LO-D

LO-D
18. HAL YANG DIRAHASIAKAN DEE



Dee ...


Sesuai cerita Martinus. Anak-anak itu, mereka datang juga. Para pemimpin sidang itu sedang berdiskusi pendek. Sebuah keputusan harus mereka cuatkan. Serempak semua mendengar suara bagai peramaian pengantin jalan. Martinus mengarahkan mereka masuk. Anak-anak pondok yang berjumlah sembilan orang itu terlihat begitu lugu dan polosnya. Usia mereka rata-rata sepuluh tahun. Memang ada sepuluh di awal tapi yang satu itu akan berperan lebih penting di sini. Namun detik itu, aku merasa Tan hadir di belakangku atau hanya firasatku semata.


“Sarah telah tiba di sana?” tanya Martinus agak kelabakan pada seorang kawannya.


“Kawan kita sudah mengantarnya. Lebih cepat daripada yang kauperkirakan.”


Di tempat penyiaran, kami kembali sebentar. Kuharap aku bisa menuntun hati gadis kecil itu. Dia baru saja sampai dan air wajahnya melelehkan kegugupanku. Gadis kecil yang sewaktu di pondok menangis lebih dominan dari siapapun juga. Sementara Paman Syam menemani Kak Martinus di ruang sidang bersama sembilan anak yang lain.


“Sarah bisa, percaya pada Kak Dee, ya? Biar ayah dan ibu melambaikan tangan dari Surga,” aku mencoba lihai memainkan peran naluri wanitaku.


“Pemimpin sidang, penduduk Istanbul, Ankara, Efonia, Izmir, dan seluruh Warga Negara Turki di mana pun kalian berada, tolong dengarkan kesaksian hati anak-anak ini, raja negeri kita yang sebenarnya," aku lebih berkobar dan mengarahkan alat suara pada Sarah. Setelah memberikan sebuah kertas, yang tak lain adalah sebuah catatan kecil ibu Tan dulu untuk mereka bacakan. Kalimat yang sudah tercipta sejak di kamar kosong itu. Satu titipan dari Tan pada Martinus untukku.


Beberapa menit setelahnya  …


Simfoni Negeriku.


Sebuah negara satu dunia.


Ada pemimpin juga yang dipimpin. Penduduk itu mengerti kebebasan tapi hanya kiasan untuk kemerdekaan sesat.


Benar-benar nyata bukan? Kisah tentang kartaharja di bumi Tuhan. Merajut peperangan untuk sekedar bertahan dan kemudian menyambung nyawa. Lalu seorang raja berkata keadilan. Bagaimana bisa kesucian dicampur adukan?


Antara Mekkah, Madinah, Turki, Eropa, Amerika dan Khatulistiwa di tanah seberang. Seketika juga raja itu mati. Satu ucapan tertinggal tak sampai tersirat lidahnya yang jujur. Sedang yang lain tertawa dan menangis seolah mengerti penderitaan. Jangan salahkan Tuhan Yang Esa.


Kalian tahu siapa raja suatu negeri? Kami, anak-anak yang sedang berdiri gagah nan anggun. Mereka lah raja kalian, bukan budak bawahan para pendusta. Yang dengan nyamannya bersolek muka. Sedang rajanya tertindas-tindas, mengemis simpati dan cinta kasih.


Seharusnya persatuan punya simponi. Biar peluru dan pedang, tak lagi jadi rantai kebencian. Para keturunan Keluarga Bulan dan Abraham cinta pertamaku tanpa perjodohan, kau membuatku gila dan harus membunuh diri.


Tetapi Dee, dia adalah raja negeri. Dee, Tan, Rey, masihlah bocah yang harus dilindung layaknya orangtua lanjut usia. Aku dan kegelapan hidupku, Alison. Putraku Tan dan Rey, adalah raja yang harus dilindungi. Dua bocah seperti mereka adalah reinkarnasi di dalam plot ritual mimpi yang aku serahkan agar Dee memohonkannya.


Tulisan isi kehitaman hatiku ini adalah salah satu syarat, agar Tan dan Dee pulang dengan selamat dan mengerti ... bagaimana cara mengakhiri kebencian manusia di kehidupan nyata yang akan persis seperti plot mimpi ini. 


Aku dan semua yang ada di ruangan, kurasa benar-benar tak mengerti tentang maksud tulisan Nona Alison. Yang aku sadari hanya satu, tulisan itu adalah sebuah syarat kunci Tuhan mengabulkan ritual mimpiku dan Tan. Kunci yang berada di luar kendaliku. Berbeda dari kunci yang pegang untuk kesesuaian akhir hidup Tan.


"Apa itu surat Dr. Alison sebelum bunuh diri di bukit Izmir?"


"Em, saya rasa begitu, Tuan," Kak Martinus membantuku menjawab.


"Mengapa isi suratnya aneh begitu. Kami paham bagian di mana Dr. Alison mengungkapkan alasan kekesalannya pada dunia, tetapi untuk bagian terakhir ... apa itu bisa disebut masuk akal? Bukankah pria bernama Tan dan Nona Dee sekarang berusia dewasa? Mengapa di surat itu ia mengatakan kalau Tan, Nona Dee, dan putra satunya lagi masih berumur anak-anak seumuran bocah-bocah yang datang ke ruangan ini? Apa surat ini dibuat benar-benar saat Nona Alison ingin mengakhiri hidupnya saat dikejar polisi? Tahun 2007? Itu sudah lama sekali dengan keadaan surat tersebut yang masih terlihat segar tanpa lecet. Dan mengapa anak kecil bernama Sarah itu yang kalian jadikan sebagai pembaca?"


"Itu ...


"Kalian sedang tidak mengarang, kan?"


"Dee, aku harus menjawab apa?"


"Tenang saja, Kak. Aku akan mengubah jalan pikiran yang tak sesuai dari cerita ini."


"Maksudmu?"


"Dekatkan speakernya pada mereka lagi, Kak."


"Baik."


"Tuan, ini aku, Dee. Izinkan aku kembali memberi informasi terakhir."


"Baik silahkan."


"Anak-anak yang hadir ini adalah raja-raja yang kumaksudkan. Merekalah yang harus kalian jaga dari manipulasi sejarah. Jangan sampai kita menanamkan rantai kebencian pada mereka. Kita dulunya juga raja kecil seperti mereka. Namun waktu dan pengalaman hidup membuat kita memiliki kotak masing-masing. Kita harus mencega hal demikian berlanjut."


◌◌◌◌◌


Tan …


Sepuluh menit lebih setelah semuanya bercerita tentang saling memeluk dunia. Tulisan itu adalah rangkaian perdamaian terindah yang pernah terurai. Berasal dari curahan hati ibuku yang gelap. Semua usaha itu tulus itu setidaknya sedikit menghapus kebencian orang-orang padaku.


"Bocah-bocah itu seperti purnama yang menerangi gelapnya nebula kegelisahan kalian,” ucap polisi yang mengantarku ke luar dari penjara ke tempat sidang di bagian luar. Orang-orang telah merubah arah hati mereka dan kini lebih hangat. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Dee memiliki pengaturan plotnya sendiri. Lagipula ritual mimpi ini, bukanlah masalah utama yang akan kami hadapi. Melainkan hal yang sedang menanti di luar dari kisah ini.


Beberapa waktu setelah topan kebencian itu menyurut …


Hal yang tak kuceritakan pada kalian adalah ingatanku tentang keputusan Dee bertemu aku dan meninggalkan ruangan penyiaran. Aku meronta-ronta ingin segera dikeluarkan dari jeruji. Martinus bercerita jauh setelah masalah penunjang dalam mimpi itu selesai. Paman Syam meminta adiknya mengantarkan Dee ke tempatku.


Dan reproduksi perasaan itu terulang kembali …


Saat aku dikeluarkan dari penjara, tatapan setengah itu terjadi. Setelah semuanya terasa sedikit lepas. Dua orang saling memangku pandangan di luar kantor kepolisian. Dan kembali, wujud emosi menderu suatu kegengsian akan prasangka yang bukan-bukan. Aku tak bisa mencegah plot cerita mimpi yang Dee buat, sehingga aku tak bisa melawan takdir untuk terperanga akan kehadiran wajahnya, yang tengah berdiri menantiku di luar. Dia sangat gesit mengambil keputusan.


◌◌◌◌◌


Dee ...


“Dee?” panggil Tan yang masih berdiri beku. “Kau datang menjemputku? Kau lebih sigap daripada api.”


Namun yang kutindaki malah sebaliknya. Aku malah menghindar terbalik setelah tertangkap basah pandangan Tan di luar kantor kepolisian.


“Dee, apa kau kecewa? Kau sudah melakukannya  dengan benar.”


Dan aku pun tersentak, "Tan, kau akan segera meninggalkan ranah mimpi ini, kan?”


Tan terus mengejar hingga sampai di luar yang lainnya.


“Jangan menghilang. Jangan  pernah,”  Tan memaksaku agar mau menatapnya. “Semua ini tak semudah yang kau bayangkan. Ini mungkin mimpi, tapi apa kau tahu luka batin hebat yang aku tampung dan kubawa ke mana-mana sejak kita bertemu? Maaf juga, aku terlambat sadar tentang kerjasama yang kau lakukan dengan ibuku, demi menemukan kunci masalah ini nanti di luar."


“Tapi, kau akan pergi.”


“Tidak,” jawab Tan cepat.


“Sewaktu-waktu kau bisa menghilang. Kau ingin di masa ini selamanya? Kau juga punya lembaran kehidupan yang harus kau selesaikan. Kita juga hanya jelmaan bocah sepuluh tahun di masa ini. Kita sedang tidak berada di usia sebenarnya,” aku membohongi perasaan.


“Lalu apa? Tak usah membahas ini.”


“Kau selalu menyuruhku agar tak khawatir, tetapi tetap saja kekhawatiran itu menggerayangi pikiranku setiap waktu, setiap detik, dan aku benar-benar ketakutan dibuatnya. Kau memberiku kedamaian selama ini. Aneh rasanya jika kau harus menghilang dan tak lagi  beriringan denganku.”


“Tidak bisakah kau berhenti memikirkan itu?” gertak Tan sedikit keras. “Kita selesaikan cerita yang belum usai. Tak perlu mengkhawatirkan masa depan. Aku suka keadaanku yang sekarang. Aku bahagia bisa berjuang bersamamu, Dee.”


“Iya, tetapi … kau sudah merebut kembali kebebasanmu.  Apa lagi?”


“Hutang moral itu …”


“Lupakan saja. Soal itu, aku bisa …”


“Sesuatu? Apa?”


Tan hanya senyum, “Aku tahu bagaimana bentuk kesepian yang kau hadapi. Aku juga sama sepertimu, jadi aku bisa dengan mudah memahaminya.”


“Kau selalu saja sok bijak. Aku rasa hanya perlu mengungkapkan satu rahasia padamu. Mungkin dengan itu, hutang moralmu padaku … bisa terbayar.”


“Tak perlu. Kau tak perlu mencemaskanku. Bukankah sewaktu di kota bawah tanah itu aku sudah mengatakannya? Jangan mencemaskanku. Biarkan aku saja yang mencemaskanmu sampai habis tak tersisa. Kau … aku yakin bisa menghilangkan keraguan dalam dirimu, Dee. Dengan begitu, kau bisa melihat masa depan tanpa dibayang-bayangi kekelaman masa lalumu lagi. Aku akan menolongmu sedikit lagi.”


“Satu lagi,” ujar Tan. “Jangan mau tersesat di dalam kehidupan ini lagi. Ayolah, kita sudah membahas ini saat di pondok, jika kau tak bisa keluar, itu karena kau kurang percaya kalau kau bisa melakukannya. Kau harus menemukan apa yang menjadi keinginan terbesarmu  dalam hidup. Jangan lagi ada ketakutan karena kejamnya  ayah dan ibumu, itu adalah masa lalu yang seolah-olah hidup dalam keadaanmu sekarang.”


Dan Tan mengambil  hati seorang  gadis yang di mana kesepian tumbuh membahana dalam senyumannya. Gadis seperti aku, yang adalah reinkarnasi bocah sepuluh tahun seperti Sarah.


“Lalu, bagaimana kau bisa tahu soal itu?”


“Apa?” aku menahan kecemasan yang rasanya begitu aneh. Pertanyaan Tan begitu menyakinkan.


Tan menyampingkan  tatapan, “DR.ALISON.”


“Kau …”


“Seorang sejarawan yang bunuh diri setelah membunuh kedua putranya. Bagaimana bisa mereka menyebut itu suatu pembunuhan?” Tan seketika menjelma menjadi sekeping ruh jahat.


“Kenapa … kau tiba-tiba membahas itu?”


“Darimana kau tahu masalah itu?”


“Itu … semua orang di Turki juga tahu,”  kataku seraya menahan tekanan diriku sendiri.


“Aku orang itu.”


“Oh?”


“Salah satu dari kedua putra itu … adalah orang yang selama ini berjuang bersamamu.”


“Tan, aku tidak …”


“Yah, kau memang tidak tahu. Aku pikir …”


“Bagaimana mungkin itu kau? Aku bertemu denganmu di keramaian itu dan yang mati di dalam sumur itu adalah seorang bocah, sedangkan kau …”


Tan mengangkat wajah lebih tegas, mengeluarkan sendat kebingungannya, "Aku juga tidak mengerti! Berhenti pura-pura tak tahu setelah semua pengakuanmu di ruang sidang."


“Tan.”


“Aku pikir itu memang bukan rahasiamu yang sering kau katakan.”


“Tentu saja bukan. Aku baru akan memberitahumu kalau cerita ini selesai. Kita memang berubah usai sepuluh tahun tambahan. Tetapi, aku benar-benar tak menyadari jika yang dibunuh Dr. Alison adalah kau, putranya sendiri."


“Itu dia masalahnya. Ibuku yang memintaku membantumu dan mendorongku ke bukit. Ia berharap aku dapat merubah arah kehidupan setelah menjalani ritual mimpi ini denganmu."


Aku tercekat sepersekian detik, “Jadi, karena permintaan ibumu lantas kau bisa langsung mau berbuat baik terhadapku sedari awal?"


"Meskipun ibuku tak meminta, kau memang pantas diperlakukan baik dan diperjuangkan. Kau memang gadis, em ... maksudku gadis kecil yang baik. Tak kusangka kau tumbuh secantik ini di usia sekarang yang nampak di mataku. Padahal jika kuperhatikan sewaktu sering mengambil air di sumur, kau terlihat dingin dan biasa-biasa saja. Tak menarik sama sekali dijadikan teman. Selain itu, kau selalu mengiring pemikiranku dengan kosakata ‘cerita’. Apa semua mimpi ini kau yang membuatnya tanpa ada campuran plot dari permohonan ibuku?"


“Aku tak mengerti arah pembicaraan ini. Kau adalah Tan. Tidak mati. Kau di hadapanku sekarang. Tak mungkin bocah itu kau. Lagipula …” aku tersengat hal yang lain. “Aku hanya tahu pasti mengenai putra satunya. Yang satunya lagi, tak cukup kudapatkan informasi dari polisi. Lalu …”


“Sudahlah, tak perlu dilanjutkan. Yang kukhawatirkan sekarang hanya rahasia itu. Syukurlah  kalau itu bukan rahasiamu. Jadi cerita ini masih bisa dituntaskan. Dan lagi, bagaimana mungkin kakakku tewas setelah berusaha menyelamatkanku,” lanjut Tan.


“Itu yang terjadi? Huf," aku menyingsing peralihan pikiran Tan yang berimigrasi. “Kematiannya terwujud lantaran cuaca ekstrem dan darah yang terus mengalir dari lubang di belakang kepalanya.”


“Lu-lubang?”


“Setidaknya itu yang polisi simpulkan. Faktanya memang begitu. Ditambah lagi … matanya yang tetap terbuka seperti mengharapkan sesuatu keluar dari dalam sumur itu.”


Lapisan langit seakan membungkus latar belakang semua ozon …


“Apa karena itu Kak Rey sesekali mampir dalam selang cerita ini? Tewas?” gumam Tan yang bisa kudengar.


“Tan, maaf karena harus mengatakan semua ini.”


“Aku yang perlu memohon maaf. Mungkin Tuhan menjadikan semua itu sebagai awal semula yang elegan. Dan tanpa kematian itu, mungkin aku tak bisa bertemu denganmu. Selain itu juga, kau harus tetap percaya padaku.”


“Iya, aku mengerti. Mungkin tak masuk akal pendengaranku tentang kau yang adalah bocah itu. Tapi, aku tetap akan janji untuk mengungkap rahasia itu di ujung. Aku rasa tulisan tangan itu ada kaitannya dengan ini.”


“Yah, mungkin. Semua orang memiliki itu. Hanya saja tersebar dalam deret yang berbeda. Kemudian menyatu dan berpadu.”


“Kau tahu?”


“Hanya dugaanku.”


“Spekulasimu itu konyol.”


“Dan artinya lagi … Dee?"


“Oh?”


“Kita tak akan ke Indonesia bersama, semuanya memang harus bertitik di bandara dan saat kau memberitahuku rahasia itu, aku akan menghilang dan kembali. Jadi tak ada waktu untuk ke sana bersama."


“Kau lupa? Masalah kita sebenarnya ada di luar dari ritual mimpi ini. Jadi siapkan ingatanmu agar kita bertemu dengan cara yang baik di dunia sebenarnya. Tetapi ..."


"Apa?"


"Aku tidak usah memberitahu agar perjalanan itu berlangsung dan aku bisa menemanimu. Dan kau cukup menuntunku mengucapkan ‘password' itu.


“Kalau kau ingin itu yang terjadi, aku tak akan pernah terbangun. Cerita selanjutnya ada dalam tali nyata yang tak ada dalam mimpi ini. Jangan egois!”


“Kalau begitu tak usah beritahu kakakku dan Paman Syam, kalau kau akan terbangun setelah rahasiaku kuutarakan. Biarlah mereka menyangka kita akan menyingsing ke ranah Khatulistiwa. Dengan begitu, setidaknya kau bisa sampai ke ujung. Dan biarkan mereka tetap menjadi tokoh sampingan berharga yang tak bisa ditukar garis waktunya. Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagai tokoh pembantu utama yang budiman. Meski pengutaraan kepekaamu kalau ini mimpi adalah hal terkonyol, yang pernah merayap ke jantung telingaku.”


Aku meyibak diri jauh ke dalam hatinya. Ada keinginan tak kasat mata yang melepuh, “Apa pembahasan ini masih ingin dilanjutkan? Kita akan tahu titik terangnya nanti.”


“Iya, kita kembali ke mereka sekarang. Karena masih ada janji yang belum dituntaskan.”


◌◌◌◌◌


Tan ...


Kau tahu, Teman. Jika kau wanita, kau pun mungkin cemburu dengan semua perlakuanku pada Dee. Andai tokoh itu adalah kau. Sayangnya tidak. Dee adalah tokoh pembantu budiman ciptaan Tuhan yang setiap detik dari sekarang, akan kudoakan bisa ingat kembali bagaimana bahagia terbentuk. Siapapun mengharapkannya hadir dalam kenyataan hidup yang menggelombang. Yang bisa ditemukan ketenangan dalam kesederhanaan kata-katanya, yang bisa dicicipi nikmat ketulusan dalam bait suaranya, dan bisa menaikkan semangat ... dalam lejit keberanian berkorban untuk semua yang baik-baik. Sedikit orang-orang seperti dia yang telah mekar dan gugur lebih cepat dari era dan peradaban. Meski jutaan tahun berlalu.


Cerita mimpiku pada detik itu ini secara konseptual telah berakhir. Dan aku ingin mengucapnya sekali lagi, bahwa di alam semesta Tuhan ini, hanya hati manusia yang tak mampu diriset dan diteliti. Sebelum kita menuju masalah yang sebenarnya dan lebih menghabiskan kuota mentalitas, aku ingin makan jeruk sebentar bersama John dan Brown. Brown memainkan perannya dengan baik sebagai Dee dalam kisah bagian awal ini. Kalian tunggu sebentar di sini.