
Tan …
Aku pernah membaca suatu terjemahan Alkitab yang mengatakan, ''Manusia lebih tepat dijuluki 'mahluk yang berbicara' daripada sebagai 'malaikat yang turun ke bumi' atau “binatang yang berevolusi”, sebab manusia lebih daripada semua itu." (Al- Aqqad (1973:21).
Mungkin karena hanya mahluk bernama manusia, yang mampu memikul tanggungjawab dari Tuhan. Kita lanjut ke dalam ritual ciptaan Dee.
“Tan, rupanya malaikat maut sedang berpihak pada kita,” kata Martinus penuh syukur.
"Aku mengingat tulisan yang waktu itu aku tulis. Yang aku mintai tolong kau memberikannya pada Dee. Aku masih ingat kata-kataku sendiri. Itu bisa jadi alat pemersatu dengan syarat, raja negeri, daun-daun muda itu sendiri yang membacakannya untuk kita," kataku.
"Dan menyadarkan mulut para penyangkal terutama Tuan Abraham sendiri. Sebenarnya rahasia Keluarga Bulan itu mereka sudah tahu, hanya saja aku dijadikan alat kesempatan sebagai yang tersangka," kataku lagi.
Di luar sana masih penuh kehisterisan dan kegilaan. Di sampingku, seorang pemimpin negeri merenung menutupi wajah. Ia nampak begitu gelisah.
“Maksud kalian apa? Tak kusangka pembolot seperti kalian ini punya simpati juga. Apa rencana bodoh kalian?" kata pemimpin itu menyolot kecil.
Aku menarik nafas panjang. Orang itu hampir mendidihkan jantungku.
“Kami tiada maksud menghancurkan apapun di negeri ini. Dan yang pasti kami bukan pembual. Saya akan bercerita tentang asal-usul saya. Juga alasan kenapa kami membawa anda kemari,” jelasku.
“Apa hak kalian memerintah pemimpin sepertiku. Kau mengaku Muslim tapi malah menuai perang dan teror? Kalian tak lebih dari sekedar sampah, bahkan untuk para pengikut kalian yang tertipu dan berangan-angan untuk melunakkan dunia dengan senjata pemusnah itu,” kata beliau mencemooh.
“Dengar Tuan, kami bukan salah satu dari apapun yang Anda yakini buruk tentang keselarasan dunia ini! Percayalah sebentar saja. Kami juga tak tahu orang-orang yang menggangu eksekusi tadi datang dari mana. ******* itu, mendadak mengganggu hal yang sejatinya aku inginkan," terangku.
"Saya sendiri sudah ingin mati tadi, Tuan. Jadi tolong, kalau Anda terus saja bersikap seperti ini, negeri ini tak akan lagi bisa dijaga. Dengarkan cerita kami sebentar di tengah kericuhan di luar ini. Sebenarnya, Tuan Abraham ..." aku terpaksa agar ia mengerti dan mengambil ketenangan terlebih dahulu.
Aku pun bercerita panjang kali lebar. Beliau mendengarkan seksama. Sekitar setengah jam aku habiskan untuk bercerita semuanya.
Asal-usulku, negara, tujuan, serta berbagai kesusahan-kesusahan yang aku alami ... sejak pertama kali menginjakan kaki di dunia ritual ciptaan Dee. Termasuk rencana Tuan Abraham.
Namun tentu tak kukatakan padanya bahwa itu semua dimensi berbeda. Karena hanya Dee dan aku yang tahu. Setidaknya, aku baru akan tahu di akhir cerita ketika Dee mengutarakan semua rahasia cintanya padaku.
Ya, sebagai akar harapannya pada Tuhan agar mimpi itu tercipta. Bahkan ketika kalian masuk ke bagian ini, diriku saat itu belum benar-benar yakin kalau apa yang kuhadapi itu bunga fiksi.
“Semua penjelasanmu tak masuk di logika. Lantas kau kira aku akan mudah percaya? Ceritamu itu di luar penalaran manusia!” kata pemimpin itu menyunting pembicaraan.
“Mesti ada orang yang punya kuasa lebih tinggi untuk memutus ikatan kebencian di negeri ini. Sebelum kebencian itu mengalir ke luar, ke negara lain, apalagi pihak NASA. Aku juga tak ingin Tuan Abraham harus diburu dan dibunuh apalagi putrinya. Dan orangnya adalah Anda, anda adalah orang yang paling bisa untuk rencanaku.”
“Rencana apa yang kau bicarakan? Jangan membolak-balikkan alur!” beliau memuncak emosinya.
Kemudian kukeluarkan apa yang sudah kutulis jauh sebelumnya.
“Aku ingin anda berpidato dan membacakan tulisan yang ada di kertas saya ini. Karena jika mencari lilin-lilin kecil itu hanya akan menyendat waktu saya. Kita akan menunggu keadaan menjadi tenang seperti semula," pintaku.
"Lagipula di luar, sepertinya sudah tak ada baku serang lagi. Dengarkan aku, Tuan, kami tak tahu apa-apa mengenai bom sebelumnya," kuharap ucapanku membenam firasat buruk beliau.
“Peneror dari dalam katamu? Apa kau sedang menyindir kelemahanku, pemuda?”
“Kenapa Anda terlihat panik? Bukan ke situ arah maksud saya.”
“Diam," ujar beliau.
“Tuhan tidaklah mengisahkan cerita dengan tujuan yang sia-sia. Anda pasti akan lumrah menuruti ketulusan hati kami, kan?” tanya Martinus masuk dalam pembicaraan.
“Dengar Tuan, aku tak tahu negara seperti apa yang ingin anda lindungi tapi aku … aku akan melindungi negaraku. Karena ini negaraku, tak mungkin aku meneror jantung kelahiranku sendiri. Bukankah itu bunuh diri secara batin?" aku mulai terpancing.
"Masih tak percaya kalau kami bukan bagian dari geng ******* itu? Anak-anak itu, merekalah negara! Merekalah raja! Jangan biarkan aku berhenti sampai di sini. Wanita yang sekarang menginginkan kebebasannya, adalah yang harus kalian lindungi," sambungku.
Bruk …
Pintu masuk terbuka. Serempak bertiga terkejut. Bukan pendeta maupun tentara Turki, melainkan eksekutif, pengurus, serta penasehat beliau.
“Apa gerangan kalian menghardik pemimpin kami?” kata si penasehat.
Benar-benar di luar perkiraan. Siapa sangka aku bisu dan tak tahu harus mengatakan apa. Mulutku terkunci sepersekian detik. Sejurus kemudian, pertaruhan di luar berlalu begitu cepat. Kawan-kawan Martinus sepertinya berhasil kabur kembali.
Hanya itu yang bisa meringankan keterpojokanku kami. Beliau melirik lemas ke arahku dan kubalas anggukan pelan, dengan maksud meyakinkannya. Ada kekekalan terasa ketika kami saling menatap.
“Kalian tenang, mereka berada di pihak kita,” ujar beliau. "Pemuda ini bukanlah keturunan terakhir Keluarga Bulan. Dia memiliki misinya tersendiri."
Orang-orang itu nampak dibuat berpikir.
“Kami melanjutkan perjuangan guna mencemaskan anda, Tuan. Tetapi sekarang malah anda mengungkap hal tidak berlogika semacam itu!” kata seorang eksekutif getir.
“Kalian pasti telah mencuci otak pemimpin kami! Tuan, anda jangan mudah saja percaya dengan kebohongan orang-orang ini mentah-mentah.”
“Akan kuceritakan lebih detail tentang mereka,” sambungnya, memotong laju ucapan orang-orang itu.
Kebencian mereka perlahan meredup. Secara sadar, alam bawah pikiran beliau menampakan was-was. Terlebih aku khawatir bila saja dikhianati atau semacamnya.
Tapi beliau bukanlah tipikal semacam itu. Dan ia melakukan sebaliknya. Martinus yang berada di sampingku juga nampak lebih tenang.
“Maaf, tapi aku tak bisa menyampaikan pidato itu. Masalahnya, ada suatu hal yang tak bisa aku … ah, kalau begitu biar eksekutifku saja yang mengumumkannya. Penasehatku yang lain,” ucap beliau tiba-tiba bersemangat. “Terimakasih anak muda, dunia harus memberimu rasa cinta.”
“Tan?”
Suara parau itu menyejukan suasana seketika. Suara seorang wanita yang aku kenali. Sangat khas ditelingaku. Tak salah lagi. Ia kini berdiri dengan kebingungannya di depan pintu.
Melotot memandang bergantian ke arah semua orang di dalam ruangan atas nan yang luas. Datang, perempuan yang sudah ditunggu-tunggu oleh kecemasanku. Ia langsung menapak langkah guna mendekat.
“Dee? Bagaimana kau bisa …” tak sempat aku melanjutkan pertanyaan, dekapan hangat menjalar ditubuhku.
Serasa dekapan seorang bunda. Dan kenyamanan itu kini terdekap kembali. Mentalku yang lelah, sakit dan luka di tubuh seolah terasa lenyap dalam hitungan masa.
"Kenyamanan memang merupakan obat paling ampuh penghilang rasa sakit,” ucap salah seorang eksekutif di situ memecah kesemutan tubuhku.
Dee memandangiku dalam. Kedua bola matanya seperti punya nyawa. Seolah ingin bercerita panjang.
“Tan, maaf saat menarik tanganmu tadi, aku merubah sebuah alur. Semata-mata agar kita bisa mencegah hal serupa di dunia nyata."
"Aku maksudmu?" saat itu aku memang belum sepenuhnya menyadari dunia ciptaan Dee dari Tuhan itu.
"Kenapa kau berbohong padaku? Mengapa kau menanunjukan kalau dirimu lebih senang sendirian? Mengapa kau …”
“Diamlah, kau ini benar-benar payah,” potongku menenangkan, meski adanya tak sesuai dengan maksud perkataannya. “Kita tak harus berakting di sini. Aku juga tak mengerti maksudmu mengubah alur."
Satu kalimat yang menyelip pertanyaan Dee. Aku pun menyingkirkan lingkaran ke dua pergelangan tangan Dee seraya berkata, “Bukankah sudah kuterangkan padamu tentang larangan itu? Seharusnya aku tak perlu mengulangnya berkali-kali, jika memang telah terpupuk dengan baik dalam pemahamanmu.”
“Apa peduliku? Kau tahu sendiri, kan, aku belum mengenal ajaran Islam yang kau cintai itu. Aku hanya mewujudkan apa yang menjadi bisikanmu padaku waktu kabur dari Marmaris. Itu, selain suruhan tentang sandiwara yang sudah kita perbuat tadi," Dee melembut.
"Namun aku percaya, bahwa tulisan tangan Tuhan menjadi misimu yang kelak akan membawa perubahan. Ruhku masihlah seorang Kristiani sekarang, tetapi aku akan meraih waktu lebih banyak untuk memikirkan kembali ... tawaran dari bisikanmu itu. Kedamaian … aku temukan di dalam dirimu, Tan,” katanya lagi.
"Dee, aku ..."
“Di sisi lain, tak peduli diriku akan statusmu yang seorang Muslim. Kau mengajarkanku ketenangan dan definisi seorang manusia. Aku yakin, Muhammad yang kau percayai itu adalah fakta nyata, ia menjadi orang paling berpengaruh dalam sejarah," Dee mulai kemana mana.
"Meski beberapa tangan menghapus namanya dan di buku ibumu itu, tertuang rincian hati yang menyedihkan, tentang betapa mengerikannya pemalsuan dan manipulasi yang diciptakan orang-orang berderajat semu kala itu. Cerita Tuhan memang menarik, kan?” Dee lanjut berujar sambil bibirnya dikaitkan satu sama lain.
Ia mencoba menahan linang air ketulusan wanitanya untuk kesekian kali.
“Menangis bisa jadi hobi terunik,” balasku meledek.
“Menangis? Sudah tidak lagi.”
Detik itu, pandanganku entah kenapa tiba-tiba mengabur. Sontak, tubuhku pun roboh seketika di pergelangan tangan Dee.
“Tan?”