LO-D

LO-D
Suara Dari Dee: Turki, 21 April 2019



Untuk Dee, akan diambil sudut pandangnya oleh Brown. Izinkan dia bercerita pada kalian di bagian-bagian kemunculan sisi pikiran Dee.


Sebab Dee, adalah dalang di balik perputaran plot masalah yang sewaktu-waktu bisa bertukar tempat. Kemudian berubah waktu sesuai tujuan anehnya padaku di akhir kisah.


Dee …


Aku Dee, wanita yang tercecer rapi dalam lembaran mimpiku sepuluh tahun lalu. Aku memahat lagi dalam sudut pandang campuran diriku sendiri. Sesuai janjiku pada Tuhan jika mimpi itu terkabul.


Ini adalah ingatan terakhirku tentang ritual mimpi yang dihadiahkan pada Tan. Ingatan di saat sebelum keluar dengan susah payah bersama pengorbanannya, dan menyusulnya di luar dari cerita ini.


Menuju satu titik sebelum segala ingatan itu lenyap. Lalu kembali menguji ketangguhan Tan, untuk tetap menerima gelapnya nebula hidupku. Sementara menit-menit penyusulan saat itu kian mendekat.


Dikisahkan novel itu penuh kemerduan dari bibirku. Pukul 10.00 pagi di Universitas Istanbul, Turki. Tepatnya di sebuah acara workshop peluncuran buku.


Aku resah sekali untuk memulai satu kata. Senyum getir hanya keluar seperti dipaksakan. Orang-orang memandangku telah bermetamorfosa menjadi pahlawan negeri. Padahal hanya Tan dipikiranku saat itu.


Lelaki yang meraih angin keadilan lalu mengiringnya ke tanah Turki. Para audiens sejatinya memperhatikan penuh antusiasme. Di mata mereka, aku seperti sosok Kartini yang dimiliki Indonesia, selayaknya saidatuna Khadijah yang marwah, dan persis Maryam yang berjiwa besar.


Aku sama sekali tak butuh itu. Meski sekarang Tan sudah tidak lagi bersamaku, semua kenangan tentangnya telah tertulis dalam buku yang akan diluncurkan di hari bersejarah itu.


Tentu saja, si penulis tak lain adalah yang paling mengetahui perjalanan Tan selama berjuang di Turki, diriku sendiri, Helen Dee Maria.


“Sebuah buku tentang seorang lelaki yang tak bisa mati. Seorang lelaki yang tak dapat di rantai oleh dunia. Seorang motivator terbesar dalam hidup saya. Seorang berjiwa juang setinggi langit. Manusia dengan keberanian berkorban adalah harga dirinya. Terimakasih untuk Allah, Tuhanku Yang Maha Mengetahui kisah ini, lebih tepatnya, novel LO ini," kataku membuka waktu itu.


Aku lanjutkan dengan ucapan, "Aku persembahkan untuk Tan, kakakku Martinus, almarhum Paman Syam, ayah dan ibuku yang sudah menerima keputusan hidupku. Tentu juga untuk raja-raja kecil di seluruh ketiak Turki, di manapun kalian berada.


Aku berhenti sebentar, lalu kembali berujar, "Kalian adalah penerang gelapnya galaksi kehidupan sempitku. Melepasku dari sangkar yang memenjarakan, yang sesak dan menghambat nafasku.”


Dan nafas itu benar-benar mengalir masuk sejenak …


“Teruntuk Tan, andai ada lelaki sepertimu di masa ini, mungkin Tuhan akan lebih bersabar untuk mengakhiri zaman yang penuh kepalsuan ini,” ucapku lagi penuh  keyakinan, ditambah mimik wajah kerinduan.


Ya, dan aku merindukan kerendahan hati itu, ya Muhammad, kekasih Allah Yang Esa.


Dalam permohonan dunia fiksi itu, aku adalah mahasiswi semester dua di Universitas Istanbul. Belajar Sastra setelah menggaet beasiswa dari Presiden Turki karena perjuanganku bersama Tan yang dihargai tinggi.


Yah, setidaknya meski semua itu mimpi, itulah kenyataannya. Ujungnya, ini tetaplah fiksi bahkan sampai jutaan tahun cahaya merambat dari ujung semesta ke ujung yang abstraksi.


“Raja-raja kecil Pondok Sulaimaniyah yang nantinya akan menerangi masa depan. Ke-Maha Besaran-Nya membuatku bangga mengenakan hijab ini. Untuk sejarah kelam yang mengambil cinta para wanita-wanita perkasa di tahun 1946 lalu, aku berterimakasih atas semua harum ataupun noda yang dilahirkan.


Aku berhenti karena melihat para audien hanya terdiam seakan terperangah tanpa alasan.


Aku berkata lagi, "Tak ada yang salah, karena Tuhan adalah penulis terbaik selamanya di alam semesta ini. Terakhir untuk judul buku ini. Aku beri judul, LO-D. Maknanya hanya aku dan Tan yang tahu. Arahnya merujuk pada tulisan tangan Tuhan yang berjejer rapi di dinding-dinding semesta yang menjadi keajaiban-Nya,” tutupku.


Aku menutupnya dengan berusaha se-elegan mungkin dan dengan sisa wajah yang diliputi haru.


“Ya!”


“Kau daun baru yang teramat segar!”


“Kak Dee sangat manis!”


“Aku ingin membacanya! Nona Dee, ajari aku rasanya menjadi Tuhan semu dengan menulis cerita!”


Teriakan-teriakan dilengkapi tepuk tangan dari para audien. Ibuku lantas menaiki podium dan langsung mengecup kening putrinya ini penuh sayang.


Kendati acara ini disaksikan oleh seluruh rakyat Turki. Melalui siaran langsung dari stasiun televisi yang rela menayangkan acara ini secara bersamaan. Dan waktu itu benar-benar rumit. Kalian tak perlu percaya yang begituan! Menjangkau pengetahuan tentang dimensi dan waktu itu, hanya akan membuat kepala sakit!


Yah, intinya semua yang gaib itu memang fakta adanya. Dan satu-satunya hanya ditangkap oleh iman. Iman, yang tak bisa kalian beli dan gadai. Aku semakin percaya, waktu adalah ketidakpastian terbesar yang Tuhan ciptakan.


Melengkapi titian penuh asa di sekeliling, lantaran tak tahan, aku bangkit dan berputar menjauh dari kursi di dekat area penyambutan. Aku tak butuh itu. Aku tak butuh puja-puji. Aku hanya butuh Tan, tulang sulbi dalam reinkarnasi masa depanku.


Aku menerobos pintu ruang yang sedari awal terbuka. Dengan semangat memuncak, seraya menyiratkan garis senyum di bibir tebalku.


Aku berteriak, “Tan, apa aku bisa bangun sekarang? Janjiku telah terbayar. Tan, kapan kita bersama lagi? Haruskah aku bunuh diri dan membuat Tuhan emosi tingkat tinggi hanya untuk menjumpaimu lagi?”


“Tan ...” aku mulai meracau lagi. "Sekeras apapun aku mencoba menerima, tetap saja tak bisa. Jika kau wanita dan jadi aku, apa yang akan kau teriakan sekarang?"


Demi pria tangguh yang telah mengobarkan harga diri dan kehormatannya untukku, kalian pasti mengerti alasan aku begini nantinya. Mungkin aku masih labil. Wajar saja karena kalian mungkin belum mengetahui masalahnya dari awal.


Esok hari aku mengunjungi Blue Mosque. Lemas aku mondar-mandir bersama kesempitan rindu. Benar, aku tak tahu harus dibawa ke mana sinyal kerinduanku itu. Dan ngomong-ngomong, hari itu adalah berita seorang gadis bernama Helen Dee Maria, bahwa informasi tentang kepergian dia dari Ankara tidak keliru.


Kabar buruk tentangku. Tentunya Tan akan tak senang ketika masalah baru menimpa pemudi sepertiku. Ujian hati sebelum aku berlanjut ke Aya Sofia. Refleksi otak ditengah kepenatan akan hausnya cinta. Tan mungkin bakalan memarahiku habis-habisan.


Tragisnya, tak kupahami mengapa aku belum mampu terbangun?Padahal waktu sudah berganti jubah selama dua tahun. Entah ada masalah apa lagi. Kenapa Tuhan masih belum membangunkan? Bagaimana aku bisa menyusul Tan?


Lini depan Aya Sofya menjadi target kedua kegundahan. Tempat yang mengingatkan pertemuan awal dengan Tan. Ketika anak lidahku bersandiwara mengeluarkan ungkapan, tentang Tan yang seorang berandal bodoh dan gila. Tak usah tanya padaku apa itu. Terlalu kasar.


“Nona, Anda mau ke mana?” tanya seorang memperhatikanku yang nampak linglung.


“Aku hanya ingin menengok seseorang.”


Memoriku tersasar polip kenangan. Dan menyebar seperti aerosol. Menggerogoti kehampaanku setajam silet. Tak tersebar, karena hanya aku yang merasakan. Padahal aku sendiri yang berjanji akan kuat tanpa Tan harus ada.


Tetapi, Tan pernah bilang padaku di sela-sela cerita ini. Katanya, “Jangan tahan tangisan. Bila ada yang melarangmu menangis, caplah dia sebagai  penjahat!  Namun jangan meratapi duka dan kesedihan, apalagi sampai terlarut. Itu namanya melampaui batas."


Mungkin kalimat itu yang mengubah persepsiku seperti ini atau malah sebaliknya. Aku masih memuaskan diri merekam kembali semuanya. Seperti ada cerita dalam cerita. Dan kalimat Tan itu adalah interpretasi dari kata-kata kakaknya Rey.


Lantas aku menelusuri tiap-tiap sudut Aya Sofia. Sampai habis segala penjuru, tak kunjung kegundahan surut. Sampai-sampai tatapan orang-orang tak menyentak kewarasanku.


Bermacam-macam dugaan dan gunjingan datang setelah menjadi pahlawan. Dipikiranku hanyalah, kapan waktunya bangun?


“Kenapa Kak Martinus tak menyiramku saja dengan air setengah mendidih?” aku kembali meracau tak karuan.


Kakekku mengetahui aku di tempat itu. Mendadak muncul setelah dari keramaian. Kembali berdebat dengan orang-orang. Sama seperti sebelumnya.


Berniat membawa gadis yang dulu dianggap produk gagal oleh ayahku. Akulah produk gagal itu. Namun detik itu, empati tumbuh membahana.


“Seharusnya kau punya kepala Muslimah! Kau sudah jadi muallaf, kan? Kau lupa janjimu pada Tan?” ujar ayah menggebu-gebu.


Kalimat itu menjadi sangat kontras dengan ketidakpercayaannya pada Tan dulu. Kuharap Tan adalah menantu ideal yang akan diterima ayah di dunia yang sebenarnya. Di mana saat aku benar berada dalam usiaku yang seharusnya.


Aku mengiyakan dengan berkata, “Ayah, sudah saatnya. Aku bisa merasakan waktunya habis. Tuhan sudah mengizinkanku kembali. Ajak semuanya. Ayah, ibu, dan kakak. Kita bangun. Aku dulu, ya? Tan sudah menungguku.”


Semua puing terikat menjadi satu pazel berbentuk kasih sayang. Sebuah keluarga, rumah, kedamaian, dan kebebasan yang sebetulnya sangat sederhana aku idam-idamkan. Mereka sudah kembali semuanya.


Yah! Walaupun habis ratusan abad, cinta itu tetap mekar meski dipupuk zaman. Tuhan menciptakan hati untuk menyimpan ikatan dan kebersamaan itu, kan? Di setiap detik setelahnya ingatanku berakhir, kalian akan melihat perjuangan lelaki aneh seperti Tan.


Ia akan mengajarkanku dan kalian dengan ketangguhan dirinya, cara mencintai dengan baik dan benar. Sekali lagi, selama ingatan akan kenangan bersama tetap ada, manusia akan selalu bersama. Selamanya, bersama Tan.