
Tan ...
Sebelum detik-detik Dee datang menyelamatkan dan mengajakku kabur, waktu aku ditahan, aku melihat sobekan kertas di dalam kota bawah tanah yang merupakan penjara bagiku itu. Aku seperti melihat tulisanku sendiri. Aku merasa pernah menulisnya. Namun ingatanku tak baik, tak ada kenangan pasti terekam tentang tulisan itu. Kupikir, tulisan berlumut itu adalah aib seseorang di masa lalu. Entah ia terjebak atau reinkarnasi diriku.
“Manusia, kau terpancar dari dua lubang yang bau. Mengapa kau begitu sombong? Mengapa kau senang dengan peperangan? Mengapa tak kau kejar saja popularitas, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan keyakinan? Setidaknya resiko semua itu tak membunuh orang lain. Daripada kau mencabik kebebasan orang lain, mengapa tak tiupakan kebebasanmu sendiri-sendiri? Kalian ingin menguasai dunia? Hah, manusia mana yang bisa menguasai alam semesta milik Tuhan? Mengapa tak kejar saja Surga yang sejatinya rumah tinggal ayah kita dulu? Tempat kita pulang? Yang bisa kalian kuasai dan rayakan?
Manusia, kau senang memakan darah dan daging sesamamu? Jika melihat spesies kanibal memulai aksinya, siapa yang kalian anggap raja di negeri ini? Kalian boleh mencabikku dengan sebilah pedang, mengulitiku dengan belati, ataupun membelah tengkorak kepalaku menggunakan kapak pemenggal. Tapi satu hal, itu tak akan meruntuhkan kebebasanku untuk membunuh kebencian dalam diri kalian. Mengapa orang asing sepertiku, kalian perlakukan layaknya sampah? Bukankah tamu harus dihormati? Mengapa dunia begitu berarti bagi kalian? Apa hanya rumor yang begitu kalian Tuhankan sampai mengail nafasku?
Aku tahu ini adalah bentuk kewaspadaan negeri ini. Tapi apa kalian pikir, pemimpin sebuah negeri itu adalah raja? Tidak, itu adalah kesalahan sejarah yang fatal! Mereka mungkin benar, seorang yang lebih banyak dipercaya oleh orang-orang. Aku kuajarkan; seseorang bertubuh kecil dengan senyuman setiap hari, yang berlari menangkap perlindungan orangtuanya, dan tak ada daya keculi uluran kasih sayang setiap hari.
Begitu isi tulisan di dalam kertas yang aku tulis. Tak mudah. Karena sampai kapanpun, manusia tak akan bisa saling memahami satu sama lain. Kau paham? Mestinya iya. Karena aku sudah menyimbolkannya dalam percakapan aku dan Dee. Jika belum, baliklah rerenungan sebentar. Bukankah aku sudah cemaskan, kau mesti tahan dengan gaya berceritaku dalam undangan berpikir kita di permulaan.
Pemuda jelmaan dari bocah pelontos, hari ini telah belajar mengenai arti sebuah keikhlasan. Prasangka bahwa mati itu berarti dosa, hanya akan melemahkan keimanan saja. Aku percaya kalau Tuhan tahu … tapi menanti.
Begitu ceritanya … Dan aku tak tahu apakah alasan Dee mempercepat plotnya. Meraih tanganku di area eksekusi, dan mendadak memelukku di hadapan pemimpin-pemimpin itu. Lalu pingsan. Bermimpi di dalam mimpi. Kemudian mendengar rintihan tangisan Dee dan membangunkan aku.
Aku lanjut. Sekian menit lamanya pondok-pondok itu terisolir. Dari depan aku masih rapuh memperhatikan. Terlihat anak-anak itu bagai ulat yang belum menjadi kupu-kupu, bahkan untuk membuat kepompong saja mereka tak ada waktu. Dari berbagai stimulasi, Dee mengerti makna wajahku. Pandangannya tak lepas dari lelaki Paman Syam. Aku berjaga di belakangnya. Dee mendekati kemudian.
“Ada apa?” aku bertanya pelan tiba-tiba dan lantas menarik lengannya keluar. "Dee, aku hanya …”
Aku tak melanjutkan karena tatapan Dee kali itu lebih runcing, "Kenapa?” aku gelagapan kemudian.
“Tak apa. Hanya sedikit khawatir bila saja kau akan berencana sesuatu yang membawamu dalam zona bahaya lagi. Kau tidak akan ...” Dee sedikit menekan dengan ragu-ragu.
“Aku kan sudah bilang sebelumnya ... kita harus membawa anak-anak ini. Bila terlena dengan kebebasan sementara ini, apa bisa aku kembali dengan senyum lebar dan menatap ibuku?” aku mencoba memberi satu-satunya ujung cara pada Dee. Mewujudkan suruhan Martinus untuk meyakinkan adiknya itu lagi.
“Semuanya hambar. Perlukah aku menambah sedikit kesukaran?” Dee bertanya masam.
Dee …
“Maksudmu?” Tan mengerutkan jidat membuat dua sisi alisnya nyaris beradu. Terpukau kecil. “Tak biasanya kau seperti itu, Gadis Bulan."
Aku tak menjejali ujaran Tan. Dengan serdadu memelas diri, aku meraup diri ke hadapan anak-anak itu, membuat Paman Syam juga turut serta melongo.
“Hei, kau tak mendengarku?” Tan sedikit marah dan membawaku keluar sesaat sebelum aku mendekati Paman Syam, menarik helai pakaianku keluar dengan tenaga sedang.
“Kau keras kepala!” Tan membentak kecil. “Kau tahu apa yang tak kau miliki sehingga begitu payah dan tak ingin pulang?”
“Sudah hentikan! Aku tak akan mendengarkan. Kalau kau tertangkap lagi aku tak akan peduli,” aku setengah hati mengatakan.
“Baru saja akan kukatakan. Karena kau sudah tak ingin peduli, akan kulakukan yang serupa. Kau tahu apa yang membuatmu belum juga menemukan kebebasanmu? Kau kekurangan kemampuan untuk mempercayai!”
“Apa kau itu bodoh? Apa kau tak pernah memikirkan keselamatanmu? Aku mengkhawatirkanmu! Kenapa kita harus mencari masalah lagi? Aku juga ingin di sini. Aku ingin sedikit lebih lama tenang. Sudah lelah dengan semua pertikaian itu. Aku juga tak akan kembali ke ayahku.”
“Tapi masalah kita belum…”
“Sudah selesai!”
“Kau bohong. Kau begini karena kau tak ingin aku pulang ke duniaku, kan?”
Aku tak merespons dan lantas masuk. Harapanku saat itu adalah Tuhan mengganti plot cerita mimpiku sehingga mungkin Tan tetap baik-baik saja. Aku menyayanginya.
“Dee!”
“Iya! Aku ingin bersamamu lebih lama lagi. Memangnya kenapa?! Kenapa tak istirahat saja dulu. Apa kau tak lelah? Mungkin bagimu ini semua ini mimpi tapi sekali ini saja dengarkan aku.”
“Kau tahu?”
“Apa?”
Tan nampak melihat ke dalam dirinya.
“Awalnya, aku memang tersesat sampai aku bingung harus dibawa ke mana tujuanku. Setelah aku bertemu denganmu, akhirnya aku sadar, kau memang dititipkan kunci hidupku oleh-Nya,” kata Tan semakin dalam. “Aku sadar apa yang membuatmu tetap seperti itu, tetap tersesat dan tak bisa keluar. Kau masih belum memutuskan apa yang menjadi keinginan terbesarmu dalam hidup. Kau terlalu takut dengan kotoran di depanmu sehingga kau menghindarinya."
“Kau bicara apa? Aku harus membersihkan kotoran itu?” aku menahan isakanku.
“Iya, kau harus berani melakukan itu. Di depan dan di belakang. Dua kotoran yang mengelilingi lingkaran hidupmu. Kau masih penuh keraguan akan hal itu, tentang apa yang ingin kau temukan, juga tentang ayah dan ibumu. Kalau memang tersesat dalam kehidupanmu sendiri, tetaplah melangkah maju tanpa ada keraguan. Percaya pada kebebasanmu sendiri. Kau tersesat lantaran ditakut-takuti keraguan yang kau ciptakan sendiri. Kau tak akan bisa menemukan kebebasanmu kalau masih mengotori diri dengan masa lalu. Kau belum bisa menerima masa lalumu yang pahit itu. Walaupun aku berjuang mati-matian menolong kebebasanmu, dari kesepian pahit masa lalu yang mungkin tak begitu kupahami … tak akan pernah terwujud keberhasilanku, bila kau sendiri saja tak mau berusaha untuk keluar dari duniamu yang tersasar itu.”
“Lalu apa?!” aku mengikis diri hingga melepuhkan semua ketertutupan. “Apa? Aku bingung. Aku bingung … Tan.”
Detik itu adalah detik yang paling membuatku tak terkendali.
“Terima masa lalumu dan apa yang sudah terjadi. Aku juga sama sepertimu. Saat mengingat kejadian di bukit itu sebelum akhirnya aku bertemu denganmu di Aya Sofia, pikiranku masih penuh ketakutan dan aku tak bisa menerima kenyataan tentang ibu dan kakakku. Namun setelahnya, aku putuskan keinginan terbesarku. Aku ingin bersama mereka yang tetap melangkah maju, bukan bersama mereka yang tersesat dalam kehidupan mereka sendiri.”
“Oh, kalau begitu tinggalkan aku. Karena aku termasuk orang yang tidak kau inginkan ada dalam jalan hidupmu. Aku orang tersasar.”
“Tidak," balas Tan cepat. “Kau salah. Ketika sudah bisa kuterima masa lalu itu, kau dihadirkan sebagai masa depan yang harus kuraih. Dan semua yang terjadi di bukit itu, akhirnya menjadi mimpi belaka yang aku sadari, sebagai pintu untuk keluar dari kerumitanku. Mereka, ibu dan kakakku … tengah menanti keputusanku dalam masalah ini.”
“Apa maksudmu?”
"Seseorang yang tersesat hanya akan bisa ditolong oleh dua orang saja, yaitu dirinya sendiri dan orang yang tahu jalan keluarnya. Aku menemukan masa depan itu. Kaulah benda abstrak itu, Dee. Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku … kunci hidupku dipinjamkan Tuhan padamu? Kenapa kau terbalik sekarang? Aku di sini untuk membawamu menemukan jalan keluar. Sudah kutahu jalan kisah ini. Jika aku berhasil menyelamatkanmu dari kesepianmu itu … tulisan tangan Tuhan itu juga akan kudapati jawabannya. Bukankah kau sendiri yang mengatakan? Hutang moral itu juga sengaja kau ciptakan untuk itu, kan?”
Udara segar membiru seakan ditimpa penyakit menular ...
Daun yang jatuh tak pernah menipu udara …
“Siapa kau sebenarnya?” Tan seraya berpikir tentang tokoh aku yang mulai kelihatan jati dirinya. Tan mulai sadar permainanku. “Apa dari awal memang kau hanya mengandalkan dusta? Sudah kupikirkan ini selama seluk perjalanan ini berlangsung. Aku terus memikirkan semua gera- gerikmu sejak semula. Katakan saja, kau ini siapa?”
Lentera baru terbuka …
“Kau ingin tahu?”
“Lebih daripada yang kaubayangkan.”
“Baik, akan kuberitahu. Hanya saja syaratnya … kau harus percaya pada dirimu sendiri dan terima semua yang menjadi sejarah masa laluku. Kita dalam koordinat yang sama sekarang ini. Alasan aku belum juga menemukan pintu kebebasan itu adalah kau, kau masih belum bisa menerima masa laluku. Kau hanya menerima masa lalumu dan pergi menuju kebebasanmu sendiri, tanpa peduli aku yang berdiri di belakangmu dalam gelap.”
“Aku tanya kau siapa?!” Tan membentak cukup keras kali ini. Martinus dan Paman Syam masih meresapi kesegaran bersama orang-orang dan anak-anak di dalam pondok.
“Sudah kusiratkan sejak awal. Bukan saatnya memberitahumu. Akan kuberitahu jika berhasil menyelesaikan masalah ini,” aku mencoba tetap tenang meladeni bentakan itu.
Tan malah memikirkan pernyataan aku sebelumnya lalu merespons.
“Itu yang kauinginkan?” tanya Tan memulai kembali. “Manusia memang butuh perbedaan untuk saling memahami.
“Akan kuterima keinginanmu. Itu tujuan hidup yang memberi pintu buatmu? Baik. Akan kuterima semuanya. Ayahmu, ibumu, masa lalumu, kebohonganmu yang jujur, rahasia yang kaupendam, serta tujuanmu hadir dalam mimpiku ini. Dengan begitu, kau bisa melihat pintu kebebasan lalu aku akan dengan mudah membukakan pintu itu dari luar. Begitu kan, maksudmu?” Tan mulai berakhir. “Dengan begitu, kau akan bersamaku. Kau ingin beriringan denganku, kan? Kalau begitu jadilah orang yang terus melangkah maju, bukan orang yang tersesat.”
Udara kembali seperti sebelumnya …
“Iya, Tan. Maaf karena belum bisa memberitahukanmu yang sebenarnya. Aku janji akan tiba saatnya. Sekaligus sebagai pelunas hutang moral itu. Pengakuan itu …”
“Pengakuan?”
“Oh? Um .. iya, maksudku ... ah, nanti saja.”
Tan mengapit bibir lalu senyum.
“Iya, kalau begitu maafkan aku. Maaf sudah membentakmu untuk kesekian kalinya. Aku hanya mengikuti prasangkaku. Ah, ternyata bukan orang lain saja, akupun bisa mengesankan rumor buruk dari apa yang sekedar aku simpulkan. Aku rasa perlu minta maaf pada dunia,” Tan menyadari kepulan penyesalan menggelapkan penglihatannya tentang diriku. Diriku yang memilih ia menjadi tokoh utama kisah ini. “Sekali lagi, aku mohon maafkan aku, Dee. Padahal aku yang berhutang di sini.”
“Aku sudah memaafkanmu semenjak cerita ini dimulai.”
◌◌◌◌◌
Tan datang mendekat ke Paman Syam lalu duduk di sampingnya. Hanya ada satu energi negatif mendadak muncul ke tengah-tengah tatap-menatap itu. Ada gadis kecil terisak pelan. Suaranya mungil tapi masih bisa terdengar. Aku memperhatikan. Anak-anak yang lain pun demikian. Ada yang terlihat resah. Ada pula yang tiba-tiba merasa ingin ikut menangis. Tan mungkin merasa ada dua kutub berbeda sudut namun saling mengisi. Tak terlihat tapi sangat terasa.
“Aku ingin pulang. Ibuku tidak mungkin mati. Allah sayang Ibu, paman, dan ayah. Iya kan, kakak? Aku ingin pulang,” celoteh anak itu sembari menutup kedua matanya setelah memandang remaja lelaki yang tadi ia sebut kakak.
“Ayat pertama surat Al-alaq anak-anak …?” ajak seorang ustadz yang baru datang. Memulai muzakaroh kecil dengan santri anak-anak.
“Iya!” jawab mereka serempak kecuali gadis kecil tadi. Ia masih murung dan sekarang dipeluk kakaknya. Belum ingin bergabung dengan kawan-kawannya.
“Artinya …?” lanjut si ustadz.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan …!!”
Lantunan sapaan terhadap Tuhan, membulir lepas selepas tiupan tornado di planet Jupiter.
“Namanya Sarah. Kemarin kawanku, membawanya kemari. Dia bilang orangtua mereka meninggal. Anak-anak di cabang ini rata-rata kami dapati di Teluk Izmir,” kata Paman Syam.
“Oh,” aku mengangguk.
“Kenapa bisa?” tanya Tan.
“Izmir adalah kota tersantai di Turki. Mungkin orang yang membawa mereka memanfaatkan itu,” jelasku.
“Di Izmir, masyarakatnya tidak terlalu berurusan dengan atraksi keagamaan. Mereka memisahkan antara kehidupan akhirat dengan duniawi. Meski anak-anak ini dari Palestina, mereka mungkin akan santai saja mengurusnya. Tapi bukan berarti mereka tak peduli,” kata Martinus.
“Tak kusangka aku akan bahagia karena ia bertemu kakaknya. Sebelumnya, kawanku itu memberitahu kalau gadis itu bercerita tentang kakaknya. Lalu membawanya kemari. Benar- benar satu wujud kasih sayang Allah,” kata Paman Syam.
Tan tersenyum dan aku ketawa pelan.
“Wah, ternyata dunia begitu mepet,” decak Tan berasumsi.
“Diksi yang cocok itu … sempit,” kelakarku.
“Iya cerewet," Tan memanjangkan vocal ‘e’ nya.
Ada ruang ikatan batin kembali seperti sedia kala, tanpa terbebani kecurigaan dan penutupan diri dalam percakapan penuh kode metafora itu. Aku pun dibuat pusing sekencang putaran roda yang diputar anak kecil saat dipukul dengan kayu agar memutar.
“Dia pasti sangat rindu pada ibunya,” kataku seakan tak menggubris perkataan Tan yang mengatai tadi.
“Tak ada yang menyalahkan mereka. Apanya yang menghapuskan penjajahan? Kami pun ingin bebas seperti anak-anak di negeri lain. Kami hanya patuh pada kata-kata orangtua kami. Menyuruh kami bersabar. Meminta kami ikhlas dan tak pergi selama mereka berjuang menjaga Al-Aqsa. Kadang sesekali aku tidak rela orangtua kami menjadi wakil untuk menjaga Masjidil itu, tapi kami yang anak-anak dan masih remaja juga sadar, kalau bukan kami siapa lagi. Meski sempat aku membenci, namun cintaku pada negeriku lebih besar dan lebih besar lagi pada-Nya. Aku tak membenci sedikitpun, meski aku tahu tak semua umat beragama mau peduli, termasuk umat Islam dari luar,” ujar remaja lelaki tadi sambil masih mengelus dan merangkul hangat adiknya. Wajahnya bak berwarna jingga. Solekan matanya menerawangi balasan tatapan Paman Syam serta Tan. Ia seperti tak sadar telah berujar demikian.
“Manusia bersama masa lalu dan dunia berteman dengan sejarah. Kesamaannya, manusia dan dunia sama-sama membentuk sejarah dan juga peradaban. Cinta dan kebencian juga menjadi bumbu keduanya yang juga musuh terbesar kita kadang-kadang. Semua itu mengalir pada rupa dan wujud serta kepedulian manusia itu sendiri. Apapun bentuk emosionalnya, kita harus bisa menerima semua itu. Sebab dunia memang begitu, Nak,” kata Paman Syam. “Kau tak perlu mencemaskan nasib dunia ini. Ini hanya mimpi … tempat kita beradegan sebagai tokoh-tokoh yang Tuhan ciptakan. Selama cintamu bersih karena Allah, semua akan baik-baik saja. Tuhan paling tahu apa yang kita butuhkan daripada yang sekedar kita inginkan.