuka draft pertama cerita ini.


Seorang sejarawan yang mencium aroma masa lalu lebih buruk dari mahluk manapun di masa ini. Dialah Tuhan dari cerita ini. Filosofi asmara itu cukup jauh terlampir sebelum cerita kita ini dimulai.


Jerman …


Danzig, 24 Maret 1945


“Tuan? Kau tidak …”


“Masuk saja dan duduk tenang. Rasa khawatir itu bagian dari hidup, kan?” seronoknya pada seorang wanita yang mendapatkan kecemasan tertinggi.


Para wanita itu pun makin lunglai tak lagi bermuka bahagia. Bangunan yang tak lain adalah katedral itu, nampak seolah menjadi tempat paling aman untuk berlindung.


Mereka tengah berupaya sekuat hati dan energi untuk menghindari ancaman mengerikan, yang akan tercatat dalam sejarah sebagai sebuah aksi paling tak bermoral. Khususnya seperti itu atmosfer pikiran yang hinggap di masing-masing  kepala para wanita itu.


Awalnya, wanita-wanita yang usianya bercampur dari anak-anak sampai ibu-ibu itu merasakan lirih kenyamanan. Namun dari kejauhan, telah banyak binatang bolshevisme mendekati katedral.


Para wanita itu masuk dengan sangat menyesal tanpa meresapi makna sebuah muslihat kecil. Pintu katedral terkunci rapat. Seketika itu pula kekhawatiran benar-benar menjadi 'real'.


Serbuan bertabur kesombongan masuk. Secara spontan, naluri kewanitaan menjadi naik pada puncaknya. Gelombang rasa takut menggerogoti keterkejutan mereka yang teramat besar. Para lelaki bersama roh iblis, sudah total dirasuki kebencian, memulai tingkah hewaninya.


Mereka mempermainkan orgel, mengayunkan beberapa lonceng, lalu mendekati kerumunan wanita itu tanpa hirarki. Tanpa ada tetes kemanusiaan.


“Menyingkir dari ibu ku!” ucap seorang satu-satunya lelaki yang masih kecil, berada di tengah- tengah zombi berlabel manusia itu. Dengan tenaga terbatas, berusaha melindungi ibunya.


“Singkirkan tanganmu!”


Push …


Lepasan anak peluru menunjuk jantung si anak begitu terasa.


“Hem!” gumaman histeris si ibu yang agak tertahan.


Kau boleh menebak apa yang tengah terjadi tanpa harus menghakimi sejarah.


Satu malam panjang untuk sebuah kebiadaban. Manusia-manusia itu sudah dibutakan oleh rasa ingin balas dendam. Belasan bahkan puluhan kali wanita-wanita harus berangsur mundur lantaran kegilaan tingkat tertinggi mahluk bernama manusia.


Ini bukan semerta-merta karena ingin berkuasa, melainkan kebutaan nurani yang kental, sudah menghilangkan label manusia sebagai mahluk paling sempurna di muka bumi.


Haus Dehlem, sebuah rumah yatim, rumah bersalin, sekaligus rumah bayi terlantar …


Entah bagaimana porsi ketakutan para anak-anak yatim. Yang jelas, prajurit-prajurit komunis memasuki rumah tersebut. Mereka menjalar lebih cepat dari virus paling mematikan sekalipun.


Badan dua orang wanita hamil nampak berguncang. Merasakan bagaimana ketakutan level tinggi itu bekerja?


“Ah …!” vokal akhir dari teriakan itu benar-benar memanjangkan telinga siapapun.


Seorang wanita terhipnotis jeritannya sendiri ketika melihat para suster yang membantunya selepas melahirkan harus ditanggalkan nyawanya tanpa segan. Si wanita lebih memilih bungkam, ketika prajurit-prajurit berganti-gantian menaiki tubuhnya yang kepayahan usai melahirkan tak lantas berbuah toleransi.


Seluruh wanita-wanita hamil dan baru melahirkan dijadikan pelampiasan syahwat paling tak barokah sepanjang sejarah manusia.


Sementara di Berlin …


Tentara Merah merengsek masuk ke kota yang nyaris tak ada lelaki. Melenggang cepat. Tak butuh waktu panjang, mereka menjelma serupa ya’juj ma’juj dan merenggut apapun di hadapan mereka.


Mereka melahap harga diri orang lain sebelum dihabisi. Tujuan  terparah, sebuah rumah sakit di daerah Berlin. Informasi kekalahan Nazi Jerman tertiup cepat ke telinga siapapun di area lokal.


“Kalian semua jangan berputus harapan,” kata seorang suster mencoba mengambil alih beban ketakutan beberapa wanita dari semua umur di salah satu ruangan rumah sakit.


“Semua akan berakhir kalau kalian menyerah!” seru seorang dokter yang nampak kewalahan menghadapi serbuan pasien-pasiennya.


Sakit mereka seolah terkubur mendengar berita serangan dadakan itu. Semakin dekat dan semakin rapat dengan kebinatangan. Sinyal untuk bunuh diri lebih kencang di sini. Betapa mahalnya harga diri. Dan mereka telah memilihnya.


“Apa ada racun paling mematikan yang bisa membunuh kami seketika?”


“Dokter, berikan!”


“Buka lemarinya!”


“Aku tak ingin merasakan kebencian manusia lain sebagai sumbu pembunuhan. Sama halnya dengan para wanita Jerman lain yang telah hilang kehormatannya secara massal!”


Kepasrahan mereka begitu meyakinkanku bahwa, menit kehidupan tak selamanya berjalan seperti seharusnya. Untuk semua saudari kalian, aku harap tak berjejak kembali garis darah ini.


Ah, Kartini. Andai kau ada di sana, apa yang akan kau perjuangkan? Aku teringat sebuah kalimat dari Leonardo Da Vinci, “Setelah saya berpikir bahwa saya telah belajar bagaimana hidup, sebenarnya saya telah belajar cara untuk mati."