LO-D

LO-D
19. PERCAKAPAN DUA SISI



Tan …


“Hal indah biasanya timbul ketika kesakitan di alami yang seorang manusia dalam hidupnya telah menemui ujungnya. Kebersamaan akan lebih terasa manis kala cerita tentang sebuah kepahitan hidup dilalui bersama-sama,” kata ibuku di suatu malam yang tidak sunyi.


Setelah memaksa orang-orang saling menghangatkan …


Dee menutupi wajahnya lagi dengan cadar. Bekas sisa dari maksud penyamaran sebelumnya. Persis wanita alami timur tengah. Kelihaiannya berkedap-kedip menambah indah setengah parasnya. Di atas kendaraan pribadi milik teman Paman Syam ini, ia berangan-angan dengan cantiknya. Aku memperhatikan semua yang terjadi di sekitar wajah Dee.


“Tan."


Manusia satu itu menyeru saat tubuh saling berdampingan. Martinus sungguh tega untuk sekedar memberi kejutan padaku. Dee melukis senyum menyaksikan kami saling menggerutu. Martinus menyadari kalau aku memperhatikan Dee cukup lama.


“Saatnya berpikir tentang keselamatanmu hingga tiba di khatulistiwa,” ujar Paman Syam. Dan itu menyudahi candaanku dengan Martinus.


Paman Syam kali ini lebih leluasa mendekatkan diri pada ketiga mahluk seperti kami. Turut andil di bagian belakang mobil. Ia meminta adiknya untuk menyetir kendaraan pribadinya itu, yang juga seorang ustadz di Pondok Sulaimaniyah. Yang saat itu membuka forum dalam pembacaan surat Al-alaq.


“Biarkan saja paman, sejatinya Tan sangat lelah. Kapan lagi bisa bercanda seperti itu?” bela Dee.


“Ngomong-ngomong, manuskrip kuno dan buku nubuwah itu ternyata hanyalah rumor belaka. Apa kau rela jika keduanya dibakar oleh penjaga Vatikan, Tan? Kau tidak ingin membawanya pulang?” tanya Dee. “Katanya itu karangan ibumu?”


“Biarkan saja,” kataku datar. “Daripada buku itu, aku lebih khawatir pada nasib kawan-kawan kita.”


"Yah, tapi ayahku ..."


"Sebelum ayahmu dieksekusi, kita harus ke luar dari dunia mimpi ini, Dee."


"Aku tahu, harusnya kita sudah terbangun setelah semuanya selesai. Tetapi, kita justru berada di sini."


"Apa mungkin karena hutang moralku?"


"Tan, dengarkan aku."


"Ya?"


"Tutup matamu sedetik saja secara perlahan lalu lihat sekelilingmu."


"Dee, semuanya tak bergerak."


"Benar."


"Kau ingin menghentikan alurnya secara paksa?"


"Aku bisa saja melakukannya. Hanya saja ..."


"Akan lebih jika kita meneruskan saja. Mungkin ada sesuatu yang masih ingin diperlihatkan Tuhan dalam plot mimpi ini."


"Hm, baiklah jika kau yang meminta. Sebelumnya izinkan aku menghapus ingatanmu sebentar saja."


"Ingatan itu sangat berharga, Dee. Bagaimana jika aku melupakanmu saat terbangun nanti?"


"Aku tidak mengatakan kalau menghapus ingatanmu berlaku sampai terbangun."


"Jadi, benar-benar sementara saja? Ingatan bagian mana yang akan kau hapus?"


"Tentang kesadaranmu kalau semua ini adalah ritual mimpi dari aku dan ibumu."


"Jika hanya itu tak masalah. Akan lebih menarik jika aku tak mengetahuinya akhirnya."


"Tidak, bukan."


"Oh?"


"Bukan itu yang jadi menjadi masalah. Masalahnya adalah aku sendiri memang tidak tahu akhir apa yang akan ditunjukkan Tuhan. Kita sebetulnya sama-sama menyadari jika semua ini harusnya berakhir setelah persidangan itu. Dan kebebasanmu kita telah tercapai. Kau berhasil menyelamatkan aku meski bukan dirimu yang jadi pembicara tunggal waktu itu. Secara batin dan kehadiran. Kau sudah membayar hutang moral itu padaku untuk ibumu."


"Ya, lalu? Kau akan menghapus ingatanku tentang mimpi ini sementara?"


"Ya, kau tetap akan mengingatku saat kita terbangun. Dan kita akan saling mencari setelah sepuluh tahun hingga berada di usia sekarang."


"Ya sudah, lakukan. Aku ingin segera bertemu masalah sebenarnya di dunia nyata."


"Baiklah. Tan, kedipkan lagi matamu namun sekarang lebih lama. Saat aku berkata buka, maka bukalah."


"Seperti ini, kan?"


"Benar, sekarang buka."


Dan ingatanku saat dalam sepertiga perjalanan kisah ini, benar-benar tanpa pijakan.


◌◌◌◌◌


“Mereka sudah kembali ke kota mereka masing-masing. Salam terimakasih untukmu dari mereka, Tan,” kata Martinus.


Aku senyum.


Dengan semangat, aku memberanikan diri menilik ke arah Dee sekali lagi. Namun Dee menolehkan wajah ke arah langit. Cadarnya membuat aku kesulitan mengamati ekspresi di baliknya. Entah kenapa ia belum mau melepasnya. Padahal keyakinannya belum berimigrasi.


Dan satu hal, Dee ... gadis pemberani yang berjiwa lembut, menepikan segala kegundahanku bila kami bersama. Aku teramat mencintainya. Walau dimensi dan ruang waktu menjadi cambuk pemisah nantinya. Bukan masalah. Yang jadi problematika, gengsiku terlalu tinggi untuk mengungkapkan itu. Tetapi kurasa, kami berdua tak perlu membahas sesuatu yang sudah sama-sama dipahami pemikiran dan perasaan. Bahkan lebih aktif daripada kehidupan. Kekuatan kami saat ini terletak pada diam.


“Tan, apa boleh aku bertanya sesuatu,” tanya Dee serius.


“Kau ingin mengetahui mengapa aku ingin menyelidiki sosok ‘Fuhrer Jerman’ itu?” balasku tak kalah serius.


Dee melembut, “Bukan, ini mengenai Islam.”


“Tentu saja! Bertanyalah memakai hatimu.”


“Aku ingin yakin sepenuhnya untuk ‘berpindah haluan’.”


“Aku mengerti. Langsung saja.”


Paman Syam nampak memasang telinga. Ia lebih leluasa kali ini karena tak lagi menyetir.


“Mengapa kau bilang kalau Tuhan itu untuk semua manusia? Bukankah agama itu pada dasarnya berbeda-beda dan mengkotak-kotakkan manusia?”


Aku diubuat berpikir, “Kau ingat Sarah?”


“Hem.”


“Di negeri kelahiran Sarah, Palestina, umat Muslim dan umat Kristiani bersatu melawan penjajahan zionis. Akar alasannya tentu karena keterbatasan dan keadaan senasib lah manusia bisa saling memahami. Maka dari situ muncullah kosakata baru bernama ‘persatuan’. Tanpa itu, mungkin sejarah selamanya akan ditelan perpecahan. Itu juga membuktikan bahwa keburukan tidak wajib melahirkan nilai kejelekan,” terangku mencoba begitu mengalir. “Kesusahan hidup seperti itu lah yang terkadang membawa kesadaran akal jiwa kita supaya lebih menghargai hidup yang sudah Tuhan berikan sebagai guru terbaik bagi kita, yaitu berupa pengalaman.”


Yang lain mulai tertarik.


“Sama seperti kita yang mengelilingi satu sama lain, berjuang karena satu pemahaman dan akhirnya berujung pada satu titik kepercayaan yang sama,” Paman Syam masuk dalam pembicaraan.


“Kemudian mengenai gambaran akhir zaman yang ada dalam manuskrip yang diselidiki Issac Newton itu?” tanya Martinus yang entah kenapa membahas itu lagi.


“Aku tidak tahu mengenai sesuatu yang tak harus diketahui manusia,” kataku. “Dunia masih berperang. Tetapi perang sekarang bukanlah perang bersenjata dan menampakkan kekuatan seperti dulu. Ini adalah eranya perang es. Perang dingin. Terutama oleh mereka yang mendambakkan kekuasaan secara sembunyi-sembunyi. Ada suatu keyakinan yang mungkin menjadi sasaran untuk di musnahkan. Beberapa dari manusia-manusia itu sedang mempersiapkan tarik ulur untuk memancing serangan balasan. Dan ketika umpan termakan, lantas perang dunia ketiga mungkin saja bukan hal yang mustahil terjadi. Untungnya Tuhan sudah mengatur semuanya sedemikian rupa. Jadi, kita tak butuh kekhawatiran.”


“Maksudmu ‘manusia-manusia’ itu siapa?” tanya Paman Syam.


“Itu … kalian renungkan saja sendiri-sendiri. Aku khawatir menyindir hingga menimbulkan kontroversi. Aku ingin kembali ke dalam kedalamian sebelumnya. Jika kukatakan … sama saja aku memakan kata-kataku sendiri tentang rumor tak berpangkal hati itu. Di sini yang terpenting …”


“Tak ada kontroversi untuk hal yang menyangkut masa depan umat manusia," sanggah Paman Syam.


“Paman Syam benar!” Martinus masuk. "Sama seperti senjata pemusnah yang diracik orang-orang Astrofisika itu berdasarkan arahan ayahku. Hal yang menyangkut keselamatan dunia, tak perlu memasukkannya ke dalam ranah kontroversial."


“Ada sesuatu hal yang menjadi keganjalan baru-baru ini,” potong Dee.


"Apa?” tanyaku menampakkan raut penasaran. "Tetapi jangan teriak-teriak membahasnya.”


“Aku pernah tidak sengaja membaca suatu sumber dari sebuah informasi rahasia, mengenai suatu permintaan dari seorang dokter Yahudi yang tinggal di Paris.”


“Untuk apa kau membicarakan hal semacam itu?” aku sedikit memprotes.


“Dengarkan dulu, dasar tukang protes. Apa memprotes itu bakatmu sejak lahir?” tekan Dee. “Kau memang berbakat menjatuhkan mood orang lain dengan kalimatmu."


“Memang apa?”


“Dia mengirimkan surat kepada Dubes Inggris untuk meminta beberapa negara Eropa seperti … ah, aku lupa. Intinya berisi penaklukan El-Hasa untuk dibangun negara pribadi. Dan sepengetahuanku, kelompok mereka adalah manusia-manusia cerdas yang sekarang tengah menguasai global.”


“Informasi itu … darimana kau telusuri?” tanyaku.


“Tan, adikku ini memiliki daya gedor yang lebih hebat daripada wartawan!” ujar Martinus berkobar-kobar.


“ Itu bukan masalah,” umpatku.


“Ini berhubungan dengan tulisan tangan Tuhan itu, Tan."


“Kalau begitu lanjutkan.”


“Adikku memang penelusur yang handal, kan? Sewaktu di ruang penyiaran, ia bahkan tahu sebab kasus kematian tiga orang di Provinsi Izmir sepuluh tahun lalu. Yang aku sendiri tak menyangka bahwa sejarawan itu lebih menderita daripada seorang Socrates.”


Kalian bisa menebak bagaimana pikiranku ketika masalah itu kembali diungkit. Namun Dee menyadari itu lebih cepat daripada perubahan warna bunglon. Dan melanjutkan sebelum aku semakin termakan pemikiran Martinus.


“Informasi itu dipublikasikan oleh perpustakaan Inggris,” sambungnya.


“Dr M L Rothstein yang menulis surat tersebut. Dia mengatakan, jika pasukan yang berpusat di Bahrain berjumlah sekian, sebuah serangan cepat akan dilakukan untuk menaklukkan El Hassa."


"Bukankah itu wilayah di Teluk Persia yang dikuasai Turki?” seronoh Martinus menambahkan.


“Mungkin itu hanya ancaman,” Paman Syam masuk. “Kebanyakan manusia takluk oleh keadaan dan memilih untuk mengikutinya. Padahal mereka bisa saja menentangnya dan menciptakan perubahan yang berarti.”


Beberapa saat mereka merenungi semua itu …


“Dee, kau ingat tentang beberapa salinan tulisan ibuku itu?” tanyaku.


“Iya.”


"Ibumu?" Martinus terkejut kecil.


"Bukan apa-apa, Martinus," jawabku. "1696, adalah tahun ketika Sir Issac Newton pensiun sebagai kepala institut. Newton tak sengaja meninggalkan sebuah manuskrip pada tumpukan kertas di meja kerjanya. Manuskrip yang memiliki jutaan huruf dan sebagian besar membahas teologi yang kalau ibuku bilang, bagusnya tak akan bisa terlukiskan pemahaman manusia. Dan itu lah yang ia yakini berisi gambaran, tentang tokoh sejarah dan gambaran kejadian di masa mendatang.”


“Sayangnya, ia lebih dulu meninggal sebelum memecah persoalan itu, kan?” Paman Syam menilik kesimpulan subjek.


“Paman tahu?” tanyaku.


Dan semua pikiran membentuk metamorfosa baru dalam deret tragis sebelumnya, saat semua renunganku di awal cerita menjadi kecemasan saat cerita kita ini dimulai.


“Satu lagi, satu sejarah paling menyesakkan bagi kaum wanita tahun 1945 di Jerman. Perang antara Soviet dan Jerman. Saat itu, Jerman yang dipimpin oleh Hitler sendiri melibatkan sekitar … tiga juta tentara ditambah ribuan tank guna melawan Soviet. Dinamakan taktik blitzkrieg yang sempat memperlancar sapuan pasukan Soviet oleh Jerman. Namun rakyat dari berbagai kalangan mencoba untuk bergabung dengan Tentara Merah untuk mempertahankan Soviet,” Dee menambahkan.


“Lalu?” aku terketuk akan sesatu yang pernah disindir ibuku dan seakan terpancar dalam pengetahuan Dee.


“Ketidaksiagaan dan kelaparan serta wabah penyakit membuat Jerman tumbang oleh Soviet. Kalau tak salah di tahun serupa, Soviet berhasil mencapai Berlin. Dan kalian bisa tebak yang terjadi setelahnya?”


“Aksi paling tidak berkeprimanusiaan itu."


“Kau tahu? Itu disebut … pengembalian kemerdekaan semu.”


“That’s right brother! Dan 1945 … adalah masa kemerdekaan awal negeri kelahiran ibumu, kan? Ibuku juga dari Indonesia …, jadi aku tahu.”


“Sebenarnya tragedi itu bisa dikatakan adalah sejarah paling kejam, terutama bagi kaum wanita setelah Jerman ditaklukan Soviet. Itu adalah dilema sesaat yang mengiring kemenangan suatu kelompok komunis tahun 1945. Aku adalah wanita, kalau bukan demi Tan, sungguh aku sebetulnya tak ingin membayangkan semua itu. Aku ingin Tan memahami ini saat sudah sampai ke khatulistiwa.”


“Tapi aku sudah tahu cerita itu,” terang Martinus.


“Sungguh? Tetapi, tidak perlu menyalahkan dengan memakai ekspresi cacian. Negara yang sekarang berbeda tokohnya dengan yang dulu. Kalau masa penjajahan dulu, ya … wajar saja. Segala cara dipakai untuk menguasai negara lain. Belum paham yang namanya menyatu dengan yang lain. Tak perlu membenci masa lalu mereka kalau kita ingin membuka masa depan. Bukankah aku sudah ajarkan itu padamu sewaktu mampir ke pondok? ujarku agak ketus yang mengarah pada Dee.


“Memang apa yang kalian bahas sewaktu di luar pondok?” tanya Paman Syam.


“Hal-hal sangat emosional dan sangat tidak menarik, Paman,” sahut Dee.


“Ih,” aku sedikit kesal sambil mengedarkan sisi mataku pada Dee.


“Dan mengenai Hitler … 20 November 2013 lalu, peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional, menginformasikan penemuan bangkai kapal selam Nazi Jerman,” kata Dee lagi. “Penemu lokal karimun Jawa yang menemukan itu.”


“Kenapa Hitler lagi?” aku agak risih.


“Kau akan ke Indonesia, kan?”


“Maaf, tapi aku tak tertarik dengan hal misteri begitu,” seraut Martinus memotong sambungan percakapan aku dan Dee.


Dan mengerut menuju sesuatu yang lebih terbuka …


“Sejarah juga tercipta dari pilihan hidup manusia yang akhirnya berpadu dalam satu wujud. Sekali lagi, hidup adalah pilihan,” Dee mengalirkan pembahasan pada sebuah muara.


“Kau salah, bukan hidupnya, tapi jalan hidup manusianya, karena seperti waktu, hidup adalah milik mereka yang merasakan hidup itu sendiri. Dan waktu adalah teman kehidupan, sebab bila waktu berhenti, maka kehidupan pun akan berakhir otomatis,” sambungku menyimpulkan. “Bukankah aku sudah menyinggung ini saat kita bertemu di Aya Sofia?”


Ya, ingatanku tentang bagian saat aku bertemu Dee di Aya Sofia, dihapus olehnya. Di luar dari cerita ini, Brown yang memerani tokoh Dee berkata jika memasukkan narasinya, maka akan membosankan dan merusak tempo. Dan kulihat, Dee cemberut seraya memasang wajah seolah-olah mengingat memori yang kumaksudkan.


“Lalu, apa menurutmu alasan dia membantai kaum itu dan sisi negatif dari ‘fuhrer’ Nazi ini?” Martinus mencoba kritis.


“Persis diriku. Hitler pun mungkin demikian. Dia mungkin hanya menjadi objek rumor tak berpangkal hati itu. Perbedaannya hanyalah pada figur,” jawabku dan entah kenapa tiba-tiba memberi spasi lagi semuanya.


“Kita tidak bisa mengecap seseorang sebagai penjahat hanya dari apa yang sudah ia lakukan. Namun sudut pandang itu memang tidak hanya ada di dunia fiksi, sebab kehidupan adalah dunia fiksi dan mimpi yang nyata,” sambungku.


“Di manapun di belahan bumi angkasa ini, tidak lepas dari yang namanya cinta dan kebencian. Peperangan masa lalu juga tak terlepas dari rasa cinta tersendiri terhadap negara masing-masing, sehingga seolah-olah itu bermutasi menjad kebencian yang berefek pada yang lain. Mereka membenci karena rasa cinta mereka, nasionalisme mereka. Yah, mungkin implementasinya saja yang terkadang berlebihan,” Dee mengkritisiku.


“Dua sisi!” seru Paman Syam merespon ucapan Dee. “Timur dan barat. Utara dan selatan. Surga dan neraka. Malaikat dan iblis. Baik dan jahat. Semuanya memang benda abstrak yang sengaja Tuhan ciptakan, agar dunia ini tidak hanya memiliki permulaan namun juga perlu ada akhir. Dan kita sebagai manusia mungkin juga benda abstrak nyata itu. Yang sudah Ia ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, harus mengoptimalkan akal untuk membaca itu semua. Semua adalah tulisan tangan Tuhan!” jelas Paman Syam.


“Paman?”


“Ya?”


“Ulangi sekali lagi …”


“Tulisan tangan Tuhan,” jawab Paman Syam datar.


“Dee?” aku semringah.


Dee menoleh, “Apa?”


(Ibuku: “Andai anak panah mampu menembus kulit dan jantung, maka kata-kata bisa menembus hati terdalam manusia.”)


“Itu dia jawabannya!” cetarku senang. “Tulisan tangan Tuhan yang dimaksud ibuku. Jawabannya adalah dua sisi kehidupan. Keajaiban yang kebanyakan tak dipercayai orang, di situlah letaknya.”


“Di mana?” tanya Dee.


“Di manapun dan … semuanya. Semuanya adalah tulisan-Nya. Wah, Tuhan memang penulis terbaik,” kataku terkagum-kagum sendiri. Mungkin kau tidak terkejut karena belum paham. Bahkan mereka semua pun begitu.


“Apa iya? Bukannya jawabannya baru akan tersimpulkan di akhir? Aku bahkan belum mengucapkan ‘password’nya untuk memahami semua itu,” respons Dee dengan hal terkait.


Aku terkesiap, “Keajaiban itu adalah kehidupan itu sendiri.”


“Katanya ibumu bukan orang baik-baik? Kenapa bisa ia berkesimpulan begitu?” tanya Dee lagi.”


“Oh? Kapan? Aku tak pernah mengatakan itu," aku membela diri.


“Kau sudah memakan kata-katamu sendiri,” timpuk Dee. “Kau harus meminta maaf pada ibumu setelah karena sudah berumor tidak-tidak tentangnya.”


“Kenapa aku yang jadi korban pemikiranmu? Lihatlah, mimpi yang aku jalani juga adalah kehidupan lain yang juga bagian dari keajaiban Tuhan,” tambahku belum puas. “Kehidupan adalah keajaiban itu sendiri dan juga sebaliknya. Kita hidup dalam keajaiban Tuhan yang tak pernah kita sadari. Karena dalam kehidupan semua pemikiran Tuhan berlaku dan kita bermain, dengan segala macam sudut pandang yang juga berasal dari Tuhan. Bahkan, semua bisa terjadi seperti halnya mimpi, ada kehidupan dalam kehidupan. Dan luar biasanya, sudah ada kejadian yang bahkan belum terjadi.”


“Kejadian yang sudah terjadi di masa depan? Akhir dunia kah?” simpul Paman Syam.


“Hem. Bahkan peperangan, pertikaian, cinta, ketulusan, kebencian, semuanya, adalah bentuk percabangan dari keajaiban itu sendiri. Karena kehidupan adalah keajaiban! Bukankah begitu? Yah … jika tak setuju tidak apa-apa.”


Yang lain hanya merenung.


Dee menangkat diri lebih lebih awal, “Berarti … akal dan hati yang Tuhan berikan pada kita adalah dua alat tercanggih di alam semesta sehingga manusia bisa membaca, melihat, mendengar, bahkan menciptakan keajaiban baru di dalam keajaiban itu sendiri. Termasuk rumor, prasangka, cinta, rasa benci, kebaikan bahkan kejahatan. Akal membentuk keajaiban baru itu sementara hati menampung semua keajaiban guna meresapinya. Sayangnya, tak pernah kita sadari telah menciptakan keajaiban setiap hari. Berpikir pun termasuk keajaiban yang menetas dari akal pikiran.”


“Oh? Apa iya?” Martinus masih merenung. “Einstein kan pernah bilang, ‘kejahatan hanyalah kosakata yang diciptakan manusia saat tidak ada Tuhan ada di dalam hatinya'. Kejahatan itu sebenarnya tidak ada. Manusia hanya terkadang salah membaca keajaiban Tuhan. Kenapa masuk ke dalam ranah keajaiban?”


Aku lagi-lagi senyum dengan pemikiran Martinus.


“Huf, aku rasa ada kesalahpahaman pada cerita yang aku jalani ini. Aku terlambat menyadarinya, Dee. Aku pikir, kita perlu bersyukur atas apapun yang kita jalani.”


“Bersyukur atas apapun hal yang dijalani, kedengarannya bagus. Akan kuingat,” ucap Dee. "Ngomong-ngomong, tumben sekali kau bisa menyimpulkan, biasanya hanya bersikap sok tahu tanpa ada konteks penting."


Aku kesal dan Dee tersenyum senang karena bisa juga balas meledek.


“Itu karena IQ-mu terlalu bongkok!”


“Iih!” Dee menahan desisnya dengan sekuat bibir.


Aku membalas dan Dee meraup pernyataan itu sampai ke dalam hatinya. Dee bawa perasaan kali ini. Aku berharap bisa telat waktu ke bandara menuju Khatulistiwa dan terbangun. Sehingga Dee, tak perlu menyaksikan ayahnya meninggal karena eksekusi dalam mimpi ini. Kami harus bangun dan menemukan mengakhiri yang lebih baik di dunia nyata.