
“Gawat kenapa Sakti?” tanya Budi.
“Iya, tiba-tiba bilang Gajah makan Kawat, Gawat.”
“Aku belum mengembalikan Buku yang kupinjam dari Bu Ningsih. Sepertinya Dia sedang ke sini dengan penuh kesal."
“Sakti!” suara panggilan yang semakin dekat, bersamaan dengan orangnya.
“Sakti, saya cari kemana-mana dari tadi. Ternyata ada disini,” kata Bu Ningsih ketika sudah sampai dihadapan mereka.
“Maafkan saya Bu, Maaf-maaf. Aku pasti akan mengembalikannya,” kata Sakti sambil mencium-cium tangannya Bu Ningsih.
“Kenapa minta maaf?” heran Bu Ningsih.
“Ibu datang kesini, untuk memarahi saya kan? Soalnya, saya lupa mengembalikan buku yang saya pinjam,” kata Sakti sambil melepas tangannya Bu Ningsih.
“Hey, hey, hey... Siapa yang ingin menagih buku? Buku itu emang buat kamu Kok. Ibu hanya ingin foto bersama dengan kalian, untuk kenang-kenangan.”
“Oalah...!”
Begitulah moment perpisahan mereka sebelum berpisah dan sebelum Sakti bekerja di perusahaan Game pilihannya.
Satu bulan kemudian,
Sakti telah selesai mengurus sisa-sisa urusan kampusnya, seperti sertifikat dan urusan lainnya. Sakti juga telah mempersiapkan Berkas-berkasnya untuk melamar pekerjaan di Perusahaan Game yang Dia tuju.
Dan pagi ini, ia akan berangkat melamar pekerjaan di salah satu Perusahaan Game yang cukup populer.
Yang lebih unik dari Sakti, ia berangkat dengan Roller Skates kesayangannya, meskipun sudah berkali-kali diperbaiki.
“Karena ini masih bisa dipakai, Aku pakai Roller Skates ini saja dulu.”
Akhirnya ia selesai berwawancara dengan HR dan hasil akhir dari Interview itu, Pak Hrd berkata, “Selamat bergabung dengan kami.”
Mereka berjabat tangan. “Baik Pak, saya akan memaksimalkan kinerja saya disini. Mohon Bimbingannya!”
Sakti diantar oleh HR, ke kantor Divisi yang akan Dia tempati untuk bekerja.
“Nah, kantor kamu disini. Sesuai dengan yang kamu minta di Divisi Programing. Dan kamu akan dibimbing oleh Bapak ini,” kata HR.
“Pak Dharma!” Panggil HR, kepada Pak Dharma yang tengah bekerja mengintruksikan para Programmer, yang jumlahnya sekitar seratus orang.
Ketika Pak Dharma berbalik menoleh kepada mereka, Sakti sangat terkejut melihat wajah orang yang dipanggil HR itu.
“Pak DharmaWangsa?”
“Kamu Sakti kan?”
“Bukan, saya orang biasa.”
“Maksud Saya, namamu Sakti kan? Kamu yang sering main ke rumah saya kan?”
“Iya Pak Dharma. Sepertinya kita sudah lama tidak bertemu sejak saya sibuk revisi.”
“Loh, kalian berdua sudah saling kenal?” tanya HR yang tengah memperhatikan mereka berbicara.
“Benar, Dia ini mantan Mahasiswa dari tempat Istri Saya Mengajar sebagai Dosen. Dia selalu ke rumah saya untuk belajar lebih bersama dua orang temannya itu. Oh iya. Kemana dua temanmu?”
“Mereka bekerja di tempat lain Pak."
“Oh begitu.”
“Bagus deh, sisanya saya serahkan kepada Pak Dharma ya,” kata HR.
“Baik Pak,” jawab Pak Dharmawangsa dengan senyum ramah.
Pak Dahramwangsa adalah Master IT, yang bekerja di perusahaan game tersebut sebagai Pimpinan Tim.
Maka dari itu, mereka bertiga bisa sampai disebut Triware, karena selalu belajar bersama programmer level Master, yakni Pak Dharma. Pak Dharmawangsa mengajarkan dan membimbing Sakti di hari pertama kerjanya, untuk menyesuaikan diri serta hal-hal apa saja yang harus dikerjakan Sakti.
Saat Pak Dharma telah selesai membimbing Sakti, ia pergi ke ruangan pribadinya.
“Hei, namamu Sakti ya?” ajak obrol seorang Programmer yang bekerja di samping Sakti.
“Iya, namamu siapa?” balas Sakti dengan ramah.
“Surya, salam kenal.”
“Dari Kampus mana?” tanya Sakti.
“Hm.. kampus?” kata Surya sambil berpikir.
“Kau lulusan kampus mana?” tanya Sakti sekali lagi.
“Aku bukan dari lulusan Kampus ataupun Universitas. Awalnya Aku sangat menyukai Programing dan belajar otodidak. Lalu melanjutkannya ke pelatihan khusus programming selama Tiga bulan, pada saat lulus Sma.”
“Apa? Otodidak? Hebat sekali.”
“Ahh, biasa saja. Jangan dilebih-lebihkan.”
“Oh ya, kamu pas sekali masuk hari ini,” kata Surya.
“Kenapa?” tanya Sakti.
“Hari ini, adalah awal pembuatan Game kami yang terbaru. Kali ini adalah Game Mobile Analog, yang akan dipasang di Lazy Store.”
“Kalo begitu pasti ada bagian jaringan dong. Karena game ini kan Game Online.”
Dalam hati Sakti, “Kalau tahu gini, Aku ajak Budi.”
“Kenapa diam?”
“Oh, ngga kok. Cuma keinget temen kampus aja.”
“Teman ya? Enak sekali ya, kamu punya teman yang kelihatannya membuatmu bahagia. Kalo Aku, sewaktu Sma sama sekali tidak punya teman yang bisa diajak ngobrol. Mereka semua hanya ingin membully diriKu dan menjadikanku bahan ejekan. Masa Sma Ku selalu sendirian dan hanya duduk diam dikelas saja. Sedangkan mereka, mempunyai geng atau grup masing-masing, dan asik bercanda satu sama lain.”
“Jadi tak ada yang mau bercanda denganmu?”
“Begitulah, Aku ingin sekali punya grup pertemanan dan akrab dengan mereka.”
“Kalo boleh tau, orang tuamu bekerja sebagai apa? Maaf, bukannya menghina, tapi Aku hanya ingin tahu. Ketika orang tuamu bekerja, apakah mereka selalu pulang?”
Mendengar perkatan guyonan Sakti, membuat Surya tertawa. “Hahaha.... Pertanyaanmu aneh sekali, ya orang tuaku sehabis kerja langsung pulang dong. Memangnya, orang tuamu tak langsung pulang?”
“Iya..,” jawab Sakti sambil termenung.
Surya terdiam, ketika mendengar jawaban Sakti yang tak terduga.
“Orang tuaku memang tidak langsung pulang ke rumah. Hanya sekali dalam setahun saja, mereka pulang. Karena, mereka berdua bekerja di luar negeri dan selama sepuluh tahun, Aku tinggal berdua saja dengan Adik perempuanku,” ujar Sakti dengan sedikit termenung.
“Maaf, Aku tak sengaja dan tidak tahu sama sekali. Maafkan Aku sekali lagi,” sesal Surya.
“Tak apa, Aku mengerti kok.”
“Gawat, sudah berapa lama kita mengobrol?” sahut Surya.
Hal itu sontak membuat mereka, kompak menoleh ke arah Jam Dinding.
“WAA...! Sudah satu jam lebih,” kaget mereka berdua.
“Gawat! Jangan sampe kita dimarahi Pak Dharma,” kata Sakti.
Mereka pun melanjutkan pekerjaannya sebelum ketahuan dan ditegur oleh Pak Dharmawangsa.
Istirahat kerja...
Ketika bel istrihat berbunyi, mereka semua pergi ke kantin yang terbilang cukup besar, dengan makanannya yang enak-enak plus Gratis.
“Untung saja, kita berhasil menyelesaikan masalah kita, sebelum terjadi kekacauan ya,” ujar Surya yang tengah duduk di kantin bersama Sakti.
“Padahal Kau Senior, tapi baik sekali mau menemaniku makan di kantin,”
“Ah, tak usah dipikirkan.”
“Masalahnya... kita berdua kan Cowok!” kata Sakti dengan tatapan tajam.
“Hey, hey, Aku mengajakmu makan bareng, untuk melanjutkan obrolan tadi. Jangan salah paham!"
“Baiklah kalau begitu, Aku juga ingin menerangkan masalah yang Kau ceritakan tadi, mengenai pergaulanmu pada saat Sma,” balas Sakti.
“Pergaulanku? Kenapa?”
“Kau sering diejek dan dibully karena... Kau Tak Pandai bergaul Tau!”
“Jadi begitu ya.” Surya memakan nasinya sesuap, “Oh ya, nama Adikmu siapa?”
“Sri,” jawab Sakti.
“Cantik ngga?”
Sakti mencurigai pertanyaan yang baru saja Surya ucapkan, tentang Adiknya. Seperti ada maksud tertentu dari ucapannya.
“WAA...! Jangan-jangan Kau, mau genit sama Adiku ya? Tiba-tiba Kau bertanya cantik atau tidak! Sampai pucuk monas berubah menjadi Diamod pun, tidak akan Ku beri Tahu!”
“Ya sudah nanya umurnya aja, berapa?”
“Saat ini, Adikku duduk di bangku kelas 12 SMA. Berarti umurnya tujuhbelas tahun,” jawab Sakti.
“Kalo gitu, sekalian nanya alamat rumahmu dong!”
“Alamat rumahku?” kata Sakti sekaligus merasa tak aman, alias curiga.
“Iya, Aku ingin main ke rumahmu.”
“Boleh, nih,” Sakti memberinya secarik kertas kepada Surya dan Surya membukanya.
“Mana isinya Woi? Cuma ada gambar ejekan saja!” kata Surya setelah membaca sebaris kata, ‘Tapi Bohong’ dengan wajah bertuliskan om-om genit.
“Hahaha.., Kau pikir Aku tidak tau maksudmu! Kau, ingin genit dan modus dengan Adikku kan? Dasar om-om Genit!” kata Sakti.
“Sudah kubilang, Aku hanya ingin bermain ke rumahmu saja dan, jangan memanggilku dengan sebutan om-om Genit!”
“Om-om Genit,” lanjut Sakti.
“Berapa kali Aku harus memperingatkanmu woi!”
Seketika mereka tiba-tiba terdiam setelah mendengar suara,
“Ada apa nih, ribut-ribut?” suara seorang cewek yang telah tiba di hadapan mereka.
Bersambung...
Tekan tombol vote dan favorit untuk mendukung Author ya :)