Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Deadline yang mencekam



“Saya, dari bagian data melaporkan. Gawat! Ada yang mengotak-atik data game kita. Padahal tak lama lagi akan segera rilis!”


“HAA...!” kaget mereka semua.


“Siapa yang melakukannya?"


“Tunggu! Yang diotak-atik bagian apa?”


“Bagian Opening dan Credit title. Satu lagi, ada yang menambahkan Bahasa Jepang dan Korea,” jawab orang itu.


“Kau, tahu siapa yang melakukannya?” tanya Surya kepada orang dari Bagian Data itu.


“Aku,” sahut Pak Sudarma. Dan membuat mereka menoleh kepadanya, serta terkejut sekaligus terheran-heran.


“HA!” kaget mereka, semua orang di bagian Divisi tersebut.


“Apa, Bapak baru saja bercanda?”


“Tidak, itu memang benar.”


“Ha...” kaget mereka lagi.


“Pak Sudarma? Kenapa melakukan tindakan yang semena-mena ini?” kata salah seorang yang berada di sebelah Mentari.


“Ya, Saya hanya mengganti nama Pimpinan Tim Divisi Pengembangan yang lama, dengan nama Saya di Opening dan Credit title. Saya juga menambahkan dua bahasa, agar bisa berjalan di pasaran gamer Korea dan Jepang.”


“Bapak kan baru saja bekerja di sini. Kenapa seenaknya sendiri mengganti, apalagi mengotak-atik data game kami?”


“Benar sekali! Bagaimana Bapak bisa mengakses data game itu? Sejak kapan Bapak mengubahnya? Wajah Bapak saja, baru Saya lihat hari ini,” tanya seseorang dari bagian Keamanan data tersebut.


“Itu.. ehm... itu urusan Saya dengan Pak Direktur. Jadi kalian tak perlu tahu dulu soal ini.”


“Mencurigakan,” dalam hati Sakti saat mendengar itu.


“Apa, Bapak sengaja merahasiakan ini dari kami semua? Dan, hanya Pak Direktur saja yang tahu soal ini?”


“Tidak, bukan begitu. Baiklah, Saya jelaskan yang sebenarnya. Jadi Saya lupa memberi tahu waktu perkenalan tadi, sewaktu Pak Direktur masih bersama Saya. Sebelum Saya masuk ke ruangan ini bersama Direktur, Saya baru saja tiba dari bagian penyimpanan data, bersama Pak Direktur juga.”


Pak Sudarma menoleh kepada orang yang dari Bagian Data tersebut, “Bukankah, kalian para Bagian Data, tadi melihat Saya keluar bersama Pak Direktur?”


Orang itu mengingat-ingat sejenak,


“Oh, sebelum jam makan siang pertama?”


“Iya, tepat sekali. Disaat itu, Saya sedang melakukan proses interview di bagian penyimpanan data. Saya menujukan Skill Saya di depan Pak Direktur langsung, dengan sedikit mengubah Data Gamenya.”


“Jadi seperti itu. Tapi, apa Bapak menjamin tidak menurunkan kualitas gamenya? Yakin tidak mengubah program yang fatal?” ucap orang itu.


“Saya sangat yakin sekali. Karena Saya juga diawasi oleh dua orang dari Bagian keamanan."


“Ya sudah, saya kembali memastikannya.” Orang dari bagian Penyimpanan Data itu kembali ke Divisi Keamanan Data dan Penyimanan Data.


Setelah hari yang menghebohkan itu, berlanjut keesokan harinya. Terdengar suara jeritan orang-orang yang terkejut.


“HAA...!” jeritan mereka.


“Apa lagi ini?” kata Surya, saat melihat Pak Sudarma membawa Kartu berwarna Gold begitu banyak, di siang hari.


“Kar-kartu apa itu?” tanya Rendy yang melihat Kartu-kartu itu, terletak pada kotak transparan khusus kartu.


“Selamat Siang semuanya. Ini adalah Accses Card yang akan kalian gunakan sebagai ganti absen dari sidik jari. Dengan kata lain, Id card untuk absensi kalian."


“Tapi untuk apa?”


“Toh, sidik jari juga masih bagus!”


“Ini bukan Id Card biasa. Dengan ini, kalian bisa absen dengan memindai barcodenya saja. Dan terhubung dengan komputer kalian masing-masing. Jadi, ketika kalian absen dengan kartu ini, otomatis komputer yang kalian gunakan, menyala dan terbuka Lock Screennya.”


“Komputer kami kan, tidak akan kemalingan. Karena itu, untuk apa menggunakan Lock Screen pada komputer kami, dengan kartu itu?”


“Hei, kalian sudah tidak sadar ya?” kata Sudarma.


“Apa?”


“Apa kalian selalu rajin mematikan komputer, ketika sudah selesai menggunakannya? Apa kalian yakin, tak pernah lupa menekan tombol Shut down?”


 


“Eh... itu.. ehm.. hehehe...”


“Karena itulah, Saya berinisiatif menggunakan sistem ID Card ini, untuk absensi data kalian, sekaligus menyalakan dan mematikan komputer secara otomatis."


 


“Coba jelaskan cara kerjanya.”


“Baiklah. Pertama, setiap orang yang baru tiba, harus absen pakai ID Card ini di depan pintu masuk kantor, baru setelah itu masuk ke kantor ini. Ya, sistemnya sama seperti biasa kalian pakai Sidik Jari. Ketika sudah berbunyi Tit.. pada saat absen, otomatis komputer yang kalian pakai akan menyala, lalu setelah masuk ke kantor, taruh kartu ini pada tempatnya. Yang terletak pada dinding sebelah pintu masuk ruang ini. Jikalau Id Card ini hilang, kalian tak bisa menyalakan komputernya.”


“Jika hilang, kami harus bagaimana?”


“Ya kalian akan dibuatkan lagi. Dan sementara pakai cadangan.”


“Yang benar saja, lebih pakai sidik jari.”


“Tapi kalau pakai Sidik Jari, bisakah mematikan komputernya secara otomatis ketika pulang? Dengan ini, ketika kalian pulang dan mencabut kartu kalian dari tempatnya, yang bentuknya seperti kotak pada pintu hotel. Otomatis, komputer kalian akan mati, sesuai ID Card yang kalian ambil.


Dan jika masing-masing kartu, dari setiap pengguna telah dicabut dari tempatnya, maka listrik di kantor ini juga akan mati secara otomatis,” jelasnya sambil mempraktikannya.


“Wahh... hebat.”


“Apa sekarang kalian sudah paham?” tanya Sudarma.


“Ya, sepertinya begitu.”


Beberapa orang maju kepada Pak Sudarma, “Berikan pada kami kartu itu!”


“Tak usah repot-repot, biar Saya saja yang membagikannya. Soalnya, jangan sampai tertukar satu sama lain.”


“Kenapa begitu?” kata salah seorang dari mereka.


“Bakalan repot nanti!”


Beberapa orang yang tadi maju, kembali duduk pada tempatnya masing-masing. Dan Pak Sudarma membagikannya sesuai dengan nama orangnya.


 


“Dia... membuat Id Card sebanyak ini?” kata Surya setelah memegang Id Cardnya.


“Kenapa?” tanya Sakti.


“Sejak kapan Dia membuatnya?” mereka saling bertatapan beberapa saat.


“Benar juga,” Sakti dan Surya seketika berdiri dari tempatnya, “Pak!” panggil kompak mereka.


Pak Sudarma yang hampir selesai membagikan Id Card, menoleh kepada mereka yang memanggilnya, “Iya, kenapa?”


 


“Kenapa Kau juga ikut berdiri?” desis(suara pelan) Sakti.


“Ya sudah, Kau saja yang bicara,” desis Surya dan ia kembali duduk.


“Pak Sudarma! Apakah, sudah dapat izin resmi oleh Pak Direktur?”


“Tenang saja, sudah kupastikan.”


“Lalu, sejak kapan Anda membuat seratus ID Card ini, dengan seratus nama berbeda yang sangat sesuai di kantor ini? Dari mana dapat data kami semua?” ucap Sakti.


 


Mereka semua tercengang mendengarkan ucapan Sakti, yang baru saja mereka dengar,


“Wah, iya. Bener juga.”


“Kenapa Aku baru sadar ya?” bisik-bisik mereka.


“Eh itu, Bagaimana ya cara menjelaskannya," Pak Sudarma mengusap-usap dagunya. “Kalian tahu yang namanya sistem antar belanja onine tidak?” pertanyaan aneh yang timbul dari mulut Sudarma.


 


“Apa hubungannya dengan ini?” tanya Sakti dengan tatapan sinis.


“Saya melamar pekerjaan disini sekitar dua hari yang lalu. Dan disaat itu, saya mengajukan saran teknologi ini.


Alhasil, diterima oleh Pak Direktur dan Saya meminta datanya. Kemudian, Saya meminta teman Saya yang bekerja di perusahaan ID Card, untuk membuatkannya. Karena mereka membuatnya sangat cepat, barangnya sudah jadi hari ini dan langsung diantar. Jadi begitulah, cara ordernya. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?.”


“Baiklah semuanya,” kata Pak Sudarma ketika telah selesai membagikan ID Card, “Saya ke ruang Pak Direktur dulu, untuk melaporkan ini.”


Pak Sudarma berjalan ke pintu keluar lalu membuka pintunya,


“Klek,” bunyi pintu yang telah tertutup.


“Fuh... Sulit juga untuk membuat mereka percaya,” kata Pak Sudarma sambil memperbaiki dasinya.


Minggu depan...


Mentari yang sedang berjalan di lorong menuju kantornya, dikagetkan dengan ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Lalu Mentari mengangkat layar Smartphonenya,


“Eh? Kenapa Game kita sudah rilis?”


“Masa?” sahut Sakti yang sedang berjalan bersamanya.


“Liat nih! Bukannya tiga minggu atau dua minggu lagi ya?” kata Mentari sambil menunjukan layar notifikasinya.


“Oh iya, sudah rilis. Tapi sebelumnya, Kau juga ikut pre-register, dari Game yang kita kembangkan ini?”


“Iya, karena Aku juga sangat suka bermain game, apalagi game ini.”


“Begitu rupa-“


“Woah,” kaget Mentari ketika mengscrolling layar hapenya.


“Kenapa teriak begitu?”


“Feedbacknya banyak sekali! Banyak yang menyukai game ini, dilihat dari reviewnya,” kata Mentari sambil memindai Id Cardnya di depan pintu masuk.


“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Sakti saat telah memasuki kantor. Dan terlihat, mereka tengah berbincang-bincang hal yang menarik.


Bisik,bisik,


“Apa Kau sudah liat feedbacknya?”


“Kudengar, game kita sudah rilis lebih cepat.”


“Tapi, kenapa tanpa sepengetahuan kita?”


 


“Hei, apa kalian juga sudah lihat Feedback gamenya?” kata Rendy yang berada di belakang Sakti dan Mentari.


Mentari dan Sakti menoleh, “Kau juga sudah tahu? Apa Kau juga tahu, siapa yang melakukannya?” tanya Sakti.


“Tidak, semalam Aku baru mengetahuinya dari temanku, yang menantikan game ini.”


“MenurutKu, dalang dibalik semua ini, pasti Pak Sudarma,” kata Sakti.”


 


“Kenapa Kau berpikir seperti itu?” tanya Mentari.


“Aku juga sependapat dengan Sakti. Pak Sudarma adalah, orang baru yang sudah mencurigakan dari awal.”


“Jikalau dugaanku benar, kemungkinan pertama Dia akan memberitahu yang selengkapnya seperti kejadian waktu itu, yang mengubah data game kita.”


“Jadi begitu ya. Tapi, bukannya harus ada persetujuan dari berbagai pihak, untuk mengubah jadwal perilisan gamenya?” ucap Mentari.


 


“Ya, kemungkinan kedua adalah Pak Sudarma membajak game kita.”


“Ya semoga saja itu tidak terjadi. Aku lebih memilih kemungkinan pertama,” kata Rendy sambil mengorek kupingnya, sekaligus pergi ke meja kerjanya.


Setelah semuanya mulai bekerja di tempatnya masing-masing, datanglah Pak Sudarma seperti biasa ke kantor Divisi Pengembangan.


“Selamat Pagi kalian semua? Bagaimana? Kalian sudah melihat game kita yang rilis lebih awal?” kata Pak Sudarma.


“Ternyata benar, kemungkinan pertama. Tapi Aku masih curiga tentang kemungkinan kedua,” dalam hati Sakti.


 


“Jadi Bapak yang mempercepat perilisannya?” ucap Dimas.


“Iya benar sekali. Dan sekarang, kita mendapatkan banyak Feedback dari player, apalagi sudah banyak yang membeli item gamenya.”


“Bagaimana bisa? Bukannya harus mendapat persetujuan dari berbagai pihak? Termasuk rencana Bapak yang harus diketahui oleh kami semua?” ucap Surya.


 


“Benar! Lagi-lagi Bapak melakukan hal yang tiba-tiba, atau seenaknya saja!” sambung Rendy.


“Hei! Siapa yang Kau bilang seenaknya? Justru, Saya sangat berjasa bagi perusahaan ini, dari awal mulai bekerja disini.”


“Berjasa apanya? Justru selalu membuat sesuatu, tanpa sepengetahuan kami.”


“Apa! Jadi, matamu masih tertidur ketika Aku bekerja?” kata Pak Sudarma, “Sepertinya, mereka masih meragukanku. Padahal sudah satu minggu.”


“Lalu, bagaimana Bapak bisa merilis game secepat ini?”


“Oke-oke, baik. Sebelumnya, Saya melihat peluang yang sangat besar jikalau dirilis lebih cepat. Kemudian Saya membuat laporan dan presentasi di depan Pak Direktur dan berbagai pihak itu, melalui rapat dadakan.


 


Tapi, setelah presentasi yang begitu panjang, mereka masih belum percaya pada Saya, termasuk Pak Direktur. Dan Saya masih berusaha untuk meyakinkan mereka sekali lagi, dari riset dan bahan yang Saya siapkan. Alhasil, mereka sepakat untuk menyetujuinya, dan dirilislah Game ini kemarin,” terang Pak Sudarma.


Sebelumnya...


Pak Sudarma tengah berbicara sesuatu dengan Pak Direktur, di ruangan pribadinya.


“Selamat siang Pak Direktur. Saya membawa laporan yang waktu itu Saya bilang.”


“Baik, coba Kau tunjukan pada Saya, hasil kerjamu dan proposal permintaanmu itu.”


“Jadi, baru kemarin kita merilis gamenya. Kita sudah mendapatkan banyak sekali Feedback positif, apalagi sudah banyak yang membeli item-item game kita. Ini, bukti dan laporannya.”


“Wahh. Baru satu hari sudah sebanyak ini, bagaimana bisa?” tanya Direktur usai melihatnya.


“Saya kan sudah bilang, ada peluang besar jika kita merilisnya lebih cepat. Bahkan, jauh melebihi perkiraan sebelumnya.”


 


“Sepertinya, Saya mulai bisa mengakui pekerjaanmu sangat bagus.”


“Jadi, apa Bapak menyetujui permintaan saya?” tanya Sudarma.


“Iya, saya menyetujuinya...”


Kembali lagi ke keadaan sekarang...


“Dan maka dari itu, Pak Direktur juga sudah menyetujui permintaan Saya, untuk menghandle sepenuhnya Divisi Pengembangan ini, serta mengatur Deadlinenya. Dengan kata lain, Saya mempercepat Deadline(batas akhir) untuk pembuatan game berikutnya.”


“Apa-apaan Kau! Deadline tidak bisa ditentukan secara sepihak seperti itu. Itu yang sudah lama berlaku di Perusahaan Game ini.”


“Jadi, maksud Dia, Pak Sudarma sudah mengubah ketentuan yang berlaku di perusahaan ini?” tanya Sakti kepada Surya.


“Ya, tepat sekali. Selalu ada kejutan dibalik pekerjaan Si Sudarma itu.”


“Bagaimana ya? Pak Direktur telah mempercayaiku,” kata Pak Sudarma sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Sebenarnya, apa yang direncanakan Pak Sudarma? Sampai-sampai mengubah ketentuan Perusahan game ini,” dalam hati Sakti.


“Aku tak percaya!” tegas Aryo, kemudian ia berdiri sekaligus berjalan ke depan. “Permisi, Saya ingin meminta keterangan langsung dari mulut Pak Direktur.”


“Eits,”


Pak Sudarma menahan Aryo yang hendak keluar, “Saya baru saja dari ruangan Beliau, dan Beliau bilang jangan ada yang mengganggunya, sampai jam istirahat. Tolong, bertemunya saat sudah istirahat saja!” pinta Sudarma.


Beberapa saat hening.


“...Baiklah,” jawab Aryo, lalu Sudarma melepas lengannya Aryo. “Terima kasih,” kata Pak Sudarma.


Aryo kembali ke meja kerjanya dengan santai, dan orang-orang di sana menantikannya, termasuk Sakti.


Sewaktu istirahat, Sakti bertemu dengan Aryo, yang baru saja keluar dari ruangan Pak Direktur.


“Aryo!” panggil Sakti.


Bersambung...


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit ya:)