Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Jalan Yuk!



Mereka saling bertatapan satu sama lain,


“Kau kenapa tertawa?” heran Sakti.


“Aneh sekali. Ayo, ceritakan yang Kau lakukan tadi terhadap cewek itu.”


Mentari berhenti tertawa setelah mendengarkan permintaan mereka, “Baik! Jadi sebenarnya Dia itu cewek pemalu. Lalu ingin mendekati Sakti namun tak percaya diri. Sehingga yang hanya bisa Dia lakukan, adalah mengamatimu setiap hari.”


“HAA..!” kaget mereka.


Sebelumnya...


 Mentari tiba dihadapannya,“Ehem... hey Kau!”


“Aku?” tanya cewek berkacamata yang berbody Sexy itu, saat menoleh ka arah Mentari. Dan Mentari langsung duduk disebelahnya.


“Iya, siapa lagi?” ucap Mentari


“A-Ada ap-a?” gugup cewek kacamata itu.


“Kau kenapa gugup? Aku hanya mau bertanya padamu. Kenapa Kau selalu membuntuti temanku?”


“Ma-mana ada! A..ku tidak membututinya.”


“Jangan bohong! Kegugupanmu tidak bisa membohongiku.”


Cewek itu termenung, “A..nu. Sebenarnya... A-Aku.. i...ngin mendekati..nya.” Cewek itu menghela nafas.


“Oh begitu,” jawab Mentari.


Kembali lagi ke setelahnya....


“Tetap saja menakutkan, meskipun Aku telah mengetahui yang sebenarnya,” kata Sakti.


“Hahaha..., Kalau gitu hampiri saja dan ajak obrol Dia. Siapa tau Dia mendengarkanmu dan tidak membuntutimu lagi,” saran Surya.


“Ide bagus, Om-om genit.”Dengan sigap Sakti mengampiri cewek berkacamata itu.


“Jangan panggil Aku, Om-om Genit!” teriak Surya tanpa batas dan seketika seluruh pandangan menjadi tertuju padanya.


“Hehehe...maaf,” desis Surya dengan rasa malu di benatnya.


Sakti duduk di sebelah cewek kacamata itu, dan terlihatlah wajahnya menjadi gugup, saat melihat Sakti.


“Kau kenapa gugup?”


Dalam hati Sakti, “Seperti yang dikatakan Mentari, Dia cewek yang sifatnya gugup.”


“Ng-ngga kok,” katanya sambil bercucuran keringat dan tatapan penuh malu.


Dalam hati sakti, “Oh iya, karena tadi Mentari lupa memberi tahu namanya. Aku mulai saja dari nama.”


“Namamu siapa?” Sakti menjulurkan tangannya.


Cewek itu dengan pelan memegang tangan Sakti dan berkata, “Na-namaku Dewi."


“Namaku Sakti, salam kenal.”


Dan beberapa saat ketika berjabat tangan dengan Sakti, Dewi menjadi halusinasi...


“Pelan-pelan, sayang,” kata Dewi.


 


“Ya, ini sudah pelan-pelan kok. Kamu diam saja Dewiku, nanti malah kesakitan.”


“Ah..A...H,” teriak Dewi.


“Sudah kubilang, tanganmu diam saja! Nanti tambah sakit kan!”


“Masih kurang pelan Sakti! Nanti adonannya tidak dapat mengembang dengan benar. Seandainya saja tanganku tidak terluka bakar, Aku akan mengaduknya lebih lembut darimu.”


Dewi pun tersadar dari halusinasinya, sesudah bersalaman dengan tangan Sakti.


“Kenapa Aku jadi halu,” dalam hati Dewi.


“Aku boleh bertanya sesuatu tidak?” tanya Sakti.


“Bo-boleh boleh. Silahkan saja.”


“Kenapa Kau membuntutiku terus? Kenapa Kau melakukannya?”


“Ah.. Anu.. Hmmh. A-Aku hanya ingin berbicara berdua denganmu, seperti ini.”


Dewi tiba-tiba terkejut dan langsung menutup mulutnya. “A-Aduh, ke-ceplosan!” dalam hati Dewi.


Sakti tersenyum usai mendengarnya langsung, “Jadi begitu ya. Baiklah.”


Sakti menyerahkan kartu namanya kepada Dewi, “Ini, nomorku. Kau bisa mengobrol denganku lewat chat, sehabis pulang kerja.”


“A-A..Anu.. Aku tidak minta nomormu.”


“Tidak apa. Aku memberi nomorku ini, supaya Kau tidak membututiku lagi. Mulai sekarang jangan membuntutiku lagi ya.”


Sakti mengelus sedikit kepalanya Dewi dan kembali lagi pada teman-temannya. Pipi Dewi memerah seperti Jelly bewarna pink, saat kepalanya disentuh oleh tangan Sakti, sekaligus senyuman Sakti yang ditujukan padanya.


Sakti sudah tiba lagi di hadapan mereka, namun ketika baru saja satu detik ia duduk. Bel masuk atau bel jam istirahat telah selesai, berdering melintasi telinga mereka semua....


“Kenapa sudah berbunyi! Aku belum menghabiskan makananku!”


“Sudahlah Sakti, ayo kita kembali.” Surya, Dimas dan Mentari berdiri dan mengambil piring-piringnya yang telah dipakai mereka.


“Tak apa Sakti, nanti kita bisa makan lagi sewaktu di Cafe,” bujuk Mentari yang melihat Sakti terdiam kesal.


“Baiklah...,” ujar Sakti dengan pasrah dan lesu.


Weekend tiba....


Mentari mengangkat hapenya, lalu menghubungi nomor Sakti yang tersimpan pada kontak ponselnya.


“Hallo Sakti, hari ini jadi kan ke Cafe?”


“Iya, jadi dong,” suara Sakti yang terdengar lemas.


“Jam berapa?” tanya Mentari.


“Sebelum siang kita ke sana. Dan nanti Kau, Aku jemput ya.”


“Yang benar, Kau mau menjemputku? Memangnya Kau tau rumahku di mana?”


“Kau kan bisa share lock, Mentari..! Sudahlah, sekarang tidur dulu.”


“Kenapa?” kata Mentari sambil melintir rambutnya.


“Sekarang... Masih jam tiga pagi tahu! Kenapa Kau rajin sekali menghubungi orang di jam segini?”


“Hehehe...maaf-maaf. Bagiku, sudah terbiasa bangun jam segini. Karena banyak yang harus kulakukan untuk membantu Ibuku.”


“Apakah di Weekend saja Kau begini?”


“Iya,” jawab Mentari.


“Jadi begitu... Yasudah semangat ya Mentari!”


“Iya, terimakasih Sakti. Kau juga semangat ya tidur laginya.”


“Iya.” Mereka menutup teleponnya.


Dan setelah menutup teleponnya, Sakti merasa seperti ada yang aneh dari telfon yang baru saja ditutup. “Sepertinya, tadi Mentari meledekku ya?” ujarnya dengan mata yang masih terkantuk-kantuk.


“Ya sudahlah, Aku tidur lagi.”


Akhirnya Sakti tertidur pulas, dan kembali ke dalam mimpinya, hingga jam delapan pagi tiba.


“Gawat! Sudah jam delapan pagi. Padahal, Aku berniat untuk bangun jam tiga pagi,” kata Sakti sebelum menguap.


Setelah nyawanya penuh, Sakti turun dari ranjangnya, pergi mencuci pakaian sekaligus menjemurnya. Kemudian mandi dan bersiap-siap tuk menjemput Mentari.


Ia mengambil ponselnya dan meminta Mentari mengirim lokasi rumahnya, melalui aplikasi chat yang mereka gunakan.


“Oke, Aku segera ke sana,” balas Sakti ketika sudah menerima lokasi dari rumah Mentari.


Tibalah mereka berdua di Cafe yang dipilih oleh Sakti, setelah ia menjemput Mentari.


Dan saat memasuki Cafe itu, mereka berdua celingak-celinguk mencari meja kasir di Cafe tersebut.


“Kau, sudah pernah ke sini Sakti?”


“Belum pernah,” ujarnya sambil celingak-celinguk.


“Lalu, Kau tahu cara ordernya bagaimana? Karena disini, Aku tidak melihat ada kasir.”


“Aku, juga tidak tahu posisi kasirnya ada di mana, sekaligus cara memesannya. Sekarang ini, Aku sedang mencari tau.”


“Lalu, kenapa Kau mengajakku kesini?” kata Mentari yang sudah mulai bete.


“Aku mendapat rekomendasi dari temanku. Katanya, disini sangat bagus sekali tempatnya.”


Padahal dalam hati Sakti, “Sebenarnya, karena harganya murah-murah.”


“Ya sudahlah, kita cari sama-sama saja,” kata Mentari dengan wajah bete.


“Order here.” Tulisan yang mereka baca, yang terpampang pada tembok sebelah kanan mereka.


“Permisi, saya mau order.” Terlihat Sakti berbicara sambil menekan sebuah tombol, di bawah papan tulisan tersebut.


“Iya, silahkan, mau order apa?” suara yang berasal dari speaker, yang terletak pada samping tombol tersebut.


“Jadi, cara pesan di tempat ini, pakai suara ya?”


“Iya, benar sekali. Kami memakai System Sosial Distancing.”


“Keren...,” suara pelan Sakti dan dalam hatinya, “Jenis System, yang baru Aku lihat.”


“Hallo, mau pesan apa? Silahkan!”


“Aku mau pesan Americano dan Sandwith dengan selai Stawberry. Kalau Kau pesan apa, Mentari?”


“Aku sama sepertimu.”


“Ya sudah, kami pesan Americano dua dan Sandwith dengan selai Stawbeery juga dua ya.”


“Terimakasih, pesanan akan segera datang. Ini nomor meja Anda.” Secarik kertas keluar dari sebuah lubang di bawah Speaker.


“Woah... keren banget. Nomor mejanya pakai dipilihin,” terkagum Sakti.


“Sepertinya, itu bukan dipilihin. Tapi, nomor antri sekaligus nomor meja kita.”


“Oh, jadi begitu ya. Ya sudah, kita cari meja yang sesuai dengan nomor kita."


“Sepuluh” tulisan di atas secarik kertas tersebut.


Mereka celingak-celinguk mencari meja nomor sepuluh dan didapati mereka, meja itu berada di samping kaca besar yang memperlihatkan pemandangan indah, dari belakang Cafe tersebut.


Mata mereka dimanjakan oleh hijau-hijau gunung dan Air terjun yang cukup memanjakan mata mereka.


Dan hanya ada dua meja saja yang berada di area itu, yaitu meja nomor sepuluh dan sebelas.


“Woahh, indah sekali!” ucap mereka berdua dan mood Mentari kembali normal, alias wajah bete-nya telah sirna, usai melihat pemandangan cantik di hadapannya.


Mereka seketika duduk di meja yang terbilang cukup Epic itu, dan berbincang-bincang sambil menunggu pesanannya tiba.


“Sakti, bagaimana kabar Adikmu?” pertanyaan yang sebelumnya terbesit di pikiran Mentari.


“Baik. Dia sehat-sehat saja,” jawab Sakti sambil menoleh ke jendela besar tersebut.


“Syukurlah.”


“Kalau Adikmu bagaimana?” tanya balik Sakti.


“Aku tidak punya Adik,” jawab Mentari.


“Kakakmu?”


“Sama, Aku tidak punya Kakak. Aku anak tunggal.”


“Oh begitu. Aku baru tahu.”


“Kau, kenapa diam?” sambung Sakti setelah beberapa saat kemudian.


“Itu...,” tunjuk Mentari, “Ada pasangan kekasih yang baru saja menempati meja nomor sebelas.


Perlahan-lahan, Sakti menoleh ke arah meja yang berada di belakangnya itu. Lalu dilihatnyalah, seorang yang baru saja duduk di meja tersebut, yang juga menoleh ke arah Sakti.


Empat, lima detik terhening, dengan wajah bengong mereka. Setelah itu, timbullah suara dari keduanya.


“Sakti?” “Budi?” mereka berdua sontak berdiri.


“Woah Budi! Bagaimana kabarmu?” Keduanya melakukan salaman persahabatan/kekariban.


“Baik sekali, Kau sendiri bagiamana?” Mereka masih salaman.


“Aku sangat baik. Wah ada Nadine juga, bagaimana kabarmu? Kalian berdua pasti sedang ngedate ya?”


“Aku juga baik Sakti,” jawab Nadine.


Budi menoleh ke arah seorang cewek yang tengah duduk di meja nomor sepuluh.


“Kau dulu meledekku dengan sebutan Bucin. Sekarang, Kau juga ikut Bucin ya Sakti.” Budi menaikan kedua alisnya dua kali dengan maksud meledek.


“Tidak, Dia hanya teman kantorku kok.”


Budi tersenyum padanya seolah meledek, “Benarkah?”


“Iy-“


“Iya benar. Dia pacarku, dan sekarang kami sedang ngedate,” sahut Mentari sambil tersenyum.


Sakti terkejut mendengar perkataan Mentari barusan, dan ia perlahan-lahan menoleh ke arah Mentari, yang sedang tersenyum padanya. Dalam hati Sakti, “Duh.. manis sekali senyumannya.”


“Permisi, pesanan meja nomor sepuluh sudah datang,” kata pramusaji yang telah datang membawa pesanan Sakti.


Akhirnya, karena kejadian yang tak sengaja dan tak terduga itu, mereka berempat menjadi double date hingga petang menyambut.


Saat dalam perjalanan pulang...


“Kau, kenapa bilang Aku ini pacarmu?” tanya Sakti yang sedang mengemudikan motornya.


“Tak apa. Pasti Kau malu dengan temanmu itu kan.”


“Tidak juga sih,” ucap Sakti dengan wajah yang tersipu malu.


“Oh iya, memangnya mereka itu teman apamu?”


“Mereka berdua teman sekampusku, sewaktu kuliah. Kita bertiga disebut Triware. Karena kami berhasil membuat aplikasi yang sangat membantu, bagi para montir dan pengguna mobil, lalu kami telah menjual paten kami.”


“Woah, hebat sekali Kau.”


“Terima kasih.”


“Aku jadi lebih senang jalan denganmu.” Mereka berdua tersipu malu dengan pipi bewarna merah jambu.


Dalam hati Mentari, “Aku suka padamu Sakti.”


Dalam hati Sakti, “Mentari, Aku tahu Kau menyukaiku. Begitupun sebaliknya, tapi Aku tidak bisa bepacaran denganmu sekarang. Sebab, Aku harus focus mempersiapkan diriku, baru melamarmu.”


Bersambung...


Vote dan tambahkan ke favorit ya. Untuk mendukung dan memberi semangat pada Author.