
TAN ...
Saat kenangan satu bait kehidupan itu terekam kembali, kita menuju ruang kisah jauh sebelum semua terjadi. Di rumah bukit itu mengalir warna iblis yang begitu hitam.
"Maaf Tan, ibu tak mempercayai kalian sampai akhir. Tetapi, ibu berterimakasih kalian tetap mau menolong ibu kabur sampai kemari," ucap ibuku dalam permulaan waktu itu.
Kami sudah berada di rumah bukit kami di Izmir, Turki. Sebelumnya orang-orang dari bagian Astrofisika mengejar-ngejar ibu. Aku dan kakakku berhasil menarik ibu jauh dari pusat kota. Di sana terjadi keributan yang entah apa jenisnya.
"Sebenarnya itu benda apa? Itu manuskrip buatan ibu lagi tentang Bulan?" tanyaku.
Detik itu belum kusadari kalau ibu melakukan kesalahan besar. Dalam pelukannya, tertempel erat sebuah buku bersampul aneh.
"Rey, ajak Tan kabur dari sini. Dan teruntuk dirimu, Tan ... lindungi gadis bernama Dee. Apapun hal-hal yang harus kau korbankan, bagaimanapun caranya, selamatkan status gadis itu."
"Putri Tuan Abraham? Dee tetangga kita di bawah bukit dekat sumur? Tapi, bukankah gadis itu ... "
"Sepertinya ini terakhir kali ibu bersama kalian."
"Maksud ibu?"
"Kami tak mau meninggalkan ibu sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi di pusat kota?" tanya Rey yang akhirnya membuka suaranya yang tertahan.
"Di bawah sana ada sumur bukan? Gadis itu, memberitahu ibu kalau dia menginginkan sebuah cara menghentikan ini semua. Seingatku, ada sebuah plot dari ritual mimpi yang keluarganya biasa ditradisikan secara rahasia keluarga."
Ibu bangkit dan buku yang dipeluknya jatuh ke tanah. Aku terpancing bertanya, "Sebenarnya keluarga bulan itu apa? Apa ibu sedang difitnah oleh keluarga yang bernama keluarga bulan itu? Lalu buku itu ..."
"Tan, cukup! Jangan banyak berpikir yang bukan-bukan! Kalian harus menyelamatkan gadis itu."
"Tapi ..."
"Itu Dr. Alison!" seru salah seorang pria dari para kelompok Astrofisika. Mereka mendadak hadir.
"Tan, Rey, maaf ... ibu harus mendorong kalian ke bawah bukit. Lebih baik kalian mati daripada melihat ini semua."
"Ibu sedang tidak bercanda, kan?" tanya Rey terbesit perkataan aneh ibu.
"Tan, dari ekspresimu sepertinya kau sudah sadar apa yang terjadi pada ibumu ini."
Kami sontak menghindar dari ibu. Orang-orang tadi masih cukup jauh. Ibu berusaha keras melanjutkan niat perkataannya tadi. Ibu sudah gila dan tak bisa berpikir lurus dengan situasi seperti ini.
“Harusnya ibu tak perlu kabur dari fitnah Tuan Abraham! Ibu pernah mengajarkanku untuk berani selama Tuhan di samping kita, kan?" aku berseru karena semakin tak percaya.
Aku tersudut di ujung bukit dan tak tahu lagi harus berpindah diri ke mana untuk mengaburkan raga dari ibuku. Diriku yang masih daun hijau tentu sangat takut waktu ditemani situasi bukit. Meski tak terlalu terjal.
“Ini urusan seorang sejarawan, kalian peduli apa?”
“Apa ini semua karena tudingan-tudingan pemerintah Turki sehingga ibu terjerat frustasi dan mencoba mengungkap rahasia?” tanyaku semakin berapi-api.
Aku tak rela ibu menjadi pemicu keributan nantinya. Saat itu adalah pertama kali aku melihat manuskrip rahasia bertuliskan LO dengan huruf D yang saling membelakangi, dipeluk erat ibuku. Benda itu bahkan seolah lebih berharga daripada aku putranya.
Ibu menyempitkan dahi. Aku mengemis empatinya agar bangkit dari beban moral yang ditanggungnya. Bocah pelontos sepuluh tahun sepertiku pun paham arti penderitaan orang lain. Namun ibu terlihat tak kunjung mengerti.
“Prasangka ibu terlalu menyalahkan mereka. Ibu lah yang tak menyukai diri. Kalau ibu saja sudah membenci diri sendiri, siapa lagi yang akan mempercayai? Kehidupan seperti inikah yang ingin ibu ajarkan pada kami? Tersesat pengkhianatan masa lalu dan mengasingkan diri dari masa depan?” teriak Kak Rey.
Kak Rey terpisah cukup jauh dariku dan ternyata sudah ada di bawah bukit. Kami terpisah untuk mengelabui ibu.Sayangnya itu beban bagi kakak. Aku merasa ibu dirasuki iblis yang membuatnya bisa saja menodongku.
Itu hasil dari rasa penasaran tak wajar kami berdua. Sebelumnya kami tak sengaja menemukan catatan dan buku curian ibu dari Perpustakaan Vatikan, saat itulah ibu mendapati kami yang telanjang pikirannya. Ibu seketika diliputi warna pekat yang mengerikan. Lalu mengiring kami kabur dari sesuatu hal yang entah apa namanya.
“Andai saja ayah masih ada di kerak bumi, melihat ibu yang membuang diri, pasti ia menyesal lebih dulu mati!” Rey terisak.
Kami dalam permulaan plot mimpi ciptaan Dee itu rasanya diusir secara batin. Di luar bagaikan kucing usai mencuri ikan yang kemudian dibuang oleh sang majikan. Bisa dimaknai ibu tersinggung oleh ucapan kakak yang terlontar sebelumnya.
Ucapan yang membeberkan bahwa ia memang tak dihargai, tak diperlakukan sebagaimana manusia yang ingin diakui keberadaannya oleh dunia, pun tak kuasa menahan amarah yang sudah terlanjur meledak-ledak di luar kendali. Dan persis serupa kemunafikan yang berjalan mulus.
“Tidakkah ibu ingat, beberapa detik ketika darah ayah, menyembur terakhir kali di Gaza?” Rey semakin terhipnotis perasaan sendiri. Mencicil waktu yang tak bisa mengembalikan kebahagiaan sebelumnya.
Dan kemelut firasat itu pun berlaku. Ibu mendorongku tanpa terkekang nurani. Spontan kakak berteriak panjang dan dalam keadaan yang sama-sama tak waspada, kami terlena dan tak menduga ibu melakukan apa yang aku sangka sebelumnya.
Kakak, seorang pelindung sekaligus tameng bagiku selama menjalani masa-masa sulit bersama, harus menyaksikanku tersungkur sesuai kecemasannya. Dalam permulaan mengerikan itu, kakakku lebih dulu turun bersiap mencoba peruntungan. Ya, bila saja aku bisa diselamatkan oleh kedua lengan kurusnya.
Tubuhku bergulir lepas dan hebat. Tak ada tanda akan bermuara. Lantas membuat kakak ikut tersentak. Panik. Baru saja setengah pendakian ia tempuh, kurangnya kesiagaan dan licinnya tanah terjal mengakibatkan kemudi diri yang salah pada kakak. Ia tersungkur.
Jarak kurang lebih tiga puluh meter lagi di antara kami pun terkikis. Lebih jauh. Sementara aku berusaha menolak gravitasi hingga kaki bukit menyapa. Rey terendap jauh di rute bukit yang teratur. Sedikit lega.
Di akhir pemberhentian, ada batu dengan bongkahan lebar menghentikan laju gulingan tubuhku. Mengakibatkan benturan cukup keras di kepala. Seketika akan pingsan, Rey mendekati adiknya ini ketika berhasil memanfaatkan tanah yang rapi.
Aku memahami kegagalan kami. Walau tak sadar, aku masih terbuka sayu. Rey terpatung. Dilihatnya diriku baik-baik saja meski ada sedikit aliran darah di keningku dan luka-luka di beberapa lapisan kulit luar anggota gerak.
Rey dengan penuh perasaan mencoba mengelus pipiku guna mencegah agar adiknya ini larut dalam pingsan kecil. Maksudnya adalah menyadarkan tapi itu sungguh lembut. Hati seorang kakak terkadang lebih dalam daripada nurani wanita.
“Ka-kakak?” ucapku parau.
Aku mengusahakan diriku sadar. Mimik wajah kakak nampak resah. Sedari tadi Rey menengok ke kiri dan ke kanan, begitu terus tanpa ada perubahan. Kebingungan. Bukit di bagian kami cukup terjal dan sulit diajak kompromi.
“Tak perlu kau risau, Tan,” ucap Rey mengayunkan ketenangan.
Selalu aku yakin, ketangguhan kakak memberiku tekad. Tubuhku diangkat dan terpaksa untuk nyaman di punggung tipisnya. Perlahan-lahan namun pasti. Dengan tetap menggendong, Rey terengah-engah sembari berhati-hati berpindah titik.
Mencari arah rute yang sesuai. Sementara langit mulai pekat, hitam menebal, menyebar luas menggelapkan negeri di atas awan ini. Sedemikian susahnya hingga berkali-kali kaki Rey nyaris tergelincir. Kalau sampai terjadi, bukan hanya dirinya, tapi aku pun akan cepat bertemu mahluk bersayap itu.
“Jangan pernah salahkan hujan, Tan, apapun alasannya. Tuhan lebih tahu apa yang perlu terjadi,” ucap Rey lalu membelokkan tatapannya sedikit ke belakang.
Ia memandang murung mataku amat yang amat sayu.
“Hujan adalah rahmat. Lebih bagus kalau berdoa kala hujan turun. Kebanyakan dari kita sering mencaci maki hujan. Padahal hujan adalah cara Tuhan menyadarkan kita untuk berpikir tentang segala kemungkinan,” sambung Rey bersamaan dengan sedikit ukiran senyum.
Entahlah, tapi aku yakin ia tersenyum meski pandanganku semakin tak berarti.
Lantas aku berkata pada Pencipta Alam, agar dunia penuh kebencian dan pertumpahan darah ini bisa lebih dewasa. Dan aku bisa berada pada kehidupan yang jauh lebih baik. Mungkin juga masa tiga ratus tahun ke depan.
Sama seperti informasi dari Dee tentang catatan ibuku yang ditemukan polisi. Sebelum aku dan Dee menulis kisah pertemuan mimpi kami ini dalam dua bagian pencerita.
Ibuki, tak kusangka bisa menjadi setara dengan Jin Ifrit karena tak kuat menampung kebencian rakyat Turki padanya. Ya, sebuah permintaan polos dari kemungilan hati. Aku ingin semua itu muncul sebagai fiksi belaka.
“Aku ingin rambutku tumbuh. Bisa melihat bentangan karya-karya Penguasa Alam di dunia luar sana, Kak. Cuma sekedar berharap. Tak salah, kan?” gusarku melalui batin.
Bisa kurasakan Rey tersenyum tipis. Seolah ia mendengar suara hatiku. Pikiranku tersentuh. Kurasakan tubuh Rey suhunya merendah. Begitu pula diriku.
“Kakak, kau baik-baik saja?”
Rey tak menjawab. Aku mulai cemas. Gerakan kaki mulai tak karuan. Sontak kakak roboh dan kehilangan keseimbangan. Aku tersentak. Kak Rey tersandung dan menyebabkan kami menggelinding kembali.
Raga kami terpisah. Kepalaku yang sebelumnya terbentur batu, kini serasa tertusuk-tusuk oleh tanah bukit yang tak rata.
“Tan!” teriak mendadak Rey yang masih sempat peduli walau adiknya ini sudah jauh terendap. Ia pun kembali bisu. Setelahnya, tak aku ketahui apa yang terjadi pada kakakku sampai Dee menceritakan fakta mengerikan itu pada bab akhir.
Sementara diriku terus kalah oleh gravitasi. Semakin lama semakin kencang dan tak ada satu pun sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Situasi sungguh mencekam.
Nampak sekilas oleh pandanganku yang tak jelas, seraya terus bergulir, lurus dari arahnya kini ada lubang cukup lebar bersiap melahap. Dan benar, sebuah sumur tempat biasa aku dan kakak mengambil air untuk mandi.
Dan terjadi. Sumur itu sekarang telah berhasil menelan. Tubuhku diterima sumur itu dengan berat hati. Perih.
Gyur …
Mataku mengawang. Memburam. Pandanganku tertutup oleh air sumur yang mengeruk. Semakin tertanam. Sesaat, nurani sendiri menganggap jasadku telah mati.
Bagaikan katak tenggelam ke dalam sumur. Sebuah pernyataan sendiri yang tersirat. Di mana burung-burung itu berhenti? Beberapa hal aneh mulai aku pikirkan sebagai petunjuk dari ucapan ibu. Alasan melindungi Dee nantinya.
“Jangan membenci dirimu ketika kau dilahirkan,” ujar Rey yang seketika mampir dalam ingatanku.
Sebuah nostalgia kecil bertengger. Hanya bayangan saja.
“Keberadaan kita bukanlah dosa yang harus ditanggung ibu. Kita sendiri yang memilih menjadi manusia. Jika kau ingin menangis maka menangis lah. Bila ada yang melarang dirimu menangis berarti dia jahat! Ia tak paham fungsi hati manusia itu dari dua sisi. Namun jangan meratapi kesedihan. Itu tindakan paling konyol untuk ******* diri sendiri sampai habis.”
Memori itu hilang bersamaan dengan lanjutan ucapan Rey yang terlintas di pikiran. Aku layaknya tetikus yang tak bisa terkendali. Aku yang telah sampai di dasar sumur, masih bisa melihat cahaya yang masuk menembus air.
Cahaya itu menandakan hujan telah reda. Namun hampa menghitamkan otakku. Merasa suram. Dan aku benar-benar percaya kalau aku ditakdirkan untuk selalu sendirian.
Mungkin saat itulah, tanpa disadari udara, selembar kertas terbang terhembus angin melalui kaca jendela rumah kami. Tertekan jatuhan air hujan lalu mendarat di tanah. Masih dapat terbaca.
Begitulah kesimpulan setelah Dee menceritakan kasus kematian dua orang bocah di bukit daerah Izmir. Sebuah surat yang berisikan alasan kebencian itu lahir. Tulisan tangan yang menjelaskan semua tentang Keluarganya Bulan nantinya.
Turki, 2007
Hari ini mendung
*Pukul 06.30. Waktu daerah setempat. Tulisan tangan Tuhan. Untuk siapa aku tak tahu. Tiga hari berlalu. Saat kau masih layu. Tan puteraku. Kupu-kupu yang telah bebas terbang.
Baru berpisah dari gelapnya hidup. PERPISAHAN, menjadi hal abstrak yang paling sering mengguncang permukaan hati manusia.
Jangan lupa bahagia. Tan … berdiri dalam kegelapan sama tragisnya dengan berdiam diri dalam terang, tanpa ada seseorang yang mempercayaimu. Ibu sadar, mereka semua sama saja*.
Aku sudah mempercayai mereka seutuh hati yang aku punya, Tan. Tetapi apa? Hidup tanpa kebebasan hanyalah sebutir kekosongan tiada hingga. Andai tiga ratus tahun lagi ibu baru diciptakan, mungkin tak akan senista ini hidup ibu.
Kau akan segera menyadari, ibu tak sebaik yang kau kira. Kebebasan, cinta, keadilan, kepercayaan, hah … ibu belum bisa mempercayai itu semua.
Dr. Alison
Hus …
Angin di bulan maret terasa lebih hidup dari biasanya. Sayangnya, bocah berkepala pelontos sepertiku saat itu terlihat kontras dengan nyanyian angin di luar. Dari bilik kaca kamar di rumah bukit, hanya tercium aroma kuburan.
Surat itu meremukkan anestesi ketenanganku sebelumnya. Kebebasan yang dimaksudkan ibu, adalah apa yang akan aku perjuangkan bersama Dee di kemudian waktu dalam ritual mimpinya.
Setelah menit pembunuh itu menggeser roda nasibku, jam waktu mulai dinodai seleret tulisan yang serasa menelan intuisiku.
Walaupun hidup kembali, angin di bulan maret serasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Lebih dingin dari dusta, lebih runcing dari kesakitan, lebih segar dari kisah-kisah lara.
Namun lebih hidup dibanding tahun-tahun penghabisan harga diri terhadap kaum hawa itu. Aku berharap hal itu tidak terjadi lagi di masa sekarang.
***
Kau masih sehat? Jika jantungmu lemah, maka kau tak akan membaca apa-apa selain kekosongan setelah aku berhasil keluar dari plot twist ciptaan Dee. Ia menjebak diriku tanpa alasan dengan alasan yang belum aku ketahui. Jadi duduk dan percayakan saja padaku.
Apa kau ingin lanjut? Kau percaya cinta itu akan terungkap lebih lebar dari pikiranmu? Sayangnya, kemenangan tak benar-benar harus berakhir sempurna.
Ada keajaiban yang ingin ditampilkan padamu di ujung. Aku harap kau tahan dengan gaya bercerita yang penuh lambang pemahaman setelahnya.