
Tan ...
Aku iri pada angin rebut. Dia saja tahu ke mana tujuannya berembus. Dan di bagian ini keputusan bagiku telah tiba. Aku terjaga kasar. Kakiku dipaksa tangan-tangan kekar itu. Merasakan sinyal perendahan diri.
Dihadapanku bukan sembarang orang. Sudah saatnya aku mengosongkan diri dari kamar kosong itu. Tuan Abraham tiba, meminta pendeta dan salah seorang polisi membawaku.
“Berhentilah atau kalian menyesal,” kataku mengancam. Mencoba melawan ketidakadilan yang menerpaku. Aku tak bergeming. Raut wajah serta mataku menunjukan kekesalan hebat.
Di luar Gereja, aku dinantikan orang-orang kota yang sebelumnya berfokus pada kebisingan mereka sendiri. Namun setelahnya berubah, perhatian mereka tertuju padaku. Para polisi lain berjaga di area luar.
Entah dunia seperti apa yang sudah tak sengaja aku tantang. Aku bahkan tak menyadarinya. Sungguh demi Dee yang tak jelas kejujurannya dari awal, rela diriku harus menantang dunia fiksi itu. Dunia yang bahkan lebih berbahaya daripada kesengsaraan di rumah bukit itu. Namun ini masihlah sederhana.
“Ayah, dia bukan *******!” ucap seorang gadis terus mengupayakan agar ayahnya mau menghiraukan. Kalian sudah tahu siapa.
“Helen? Apa-apaan kau ini!”
“Helen? Nama itu …” kataku dalam hati.
Dengan saripati tenaga yang tak seberapa, Dee berusaha untuk menyelamatkan kesulitanku. Hanya dia yang bisa diharapkan. Aku tak mungkin menyalahkannya untuk hal ini. Aku pun membenamkan perasaan. Mencoba menyimpan ketidaktegaan.
“Berhenti!” perintah seorang lelaki yang tiba-tiba masuk ke Gereja.
“Berhenti,” pintanya sekali lagi.
Itu cukup memberi pengaruh, karena tangan kasar para pendeta dan polisi itu sesaat tak lagi mencengkeram. Seperti ada karisma tak biasa mendiamkan. Aku tak cukup lega. Terlihat memang ia pria bertubuh tinggi dengan selendang maskulin berwarna hijau melingkari lehernya.
Rambutnya agak kepirang-pirangan, pupil matanya bulat biasa, dan wajahnya lebar ala Indian. Ia menyimpan sejuta tanda tanya. Menampakkan mimik kedermawanan. Aku sungkan kala itu.
Kendati lelaki tadi tak menghiraukan kalau aku sedang mengaguminya. Saat sedang asyiknya menyibak perhatian, Dee melewatkan waktu dengan berharap sepenuh hati, bahwa ia seharusnya memperkenalkan aku pada ayahnya dengan jujur.
Yang sebaliknya ia lakukan justru sangat salah. Ia bahkan berbohong soal manuskrip itu. Apa yang ia bisa lakukan hanya berbohong?
Meski aku lolos dari cengkraman, Tuan Abraham betul-betul menjemput kedatangan putrinya. Aku merasa canggung sekali ketika dititipkan tatapan terakhir sebelum benar-benar pergi.
Aku belum pernah benar-benar mengobrol dengannya. Hanya beradu argumen tentang kekonyolan dunia aneh rekaannya yang tengah menjebakku. Nanti aku cerita, belum saatnya kalian tahu hal-hal gila sebelumnya.
Dan aku tahu bagaimana cara untuk kembali. Tapi janji tentang menyelamatkan kebebasan yang dimaksud oleh kakak Dee, menahan keinginanku itu.
Dan biasanya selalu ada kak Rey menemani kala gundah. Ingatan akan pertemuan terakhir sewaktu tersungkur ke jurang bukit, berulang-ulang terlintas di benakku. Begitulah.
“Pemuda!” seru pria berambut pirang tadi.
“Bukankah kau adalah orang yang tertuduh itu? Atau mungkin, dilanda kerasnya hidup karena kurang jam terbang? Aku melihat beritamu di televisi. Daya kupas para wartawan lebih cepat daripada yang kubayangkan. Apa kau ingin mengatakan kalau kau tersesat dalam kehidupan?” pertanyaannya berlanjut.
“Aku?” diriku agak sungkan.
Tak kusangka akan secepat itu. Itu benar-benar mimpi tergila yang pernah aku jalani. Aku ingin berhenti saja dari permainan bodoh itu Ya Tuhan ... buat aku terbangun. Ingatanku kembali dengan cepat.
Tak kusangka ingatan itu ternyata penting. Aku harap diriku yang asli tengah tertidur pulas sembari kak Rey dan ibu menertawakan lanturan konyolku di kamar. Setidaknya begitu pikiran hatiku melirih.
“Tapi, aku masih belum yakin. Heh … mestinya mereka menyiramku saja dengan air panas. Tidak, maksudku, hah … sial! Aku menyesal karena harus bertaruh mimpi yang bukan-bukan,” keluhku membatin, seakan tak ingin repot-repot merespon pertanyaan pria tadi.
Aku tak paham tulisan tangan Tuhan. Aku berharap kembali dan menyerah. Tak ingin menggali lagi benang masalah. Padahal, misiku mencari letak dan makna tulisan tangan Tuhan yang ibuku maksudkan belum apa-apa aku cermati.
Meski manuskrip dan buku Keluarga Bulan itu menjadi petunjuk, tetap saja otakku tak mampu menjangkau maksud Tulisan tangan Tuhan, yang diminta ibuku untuk kutemukan sendiri jawabannya pada Dee.
Ini adalah hal yang harus kuberitahukan pada kalian langsung sejak awal kisah. Dalam plot mimpi ciptaan Dee itu, aku memang pria dewasa yang tampan namun tengah kehilanganmu harga diri bertubi-tubi.
Begitu juga Dee. Kalian masih belum mengerti sejauh ini? Aku lanjutkan saja dulu. Ada cinta dan misteri yang harus rela aku perjuangkan dan pecahkan.
Akan kuceritakan simbolnya nanti. Dan apa lelaki berkumis unik itu benar-benar lebih kejam daripada iblis seperti yang diobrolkan dunia? Teman, kalian tahu siapa maksudku; ingat kembali ‘overture’ cerita ini jika lupa. Dan ingatlah siapa yang memerani tokoh Dee.
Aku rasa bukan di buku itu letak jawaban dari penyebab perubahan psikologi ibuku kala itu. Ada benda hidup yang bernafas penuh rasa, menyimpan kunci itu. Tulisan yang tidak tertulis namun tersirat.
Tapi, maaf karena baru memberitahumu sekarang. Yah, itu lah yang terjadi. Aku mendapat ingatanku kembali. Ingatan di dalam mimpi. Mimpi yang aku juga inginkan sendiri selain Dee. Doa dari ibuku.
Hasil kolaborasi antara dua permohonan dua kaum hawa, menyatu membentuk dimensi yang liar dan menjebakku secara nyata. Kau hanya akan paham jika kita sudah sampai di bagian yang mendekati akhir mimpiku sepuluh tahun lalu ini. Ditambah lagi, kau harus mengkaitkan semua simbol dariku.
“Jika ada pertolongan, saya akan kembali sendiri dengan izin-Nya,” kataku pada lelaki itu, mengisyaratkan kemandirian. “Tapi kenapa anda tahu jikalau saya orang tak kenal arah?”
“Kenapa tidak?” balas si pria pirang. “Kau bersama kami."
Aku tetap bingung.
“Aku akan membawamu ke tempat kawan-kawanku, anak muda.”
Tiba-tiba, seorang seperti pendeta berhenti mendadak di hadapan mereka. Ia datang dengan polisi lain. Seolah mahluk berseragam itu menjadi pengawal mereka.
“Pendeta Turki!” ujar si pria pirang.
“Mestinya benar. Kami datang atas perintah Tuan Erdogan, kata si pendeta paling terlihat tua. "Kau, tentunya belum mengerti ancaman, kan? Kau pikir status Keluarga Bulan itu adalah hal yang dianggap aman oleh dunia?"
“Tidak, aku juga tak tertarik untuk memahami maksud perkataanmu," jawabku tegas lalu kusambung acuh tak acuh. "Kenapa juga harus bertamu ke sana? Aku tak mungkin menghancurkan negeriku sendiri. Anda itu bodoh, hah?”
“Memang,” kata pendeta itu.
“Kau sudah sengaja menyelipkan dan mencuri barang rahasia yang mungkin isinya akan mengubah identitas Keluarga Bulan! Kau mengetahui rahasia senjata pemusnahan itu. Jika kau dieksekusi mati, dunia akan aman."
Begitulah fitnah Tuan Abraham pada ibuku di luar dari plot mimpi itu. Dan aku harus menggantikannya di dalam alur mimpi itu sendiri. Perlahan aku mulai mengerti saat itu.
Ibu memintaku menyelamatkan Dee adalah, agar gadis itu tak dieksekusi dan ditangkap. Aku harus rela menerima fitnah Tuan Abraham, agar dunia selamat dari rencana Tuan Abraham dengan hal tersembunyi di bulan.
"Kau sudah lancang membawa sinyal perang. Kalau begitu kau perlu berpegang pada ucapanmu anak muda. Seperti yang telah kaulihat, lenganmu bisa saja tercabut sekaligus nyawamu seketika. Dan jangan berani lagi untuk kaudekati Putri Helen," lanjut pendeta lain bergejolak tak menentu.
“Cik …” celotehku dengan raut gengsi.
“Bagus sekali, Tuan Pendeta. Tenang saja, ia akan tetap bersamaku. Nah, kita berangkat sekarang, temanku. Anak muda ikut kami,” kata si lelaki pirang itu santai.
Ia mencoba melindungi keteguhanku secara tak langsung. Yah, mungkin saja.
“Tak secepat itu!” ujar pendeta tadi lagi.
“Apa-apaan Anda ini! Tuan Abraham meminta ia dibawa menemui kepala negara Turki!"
“Hei … mana mungkin aku setega itu bertemu dengan pemimpin negeri ini tanpa rasa malu? Aku tak terlalu berani untuk menghamburkan diri di tengah-tengah masyarakat,” kataku berlagak polos, meski memang ucapanku murni sesuai hatiku.
“Sudah,” kelabat si pendeta, yang terlihat paling tua itu.
Hanya dia saja yang dari tadi bertukar isi suara dengan lelaki pirang dan juga pendeta lain hanya diam. Mendengar gertakan si pendeta, aku menarik dalam-dalam udara dingin beberapa kali. Rasanya, seperti baru saja akan ditimpa teror baru.
Beberapa detik kemudian aku menyadari diriku benar-benar tak bisa kembali terbangun untuk sekarang waktu. Tapi akan lebih salah kalau harus menepi dari masalah.
Para pendeta dan awak media sekarang memegang nasib semu beberapa waktu ke depan. Suasana yang tadi beku, kini terbakar. Tersirat bagai ada peringatan perang yang sudah lama tak bersuara.
“Kita perlu membaca dunia sebelum membaca hati manusia. Dee, dia memang seperti itu. Tapi, kau percaya padanya, kan?” kata pria itu padaku. “Rumor hanyalah kebenaran yang menyesatkan. Apa kebenaran benar-benar berkadar persentase seratus persen? Hanya lantaran kurang sekian persen, orang bisa kalian bunuh batinnya? Itu menjijikkan."
"Jika belum fakta, itu bukan kebenaran yang hakiki. Dugaan konyol seperti itu bisa membuat orang terbunuh juga. Lebih darurat, bisa menelurkan pembunuh-pembunuh baru yang membencinya karena kesalahpahaman bodoh! Bagaimana kalau pria ini hanya subjek rumor?” katanya lagi diiringi pertanyaan besar.
Kata-kata lelaki itu berikrar pasti. Pemahamanku menyusul perasaan. Pada lelaki itu, ada pesan tersembunyi di matanya. Dan aku sadar si pendeta harus berupaya untuk menjadi yang berguna di mata pemimpinnya itu.
Aku pun tetap dibawa. Aku rasa sejarah juga berlaku demikian. Banyaknya pemalsuan lantaran rumor yang tercipta dari kebebasan berbicara tanpa kendali.
“Itu nanti saja,” jawab seorang polisi.
“Kalian berpura-pura melukis senyum untuk mendapatkan harga diriku?” kataku menyesal karena telah mempercayai nada kepalsuan polisi dan pendeta itu.
Terlepas dari ketidaknyamanan, seharusnya ia sadar, bocornya informasi penting yang menjadi rahasia sejarah tentu hukumannya bukan main-main. Aku menunduk lalu memandang langit dengan cemas.
Namun aku salut pada lelaki itu, meski ia dan Dee berbeda keyakinan, tetap ada cinta yang bisa ia tebarkan. Bahkan ia tak membenci orang-orang itu. Ia hanya melawan kesalahpahaman mereka. Itu saja.
Ibu pernah memberitahuku, “Kita tak membenci orang-orang karena diri mereka, tapi kebencian yang ada dalam diri mereka semata.”
“Perlu beberapa waktu sampai aku terbiasa dengan kejahilan ini,” lirihku berlaga kuat.
Aku tersenyum. Mengikuti langkah polisi yang menggandengku dengan gesit lalu menaiki tumpangan berbahaya. Menurut jam di tembok Gereja, saat itu hampir tiba waktu sore menjelang gelap.
“Pakaian macam itu? Sungguh dekil.”
“Apa pakaian ******* memang seperti itu kalau sudah putus asa?”
Kata-kata orang-orang di situ menusuk tulang hatiku perlahan-lahan.
“Katakan sesuatu polisi yang budiman. Apa presiden kalian itu memang selalu sebijak ini? Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman ini pada Tuan Erdogan.”
Tak ada jawaban dari para polisi itu. Mereka mengerling. Aku melihat wajah orang itu diliputi ekspresi tinggi. Aku akan dibawa ke tempat yang kalau tak salah, ah ... nanti kalian akan tahu.
Aku justru menduga sebaliknya. Akhirnya aku menyadari adanya akses ke pikiran dan perasaanku yang beberapa waktu di negeri itu, terbayang wajah Dee. Hidayah cinta yang dilandasi kepedulian. Potongan frase alamiah paling singkat untuk hal sekaliber itu.
“Hah, bahkan cinta pun bisa hadir di dalam mimpi,” keluhku dalam batin.
Ada sesuatu yang akhirnya aku sadari dari diriku. Alasan kenapa aku tak bergeming untuk segera kembali. Malah meladeni hutang moralku pada Dee untuk menolongnya entah dari apa, yang mengantar pada titik awal masalah ini.
Yang bahkan tak perlu untuk dilunasi melihat keterbukaan luar biasa di antara kami. Dan seperti mendukung pemikiranku, bahwa ada cinta di sini. Aku mencintai Dee sejak awal cerita ini tanpa kusadari. Dan aku memang harus mencintainya.
“Lakukan!” perintah tiba-tiba polisi itu pada rekannya, mengambil tindakan ekstrem. Dee menoleh dari kejauhan.
“Kenapa melakukan itu?” tanya Dee yang wajahmu penuh kepedulian dari mataku yang memburam.
◌◌◌◌◌
Dee …
Sehari setelahnya, aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Berpikir tentang menyelamatkan Tan dari ritual mimpi buatanku dan membuatnya mengerti melalui kode dariku.
Diriku saat itu bisa diumpamakan merak kayangan tanpa sayap berguna. Tak ada matriks kelonggaran. Sang pipit kecilku kini berada di tengah tengah rasa putus harapan. Sudah sepatutnya aku kesal. Tan, yang berhasil kubawa ke dalam plot mimpi ciptaanku, akhirnya bisa menjadi pria dewasa di masa sepuluh tahun ke depan.
Aku bahagia namun tak tega juga sesekali. Tetapi, kesakitan yang kuciptakan melalui dunia itu, semua demi kebaikan dia dan status ibunya. Sekaligus memberinya cara menyelesaikan masalah serupa di luar dari plot mimpi itu.
“Yah, tapi ini membuatku muak. Mereka pikir kebebasan orang lain bisa dibeli dan di atur-atur? Heh …,” gusarku seraya menggaruk-garuk kepala.
Sesudahnya, aku berlanjut menangis. Tangis lebih lebat dari gerimis. Andai jangkauan tanganku menyambungkan hati kami, Tan pasti bahagia. Itu mustahil. Jauh sudah. Bak telah bermetamorfosa di ujung bumi.
Harus dengan apa aku selamatkan kebebasannya? Memakai benih-benih dari kebodohan tak akan bisa. Mana mungkin. Tidak. Aku tak akan bisa dengan tenang membawanya kembali ke palung tatap-menatap.
Aku hanya sadar sepenuhnya sekarang. Tentang kelemahan yang amat dangkal. Tapi entah kenapa aku masih memiliki kepercayaan begitu kuat pada Tan. Kebebasan yang ia inginkan diinginkan juga olehku. Aku sebetulnya tak seutuhnya ingat plot perjalanan mimpiku itu.
Semua orang butuh akan kebahagiaan. Bila tak bisa menemukan itu, maka cukuplah menangis tanpa bersuara. Memendam kesedihan tanpa untaian silabus kata. Bersemedi dalam dunia sendiri.
Dunia ciptaan alam pikiran kita masing-masing. Tempat menyimpan segala macam ritme kehidupan. Kadang-kadang, aku sesekali berangan-angan ingin cepat-cepat terbangun dari halusinasi besar milik Tan, tokoh utama kita ini.
Namun selalu dirantai penasaran pecahan cerita mimpi miliknya. Karena aku juga tak cukup kuat berlama-lama dengan teka-teki keinginan kami sebenarnya. Menurutmu kami bisa saling berbagi kerinduan? Perbedaan keyakinan, aku tahu.
Waktu itu, masalah keyakinan hanya bersifat sementara sebagai jembatan lain antara kami. Tan, semoga dia menjadi menantu idaman ayahku jika berhasil selamat. Seperti impianku yang adalah seorang gadis kecil, dengan hobi menangis.
Yang selalu mengintip Tan mengambil air di sumur bawah bukit bersama kakaknya, Rey. Aku ingin saling merangkul satu sama lain karena cinta. Tidak. Aku lupa adegan yang menjelaskan itu.
Cerita plot mimpi ini memilki unsur misteri jauh lebih padat daripada komposit asmara terlarang pertengahan kisah ini. Dan aku harus ke sana menyusul Tan. Aku hanya melukiskan potongan kebebasan untuknya.