
Tan …
Di balik sebuah kamar kosong.
Aku merekam kekeliruan yang mulai terasa menyakitkan …
“Apa kalian tak tahu betapa bodohnya si pecundang itu?” suara seorang wanita di balik tembok, nampak riang bercerita pada beberapa kawan-kawannya. Mereka adalah biarawati muda.
Sementara dinding lain menyerap gemanya. Membuat kesadaranku terbesit mensiasati perkataan Dee yang terbalik dengan sikap dia sebelumnya. Membuat aku bisa mendengar kemunafikannya. Aku tercekat oleh uap kebohongan.
Seketika edaran matanya jadi tak karuan. Seberapa hebat sandiwara wanita itu sampai membuatku percaya? Entah mahluk apa Dee itu. Jika bukan karena permintaan ibu yang belum kupahami alasannya, tak akan pernah aku mau berurusan dengannya. Apalagi melindunginya yang entah dari apa.
Itulah pemikiran awal yang cukup menyakitkan, di permulaan masalah yang tercipta dari ritual mimpi yang Dee lakukan. Usai tercebur ke sumur, aku langsung berganti tayang ke arah sebuah kamar kosong. Aku menggantikan peran ibu dalam fitnah Tuan Abraham.
Jika memang aku aku harus diberi cara mengembalikan semuanya di dunia nyata, maka aku akan menyelamatkan status gadis itu di dunia rekaan ciptaannya. Entah kenapa ia memilih aku sebagai rekannya untuk memecahkan masalah di dunia nyata melalui mimpi bodoh saat itu.
Keputusan Tuan Abraham masih ditunda. Dan sementara waktu, aku terkurung di kamar kosong sembari menunggu deret konsekuensi berikutnya. Tak lagi di Gereja tempat Tuan Abraham berada. Mungkin rumah Dee. Letaknya tak jauh dari Gereja sebelumnya. Aku dan Dee, seperti ada ikan-ikan berlagak ria di langit aksara.
Bumi dan langit bertukar rumah. Saling mengganti titik tak pernah bertemu. Hanya bisa saling memandang dari atas ke bawah dan sebaliknya. Mungkin terdengar konyol. Semua ekspektasi tingkat tinggi itu ternyata palsu.
Fatamorgana. Dee kemungkinan membual. Kemungkinan pastinya, asumsiku terhadap Dee telah lupus. Walau mungkin masih tersisa setetes kepercayaan. Persepsiku menjadi ‘replika’ tragedi super nyata.
Di diriku, semburat senyum miring tercipta. Dengan senyum itu, aku sudah persis Gold. D. Roger, tokoh anime yang mati karena eksekusi tak adil. Namun itu adalah senyum kekecewaan.
“Aku sempat tercenung pada air matamu. Sempat juga terhenyak sangat lama dalam detik-detik sandiwara yang kau pikir itu lumrah bagiku. Dan akhirnya aku tertipu. Maaf, tapi aku harus kembali,” kataku padanya terakhir kali sebelum membantu ibu melarikan diri.
Yang ini aku menyerah. Tak bisa aku bedakan mana suaranya saat berbohong dan suaranya kala jujur.
“Coba bayangkan dirinya dengan wajah anehnya. Katanya kalau ia datang dari luar kesadarannya. Dia bilang ini dunia mimpi!” kata Dee semakin liar bercerita.
“Haha,” tawa dari kawan-kawannya.
“Dasar pria bodoh! Benar-benar bodoh!”
“Laki-laki itu percaya kalau nona telah jatuh hati semati-matinya, haha,” tawa seorang biarawati tua semakin kencang.
“Aku geli melihat ekspresi wajahnya saat berkata, “Dee, kau tak seharusnya begini.”
Aku menghitam. Murung. Seakan tak meyakini bahwa hinaan itu murni berasal dari aura Dee. Tekanan udara serasa baru. Pertama kali ada serdadu penistaan semacam itu. Dan aku menepis semua itu dengan satu kekecewaan yang teramat dalam.
Masihkah ada aku percaya pada sebuah cinta berkuantum? Cinta yang menderu begitu cepat dan tak masuk akal. Membuatku turut curiga sejak semula.
Segundah ini saja aku nampak ingin menangis sepuas-puasnya. Lalu air mataku aku alirkan ke bilik hati. Sehingga tak mampu merasakan kalau diriku sendiri berduka, dilanda konflik batin yang belum selesai.
Malah ditambah jarum masalah lainnya. Mungkin aku harus menjalani fisioterapi. Dan aku berpikir, Tuhan sedikit kejam padaku lantaran Ia sayang. Cerita kecil sebelumnya mungkin tak seperti apa yang telah Dee sikapi.
“Aku harus ke luar. Kenapa juga aku mesti berkorban untuknya,” batinku seraya memegang dahi kepala yang merunduk, menayangkan sebuah penyesalan.
Tak semudah itu aku menilai sudut pandang orang. Dee, dia pasti lebih tertekan. Terserah ia mau berkata apa, aku tetap tak akan percaya sampai ia sendiri yang memakiku secara langsung.
Di bagian ini Dee seperti ingin berkata bahwa, “Hati adalah benda yang tak bisa dideteksi hanya dari kata-kata. Kata-kata tak mencerminkan rasa.”
Mereka menaruh partikel-partikel perasaan dengan perantara otak kanan mereka yang super aktif. Ini dikarenakan volume otak wanita lebih besar dibanding laki-laki. Dee adalah sosok dari jenis mereka.
Mewakili fakta tentang itu semua. Bahwa Dee mungkin tengah bersandiwara menggunakan kepribadian gandanya. Entah sisi mananya yang bisa dipercaya.
Aku lanjutkan. Ada seseorang datang menghampiriku. Membukakan pintu kamar lalu masuk dan memberikanku sebuah buku. Mungkin kalian berpikir itu adalah buku tentang Keluarga Bulan atau manuskrip yang dicuri ibuku. Bukan, itu hanyalah buku biasa.
Seperti perekam memori harian berharga. Namun bukan itu yang diberikan melainkan sepucuk surat di balik sampulnya. Lelaki itu berkata kalau Dee memintanya memberikan surat itu untukku. Maka aku merespon setengah terkejut.
“Aku tak tahu jebakan seperti apa yang sudah ayah ciptakan untuk adikku,” ucap lelaki itu saat berbalik ingin ke luar.
“Tunggu,” kataku pelan. “Adikmu? Kau ini …”
“Seharusnya kau lebih dulu menindaklanjuti apa yang sudah dibeberkan padamu pertama kali,” kata lelaki itu masih berdiri dan nampak menahan diri untuk tak tergesa-gesa meninggalkanku.
“Jebakan seperti apa maksudmu?” aku mulai menyiasati.
“Entahlah. Tapi sekali adikku memutuskan untuk berkorban demi seseorang, ia tak akan pernah berhenti. Dia memang penuh dengan kekurangan … tapi tak pernah sekalipun ia mengambil jalan yang mudah. Dia selalu berusaha dengan kekuatannya sendiri.”
“Di sisi lain,” kata pria itu lagi. “Adikku adalah wanita yang selalu mengikuti arah kebebasannya sendiri. Sebagai kakaknya aku pasti mendukung itu. Mungkin bagi ayah dan ibu, adikku adalah produk yang gagal. Tapi tidak di mataku. Aku merasa lebih rendah."
Ia berhenti sejenak lalu berkata lagi, "Di antara saudara-saudara kami yang telah meninggal, Dee adalah satu-satunya yang tercipta dengan rasa kemanusiaan. Dia menularkan kapasitas empatinya padaku. Lebih lincah daripada virus endemik.”
“Tapi, maksud semua ini?”
“Kita akan bertemu lagi. Kau ingin menolong Dee menemukan kebebasannya, kan?”
“Eh, iya,” aku mencoba menjawab sewajar mungkin.
“Akan kutunggu hari itu. Aku butuh pertolonganmu. Selamatkan adikku. Aku tak ingin ia lupa bagaimana caranya bahagia.”
Dan obrolan tak masuk akal itu usai. Aku masih tak paham. Perencanaan cerita yang Dee hadirkan dalam mimpi buatan itu, ia siratkan dengan benar-benar menyudutkan segala aspek nalar seketika hanya dengan satu jentikan.
Ada ruang kosong yang selalu bisa terisi oleh bumbu-bumbu plotnya. Tapi tentu saja tak semudah itu aku melakukannya. Aku akan melanjutkannya nanti. Dee, aku berterimakasih atas kebohongan baik yang ia ciptakan pada permulaan cerita ini.
“Tunggu,” panggilku. “Berikan ini padanya. Mungkin ini bisa menolong di kemudian hari.”
“Kau ini ...”
“Itu adalah tulisan yang kuingin agar Dee menyimpannya sebagai alat pemersatu di saat-saat yang dibutuhkan,” kataku memotong.
“Iya, baiklah. Akan kuberikan padanya. Tak ada lagi yang ingin kau katakan?”
“Aku mengerti.”
“Apa?”
“Aku mengerti tentang bagaimana kesepian yang dihadapinya. Karena aku pun begitu,” ucapku seraya senyum dan mengacungkan jempol ke arah lelaki itu.
Dan orang itu pergi tanpa memberi kode hangat untuk menyelamatkanku.