
“Apa? Kok bisa bangun lagi?” terheran-heran Sakti. Tak lama setelahnya, ada panggilan masuk dari Navigator.
“Sakti! Ada apa? Apa sudah berhasil?”
“Maaf Pak, akan Saya hubungi lagi nanti!”
Sakti memblokir pangilan Navigator dari earphoenya, lalu melompat-lompat kembali untuk menghindari tangan Robot tersebut.
“Huft, hampir saja!” kata Sakti, saat berhasil menghindari serangan Robot yang baru saja ke arahnya.
Sakti kembali melompat dari atas sana ke bawah sini dan seterusnya, dengan keahlian Parkour yang dimilikinya.
“Gawat! Robot itu, bergerak lebih cepat dari sebelumnya!”
Sakti mengeluarkan seluruh energinya, agar dapat menghindar lebih cepat, dari hantaman tangan baja itu.
Sakti disibukan kembali dengan serangan yang lebih kuat dan hebat, sampai pada akhirnya ia lengah.
“Hah? Itu...” kata Sakti, dua detik sebelum hantamannya mengenai dia.
Kemudian, Sakti terpental dan membentur tembok pada lantai tiga. Bahkan tembok itu sampai retak, dan Sakti terbujur kaku menahan kesakitan di seluruh badannya.
“Tulangku seperti hancur semua. Bagaimana ini, apa sudah berakhir?” kata Sakti yang sudah tak sanggup bergerak lagi, dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Sudarma yang melihat itu, tertawa seperti sudah puas melihat kekalahan mereka, yang dilakukan Robotnya.
“HEI! Kau hanya menambah energi untuknya, bodoh!” teriak Sudarma kepada Sakti.
“Kau lihat sendiri kan! Siapa yang menjadi sang juara pada pertunjukan ini?” kata Sudarma saat menoleh kepada Direktur.
“Sudah tak ada waktu untuk merengek. Cepat lakukan yang Ku ma-“
Ucapannya terputus oleh suara ledakan dari lantai bawah, yang cukup besar lalu terlihat puing-puing kecil berterbangan di hadapan mereka.
Setelahnya, terlihat tembok yang menjadi dinding lantai dasar dari Gedung itu, telah roboh menjadi lubang besar.
“Kejutan apa lagi ini?” ucap Sudarma.
Sakti yang hampir pingsan, juga mendengar suara ledakan yang sangat keras itu, dan sontak membuatnya terkejut.
“A-Ada apa di bawah? Apa Robotnya meledak?”
Karena penasaran, Sakti perlahan-lahan merangkak maju untuk melihat keadaan yang sebenarnya di bawah, lalu dilihatnya seseorang yang muncul dari balik debu puing.
“A-Ada orang? Apa temannya Sudarma?” kata Sakti, sebelum meihat orang itu melompat tinggi dan berdiri persis di sampingnya.
“Ce-cepat sekali? Kau siapa?” tanya Sakti saat ia masih telungkup dan baru melihat sepatunya saja.
Orang itu mengulurkan tangannya dengan pakaian Jaz hitam dan dasi yang sangat rapih.
“Apa Kau tak apa?” tanya orang itu.
"Tak apa-apa dari mana? Basa-basi kira-kira dong!" ucap Sakti kepadanya.
Saat Sakti perlahan-lahan mengangkat wajahnya, hingga persis menghadap wajah orang itu, sontak mereka bedua terkejut.
“Sakti!” “Bagas?”
Bagas kemudian menyederkan Sakti pada tembok yang masih rata, pada lantai tiga itu.
“Kau sedang apa di sini?” tanya Bagas.
“Harusnya Aku yang bertanya, Kau sedang apa di sini?”
“Urusan Hubungan Internasional.”
“Apa maksudmu?” tanya Sakti, namun Bagas sudah melompat ke bawah untuk menghadapi Robot raksasa tersebut.
“Woi, Kau belum menjawabku!”
Baru saja Sakti disenderkan ke tembok yang rata, agar bisa istirahat memulihkan tubuhnya. Namun ia malah kembali merangkak maju untuk melihat ke bawah, karena rasa penasarannya dengan Bagas, yang akan memulai petarungan.
Petarungan itu semakin sengit, karena terlihat sekali Bagas mengeluarkan senjata yang tidak biasa. Bukan senjata yang mengeluarkan timah panas, namun bola-bola listrik.
Alhasil tidak mempan untuk mengalahkan Robot itu, kemudian Bagas terpental seperti Sakti tadi, karena terkena hantaman kepalan baja.
“Sejak kapan Dia punya Jetpark? Ditambah lagi, senjata aneh itu,” ucap Sakti sebelum melihat Bagas terpental.
Setelah terpental, Bagas masih sanggup untuk berdiri bahkan bertarung lagi dengan Robot itu.
“Apa? Masih dapat bertarung?” terheran Sakti.
“Oi, jangan nonton saja jika masih bisa bergerak!” teriakan yang dilontarkan Bagas pada Sakti. Kemudian Bagas kembali melepaskan serangan yang ditujukan kepada Robot tersebut.
“Benar juga! Aku tadi melihat slot yang mungkin adalah kelemahannya. Sebelum Aku terpental, Aku benar-benar melihat jelas slot itu.”
“Sepertinya, semakin menarik saja di babak ketiga ini. Mari kita tonton bersama Pak Direktur. Nikmati saja tontonan yang berkualitas ini,” kata Sudarma, kepada Direktur yang disujukan oleh pemandangan menegangkan, seperti menaiki Roller Coaster.
Sakti mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kecil tasnya, “Tadi, Aku berencana untuk merusak komputernya Sudarma, tapi sepertinya ini lebih efektif untuk Robot itu. Virus System yang telah Aku siapkan sejak lama.”
Sakti memasang Flashdisk yang berisikan Virus itu, sebagai ganti amunisi dari Taser Gun sebelumnya. Taser Gun yang diberikan Pak Dharma, adalah senjata yang dapat dimodifikasi sesuka hati.
Layaknya sistem operasi open source, yang dapat dikembangkan sendiri sesuai kebutuhan.
“Baiklah!” ucap Sakti yang telah siap membantu, tapi tiba-tiba ia berlutut tak bisa berdiri tegak, karena rasa sakit dari serangan tadi.
“Aku tak kuat bergerak secara stabil.”
Dia benar-benar tak berdaya, sehingga untuk berdiri pun sulit, dan membutuhkan seseorang untuk menopangnya.
Tapi, Sakti masih berusaha untuk mengerahkan tangannya, yang masih mengenggam senjata ke arah Robot itu, meskipun dalam posisi berlutut.
Lagi-lagi tak dapat stabil, tangannya bergoyang-goyang, tak mampu lurus dalam mengarahkan Gunnya.
“Apa, seperti ini akan kena?” kata Sakti sambil memegang kepalanya, karena pusing.
Bahkan pandangannya terkabur, saat berusaha konsentarsi pada target. Itu terjadi karena konsentrasinya terganggu, oleh rasa sakit dari benturan yang tak pelan itu.
Sakti hampir menyerah dan ingin menjatuhkan tangannya, karena sudah lemas. Saat Sakti hendak terjatuh, seseorang menopang tangannya. “Si-siapa?”
“Hei, bicara apa Kau!”
Sakti menolehkan wajahnya ke arah suara itu, “Si-siapa Kau?” kata Sakti yang pandangannya masih kabur.
“Coba Kau tenangkan diri dulu, jangan memaksa bergerak terus apalagi konsentrasi. Lepaskan semuanya, tarik nafas buang, mungkin bisa mengembalikan pandanganmu dengan jelas.”
Sakti melakukannya seperti yang dikatakan orang tersebut, dan sampai akhirnya, ia dapat kembali focus dan tak kabur lagi pandangannya.
“Mentari? Kenapa Kau berada disini?” ucap Sakti saat tersadar. Tak lama, terdengar suara seorang cewek dari bawah, yang memanggil Bagas. “Bagas! Tangkap!
Bagas dengan sigap menangkap tas yang dilemparkan oleh seorang cewek tersebut. “Terimakasih Ivana!” teriaknya. Di dalam tas itu berisi senjata tak masuk akal yang lainnya.
“Tak ada waktu untuk kaget. Sekarang beri tahu Aku, apa yang bisa Kulakukan untuk membantu?” kata Mentari.
“Baiklah! Kau bantu Aku mengarahkan tanganKu ini, untuk membidik slot yang ada di belakang kepala Robot itu.
“Baik! Tapi setelah ini, tolong ceritakan semuanya dengan jelas padaKu!” ucap Mentari setelah melakukan yang Sakti katakan.
“Iya, Akhirnya Aku ketahuan,” pasrah Sakti.
Sakti berteriak kepada Bagas yang akan menggunakan senjata barunya itu. “Bagas! Tolong putar Kepala belakangnya menghadap kami!”
“Aku tak mengerti tentang rencanamu. Tapi baiklah, Aku akan melakukannya,” kata Bagas dari atas jetparknya.
“Terimakasih! Mentari ayo bersiap membidik.”
“Iya, dari tadi Aku sudah siap!”
Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya:)