Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Rencana yang gagal karena kelicikan



Aryo menoleh ke arahnya, “Ada apa?” mereka duduk di salah satu bangku yang berada di lorong.


“Bagaimana? Kau sudah mengajukan rasa protesmu?” tanya Sakti.


“Ya, Aku sudah sangat bersikeras mengajukan rasa Protesku. Tapi, Pak Direktur juga bersikeras tak mau membatalkannya. Hanya karena satu alasan, yaitu jika tak lebih menguntungkan dari Sytem yang dibuat Pak Sudarma, Direktur tidak akan mau mengubahnya.”


“Hanya karena alasan keuntungan? Bagaimana dengan nasib kesehatan kita?”


“Direktur bilang, Pak Sudarma sudah berjanji akan bertanggung jawab, serta berusaha tak melebihi batas wajar.”


“Begitu rupanya,” kata Sakti sambil termenung.


“Lalu, dia juga memberikan bukti dari hasil kerja Pak Sudarma. Kau juga dapat kan?” Aryo menatap Sakti.


“Dapat apa?” Sakti terheran dengan maksud Aryo.


“Kau, belum melihat di bawah keyboardmu?”


Ketika sudah waktunya pulang, Sakti mengangkat sedikit Keyboard komputernya. Dan didapatinya amplop berwarna coklat, kemudian Sakti mengantonginya. 


“Memangnya, isi amplop itu apa?” tanya Sakti.


“CEK, yang nominalnya cukup besar.”


*CEK adalah surat yang berisi perintah tak bersyarat dari nasabah bank, agar bank tersebut membayarkan uang sejumlah yang tertera di Cek tersebut, kepada penerima Cek.


“Lalu, Kenapa diletakan di bawah Keyboard?”


“Itu hanya untuk kejutan,” jawab Aryo.


“Kau sudah membukanya?”


“Ya, dan sudah kusimpan dalam tasku.”


“Omong-omong, Kau gunakan untuk apa?”


“Merenovasi rumahku yang sudah mulai rontok.”


Dalam perjalanan pulang dari Atm, “Uang ini Ku apakan ya?”


“Kalau dipikir-pikir lagi, apa hasil dari sepuluh juta download. Masing-masing dari kami, sampai mendapat bonus segini banyaknya?”


“Sudahlah, nanti Aku juga bakal megetahuinya nanti.”


Sesampainya di rumah, ia bertemu dengan Seorang Putri, yaitu Adik kesayangannya sendiri.


“Kakak, obat batuk sama demamnya telah habis,” kata Adiknya setelah makan malam.


“Ah masa?” kata Sakti sambil menaruh piring.


“Nih liat sendiri,” kata Sri sambil menunjukan botol obat yang kosong.


“Woah iya! baik, akan segera Kakak beli.”


"Aku kan bisa beli sendiri Kak. Aku cuma minta uangnya aja."


"Ya, nanti Kakak kasih."


“Kak!” Sakti menoleh, “Iya?”


“Sekalian uang sekolah ya,” sambungnya.


“Oke...,” kata Sakti sambil mengacungkan jempolnya, “Kugunakan duit itu saja kali ya?”


 


Sejak saat itu, Sakti bersama sembilan puluh orang lainnya, dan juga dengan Mentari, Surya, Dimas serta Rendy. Bekerja di bawah tekanan yang dikontrol oleh Pak Sudarma.


 Tapi setelah itu, Pak Sudarma mulai membuat Deadline(batas akhir) Pengembangan Game yang tak masuk akal. Alias melebihi batas wajar kemampuan mereka dan waktu mereka, bahkan sampai lima hari mereka begadang.


Sampai-sampai, Sakti, Mentari, Surya, dan Rendy jatuh sakit karena bekerja lebih ekstrim dari sembilan puluh orang. Bukan hanya begadang lima hari, namun delapan hari lamanya.


Tapi disisi lain, mereka juga dibantu oleh beberapa orang senior yang ikut begadang delapan hari lamanya dan juga sampai jatuh sakit.


*Rumah Sakit*...


 “Kenapa jadi seperti ini! Sudarma itu sudah keterlaluan pada kita,” kata Dimas yang sedang menjenguk Sakti. 


“Apa-apaan Deadline tiga minggu itu! Belum tentu dia sanggup melakukannya.”


“Hei, laki-laki kenapa menangis?” kata Sakti yang terbaring dengan tangannya yang terimpus selang obat.


“Siapa yang menangis tahu! Aku hanya terharu, Kau rela menanggung sebagian pekerjaan dari sembilan puluh orang di Divisi kita. Oleh karena itu, sembilan puluh orang lainnya hanya mengalami sakit ringan.”


“Dan untungnya juga, Kau kebal saat begadang lima hari kan, Dimas?” kata Sakti yang masih sempat tersenyum padanya.


“Tapi tindakanmu itu, sama diluar akalnya dengan Deadline Sudarma tahu!”


“Tenang saja, Aku kan melakukannya bersama teman-temanku, ditambah lagi beberapa Senior yang turut membantu. Tapi yang menjadi masalah bagiku, Mentari. Oh iya, Kau baru saja dari kamarnya Mentari kan?” tanya Sakti yang mengkhawatirkan Mentari.


“Iya. Keadaan dia sudah siuman seperti Kau sekarang. Dan dia hanya mengeluarkan satu pertanyaan padaku, yaitu menanyakan hal yang sama sepertimu, yakni Kau. Dasar bucin,” kata Dimas.


“Kau punya tidak, he..he..” ledek Sakti yang terbaring di kasur rumah sakit.


Dimas seketika menjadi canggung, “Sudah, sudah. Jangan membahas itu.”


Tok, Tok, Tok,


suara ketukan pintu kamarnya Sakti dari luar, lalu seseorang membukanya.


 Nampaklah Pak Sudarma yang masuk serta membawakan buah-buahan untuk Sakti.


“Sakti, Kau istirahat saja yang cukup dan jangan banyak bermain. Agar Kau cepat pulih kembali,” kata Sudarma sambil menaruh buah-buah yang dibawanya.


“Maaf, Aku tak bisa berlama-lama disini, karena banyak yang harus Aku lakukan. Tapi tenang saja, biaya rumah sakit Aku yang menanggungnya,” kata Sudarma saat tangannya sudah siap untuk menutup pintu.


“Seperti yang sudah Ku bilang diawal, Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu,” sambung Sudarma sebelum menutup pintunya dan pergi.


“Sakti, sepertinya Aku harus melakukan sesuatu,” kata Dimas yang terbesit sebuah ide di kepalanya.


“Apa maksudmu?” heran Sakti.


“Aku akan melaporkan kejadian ini kepada Direktur. Sepertinya Aku sudah menemukan bukti yang cukup.”


“Bukankah sia-sia? Seperti yang dilakukan Aryo waktu itu.”


“Tidak! Sepertinya Pak Direktur tidak mengetahui deadline yang sebenarnya terjadi, apalagi kejadian ini.” 


“Maksudmu? Sudarma membohongi Direktur dari Deadline yang sebenarnya terjadi?”


“Iya. Karena jika Direktur tahu tentang Deadline yang melebihi batas kemampuan dan tak wajar, Sudarma tidak akan mendapat izin dari Direktur.”


“Tapi Aku punya kemungkinan kedua, yaitu Sudarma tidak mau terlihat buruk citranya di depan Direktur, karena ada suatu hal yang ingin dia lakukan lagi, terhadap perusahaan ini, melalui Pak Direktur,” terang Dimas.


 “Apa Kau yakin ingin melakukan itu?” tanya Sakti yang agak ragu.


“Tentu saja. Anggap saja sebagai balas budi Adikku terhadap Adikmu, Sakti.”


“Baiklah. Terimakasih...”


“Tak perlu berterimakasih. Justru Aku yang harusnya berterimakasih.” 


~


Seseorang ditempat misterius tengah berbicara dengan Sudarma.


~


Pada jam istirahat, Dimas berjalan menuju ruangannya Pak Direktur, dengan sekumpulan berkas pada tangannya.


 “Baik, sudah Kusiapkan semua yang Aku perlukan, untuk membela teman-temanku dan sahabatku Sakti,” kata Dimas. 


Dan tibalah Dimas di depan pintu ruang pribadi Pak Direktur, lalu mengetuknya sebanyak tiga kali.


 “Masuk!” sahut Direktur yang terdengar sampai luar. 


Dimas perlahan-lahan membuka pintunya, lalu terlihat Pak Direktur sedang menatapnya dengan tajam dari kursinya.


 “Dimas!” panggil Direktur yang didampingi oleh Sudarma.


“I-iya,” jawab Dimas yang terkejut dan terheran karena ada Sudarma di samping Pak Direktur. 


“Jadi, Kau ingin mengakui perbuatanmu sekarang?” kata-kata dari Direktur yang membuatnya terheran-heran.


“Mengakui perbuatanKu? Perbuatan apa?” ucap Dimas sambil menutup pintu yang baru saja ia buka.


“Kedatangan Saya ke sini, untuk menyampaikan sesuatu tent-“


“Tentang kesalahanmu?” sahut Sudarma dan Dimas membalasnya dengan tatapan tajam.


“Kesalahanku? Aku tidak melakukan kesalahan hari ini, apalagi kemarin. Justru saya ingin melaporkan keadaan teman-teman saya yang menjadi korban, dari kelicikan Deadline yang dibuat Sudarma.”


“Apa Kau punya bukti?” tanya Direktur.


Dimas mengeluarkan bukti dari dalam tasnya, “Ini adalah bukti dar-“


 “Aha, Kau yang berbohong. Baru saja Sudarma mengatakannya.”


“Berbohong? Ini adalah bukti asli berupa foto dan video, yang baru saja Saya ambil kemarin. Mereka benar-benar berada di rumah sakit dan Saya juga sudah menjenguk mereka,” kata Dimas sambil menunjukan buktinya.


“Kau itu memanipulasi bukti kan? Kau bilang, empat orang itu berada di rumah sakit. Tapi bukti yang ditunjukan Sudarma, mereka tengah berada di kantin bersama.” Direktur menunjukan buktinya.


“*Hah? Itu kan foto dua bulan yang lalu. Dia meretas hape milik siapa?” dalam hati Dimas*. 


“Yang Bapak pegang, itu bukti palsu. Dia meretas hape salah satu dari kami. Karena foto itu diambil dua bulan yang lalu. Bukan hanya itu, Sudarma juga sempat menjenguk Sakti di rumah sakit. Aku melihatnya dengan jelas, Dia membawakannya buah-buahan.”


“Lalu, bagaimana dengan bukti chat dari Sudarma dengan mereka yang mengatakan, mereka dibayar seseorang untuk bersandiwara?”


 “AHA! Nomor itu sangat terlihat jelas sekali, itu nomor palsu. Nomor itu bukan nomor Sakti, tapi ini nomornya yang benar.” Dimas melalukan panggilan sebentar,


“Hallo?” jawaban Sakti yang sangat terdengar jelas di telinga mereka.


 “Maaf tak sengaja,” jawab Dimas kepada Sakti, lalu mematikan telfonnya.


“Begitu ya. Lalu bagaimana dengan gambar yang menunjukan Kau sedang berada di ruangan jaringan, lalu membobol saldo keuangan perusahaan ini?” tanya Direktur sambil menunjukan gambar tersebut.


“Itu gambar palsu yang telah dimanipulasi oleh Pak Sudarma, sekarang kan ada yang namanya Photoshop.”


“Tapi, pada bagian belakang gambar ini, menunjukan sebuah Capture yang memperlihatkan bukti, bahwa sebagian Saldo telah tertransfer ke nomor rekening kamu. Apa ini bukan rekening milik kamu?" 


Hal itu membuat Dimas sangat terkejut dan tak menyangka, bagaimana rekeningnya bisa terbawa-bawa dengan kejadian di perusahaan tersebut.


“Ba-bagaimana bisa rekening Saya, terhubung dengan kejadian itu?”


Dalam hati Dimas, “Dia juga meretas rekeningku! Tapi sejak kapan?”


“Sudah sangat jelas bukan? Kau yang membobol uang perusahaan, tapi meninggalkan jejak nomor rekening, dari penerimanya. Dan itu sangat jelas, adalah nomor rekeningmu.”


“Tu-tunggu dulu. Aku tidak tahu sama sekali tentang kasus ini, apalagi rekeningku yang dibobol seseorang,” kata Dimas sambil sedikit melirik Sudarma.


“Apa Kau bisa membuktikannya?” pertanyaan Direktur yang seakan menantangnya.


“Tapi Aku sudah bilang, tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah melakukannya sama sekali, lagi pula untuk apa? Aku sama sekali tak tertarik dengan uang, seperti kalian,” kata Dimas dengan ucapan belakang yang meledek mereka.


“Apa ucapanmu bisa mematahkan bukti ini? Sudahlah, Kau sekarang Saya pecat.”


“A-apa,” kata Dimas sambil menoleh kepada Sudarma yang ternyata sedang tersenyum.


“Cepat! Keluar dari kantorku dan bawa barang-barangmu dari perusahaan ini!” kata Direktur.


Keadaan seperti terbalik, yang seharusnya Sudarma yang keluar karena perbuatannya.


Namun, Dimas yang kena perangkap Si Serigala licik tersebut.


“Apa-apaan ini, Aku tak bersalah.”


“Kau masih beruntung, hanya dipecat tanpa pesangon. Atau mau kulaporkan ke polisi dan mengganti rugi semuanya?” tegas Pak Direktur.


Mata Dimas tercengang mendegar ucapan itu, dan dengan sedih hati, ia keluar dari kantor itu serta menanggalkan Id cardnya.


Dimas berjalan kaki dengan masih mengenakan kemeja kerja, menuju Rumah Sakit.


“Si Sudarma itu! Dia membobol rekeningku dan membuat bukti palsu untuk menjatuhkanku. Awas saja Kau!” kata Dimas sambil menendang kaleng saat berjalan.


Dimas membuka gawainya lalu membuka aplikasi mobile bank, untuk memeriksa apakah yang dibilang Sudarma itu benar.


“Benar, Dia mengirimnya ke rekeningku. Tapi yang sebagian lagi, dia kemanakan?” kata Dimas ketika sudah sampai di depan Rumah sakit.


 “Eh, Dimas. Kau kenapa sedih?” tanya Sakti saat melihat Dimas masuk ke kamarnya. 


“Aku baru saja dipecat dengan tak adil,” kata Dimas sambil menutup pintu.


“A-Apa?!” terkejut Sakti lalu terduduk di kasurnya.


“Ini ulah Sudarma, Serigala itu.”


“Coba jelaskan lebih detail lagi?” pinta Sakti yang penasaran dengan cerita lebihnya.


“Aku sudah menyiapkan semua bukti yang Kuperlukan dan sudah siap untuk melaporkan ini. Namun, ketika Aku masuk ke ruang Pak Direktur, ternyata ada Sudarma yang berdiri di sampingnya.


Dan dia sudah lebih dulu beraksi untuk menjatuhkanku dengan bukti-bukti palsunya. Beberapa bukti berhasil Ku patahkan, termasuk Aku yang tadi menelponmu dan berkata tak sengaja.”


“Oh, jadi saat itu Kau sedang membongkar kelicikan Sudarma. Lalu bagaimana Kau bisa sampai dipecat?”


 “Dia sudah menyiapkan senjata ultimate yang paling kuat dari sebelumnya. Mungkin saja dia sudah mengetahui Aku akan berusaha mematahkan kebohongannya, maka dari itu dia membuat senjata yang tak bisa Aku patahkan.”


“Apa itu?”


“Dia memalsukan bukti pencurian uang perusahaan, dengan memakai rekeningku. Dia menggunakan rekeningku untuk menerima sebagian uang yang dibobol, lalu menjadikannya bukti. Padahal, Aku tak tahu ada kejadian pembobolan uang perusahaan. Pasti ini perbuatan Sudarma!”


“Aku sangat setuju denganmu. Sudah pasti dia yang melakukannya, karena dia juga memakainya untuk bukti palsu. Tapi...” 


“Tapi kenapa?”


“Kau bilang, yang masuk rekeningmu hanya sebagian? Lalu yang sebagian lagi dia apakan?” penasaran Sakti dengan hal itu.


 “Entahlah, Aku juga memikirkan itu tadi.” 


Mereka berdua termenung...


 “Ohhh. Aku tahu!” perkataan Sakti yang tiba-tiba.


“Apa?” kata yang terlontar dari mulut Dimas karena penasaran.


 


**Bersambung...


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya**:)