LO-D

LO-D
15. PONDOK LILIN KECIL



Tan ...


Kahlil Gibran pernah menyiratkan inti kehidupan dalam kata-kata, "Selama masih hidup di tengah karunia Allah, selama Anda masih bernaung di belantara milik Allah, hanya dua hal yang harus anda kerjakan: tenteramkan akal jiwamu dan terbanglah bebas di udara."


Persis seperti yang aku alami, sebagai tokoh utama yang Dee inginkan terus maju. Akalku diuji coba, dipermainkan, dan dihimpit kehormatan-kehormatan yang harusnya terlindungi.


Dee …


SAAT perjalanan menggunakan subway, Tan bercerita padaku tentang situasi sebelum aku bisa hampir dieksekusi. Dari mulai surat yang dianggap hinaan, sampai mendengar teriakan ku dari atas gedung.


“Oh, begitu ceritanya,” kataku memberikannya kesan puas.


“Hidupmu memang penuh kejutan. Aku tertarik untuk tahu, Tan. Apa aktingku waktu itu mengena?”


“Iya, sangat konyol dan amburadul!” ledeknya.


“Ada apa dengan anak-anak itu?” tanya kakakku kemudian pada Tan.


“Martinus, semua anak bangsa di dunia ini adalah lilin-lilin kecil yang akan menjadi penerang masa depan. Itu pun kalau mereka diperhatikan dengan baik. Mereka termetafora serupa laskar pelangi di ujung pekat, serdadu benteng untuk nestapa kelam, dan sirine pengingat selaput dara kebencian yang terisolasi.”


Metafora perkataan itu bagaikan wujud kebaikan dari dalam diri Tan. Tak bernajis dan tak pula bersih seutuhnya. Dan kami sudah sampai ke titik tempat tujuan. Setelah turun dari subway, kami memilih menyusuri jalan mimpi itu dengan aku sebagai kompas mereka. Menuju tempat yang aku maksudkan sebelumnya.


Kini, di sebuah daerah, kami di sambut oleh angin yang menantang. Bertiga kami melangkah pasti. Mulai menelusuri. Segerombolan orang-orang dengan pakaian khas negeri ini lewat silih berganti. Tan mencoba bersikap biasa-biasa saja. Demi anak-anak yang akan Tan bawa sebagai saripati penolong. Langkahan kaki Tan terganggu saat letih nan haus merambat di tenggorokan. Ada beberapa tebaran pohon Tin Brown Turkey yang cukup menggairahkan. Tan berniat mengambil sebiji.


Tan …


“Hentikan!” gusar seorang pria mendadak muncul menghentikan niatku. Suasana kini tegang. Martinus maju. Entah apa maksud hatinya.


“Paman!” panggil Dee pada lelaki cukup berumur yang kira-kira setinggi seratus tujuh puluh senti meter itu.


“Mungkinkah laki-laki itu satu keturunan dengannya?”


Martinus hanya menggeleng tak meresponsku.


“Dee, kupu-kupu paman, semakin cantik. Baru sebulan tak kemari  kau sudah jadi menjelma menjadi bidadari muslimah?”


“Ah … belum, Paman. Ini hanya bentuk pelarianku sementara.”


Dee memang pandai menyampaikan dusta dengan jujur, persis Rey. Aku belum cerita detail kejadian di bukit itu? Yah, nanti … saat Dee akhirnya menjelaskan tentang siapa dia sebenarnya dalam cerita ini.


Aku dan Martinus kompak menganga. Lelaki berumur itu ternyata benar pamannya Dee. Berperawakan tinggi dan cukup besar dengan jenggot tebal mengelilingi hampir seluruh dagunya. Usianya juga nampak jauh lebih muda dari Paman Aaron dan Tuan Abraham. Berkisar di tiga puluh tahunan. Lalu dengan polosnya aku dan Martinus memberi hormat.


“Kupu-kupu apanya, ulat begitu. Mungkinkah paman ini bisa menjadi penolong kita?”


Pondok Sulaimaniyah, Istanbul


Menuju sebuah pondok. Aku tak tahu ini cabang yang ke berapa. Selain anak-anak, ada juga para pria remaja hingga dewasa belajar di sini. Mereka belajar Al-Quran, Bahasa Arab, dan Bahasa Turki. Keadaan yang cukup dari pantauan pemerintah Turki. Tapi sekiranya raja-raja kecil ini lebih diperhatikan dan dianggap hak hidupnya. Tempat ini seperti sebuah tempat anak-anak ini bersekolah dan belajar kehidupan. Dan sejatinya memang benar.


Catatan: Pondok Sulaimaniyah memiliki ribuan cabang di seluruh Turki. Bahkan di Indonesia ada sekitar 30 cabang. Selain itu juga tersebar di benua lain seperti Amerika, Eropa, dan Australia.


Aku memang berfokus pada anak-anak saja untuk dibawa nanti. Tidak untuk santri yang dewasa.


“Tan, kakak, perkenalkan, ini Paman Syam. Dia ini lelaki hebat yang sudah kuanggap seperti ayah kandungku sendiri. Aku sering main-main ke sini tanpa sepengetahuan ayah. Dia tak pernah menganggapku berbeda keyakinan dengannya, dia tetap menyayangiku sepenuh hati sejak aku lima tahun,” terang Dee sepenuh hati.


“Selama ini, kau mengisi kekosongan hatimu di tempat ini, Dee?” tanya Martinus.


Dee memiringkan rahang, enggan menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.


“Aku bisa membayangkan betapa kurang kasih sayangnya dirimu, Gadis Bulan.”


“Gadis Bulan?” si paman menekan.


“Ah, tidak apa-apa paman, maksud Tan adalah bidadari,” Dee menggoda suasana.


“Bidadari katanya? Ya ampun,” aku lagi-lagi mengumpat di dalam batin.


Sementara aku memperhatikan anak-anak. Ada yang sibuk bercengkrama, bahkan bercanda dengan kawan-kawannya. Lilin-lilin kecil itu mengenyam Pendidikan Agama Islam sedari dini. Namun kecurigaan terhadap ketidaktahuan paman Dee terhadap kami masih meracuni dan bertengger di pikiranku.


“Dee, apa kau punya pikiran yang sama denganku?”


“Apa?


“Kau ini tak pernah berubah. Tidak pernah peka. Tak tahu jadinya bila aku tidak ada bersamamu,” ucapku celungus.


"Jangan mengajakku bertengkar sekarang."


“Yah … lagipula, kau memang tak bisa jauh-jauh dariku,” tambahku bangga. Martinus menanggapinya setengah peduli. Itu dibuktikan oleh bibirnya yang sengaja di buat monyong. Dee berpindah tempat. Seketika aku langsung menghentikannya saat sudah beberapa langkah terurai.


“Dee,” panggilku pendek. “Pamanmu, mengapa dia tidak …,”


Belum selesai kalimatku.


“Tak apa-apa, aku sudah menceritakan semua pada Paman Syam. Dia bukan tipe orang yang tumbuh dengan kebencian. Lagipula dia hanya orang dewasa berkepribadian ganda. Tak perlu kau bersusah hati,” Dee menerangkan yakin. “Lagipula dia seorang muslim, kau juga kan? Seharusnya kau memahami dia seratus kali lebih cepat daripada aku.”


“Bukan itu maksudku.”


Mulut tebalku menerangkan semua. Perihal seharusnya aku tak payah berprasangka buruk sebelumnya.


“Sebentar, kapan kau ...” tanyaku kedua kali.


“Saat kau di penjara di kota bawah tanah itu,” kata Dee.


“Lalu, Martinus?”


“Oh, aku tak tahu soal itu,” jawab Martinus santai.


Semua penjelasan ini luar biasa membungkam jiwaku. Ingin rasa tanganku menjitak dahi gadis itu. Geram. Perangai buruk yang senantiasa tak peka keadaan sekeliling itu sungguh membuat aku terkadang jengkel.


“Dee, kau masih ingat rencana kita kan?”


Mata Dee terbelalak, menampakan rasa penasaran yang besar. Gaya pandang yang sungguh berbeda.


“Setiap mimpi dan perasaan itu, ada cinta dan ketulusan untuk memainkan dua emosi tadi. Kekalahan dan penderitaan harus  kita jadikan suatu pendewasaan,” bukaku.


“Aku ingin besok ... kita menyerahkan diri.”


“Maksudmu?” tanya Dee. Ia dan Martinus seolah menganga bukan main untuk yang entah keberapa kalinya aku lupa. Mungkin tidak sama sekali. Jika kau lebih ingat, baguslah.


“Kau benar-benar lelaki tergila yang pernah kukenal, Tan.”


Kalimat dari mulut Dee justru membangkitkan semangat juangku.


“Dengar, raja-raja negeri, kita akan berangkat mulai besok. Sementara kita menginap di sini, kita akan membujuk anak-anak itu. Kita bujuk dan bimbing mereka bagaimana caranya mengekspresikan sebuah karya Tuhan. Kau sudah janji akan menemaniku ke Indonesia setelah semua ini selesai, kan?”


“Aku tak terlalu ingat pernah mengatakan itu, tapi baiklah,” singkat Dee yang masih terpana mungil. “Tapi aku belum setuju untuk rencana ini.”


“Mereka akan melakukannya untuk kita. Aku yakin,” kataku meyakinkan Dee.


“Tidak, aku khawatir,” balas Dee lalu menuju Paman Syam.


Martinus memahami gelagat adiknya.


“Mungkin dia itu tak ingin kau gagal mengakhiri cerita ini. Makanya ia gengsi untuk mengatakan kekhawatirannya padamu secara terang-terangan.”


“Lalu bagaimana?”


“Yakinkan lagi!”


Sekali lagi, ini bagaikan sebuah panggung teater. Mencahayai biasan pelangi kebenaran, melepas kabut kekafiran, dan menyulut api semangat di dada. Tak ada kebetulan hakiki tentang keteguhan hati seorang pria yang tersasar, dalam cinta abadi untuk seorang perempuan. Setidaknya seperti itu bentuk kejujuran Dee padaku di akhir dari semua masalah kami dalam mimpi itu.