
Tan ...
Seperti ucapan Nick Vujicic, "Semakin tinggi gunung yang kau panjat, semakin indah pemandangan yang kau lihat.”
Aku mengingat-ingat lagi lembaran memori pertemuan dengan Dee. Status cinta tak berumah itu, menciptakan antiseptik tersendiri bagiku di menit-menit pelarian diri.
“Seseorang harus merekomendasi terlebih dulu, kan? Waktu di sepertiga malam begini benar-benar menguntungkan pelarian kita, Martinus.
“Iya, aku tahu maksudmu.”
“Terkadang, mimpi itulah yang membuat manusia lebih hidup daripada kehidupan nyata.
Mereka bisa lari dari virus kebosanan yang mengenaskan hidup mereka. Intinya, hidup monoton itu kadang-kadang membuat resah, menaburkan rempah-rempah kebatinan yang teramat runyam,” kata Martinus lagi.
Kami dan kawan-kawan sudah menyelinap ke luar memanfaatkan malam yang sepi di rumah sakit.
Dan aku bersyukur, Tuhan menghadiahiku ujian hidayah yang sakitnya terasa dahsyat. Bersumber dari permohonan Dee pada-Nya. Dan detik itu aku semakin yakin itu mimpi.
Sesuai keputusan pemerintah Turki, setelah lumayan membaik, aku tak diizinkan berlama-lama di rumah sakit. Namun aku sudah tak peduli lagi dengan kebaikan palsu itu sebab kami harus menyusun rencana kedua. Aku bodoh bila harus menunggu polisi menjemput kami, tanpa melakukan apa-apa dan hanya berdiam pasrah.
Dee adalah tujuan pelarian dari rumah sakit dan pengambilan kesempatan, di saat pemerintah Turki memberi sinyal kebaikan sesaat. Kupikir, ini bukan murni dari kebaikan mereka, melainkan urutan plot mimpi yang Dee ciptakan. Semua agar aku mengerti cara mengambil keputusan, dalam menghadapi situasi sebenarnya di dunia nyata.
“Kau berbeda, Tan. Kau akan mendapatkan penjelasan melalui perjalanan yang hebat ini,” kata seorang lelaki meyakinkanku dari sebuah angan-angan.
Rey, seketika terlintas dalam otakku. Sebuah keanehan yaitu, aku tak merasa lapar sama sekali di dalam plot ritual itu. Ya, meski seketika salah seorang kawan melempar sekantong kurma pada Martinus.
Pelarian dari kota bawah tanah itu seharusnya membuatku lapar luar biasa. Yang aku harapkan hanyalah mendapatkan dukungan, atas teori gila yang dijelaskan akal imajinasiku sebelumnya.
Tanpa korupsi waktu, aku mencoba mencicil kesenggangan agar Martinus menceritakan langsung kepadaku hal yang perlu aku ketahui. Tentang dirinya dan juga Dee saat sebelum pergi menyelamatkanku ke kota bawah tanah, tempat aku dikurung sebelumnya.
Juga tentang yang ibu dan ayahnya katakan, saat melarang Dee pergi lalu ketahuan akan menyelamatkanku. Martinus berbicara lebar. Dan seketika berhenti.
“Jadi itu alasan ayahmu mengetahui Dee, kau dan Paman Aaron datang ke tempatku?”
“Iya,” kata Martinus. “Itulah mengapa kami tak punya banyak waktu saat itu.”
“Huh ... aku pun tak begitu mengerti alasan Dee bisa sebegitu nekad untuk menemuiku,” aku memucat.
“Tapi nyata kalau ayah tak peduli lagi dengan Dee, anaknya sendiri. Bahkan ibuku sempat mengirim orangnya untuk mengintai dan membunuhku karena mengetahui akan membantu adikku. Dia mengancam Dee dan aku agar tak membeberkan fitnah ayah padamu," kata Martinus.
"Dee bahkan ingin mengorbankan dirinya ditangkap demi membebaskan statusmu. Beruntung Paman Aaron datang menyelamatkanku,” terang Martinus lagi.
“Apa benar ada ibu dan ayah yang sejahat itu?” sela-ku buru-buru.
“Yah, kurasa semua demi kebaikan yang menurut mereka baik,” sahut Martinus.
"Maksudmu?"
“Ayah memiliki suatu prinsip yang dijabarkan dalam isi Bulan. Senjata pemusnah itu."
"Jadi memang benar? Sebelumnya, aku hanya diberitahukan oleh ibu tentang keluar kalian. Apa informasi senjata itu sebelumnya belum diketahui pasti oleh pemerintah? Bahkan kudengar, pusat Astrofisika menyembunyikan dan menutupi data-data tentang kelahiran kalian. Apa mereka menunggu masa-masa yang tepat?"
"Yah, kau adalah orang yang melahirkan masa itu. Ayah memang menunggu ada orang tepat yang bisa menjadi wadah fitnah ya. Fitnah yang dianggap sebuah kebaikan besar oleh beliau. Dan saat kau menjadi medium objek fitnah, NASA pun bergerak. Mereka juga bekerjasama dengan ayah," katanya.
"Namun NASA tak mengerti kalau ayahlah sebenarnya menjadikan dalang di balik ini semua. Ayah memanfaatkan statusnya sebagai pemimpin di bidang Astrofisika di Turki dan Amerika, untuk perakitan senjata itu. Hanya pihak Astrofisika di Turki yang mengetahuinya. Mereka memilih mengikuti rencana ayah tanpa sepengetahuanku pihak NASA. Selain itu ..."
"Apa?" aku terpancing agar Martinus melanjutkan ucapannya tanpa ragu.
"Ada kebencian besar dari ayah terhadap kejahatan. Lahir dari pengkhianatan yang ayahku terima di masa lalu. Beliau akhirnya memiliki perubahan pandangan terhadapku dunia ini. Beliau ingin menghentikan pertikaian dan peperangan dengan caranya sndiri," katanya lagi kemudian.
Melalui sebuah proyek yang disebut Proyek Bulan. Mungkin, memang sudah bawaan mereka membuat dirinya tampak lebih biadab dari biasanya. Tetapi ini keterlaluan."
“Justru itu alasannya,” ujarku lagi.
“Tan, mereka tak bisa menjabarkan kejahatan hati mereka, sebab begitu banyak kalangan berusaha mendengarkan mereka tapi tak dihargai. Itu tak penting," Martinus memberi kode bahaya.
"Apa?" tanyaku.
Beberapa jam dari sekarang tentara Turki siap melakukan eksekusi terhadapmu,” Martinus menunjuk ke arahku. “Sebelum mereka mencari kita di rumah sakit, kita harus lebih cepat sampai ke pusat kota. Kita tak akan punya waktu berlama-lama untuk duduk-duduk santai di sini."
“Duduk santai? Apa kau tak melihat kondisinya?” ucap seorang kawan lain yang ada disitu sambil menyolot kecil.
“Iya, aku mengerti. Dan penjelasan kosong mengenai ini semua harus kita pikirkan dingin.”
“Martinus,” kataku menjulurkan lengan dan menahan bahu lebar Martinus. “Kau lebih dewasa dari kami semua, lakukan bersama!”
“Sudah lama aku tak merasa sehidup ini. Aku bisa merasakan betapa nikmatnya memiliki teman yang tulus dan percaya padaku,” kataku membatin setelahnya.
Langit-langit kerak bumi yang berwarna kuning terang dan di sana-sini dihiasi gumpalan debu tipis yang terbang oleh angin. Persis seperti biasan debu yang tampak dari kaca-kaca jendela yang tinggi.
“Tak peduli fakta kau berbeda keyakinan, kita lindungi perbedaan untuk cinta adikku," kata Martinus membalas semangatku.
Sungguh Tuhan, bangun dan tidur adalah kuasa-Mu. Maka bantu aku menyelesaikan perkaraku. Beri aku pelajaran hidup di titik akhir cerita ini. Ya, aku hanya bisa merendahkan diri pada pada-Mu.
◌◌◌◌◌
Yang akan kuhadapi seperti dunia nyata saja. Ternyata plot ritual ini memang terasa menusuk hati. Hal yang harus kucegah terjadi usai terbangun dan menyesuaikannya bersama Dee.
Tetapi yang jadi masalah, apa dunia ini pada dasarnya sudah berkarat darah sejak dulu? Mungkin dunia membenci dirinya sendiri.
“Menurutku, kau tak akan sanggup mengerjakan tugas-tugas ini sendirian,” kata salah seorang teman Martinus. Aku menundukkan kepala.
“Kau harus mengambil alih titik emosional mereka setelah tiba di sana, Tan,” pinta Martinus tiba-tiba memindai titik situasi ke arahku.
“Kenapa aku?”
“Dee yang meminta,” kata Martinus. “Bukankah tokoh utama yang berhutang dan meminta kebebasan itu kau?”
“Dee?”
“Ia percaya padamu. Yah, aku juga pernah muda. Kurasa, rasa cinta Dee itu tak wajar untuk lelaki yang bisa memberi kenyamanan baginya,” ujar Martinus mengakui.
“Pengakuan tentang eksistensi memang berpengaruh besar terhadap perubahan hidup seseorang. Sekarang yang bisa aku lakukan hanya terus percaya padamu. Ia menunggu kedatanganmu dan tidak berharap kau untuk lari dari masalah ini,” lanjut Martinus.
Pipiku bak dihinggapi marmut merah jambu. Menyentik bingkai kalbuku dan serasa tertusuk asmara tiada rupa. Tak berwujud namun lengket layaknya susu kental manis.
“Huf,” aku mendengus.
Sudah waktunya bagiku belajar bangga akan karunia hawa titipan Tuhan, daripada seorang ibu kejam dalam permulaan mimpi yang menurutku tak pantas kumiliki. Terutama setelah apa yang terjadi di rumah tua itu. Saat aku terbangun usai jatuh ke dalam sumur. Dan kalau itu benar.
Lagi-lagi aku membatin dan dihampiri kebingungan dan kekhawatiran akan ingatan yang mengerikan itu. Hah, kadang-kadang aku yakin kalau justru peristiwa di bukit itulah yang menjadi mimpinya.
Tetapi, mestinya aku sadar itu hanya mimpi buruk semata … dan andai benar adanya, kuharap saat kembali terbangun nanti, ibu sudah menyiapkan baklava kesukaanku di meja kamar. Dan Rey, aku harap kakakku itu bisa lebih cerdas dari sebelumnya. Lebih cerdas dalam menyampaikan kebohongan.
“Maaf teman-teman, kali ini aku berubah pikiran,” kata Martinus.
“Maksudmu?” aku sontak mengkerut.
“Sebaiknya kau waspada terhadap gerak-gerik Dee, selama perseteruan dan demonstrasi atas kebebasan kita berlangsung nanti."
“Martinus benar. Dia tulus dengan suruhannya, tak berarti permintaannya pada kami terbilang ringan dan tidak berguna,” kata seorang kawan memahami bahwa rencana itu sebenarnya keinginan Dee.
Aku langsung berbelok ke arah lain. Berjalan gontai dan terbirit-birit menyeimbangkan langkah yang lain. Menandakan buah cinta kasih telah tumbuh subur di hati maskulinku.
Aku pun tersenyum samar melihat ketidakpercayaan dan kegembiraan di wajah Dee dalam bayangannya. Karena ia telah berdiri kokoh pada kedewasaannya.
Sesampainya di Ankara, semua nampak jelas. Tak ada rasa berani untuk menghentikan laju kendaraan umum. Aku dan kawan-kawan yakin, Tuan Abraham telah memperkenalkan sebagai yang tak benar di mata pemerintah Turki.
Dalam dunia mimpi segala sesuatunya susah dideteksi. Termasuk apa yang aku saksikan bersama kawan-kawan Martinus. Tepat di hadapan kami … Dee, dia menayangkan sebuah keheranan terbesar dalam mimpi itu.
“Dee?” aku berseru kecil sambil terus menjaga pandanganku. Memastikan bahwa yang ada dihadapanku itu meyakinkan.
“Dia itu mahluk apa sebetulnya?” kelabatku.
Ketika semakin kudekati, “Ini benar-benar kau?” aku berniat menjabarkan keanehan di depanku. Ada getaran halus menjalar ke seluruh bagian tubuh ini.
Dengan wajah temaram, Dee mengangguk lembut dan berkata, "Aku senang kau kembali, lelaki Muslim.”
“Kau kemari … pasti masih ingin mengajakku bertengkar. Ini bukan waktunya, kembalilah ke ayahmu.”
“Dalam situasi kita yang sekarang?” Kau ini … kenapa terlihat begitu kepayahan?” Dee memaku diriku tajam.
“Aku hanya ingin melindungi dirimu. Kita hadapi ini bersama.”
“Mestinya sekarang kau …”
“Sudahlah, teman-teman yang meminta,” tangkasku membenamkan bibir puteri
Tuan Abraham itu.
"Aku tidak bermaksud, Tan.
“Jika kau tak sanggup, menyerahlah dan biarkan aku mendekapmu lebih lama di sana. Mengerti?”
“Hem,” gumam Dee. “Iya.”
Aku merasa tak perlu tahu, kalau Dee sudah menangkap keinginanku menyerahkan diri. Aku memang berharap, adalah solusi agar aku bisa bangun dan keluar dari mimpi ciptaan Dee.
“Lantas kemudian, tidakkah kau mau melepas ini semua? Kau terlalu ingin menjadi angin. Kau layaknya udara di bulan maret ini. Tak bisa dikekang. Sudah kucoba menjejali makna kebebasan yang kau cita-citakan itu. Tapi, belum kutemukan jawabannya," aku melanjutkan.
"Bukankah kau sudah punya keluarga dan kasih sayang ayahmu? Dan entah kenapa jawabannya adalah keluarga. Iya,kan?” kataku lagi, mencoba memahami Dee.
“Bukan,” jawab Dee lirih. “Bukan keluarga.”
“Aku mengerti. Keluarga bukanlah jawaban dari pertanyaan itu. Sama sekali bukan. Melainkan ...," aku menahan perkataan pelan seraya menunduk
“Aku menyukaimu.”
Angin di bulan maret baru saja akan mencapai puncaknya. Sirine merah jambu benar-benar menyesap ke rongga hati. Membuat siapapun tak habis pikir.
“Kau …”
“Pengakuanku pada ayah sewaktu keluar dari kota bawah tanah itu bukanlah igauan … apalagi lanturanku. Itu memang suara dari dalam diriku sendiri. Kuucapkan itu tulus tanpa hasrat dusta. Tak lagi aku berpura-pura berbohong atapun sebaliknya,” terang Dee membuat seluruh tubuhku gemetaran.
Dee menyelipkan diri di antara sesuatu, yang memberi penyakit tersendiri pada warna merah muda.
“Dee, aku bukannya …”
“Tapi tenang saja, perasaanku belum terlalu jauh,” Dee langsung memotong. “Yah, dari awal aku sudah menyadari itu. Keyakinan, iya, kan? Tenang saja. Aku jujur hanya agar kau tak lagi membahayakan dirimu. Kau tahu kalau dirimu itu terlalu berani menantang dunia.
"Kau terlalu nekad menantang kebencian orang-orang terhadapmu. Meskipun kau sepatutnya tak menerima itu semua. Tapi …” Dee melanjutkan, namun seketika berhenti.
“Bagaimana jika tak bisa?” aku yang memotong kemudian.
“Oh?”
“Bagaimana jika kau berusaha tapi tetap saja … kau masih belum mampu menghilangkannya?”
“Kenapa kau masih ingin membahasnya?”
“Bagaimana jika kau tetap saja tak bisa menghilangkan perasaan itu?” aku terus memberi tekanan merah itu. Meski kemudian warnanya agak berubah lebih tua. Nampak yakin.
Dee mudah sekali mempermainkan hatiku. Dia datang dengan empati, mengajakku bersandiwara, kemudian melukaiku dengan kata-kata paling menyakitkan melebihi kata-kata yang pernah ibuku katakan.
Menyuruhku untuk membebaskannya yang entah dari apa, mengingatkanku untuk membaca karangan Tuhan, dan sekarang … menyukaiku? Dia membuatku bingung! Dia menyembunyikan sesuatu hal yang penting.
Dan aku tak boleh mengetahuinya sampai semua ini selesai, benar, kan? Aku sudah curiga sejak pertama dia menolongku berbohong di hadapan polisi-polisi itu.”
“Jika memang …" Dee mendadak berujar lirih.
“Aku melakukan ini bukan karena kau, apalagi hutang moral itu. Semua karena harga diriku dalam mencintai negeri ini. Jadi, akan kukeluarkan semua kebencian terhadapku itu dari mereka. Jangan melarangku,” sambungku.
“Dia aneh. Tapi gadis itu juga sangat aneh.”
“Mereka berdua aneh.”
“Dan sangat konyol.”
“Mereka sama konyolnya.”
Kata-kata itu terurai dari kawan-kawan Martinus.
“Aku bisa!” jawab Dee seraya berekspresi tegar. “Aku bisa menghilangkan perasaan ini.”
“Kau tak pandai berbohong."
“Lalu apa salahnya? Aku kan tak mengatakan ingin hidup bersamamu?” bela diri Dee berjalan mulus. “Dan ketika cinta, apa harus diikat dengan sesuatu yang formal?”
“Tidak juga. Aku tak berpikir sedangkal itu. Tak perlu ikatan resmi. Selama hati saling terikat, semua bisa mencintai sepuasnya.”
“Kalau begitu …”
“Berhenti berkelit dan jujurlah! Yang kau lakukan hanyalah mengikuti kemauanmu. Aku bukan orang sebaik yang kau kira. Apa karena aku tampak polos? Apa karena aku tampak perlu dikasihani? Aku begini bukan karena kau! Kau melakukan ini karena ibumu. Ia memaksamu berbohong demi rencana ayahmu," kataku keras.
"Sama seperti saat kau bercerita tentangku waktu di kamar kosong pada para biarawati tua itu," aku merasa diriku tak seperti biasanya. "Kau seolah tak pernah mau mendengar. Berhenti berpikir bodoh. Aku malas terlalu lama bersandiwara denganmu seperti sebelumnya," lanjutku semakin jujur.
Dee kemudian membekukan ucapan. Masih bisu hingga beberapa lapis waktu kemudian. Lautan hatinya sungguh dalam untuk bisa dipekai. Tak terjangkau. Sudah dikatakan semua berakhir, tetap saja aku percaya Dee belum sepenuhnya jujur.
Bersembunyi rapi di balik sandiwaranya sendiri. Ada hal besar yang ia ketahui tentang Keluarga Bulan, ayahnya, dan mungkin juga ... diriku sendiri. Aku menyiksa harga diri dan aku cukup menyadari itu seutuhnya.
Tanpa ada cacat sedikitpun. Tanpa perlu masuk lebih jauh dan hinggap di pangkal hati wanita itu. Aku memutuskan maju saja.
“Darimana? Dari mana kau tahu aku menipumu? Aku jujur seadanya. Apa kepedulianku dari awal kau anggap sandiwara? Kalau begitu baik … aku akan pergi. Tapi kau juga harus berhenti mencari masalah. Pulanglah, kau bilang ini mimpi, kan? Pergilah, bukankah buku itu tak lagi penting buatmu?" Dee membara.
"Apa lagi yang kau tunggu? Orang sepertiku hanyalah akan membebanimu. Tak usah lagi susah payah membayar hutang moral itu. Aku bisa menemukan kebebasanku secara mandiri. Kau tak bisa kuandali jadi biarkan aku urus sendiri masalahku," lanjutnya.
“Masih saja kau coba berkelit, Gadis Bulan. Kau tak akan bisa menemukannya sendirian jika kau saja tersesat dalam kehidupan masa lalumu. Kau terendam oleh kebencian masa lalu ayah dan ibumu dan kau tak bisa keluar dari itu. Bagaimana mungkin kebebasan itu bisa kau capai, jika jalan keluar menuju kebahagiaanmu sendiri kau kotori!”
Aku terbesit ke arah pikiran yang lainnya. Martinus dan yang lain diam tak bergeming. Ada pengertian yang dirasa tak perlu dicampuri Martinus. Ia kusadari menyadarinya dalam situasi dua tokoh aneh di hadapannya, yakni kami.
“Kau menebak semudah itu?” Dee mulai memahami daya pikirku.
“Aku hanya berspekulasi sesuai kata hati. Aku meyakini bahwa itu benar. Tulisan tangan Tuhan itu … memang berhubungan dengan dirimu yang serta merta, menjadi orang pertama diketahui Tuhan muncul dalam mimpiku ini," aku mulai kelelahan menjawab pikirannya.
"Berkaitan juga dengan kebebasan yang kau inginkan, yang menjadi hutangku beberapa waktu setelah mimpi bodohku ini dimulai. Kau tersesat dalam kehidupan sendiri. Menjadi alasan juga, mengapa kau mengatakan kita akan menemukan rangkuman dari masalah ini. Kau sungguh menyembunyikan sesuatu. Katakan," lanjutku.
“Bukan itu. Bukan itu sesuatu yang kusembunyikan. Memang aku orang tersesat dalam kehidupanku sendiri, tapi bukan itu alasan yang menjadi jawaban dari tulisan tangan-Nya. Sungguh. Tan, kau harus … ah! Apa masih perlu kujelaskan lagi?! Kumohon berhentilah!" katanya.
"Kau memang orang yang begitu mudahnya mengerti bagaimana kesepianku tapi aku lebih ingin kau untuk baik-baik saja. Tan, kumohon. Kau sendiri yang menyuruhku untuk lebih banyak berpikir daripada sekedar memikirkan. Itu yang kulakukan sekarang. Kau tahu betapa berpikir itu melelahkan, Hanya untuk melatih otot pikiran?” sambungnya.
Suasana menjadi setengah panas, lalu beberapa detik berubah lebih dingin dari medan kutub utara. Turki jadi sangat membeku. Terjadi ketika aku merespon Dee begitu kuat. Saat itu aku kehilangan kontrol perasaanku pada Dee.
“Berisik, aku mana bisa pulang sekarang. Tugasku di sini belum selesai. Lagipula, tak kutemukan juga cara untuk pulang. Aku yakin, aku hanya perlu lurus. Seperti katamu, kita akan menemukan rangkuman dan titik terang semua ini," aku berkata sebisaku.
"Dan jawaban pertanyaan ibuku itu akan terjawab dengan sendirinya. Korelasinya, kebebasan itu akan melekat padamu. Akan kaudapatkan. Dan hutang moralku bisa lunas. Lalu aku akan bisa pulang membawa amplop senyuman, pada ibu dan kakakku," lanjutku.
Dee tersentak mendengar jawaban itu. Membalik raga. Membawa air matanya yang sudah tumpah ruah.
“Kau boleh melarangku menolongmu setelah aku berhasil … menyelamatkan negeri ini. Tenang saja, aku memang penuh dengan kekurangan tapi tetaplah pertahankan kepercayaanmu padaku. Sama seperti saat kita pertama kali kita memulai masalah ini," ujarku lagi meyakinkan.
"Akan kuselesaikan dengan kekuatan kami yang paling sederhana. Jadi, berhentilah menangis, dasar cengeng! Kau memang cocok jadi pemain film drama, karena keahlian menangismu itu!”