
Tan ...
Ibuku di luar mimpi itu, pernah memberi informasi yang secara tak sadar dan akan kita tahu nanti, saat tiba di beberapa helai yang lain. Begini terangnya …
"Manusia yang mengalami kematian, otaknya masih bekerja selama sepuluh menit. Meski didiagnosa bahwa nadi dan jantung sudah tak berdetak, ini benar-benar relevan. Mirip seperti keadaan otak ketika manusia sedang tidur nyenyak."
Aku merasakan bagaimana tidur dan pingsan dalam mimpi (tidur itu sendiri), termasuk dalam dunia rekayasa milik Dee.
Sekali lagi, otak kanan memainkan peran yang lebih dominan di jagat raya ini. Otak manusia adalah struktur yang paling kompleks di alam semesta. Namun sayang, si jenius Albert Einstein baru bisa mengkoordinasikan pancaran intelegensi kosmos terabsolut dikisaran 30%.
Faktanya juga, Einstein bukanlah orang terjenius dalam sejarah peradaban dunia, Alfa Edison, bukanlah manusia pertama yang menggaet formula penciptaan bola lampu, dan penemu benua Amerika pertama bukan lah Columbus. Tapi yang menjadi titik dimensi kebodohannya adalah, beberapa isi Alkitab telah dirubah oleh tangan-tangan berlumpur.
Tragedi dunia yang banyak dimanipulasi mungkin kini tersimpan rapi dalam bentuk dokumen super rahasia. Yang bila dibongkar ... bukan tidak mungkin dunia akan berkumpul dalam satu titik abu-abu.
Sejatinya, bukan itu yang kita inginkan bukan? Akar konsekuensinya adalah, generasi-generasi penerus; generasi sekarang. Mereka menjadi korban lantaran mengenakan kacamata masa lampau yang buram.”
Dan ingatan tentang perkataan ibuku, kurasa bisa membuat kalian memaklumi alasannya membenci dunia ini. Termasuk juga ayah Dee yang menginginkan perdamaian dunia dengan cara yang salah. Senjata penghancur massal itu adalah bukti dari kelamnya masa lalu.
Kita kembali ke dalam ritual plot ciptaan Dee ...
Berhubungan dengan pencerahan ibu tadi, ada kode sains yang melingkup spiritual aku membawa misi Tuhan. Tapi ia tak ditugasi melampaui material ilmu di luar keyakinannya. Bagaikan halusinasi tersohor, letupan irama jantung seseorang terusik. Terdengar basi.
“Hik … hik …”
Rintihan tangisan seorang wanita menyumbat halus gendang telingaku.
“Tan?”
Lagi-lagi.
“Tan?”
Sekali lagi.
Sadar kucuatkan kedua bola mataku, tanganku serasa menggenggam sesuatu yang begitu nyaman. Hangat dan lembut. Perlahan ketika seringai membuka mata, Dee jelas pertama kali terlihat oleh kedua bola mataku.
“Tan, syukurlah kau sadar,” kata Martinus yang tengah berdiri di samping Dee.
“Dee, aku di mana? Hei, kau menangis lagi. Aku rasa itu benar-benar menjadi hobimu sekarang.”
Untuk kesekian kalinya, Dee memelukku tiba-tiba. Aku diregamnya kuat-kuat. Seperti tak rela bila aku harus jauh-jauh darinya. Lantas aku membuang pelukan itu secara halus. Hal yang sama seperti sebelumnya.
“Aku senang karena tak ada yang mengalami luka serius," kataku pelan, tak terlalu ingin mempersoalkan perlakuan Dee yang dirasanya harus berkali-kali diingatkan tapi tetap saja dilakukan.
“Kita ada di rumah mendiang Paman Aaron,” kata Martinus.
“Oh, begitu rupanya.”
Lalu tatapanku kuorbitkan ke lentikan kelopak mata Dee.
“Kau tak berubah. Masih saja cengeng. Tapi aku suka dengan keberanianmu waktu itu. Terimakasih ya, kau berhasil mengulur-ngulur waktu. Aku bangga ketika dengan susah payahnya kau mencoba membujuk pemimpin itu agar menghentikan hukumannya terhadapku," aku menunjukan raut ekspresi bangga.
“Aktingmu sempurna meski awalnya aku pikir kau akan salah pemikiran. Lagipula, kenapa harus berlari dari atas persis seperti orang putus asa begitu?” tanyaku.
Dee diam tak mau repot membahas tugas yang sudah ia lakukan.
“Kakakku, mungkin ia sudah sadar dan matanya terbuka lebih terang. Hatinya lebih bercahaya. Ia sekiranya menyesal telah menolak rencanaku sebelumnya. Ia sempat dibutakan oleh keputusasaan," kataku.
"Teruntuknya, ingin sekali kutampar balik. Kutarik rambut keritingnya itu. Tapi sudahlah. Ini jalan terbaik walau belum menemui ujungnya,” sambung ku mengumpat-umpat sifat kakak.
“Oh, kakak yang kau ceritakan itu ya?"
“Sewaktu di perapian mimpiku, aku sempat berbicara dengan dia. Meski hanya bayangannya saja, entah mengapa aku merasa bahwa itu nyata, Kak Rey melihatku, ia memberikanku arah pandang yang baru.”
Bahkan dalam mimpi pun bisa ada mimpi? Nalar fiksiku tak lagi bekerja untuk urusan itu. Mungkin itu alasan pencerahan ibu yang aku ceritakan tadi di awal; otak manusia. Aku rasa.
“Apa alasanmu berujar yang bukan-bukan sewaktu akan dieksekusi?” sela Dee.
Aku menyampingkan pandangan. Dee dan Martinus tersadar ada hal mengganjal. Suatu hal terkait kata-kata membahana diriku sewaktu mengacung di keramaian itu. Kalimat tentang anak-anak pembawa perubahan.
“Anak-anak di negeri ini, mereka bisa menjadi pengganti.”
“Tentu," sambarku. “Mereka akan menjadi pembaca tulisanku,” tambahku mendadak.
Dee dan Martinus memasang muka masam.
“Apa kau tahu kondisi di luar sekarang? Masyarakat menyalahkan kita atas meninggalnya salah seorang eksekutif. Dan yang meninggal adalah dia.”
“Dia?”
“Dia yang pemimpin itu ingin agar mau membantumu menyampaikan pesan tulisanmu. Bahkan itu adalah eksekutif satu-satunya yang Tuan itu katakan bisa menolong kita berkomunikasi damai dengan penduduk Turki. Keadaanmu yang sekarang hanyalah sebuah toleransi. Selepas kau pulih, kita bertiga akan di sidang," terang Martinus.
"Aku juga menyayangkan kenapa dia satu-satunya eksekutif yang bisa?” Martinus menyiratkan kerisauan. Menyeringai tajam. Bagai ditimpa semacam timbal, batinku menggerutu hebat. Aku semakin pusing dibuatnya," lanjutnya.
“Intinya kita harus mendapati beberapa anak-anak di negeri ini untuk menjadi penolong kita,” kataku panas.
“Kita bisa mulai dari anak-anak di pengasingan,” usul Martinus walau setengah matang.
“Pengasingan? Lalu, ke mana teman-teman kalian sekarang?” tanya Dee.
Aku masih bingung. Sejatinya letih. Kelelahan. Bukan main.
“Pertemuan dengan anak-anak itu harus secepatnya dilakukan. Kita ke anak-anak itu sekarang!” ucapku keras membuat dua orang di dekatku itu menganga.
“Tan, tapi kondisimu?” tanya Dee khawatir.
"Ini bukan apa-apa Dee, harga diriku jauh lebih berarti. Aku harus segera mungkin memberesi ini lalu pulang dan bangun,” kataku seraya melucuti semua alat-alat tidur yang melekat di badanku.
“Dalam suasana sepi seperti ini tentu mudah bagi kita untuk keluar jauh,” ujar Martinus.
“Kita langsung ke tempat beliau,” kata Dee.
“Siapa?” tanyaku.
Dengan sedikit bantuan dari beberapa kain dan jubah. Ketiga pejuang seperti kami mengubah diri sementara. Mengganti pakaian yang sekiranya sudah ditandai oleh para penduduk Ankara, Anatolia, Istanbul, seluruh kota Turki khususnya tentara mereka. Dee menutupi wajahnya dengan cadar. Aku mendelik.
“Aku sudah paham maksudmu tentang raja negeri itu, Tan,” kata Dee. “Kebetulan sekali. Aku bisa membawamu ke sana. Ada sebutir pemahamanku terhadap dua kata itu, kuharap tak salah.”
“Lakukan saja, Dee,” kataku.
Ada kepulan romansa yang kian waktu semakin berpaut matang. Berbicara melalui pengertian. Memahami lewat pori-pori hubungan hirarki.
“Sejak kapan hatimu terketuk untuk menerima tawaran bisikanku? Kau mulai berpikir untuk memakai hijab itu lebih lama?” seringaiku.
“I wanna be ...” celoteh Dee.
“Kau bicara apa?” tanyaku polos. “Ini belum waktunya. Kau baru boleh memakainya kalau sudah mengucapkan kata kunci.”
Aku tak mengindahkan kalimat Dee sebelumnya.
“Dia akan meminta bantuanmu. Kau bisa mengakhiri cerita ini dengan selamat, Tan,” seronoh Martinus.
Dee yang mengenakan cadar hitam bermotif kupu-kupu kuning itu, nampak bagaikan wanita muslimah di mataku. Maksudnya sebagi alat penyamaran. Membuat Dee jauh lebih menarik di hatiku.
Kendati wanita Kristiani seperti Dee sendiri tak sadar dengan perbuatan kecilnya. Namun aku terus penasaran untuk menyentil keputusan Dee mengenakan hijab itu.
“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanyaku.
“Iya. Aku menemukan kedamaian di dalamnya. Aku merasakannya darimu. Sangat terasa.”
Mendengar adiknya berucap demikian, Martinus senyum.
“Martinus, kau setuju?” tanyaku.
“Sewaktu aku bertemu denganmu di kamar kosong, aku sudah mengatakan tentang jalan hidup adikku ini, kan?”
Dan angin pun berlanjut …
Bertiga kami layaknya superhero jadi-jadian. Seketika di luar, semua nampak sepi. Wajar saja, masih sangat pagi. Cukup lama menanti. Jejak langkah kami terbawa oleh cemara kehidupan.
Beberapa puluh menit akan kami habiskan untuk tiba di tempat kawan-kawan yang mungkin ada tersisa. Terutama untuk pergi ke tempat raja-raja kecil itu. Aku pun telah mengukir sebuah tulisan yang aku sendiri asumsikan sebagai cahaya hati kita semua.