Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Cerah Kembali (End)



“Light System, organisasi mata-mata dunia?” renung Sakti. “Apa Kau, juga beraksi di negara lain?”


“Tidak. Kami hanya bekerja, di Wilayah Negara ini saja. Karena pusat Light System sangat rahasia, dan markas-markas lainnya adalah cabang bagi setiap negara. Kami sebagai agen dengan Tingkat Elit, tidak boleh mencampuri urusan pusat.”


“Kenapa seperti itu?” tanya Sakti dengan sedikit batuk.


“Tidak memenuhi syarat, dan yang pastinya sangat berbahaya. Karena, pusat tidak boleh dicampuri oleh mata-mata tingkat rendah. Itu, hanya membuat mereka kerepotan dalam menjalankan misi tingkat S. Hanya Tingkat Master dan Epic yang diizinkan melakukannya.”


“Benar. Ada empat tingkat dalam Light System, Elite, Profesional, Master dan Epic. Yang terendah adalah Elite, dan yang tertinggi Epic,” terang Ivana.


“Kalian, beraksi selihai dan sehebat tadi, masih tergolong tingkat rendah?” tanya Mentari dengan shock.


“Benar sekali, karena mata-mata Light System bukan mata-mata sembarangan. Meskipun Elite, tetap harus terlatih dan lihai dalam melakukan misi. Maka dari itu, kami semua harus melewati tes, sebelum menjadi mata-mata tingkat Elite.”


“Bagaimana, cara kalian menaikan tingkat?”


“Jika, diantara kami ingin menjadi Mata-mata Epic, harus melewati tes yang cukup berat. Layaknya anggota militer.”


“Jadi, seperti itu....”


“Bagaimana? Apa kalian berminat untuk bergabung dengan Light System?” tanya Ivana kembali, yang sontak membuat mereka gugup.


“Eh ah.. itu, sepertinya, sepertinya, akan kami pikirkan nanti,” ucap Sakti saat gugup, dan Mentari berlidung di belakang Sakti.


“Ya sudah. Kami tidak bermaksud memaksa kalian, tapi jika kalian butuh sesuatu yang berhubungan dengan mata-mata, hubungi Aku ya Sakti.”


“Bukannya, Aku harus merahasiakan kalian? Kenapa Kau minta dihubungi?”


“Kau kan bisa menggunakan nomor handphone biasa, jadi tak ada siapapun yang curiga. Ingat! Jika penting dan genting saja ya,” pinta Bagas.


“Iya, tenang saja. Baik dan terimakasih telah menyelamatkan kami dari bencana ini.”


“Sama-sama, baiklah. Kami pergi dari sini ya, apa kalian tidak ingin pulang? Gedung ini bisa roboh kapan saja loh, karena serangan Robot tadi,” kata Bagas saat menghampiri mobil miliknya.


“Iya, tenang saja. Kami akan segera pulang, Aku sedang mengumpulkan energi sedikit lagi. Mentari, Kau bisa membantuku berjalan kan?”


“Ya, tentu saja bisa,” jawab Mentari sekaligus membantu Sakti berdiri.


“Ya sudah, ayo kita berangkat Ivana,” ucap Bagas, saat Ivana telah siap dengan motornya. Mereka pun pergi duluan meninggalkan Sakti dan Mentari.


Kemudian Mentari membawa Sakti keluar, dari halaman gedung tersebut dengan motor gedenya. Yang sebelumnya terparkir, tidak jauh dari pintu gerbang Gedung Kosong Tua itu. Sepertinya, Gedung tersebut dulunya adalah, Mall yang terkenal dengan kemegahannya.


 “Kau bisa bawa motor gede ternyata,” kata Sakti kepada Mentari yang mengemudikan motor, saat perjalanan pulang.


“Iya, bagiku ini adalah hal yang mudah. Besok Kau bawa motor ini ya!” iseng Mentari untuk mencairkan suasana. 


“E... sepertinya tak bisa. Badanku masih terasa Sakit, jadi nanti saja ya setelah pulih.”


“Oh iya. Soal tawaran dari teman aneh Kau itu, bagaimana?” tanya Mentari yang masih mengemudikan motornya.


“Kenapa?”


“Apa Kau berubah pikiran dan mau menerima tawaran tadi?” tanya Mentari, yang sepertinya sangat penasaran.


“Tidak tahu, Aku tidak ingin terlalu memikirkannya.” Sakti termenung, “Aku sudah berjanji tak akan membahayakanmu lagi Mentari. Jika, Aku bergabung pasti Kau juga akan mengikutiku, atau Kau bisa terlibat dalam urusan mata-mata, seperti tadi. Makannya, Aku tak ingin itu terjadi lagi.”


“Mentari, Kau kenapa menanyakan itu? Apa Kau ingin bergabung?”


“Sepertinya menarik.”


“Apa? Woy, itu pekerjaan berbahaya tahu! Kenapa Kau masih bisa-bisanya sesantai itu?” panik Sakti.


Mentari terkekeh, setelah mendengar perkataan Sakti tersebut, “Aku, hanya bercanda. Kau serius sekali ya, hehehe.”


“Aduh Mentari, Aku kan masih Shock. Kau masih sempat-sempatnya mengajakku bercanda. Apa Kau sudah tidak shock?”


“Justru, Aku ingin meghilangkan rasa shock kita tahu! Sudahlah, lebih baik Kita diam saja, Kau kan masih sakit.”


Tibalah Sakti di rumahnya bersama Mentari yang mengantarkannya pulang. Karena malam yang sudah terlalu larut dan mereka yang telah kelelahan. Akhirnya, Mentari menginap di rumah Sakti untuk beristirahat.


 “Terima kasih Mentari, Kau baik sekali. Setelah ini, Kau tidur di kamar Adikku ya,” kata Sakti setelah makan sejenak dengan Mentari.


“Oh iya, kemana Adikmu?”


Datanglah Adik Sakti dari lantai atas, yang terbangun karena obrolan mereka tadi.


“Kakak, sedang bersama siapa?” kata Sri sambil mengucek matanya.


“Pacar ya?” sambungnya.


“Sudah, tak usah kepo Kamu. Kau antar saja Kakak ini ke kamarmu ya.”


“Kakak sepertinya lelah sekali. Mau kubuatkan teh hangat sebelum tidur” saran Sri, adik perempuan Sakti.


“Boleh, terima kasih banyak,” jawab Mentari dengan senyuman manisnya, meskipun terlihat berantakan. Kemudian, Mentari diantarkannya ke kamar mandi, sebelum tidur di kamarnya.


“Baiklah, Kakak mandi dulu ya, soalnya wajah Kakak berantakan sekali. Aku akan membuat teh hangatnya,” kata Sri saat memberinya handuk bersih dan pakaiannya.


Sementara Sakti yang masih berada di ruang tamu, mengirim pesan kepada Pak Dharma bahwa telah selesai. Dan maaf telah memblokir panggilannya secara tiba-tiba.


“Dengan begini, Pak Dharma bisa tidur dengan nyenyak.”


Keadaan Pak Dhama yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya, oleh karena notifikasi ponselnya. “Bisa-bisanya, dia membuatku panik. Tapi, syukurlah semuanya telah selesai.”


***


Pada paginya, adalah hari yang cerah bagi mereka semua. Karena telah mengusir Dark System dari perusahaan Game tersebut. Pak Direktur juga akan memperbaiki kesalahannya, waktu itu.


Sedangkan Rendy, telah dibawa ke kantor polisi karena keteribatannya dengan penjahat. Dan Sakti, Mentari serta Surya kembali berangkat dengan hati yang gembira. Dan mereka bertemu di halaman Gedung Perusahaan Game tersebut.


“Hai, Surya!” sapa Mentari.


“Sakti, Mentari!” sontak wajah Surya terheran, “Kenapa Kau memakai perban di kepala dan lenganmu?”


“Ah, ceritanya panjang. Aku agak malas menjelaskannya kepadamu. Oh iya, bagaimana dengan Rendy?”


“Dia sudah berhasil kami amankan, kemarin malam. Dan berhasil di bawa ke kantor polisi. Semua ID card jug-“


Ucapan Surya terpotong, karena sesuatu baru saja terlintas dalam kepalanya, “Mentari! Kau sud-“


“Sudah kok. Tenang saja, Sakti juga telah melihatnya. ID CardKU dalam sekejap, lenyap tak tersisa sedikitpun,” jawab Mentari dengan senyumannya.


“Wah, bagus deh.” Surya menghela nafas, “Kau, melenyapkannya dengan menggunakan apa?”


“Bola listrik.”


Surya terheran, dengan jawaban yang baru saja dilontarkan padanya, “Bola listrik? Apa itu?”


“Sudahlah, nanti saja. Kami lagi malas menjelaskannya,” sahut Sakti.


“Hei, hei. Dari tadi kau bilangnya nanti saja. Sebenarnya, Aku juga menemukan barang aneh dari Rendy.”


“Barang aneh, seperti apa?” tanya Sakti yang tiba-tiba terheran, “Apa seperti, miliknya Bagas?”


“Nanti saja ya, setelah Kau menceritakan yang tadi itu, baru Ku ceritakan juga. Kau pasti juga penasaran kan?”


“Ya sudah, nanti saja. Aku juga tak ada masalah.”


Sampai keluar dari lift, Sakti teringat dengan sesuatu yang janggal dari kejadian kemarin. “Sepertinya, ada yang ketinggalan.”


“Oh, Supir yang bersama Sudarma. Kemarin Aku tak melihatnya sama sekali, setelah selesai. Ya sudahlah, sudah selesai.”


~TAMAT~