
Back to square one...
Kembali kepada dunia realita, di mana aku, Brown, dan John masih terhambat keraguan untuk kembali mempertemukan tokoh Tan dan Dee. Aku masih tak tega jika harus menguliti rasa cinta John pada Dee dalam cerita itu. Bahkan ketika kami melihat bulan di atas sana, seperti ada setengah sejarah yang menghitam.
“Aku ... tak bisa menyelamatkan satu-satunya temanku di dunia buruk rupa ini,” kataku pada John dengan isakan yang tak kuasa kubendung. “Meski ini sekedar cerita, aku merasa benar-benar kehilanganmu, John.”
Perasaan ingin melindungi negeri sahabatku sendiri, mendadak menjadi permata ide.
“Ada apa, Tan? Apa ada cara baru yang kau dapatkan setelah menangis?”
“Yah, John. Kau benar sekali.”
“Apa itu?”
Aku mengajak matanya menatap ke langit malam. Tersenyum lalu menyebut, “Bulan."
“Mengapa tiba-tiba jadi ..."
“Ada sesuatu yang disembunyikan orang-orang Astrofisika itu di sana. Sesuatu yang bisa membinasakan 70% persen isi daratan di kerak bumi,” potongku cukup panjang. John masih dengan kebingungannya yang mendadak. Sementara aku sendiri tidak yakin kadang-kadang.
“Tapi ...," kata John pelan. “Apa kau akan jadi sasaran kriminal lagi demi menyelamatkan negeri orang lain, seperti cerita sebelumnya? Tan, aku ..."
“Tentu saja!” potongku lagi. “Turki ataupun Indonesia, keduanya adalah negeri temanku!Tentu saja aku mau. Apa orang luar tak boleh melindungi negeri sahabatnya?”
◌◌◌◌◌
Kita menuju cerita yang belum usai itu lagi ...
Tan ...
“Berisik!Aku mana bisa pulang sekarang. Tugasku di sini belum selesai. Lagipula, tak kutemukan juga cara untuk pulang. Aku yakin, aku hanya perlu lurus. Seperti katamu, kita akan menemukan rangkuman dari titik terang semua ini," kataku.
"Dan jawaban pertanyaan ibuku itu akan terjawab dengan sendirinya. Korelasinya, kebebasan itu akan melekat padamu. Akan kau dapatkan. Dan hutangku bisa lunas. Lalu aku akan bisa pulang membawa amplop senyuman pada ibu dan kakakku,” lanjutku.
Dee tersentak mendengar jawaban itu. Membalik raga. Membawa air matanya yang sudah tumpah ruah.
“Kau boleh melarangku menolongmu setelah aku berhasil … menyelamatkan negeri ini,” kataku meyakinkan. “Tenang saja, aku memang penuh dengan kekurangan, tapi tetaplah pertahankan kepercayaanmu padaku. Sama seperti saat kita pertama kali memulai masalah ini. Akan kuselesaikan dengan kekuatan kami yang paling sederhana.
"Jadi, berhentilah menangis, dasar cengeng! Kau memang cocok jadi pemain film drama karena keahlian menangismu itu!” kataku lagi.
“Ha ha ha, santai sekali dia meledek gadis itu. Dasar Tan.”
“Tapi dia luar biasa.”
Kata kawan-kawan Martinus.
“Percayakan saja pada kami. Aku tak takut lagi dengan polisi, seperti saat kau menolongku di Aya Sofia. Dan biarkan aku tetap membayar hutang moralku padamu. Jangan melarang,” kataku lagi.
“Yah, kalau begitu kita hadapi bersama,” ucap Martinus masuk dalam pembicaraan dan sudah berdiri di sampingku.
“Kau salah, Tan.”
“Cukup, hentikan, Dee. Sekarang kembalilah. Aku tak ingin kau memaksa diri sejauh ini.”
“Kau salah, Tan," Dee bersikeras.
“Kau tak dengar?”
Belum usai juga. Dan Martinus diam saja. Ia seperti ingin masalah itu kami berdua saja yang menuntaskan.
“Ini dimulai karena kau. Aku melakukan ini karena kau. Itu sebabnya aku datang sejauh ini."
“Apa maksudmu?”
"Bukan ibu atau ayahku. Perasaanku saat pertama kau menampakan diri dengan misterius, entah kenapa membuatku merasa tak sendiri. Mungkin, kau menarik karena kekonyolanmu. Sikapmu jujur. Kau tak tahu? Wanita lebih pandai mengetahui warna aura seseorang," kata Dee.
"Dan kau … kau kan tak perlu membentakku seperti tadi, dasar lelaki brengsek. Kau memang bajingan berkelas seperti julukanku padamu yang kurahasiakan," lanjutnya.
Dee benar-benar seorang yang baik hati.
“Keahlianmu memang membuatku menangis, apa semua lelaki selalu ahli menciptakan air mata wanita?” terang Dee lagi, menemani bening tangisnya.
“Perkataan Martinus ternyata benar soal bajingan anggun itu."
“Tak hanya itu. Kepercayaanku padamu tumbuh lebih cepat dari akal ... dan masih tertanam di sini. Tak menghilang walau sedetik,” Dee menunjuk ke hatinya. “Rumah adalah tempat di mana seseorang tengah menantimu. Mereka memikirkan kita sampai ke nuansa terdalam. Di tempat seperti itulah aku ingin pulang. Apa kau tahu itu di mana? Tolong aku. Bantu aku menemukannya, Tan.”
Aku dihadiahi ketulusan yang sama seperti pelangi. Dee sungguh pandai membuatku merasa berguna dan dihargai.
“Maaf untuk semua kesedihan kedua ini, Dee. Aku minta maaf,” kataku sambil mendekatkan diri lebih ke arahnya. Aku meniup kemudian mata si Gadis Bulan, yang sebetulnya jadi buronan dunia itu dan memberi kesan kedip-kedip pada kelopak matanya. “Biar air matamu cepat kering. Aku lupa membawa tisu saat dari rumah sakit.”
Dee kuperhatikan memerah.
“Tolong aku,” Dee memohon indah sembari membuka perasaannya yang sejati. Akhirnya, ia terbuka juga secara utuh. Ditambah terbukanya relung yang mengoksidasi hatinya, sudah ia layangkan sebebas tadi.
“Jangan merona dulu,” ujarku.
“Kau bisa juga berpikir sederhana begini.”
“Aku hanya sedang senang. Kalau tidak, mana mungkin aku mau.”
“Ihh!”
Rasa jengkel itu sukses menghapus warna merah di pipi Dee. Dan aku hanya nyengir.
“Kalian berdua!” seru Martinus mendadak masuk pembicaraan lagi. Itu memang keahlian terpendamnya. “Kita harus buru-buru bergegas. Apa masih ada yang perlu kalian bahas? Intinya seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, Tan.”
“Oh ya, bagaimana kau bisa tahu aku akan kabur dari rumah sakit?” tanyaku tak memperdulikan suara Martinus dan mengarahkan pandangan pada Dee.
“Dee pasti khawatir padamu dan mencoba menindas waktu, agar bisa kesini pagi-pagi. Kemudian memberitahu kita soal ancaman itu,” jawab Martinus menyimpulkan jawaban yang akan diberikan adiknya. Dia tidak jadi memisahkan jarak sementara dengan kami.
“Iya, itu benar. Kalian semua harus kesana lebih cepat dari keputusan apapun yang mereka buat,” pinta Dee dengan raut khawatir.
“Apa kau akan ikut?” tanyaku.
“Tidak. Aku akan berurusan dulu dengan seseorang. Tapi, aku pasti akan kesana, Tan.”
“Mengenai ucapanmu itu … apa kau serius?” tanyaku lagi.
Dee menampilkan ekspresi berbeda kali ini, “Ya ampun, laki-laki ini tak mudah untuk lupa. Kenapa dialognya mengarah kembali ke situ? Nanti kalian tak jadi pergi."
“Baik, ya sudah. Nanti kalian bisa membahas itu sepuasnya kalau masalah besar ini sudah kelar. Itupun kalau bisa selesai. Yang kita hadapi bukan main-main,” kata Martinus mengingatkan.
“Dee adikku,” lanjut Martinus. "Menginginkan ruang untuk di tempati. Tempat ada kasih sayang. Aku pun sama halnya. Dan aku percaya padamu. Kau bisa menolong Dee dan juga aku.”
Selepasnya, kesabaran kawan-kawan kami mulai di ujung.
“Iya, tak ada waktu!”
“Kalau waktu tak pandai kita potong, waktu yang akan memotong kita nantinya. Akan sangat berbahaya jika waktu menunjukan kekejamannya. Yang semula jauh jadi merapat dan yang dekat jadi menjauh. Lalu tak bisa lagi kita gunakan.”
“Benar. Hargai waktu, nanti saja urusan itu!"
“Cinta bisa dibahas tanpa perlu kata-kata.”
“Kita juga tak bisa naik metro.”
Ucap kawan-kawan di belakang, bergulir seumpama taburan kerak telur yang gurih. (Makanan dari Indonesia, negeri kelahiran ibuku).
"Orang-orang itu, perasaan apa yang dimaksud?" aku senyum ke arah Dee.
“Mana aku tahu. Kalian pergilah.”
“Dee,” aku mencegah tubuhnya berbalik arah lebih dulu.
“Kau kesini naik apa?”
“Trem.”
“Oh.”
“Tan, jika kau tak sanggup, menyerahlah dan biarkan aku memeluk apa-apa yang menjadi bebanmu selama ini,” kata Dee kemudian.”
“Harusnya kalimat itu untukmu,” jawabku dengan bernada tak ingin kalah.
“Kalau begitu untuk kita berdua saja,” Dee mencoba menutup dengan menggemaskan.
Ia tersenyum senang. Mengusap sisa serpihan kesedihan dari air matanya. Lalu kembali menyoroti aku dan kakaknya pergi bersama kawan-kawan. Lantas mendadak, hatiku terbesit untuk berbalik dan menghampiri Dee lagi.
Setelah itu membisiki Gadis Bulan di mataku itu. Setidaknya sebutan itu yang sering kupakai untuk meledeknya.
“Kau tahu harus melakukan apa?” tanyaku menyakinkan diri bahwa Dee paham apa-apa yang menjadi tugasnya nanti. Kau bisa simpulkan sendiri apa yang kubisikkan pada Dee, di alur selanjutnya yang mungkin akan membunuhku.
“Iya,” jawab Dee datar. “Aku masih menyimpan kertas yang kau titipkan pada kakakku.”
“Iya, nanti sandiwaramu harus bagus saat eksekusi itu mulai berjalan, itu butuh mental yang tak sedikit. Kau harus benar-benar mengumpulkan keberanian lebih dari biasanya. Taruhlah target keberanian itu beberapa senti di muka hatimu, sehingga bisa kau ingat dan kau bawa sampai tiba di sana. Nanti, tolong jangan amatir lagi. Kau tak ingin jadi artis Tuhan terfavorit? Kau harus menjiwai setiap detiknya, ya?”
“Iya, dasar cerewet! Kau lebih cerewet daripada kaum wanita.”
Aku senyum lalu pergi menyusul kawan-kawan.
“Tan,” kali ini Dee yang menunda waktu.
“Iya?”
“Aku ingin kau membawa pulang cerita ini dengan selamat.”
Dee, engkaulah pelangi pertama yang terbias dalam keceriaan hariku.
Engkaulah puisi rembulan di Padang Sahara yang melegakan rasa haus.
Engkaulah tinta putih yang mencoret-coret noda hitam kegelisahan.
Dee, kau adalah awal dan akhir ... kebebasan dirimu adalah oksigen paru-paruku.
Kau seperti angin musim gugur yang tak pernah dibenci daun-daun mati.
Kau seperti penyair yang menulis apa saja bentuk emosionalku.
Di parasmu ada ketenangan batin.
Di pikiranmu ada sejuta cahaya kepedulian.
Kau buatku membencimu. Seketika itu pula kau lipat gandakan rasa sayangku berlapis-lapis tahta.
Kau buatku bodoh. Seketika itu pula kau mendewasakanku dalam nyanyian Surga tak tersirat.
Dee, meski jutaan tahun berlalu, aku masih akan tetap … mencintaimu.
Dee …
Semua ini berjalan seperti ala kadarnya. Seperti seharusnya. Yang jadi problematika hanyalah aku tak tahu mengapa manusia tak pernah bisa saling memahami satu sama lain. Benarkah adanya? Aku meresapi ada kisah di balik kisah.
Ada kehidupan dalam kehidupan. Naskah mimpiku tak mungkin hanya sebaris cerita. Tan selalu berpikir dominan dan fantastis. Sifat ingin memuncaki. Tak pernah ingin sekedar dipuji. Aku sangat tahu. Jadi sudah aku putuskan, cerita ini bukan cuma tulisan. (Suara dari Brown).
Ada satu pengharapan Tan yang aku bisa pahami pelan-pelan. Mungkin, tak semanis deskripsi Novel Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, tak semegah kalimat-kalimat Da Vinci Code, tak seharum jentikan kata-kata Ayat-Ayat Cinta, tak sewarna Laskar Pelangi, tak sesederhana tuturan dalam Novel Dilan, ataupun se-kontoversi “Lolita”.
Namun Tan memiliki kesetaraan spektrum layaknya sinar x-ray. Ia hanya mengatakan sesuatu agar orang lain tahu, itulah keinginan terbesarnya.
Aku menyiratkan cita-citaku yang tak lebih dari mereinkarnasi dunia melalui dua keping manusiawi; kesenangan dan kesedihan pembaca tulisan tangan Tuhan itu. Bukan untuknya sendiri. Bukan pula untuk cinta beda dimensi yang aku buat.
Roh tulisanku adalah membagi makna kebebasan melalui fanatisme roman dewasa. Satu hal yang kita pelajari di sini, Teman?Benar sekali. Kau tepat!
Kita memang tak bisa bebas dengan mengambil kebebasan orang lain. Apalagi menguasai. Menganggapnya teman adalah cara teratas untuk menjadi diakui, dihargai, dan dicinta oleh banyak mahluk. Dengan itu, semua akan saling mendistribusikan kebebasan. Itulah Surga Dunia. Ah, Tan.
“Aku harus ke sana.”
Aku teringat bisikan Tan sebelum ia berangkat. Aku belum tahu akting seperti apa yang Tan ingin aku lakukan setibanya di sana, sesuai bisikan misteriusnya waktu itu. Sebelum telapak kaki wanitaku memijak, tak lupa surat dari Tan yang tertidur rapi di atas meja kamarku kubawa.
Surat yang ia berikan pada Martinus sewaktu di kamar kosong. Entah apa isinya secara hakiki. Yang pasti bukan surat, dengan lantunan ayat-ayat cinta penuh romantisme bertubi-tubi dan berlebihan.
Jika dilihat dari nada tulisannya, isinya adalah sesuatu yang bisa membumihanguskan rantai kebencian. Melelehkan perpisahan. Dan tujuan akhirnya ialah piramida pertemuan. Ah … Tan.
◌◌◌◌◌
Tan ...
Meski Dee meminta Tuhan untuk menghadirkan mimpi itu, ternyata pelarian Dee dari ayahnya bukanlah halusinasi. Makna lainnya, ia terbawa ke dalam cerita jadi-jadian itu juga. Dee terharu sekali kusaksikan.
Di setiap menit tarian lidahnya bercerita saat masih di dalam mimpi itu, ada harapanku agar ia mengingatku dan mimpi sepuluh tahun lalu. Jika benar itu mustahil, rasanya aku tak percaya bahwa Tuhan itu jahat.
Bahkan ada harapan kecil agar ia mau memperlihatkanku hasil tulisan yang ia janjikan pada Tuhan dalam mimpi itu. Bahkan saat terbangun untuk kemudian meninggalkan Izmir, aku masih dipermainkan sisa-sisa hasrat asmara terlarang yang kami ciptakan bersama.
Dan aku semakin rapuh untuk menunggu sepuluh tahun lagi. Yang kalian pikirkan mungkin … bagaimana diriku sepuluh tahun belakangan setelah keluar dari ritual menyengsarakan itu? Tidak ada yang spesial.
Sama seperti kupu-kupu kertas di pertengahan samudra. Hanya simbol yang terbawa harapan lama. Sedangkan ada keinginan untuk terbang bersama menuju palung kebersamaan.
Mungkin bisa terjadi. Aku putuskan untuk tak menyerah. Menambah energi hatiku sepuluh kali lebih kencang. Dee, andai kau tahu.