
“Okay, Berkasnya sudah dalam tanganku.”
“Kau akan menyerahkannya kapan? Kita belum mendapatkan bukti pembicaraannya.”
“Sepertinya ***-“ obrolan Sakti terpotong, karena melihat Pak Direktur tengah berjalan bersama Pak Sudarma di tempat parkir.
“Hallo! Ada apa?”
“Aku melihat Pak Direktur akan keluar bersama Sudarma malam ini. Dan mereka sudah keluar dari tempat parkir.”
“Kalau begitu rencana B. Kejar mobilnya dan cegat di tengah jalan.”
“Baik,” jawabnya.
Sakti mengejar Mobil Pak Direktur dan berhasil menghadang mobil mereka di jalanan yang cukup sepi. Pak Direktur keluar dari mobil dan berkata,
“Kau siapa? Kenapa menghentikan perjalanan kami?”
Dalam hati Sakti saat melihat Pak Direktur keluar dari mobil, “Dengan begini Dark System akan lenyap.”
Sebelumnya....
Ada dua orang mahasiswa yang sedang duduk di bawah pohon, dekat sungai kampus yang sangat bersih.
“Sesuatu yang mengendalikan keadaan sebuah tempat dinamakan System. Dan Sistem yang terkontaminasi oleh sesuatu hal buruk disebut Dark System,” ucap seorang yang bernama Sakti.
“Oh, jadi itu perbedaan System biasa dengan Dark System,” respon temannya yang bernama Budi.
“Salah satu contoh dari System yang sering kita lihat adalah Sistem Buka tutup atau Ganjil genap.”
“Kalau contoh Dark System apa?” tanya Budi.
“Di sini dikatakan, tempat dan suasana yang dikendalikan oleh individu/suatu kelompok demi kepentingannya sendiri dengan tujuan tertentu. Jadi tempat itu penuh dengan ketidakadilan, semena-mena, penderitaan, kecurangan yang ditutupi, demi keuntungan seorang individu ataupun kelompok tertentu. Buku yang Aku baca ini sangat unik, untung saja Aku meminjamnya dari Bu Ningsih,” kata Sakti.
Budi termenung setelah mendengarkan keterangan dari Sakti mengenai Dark System,
“Sakti, menurutmu apa di kampus kita ada yang namanya Dark System?”
“Ussss, jangan ngomong sembarangan! Mana mungkin yang seperti itu ada di kampus kita! Dan yang pasti, jangan sampai ada Dark System di tempat ini.”
“Habisnya, waktu revisian skripsi! Aku merasa tersiksa sekali.”
“Yaelah, itu bukan Dark System. Semua mahasiswa/siswi dari kampus manapun, juga merasakan tersiksanya karena skripsi.”
“Apa benar begitu?"
“Ya, yang Kau keluhkan hanya masalah menjadi Profesional. Kalo di kampus kita ada Dark System, sudah pasti kita merasa ada yang aneh dan janggal, seperti Deadline Skripsi yang semena-mena. Lagi pula kenapa Kau berpikir seperti itu?”
“Ngga juga. Aku hanya bertanya saja.”
“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, yang penting kita sudah selesai. Udah pulang yuk, besok kan kita Wisuda,” kata Sakti setelah menutup bukunya.
Tibalah hari wisuda di Kampus mereka; Sakti dan Budi berjalan ke tempat penyelengaraan acara wisuda. Mereka adalah Mahasiswa Baru lulus dari Fakultas Telekomunikasi. Dan ada satu orang lagi, yang adalah anggota grup mereka.
“Eh Budi! Nadine mana?” tanya Sakti yang tengah berjalan bersama Budi.
Terdengar suara panggilan dari belakang mereka berdua,
“Sakti, Budi!” Tunggu!” suara itu membuat mereka menoleh ke belakang.
“Tuh, Dia,” tunjuk Budi dari orang yang dimaksud.
Mereka bertiga sangatlah terkenal di dalam kampusnya, karena Project Tugas Akhir mereka yang memukau dan karena itu juga mereka disebut Triware.
Tugas yang mereka kerjakan dan lakukan adalah membuat aplikasi yang sangat bermanfaat dari anak-anak lain, yaitu Aplikasi bengkel kemana saja. Bahkan, sampai dibeli patennya oleh perusahaan Ojek Online dan mereka pun menyetujui penjualan patennya.
*Triware \= Tiga orang yang mempunyai skil diatas rata-rata dalam suatu kampus.
Mereka bertiga tengah berjalan ke Aula kampus untuk acara wisuda, tetapi ada suara teriakan sepanjang mereka berjalan, yang menyangkut nama mereka,
“Itu Dia, Triware dari kampus kita!” teriak seseorang yang membuat semua pandang tertuju pada mereka.
“Kita kan cuma lewat doang, kenapa diteriakin?”
“Sudahlah, seperti tidak tahu saja. Udah lima hari kita diteriakin orang-orang yang berbeda-beda.”
“Bukannya, udah sebulan yang lalu?”
“Udahlah, Diam! Keburu telat nih,” kata Sakti.
Dalam hati Budi yang berada di sebelahnya, “Kita kan udah di kampus.”
Akhirnya mereka pun sampai di Aula Kampus yang terbilang besar, dan mereka duduk di salah satu bangku dari banyaknya bangku yang telah disiapkan.
“Eh, liat deh ke sana!” tunjuk Nadine saat mereka tengah menunggu acaranya dimulai.
Mereka berdua menoleh ke arah yang dimaksud Nadine.
“Kenapa?” Yang itu? Itu bukannya Ivana ya?” tanya Sakti, dari posisi mereka melihat Ivana, pada jarak lima baris.
“Iya, cewek yang paling cakep tapi sifatnya cool banget. Bukan cuma itu, Dia orang yang lingkupannya kecil. Cuma orang-orang tertentu doang, yang bisa jadi temannya.”
“Terus ada apa Nadine?” tanya Sakti.
“Katanya, kemaren ada yang nembak, tapi Dia malah dikacangin begitu aja.”
“Uhw, pasti sakit,” sahut Sakti.
“Bukan itu doang! Udah dikacangin, terus ditinggal jalan bersama cowok terdekatnya Ivana loh.”
“Udah sakit, tambah perih. Emang siapa yang nembak Ivana?”
“Budi,” jawab Nadine.
“Cie-cie, ceritanya Nadine cemburu nih? Kok bisa tau, Budi lagi nembak? Pasti diem-diem ngikutin pergerakannya Budi ya.”
“Em, itu. Anu,.. ngga kok. Gua cuma lagi jalan sama temen gua,” ujar Nadine dengan senyum palsu.
“Halah, ketauan kok.”
Dalam hati Nadine yang ketahuan tingkahnya, “Aku menyesal telah memulai pembicaraan.”
***
Setelah berjam-jam, akhirnya mereka dinobatkan sebagai Sarjana di Campus Ubi Ungu. Mereka bertiga berkumpul di halaman kampus setelah melempar-lempar Toganya.
“Kita akan melanjutkan kemana? Aku sudah menyiapkan daftar perusahaan yang cocok dengan kita.” Nadine mengeluarkan daftarnya dan menunjukannya kepada mereka.
“Tapi, kenapa kita tidak mengembangkan Aplikasi yang sudah kita buat?” tanya Budi.
“Waktu itu, kita sudah sepakat untuk menjual patennya. Masa Kau tidak ingat? Kalau kita kerja di perusahaan yang beli paten kita....”
“Kenapa?” penasaran Budi dan Nadine.
“Kita bakal dibilang orang aneh,” sambung Sakti.
“Mungkin saja kita akan dianggap, tidak bisa mengembangkan aplikasi itu secara pribadi. Atau Kita dianggap belum cukup puas dengan bayarannya, atau-“
“Atau apa? Sudahlah, biarkan saja! Itu kan, hanya sekedar omongan orang dan tak lebih dari orang asing,” kata Budi Si Pria berkacamata yang memotong kalimat Sakti.
“Sebenernya Aku, A-Aku.. ingin membuat program Game,” ujar Sakti.
“HAA...!” suara Budi dan Nadine yang terkejut mendengarnya.
Karena mereka dari awal selalu membuat program-program aplikasi dan selalu menolak untuk membuat Game.
“Jadi alasanmu itu ya?”
“Kalau kalian tetap ingin mengembangkan aplikasi yang telah kita buat itu, silahkan saja. Tapi, Aku akan mencoba hal baru dan Aku sangat ingin sekali membuat Game. Aku sudah tak peduli dengan kesepakatan kita saat itu. Karena hanya akan menghalangi jalanku. Maka dari itu, Aku akan segera melamar di perusahaan Game.”
Budi yang baru saja mendengar perkataan yang dilontarkan Sakti, membuatnya tersenyum.
“Ya sudah, itu kebebasanmu juga. Dan lagi pula, kita ini Triware terhebat di kampus ini. Jadi tidak akan ada perusahaan yang menolak kita."
“Maksudmu apa? Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?” tanya Nadine.
“Sebenarnya Aku juga ingin bekerja di perusahaan lain. Yaitu di Perusahaan E-Money untuk menantang diriku sendiri. Sepertinya menarik sekali jika bekerja di bagian keamanan System,” kata Budi.
“HAA...!” terkejut mereka.
“Jadi sebenarnya, Kau tertarik dengan Cyber atau Keamanan System?”
“Ya begitulah. Aku setuju denganmu Sakti, mari kita lupakan kesepakatan awal. Kalau Kau bagaimana Nadine?”
“Aku...” Nadine termenung mendengar pendapat mereka yang memilih berpisah dan berjalan di jalan masing-masing.
“Memangnya, Kau belum sama sekali menentukannya?” tanya Sakti.
“Sudah sih.”
“Kalo begitu, apa?” penasaran Sakti.
“Sebenarnya Aku ingin mengikuti Budi, karena Aku sudah terbiasa selaras dan bisa melengkapi setiap pekerjaan Budi," jawab Nadine.
“Bucin...,” kata Sakti.
“Hey, hey, jangan salah paham Sakti! Kau tidak mengerti yang dinamakan keselarasan dalam bekerja," tegas Budi.
“Hmhh, Aku sudah tau kok. Kau tadi menembak Nadine ketika Aku pergi ke toliet.”
Mendengar hal itu, Budi dan Nadine seketika menjadi Canggung.
“Bagimana Dia bisa tau?” dalam hati Budi.
“Bukan hanya itu, Aku juga sekalian merekamnya, hehehe...”
“HAA...! Kenapa Kau merekamnya Sakti? Tolong dihapus!” panik Budi.
“Tidak usah dihapus, ini untuk kenang-kenangan.”
“Tolong dihapus Sakti, kumohon... kita kan sudah tukar Kado perpisahan.”
“Oh, Kadomu itu yang.... Roller Skates itu kan?”
“Iya, benar sekali. Bagus kan?” tanya Budi dengan harap Sakti mau menghapus rekaman tersebut.
“Bagus sih, Tapi... apa hubungannya dengan rekaman Kau menembak Nadine?” ledek Sakti.
“Jahat sekali Kau Sakti,” dalam hati Budi dengan pasrah.
Nadine tak diam saja melihat hal yang sedang terjadi di depan matanya, “Tolong Kembalikan Sak-“
Belum selesai Nadine memanggil, suaranya terpotong oleh teriakan yang sangat kencang.
“SAKTI!” panggil seseorang dari jauh, kemudian orang itu berjalan ke arah mereka bertiga.
Orang yang tengah mereka lihat dan sedang menghampiri mereka, membuat Sakti terkejut sekaligus panik.
“Gawat, Gawat, Gawat,” kata Sakti ketika menoleh pada orang yang memanggilnya.
Bersambung...
klik vote dan tambahkan favorit untuk mendukung Author ya.