Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Senjata Rahasia yang berbahaya



Kejadian itu mengejutkan mereka bertiga, suara ambruk dari atap bersama seseorang yang turun dari atas.


“Ka-kau yang tadi menghentikan mobilku kan?” kata Direktur.


“Maaf, Aku mengikuti kalian.”


“Tak perlu minta maaf! Aku yang harusnya minta maaf, karena mengabaikan perkataanmu tadi, demi Serigala ini.”


Terlihat reaksi dari wajah Sudarma biasa saja, saat melihat Sakti terjun dengan mengejutkan.


“Hah..Ternyata hanya seekor curut tersesat ya, Ku kira hewan buas,” kata Sudarma.


Di sisi lain, Sakti mengusap-usap pinggangnya, “Duh, Aku lupa ini adalah gedung tua. TempatKu berpijak malah ambruk begitu saja.”


“Kau kenapa?” tanya Direktur.


“Oh tidak! Tidak apa-apa kok.”


Sudarma menekan sesuatu di SmartWatch miliknya, lalu terjadi guncangan seperti gempa dari lantai dasar, tempat Sakti turun.


“Hei, curut! Kau bermain-main dulu dengan Robo ya.”


Munculah Robot berukuran besar yang tadinya adalah lantai dari gedung itu.


Robot itu memiliki badan yang super besar, sebesar Truck pengaduk semen. Kedua tangan Robot tersebut sebesar pohon kelapa yang disertai dengan kepalan tangan baja.


Namun di sisi lain, robot tersebut tak memiliki kaki, karena setengahnya saja sudah cukup besar, sehingga akan sangat sulit dalam bahan bakarnya.


Robot yang muncul dari lantai dasar tersebut, mengejutkan mereka semua, karena tak menyangka ada yang membuat Robot seperti itu.


“Ro-robot apa itu?” heran Sakti sekaligus tegang.


“Apa yang Kau lakukan Sudarma! Kau ternyata punya Robot sebesar ini!” tegas Direktur.


“Bermain-mainlah dengan Robot itu Sakti! Semoga Dia hanya meremukan tulangmu saja. Belajarlah menghindar dengan benar ya... whahaha.”


Robot itu memindai musuh yang di targetkan oleh Sudarma, yaitu Sakti seorang.


“Musuh terdeteksi. Harus dilenyapkan.”


Robot itu mengerahkan tangannya yang besar itu, untuk menangkap Sakti lalu meremukannya.


Tapi Sakti berhasil menghindari tangan Robot raksasa itu, dengan Parkour sana-sini.


“Huft, Tidak rugi Aku ikut komunitas Parkor sewaktu kuliah.”


Ketika Sakti dibuat sibuk oleh Robot Raksasa itu, Sudarma kembali mendesak Pak Direktur.


“Ayo tanda tangan, jika Kau ingin selamat bersama pegawaimu.”


“Apa Kau sudah gila? Kau melakukan ini hanya untuk Uang?”


“Hah? Cepatlah, Kau tidak tau apa-apa tentang diriku.”


Robot itu tidak berhenti untuk mengejar Sakti dan berusaha menangkap Sakti, layaknya seorang anak kecil yang berusaha menangkap belalang.


“Aku tidak bisa begini terus! Robot itu tidak akan pernah berhenti sampai Dia bisa menangkapku,” kata Sakti sebelum tangan Robot itu datang lagi.


“Ayo berpikir!” kata Sakti yang hampir kelelahan.


Bum...Bum...Bum...


suara tangan Robot itu yang menggema dan meruntuhkan beberapa tembok serta beberapa pondasi bangunan.


“Akh dapat! Aku masih punya taser Gun.”


Kemudian Sakti mendarat, di tempat yang jaraknya cukup jauh dari jangkauan kedua tangan Raksasa itu.


Sementara keadaan Surya yang masih berada di dalam perusahaan itu.


“Hitungan ke ketiga, kita dobrak pintunya,” intruksi dari Surya bersama sembilan orang yang menemaninya.


“Satu.... Tiga!” BRAK!


Surya dan sepuluh orang itu mendobrak paksa pintu kantor Sudarma, layaknya anggota polisi. Dan didapati mereka seseorang yang dimaksud Surya dan ternyata memang benar.


 


“Kau bicara apa?” ucap Rendy yang pura-pura tak tahu.


Surya memutar rekaman yang dicantumkan Sakti, sewaktu ia menerima pesan singkat.


“Tidak apa-apalah, harus menjaga ruangannya saja. Daripada harus mengalami jatuh sakit dua kali! Hanya untuk membuat mereka percaya dan tak curiga. Lebih baik rencana yang ini, Pak Sudarma langsung bergerak cepat untuk mendesaknya, Whuahaha....”


Surya memutarnya dengan keras tepat di tengah-tengah mereka, dan untuk pertama kalinya. Yang artinya, mereka yang bersama-sama Surya, juga baru mendengar rekaman tersebut.


“Oh... jadi Kau yang menjadi kaki tangannya!” kata salah seorang yang sudah kesal.


“Padahal, Kau sejak awal selalu menentang Sudarma dan tak terlihat mempercayainya. Tapi pada akhirnya, sama seperti tupai yang jatuh. Ternyata hanya berpura-pura dan sekongkol dengan Serigala buas itu,” kata Surya


“Benar-benar sama liciknya! Kau mengawasi kami dan mengirim informasi kepada Sudarma. Supaya, Kami tak ada yang bisa melawan sedikitpun ya... Pantas saja, Dimas dipecat dari perusahaan ini!” sambung Aryo.


“Dan Kau juga, yang telah memata-matai keluarga kami semua!” tanya salah seorang yang kepalanya plontos.


“Tidak! Bukan Aku yang memata-matai keluarga kalian,” jawab Rendy dengan santai.


“Apa maksudmu?” tanya Surya dengan tatapan tajam.


“Itu semua, berasal dari Chip yang diselipkan pada Id Card kalian masing-masing. Maka dari itu, dia mampu mengawasi kediaman kalian dari jauh.”


Mereka terkejut, mendengar perkataan Rendy yang baru saja ia lontarkan. Tapi, Surya masih penasaran dengan hal yang lain,


“Rendy! Aku ingin bertanya padamu.”


“Silahkan, Aku masih punya banyak waktu.”


“Kau kan sudah lama bekerja di sini, lalu kenapa memihak pada orang asing itu?”


“Jawabannya, adalah Aku dibayar untuk melakukan ini dan. Sudarma tak lain adalah Pamanku sendiri.”


Sontak mereka terkejut lagi mendengar, bahwa Serigala itu adalah paman dari Rendy.


“Lalu, yang tadi kalian ucapkan tentang Dimas, itu memang benar karena Aku. Aku menguping pembicaraan Dimas saat berbicara pada Sakti di rumah sakit. Setelah mengetahui, Dimas mempunyai rencana untuk melawan, Aku dengan cepat melaporkannya pada Serigala itu. Apa kalian sudah puas?"


Mereka sontak dibuat terkejut kembali, saat mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, dari mulut Rendy secara langsung.


“Seminggu, sebelum Paman masuk Perusahaan ini, dia mengajakku untuk melakukan rencan-“


Sebelum Rendy selesai bicara, ia hendak diserang oleh salah seorang dari mereka.


Namun dengan sigap, ditahan oleh Surya dan Aryo yang berada di garis depan.


“Hei, Kau gegabah sekali botak!” kata Surya.


“Lepaskan Aku! Aku ingin menghantamnya, untuk membalaskan privasi keluargaku dan keluarga kalian.”


Surya dan Aryo tetap menahannya, “Hei, Kita masih belum tahu senjata rahasianya. Apalagi yang akan Dia pakai untuk mengancam kita,” jawab Aryo.


Rendy tersenyum setelah mendengar perkataan Aryo. “Kau benar juga ya,” kata Rendy, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


 “Gondrong! Pesek!” ucap Si Botak itu, kemudian dua orang yang dimaksud maju untuk melepaskan Si Botak dari tangan Surya dan Aryo.


Setelah Botak terlepas dari tangan mereka, Botak kembali maju dan ingin menghantamnya sampai puas.


“Woi, kenapa dilepas!” kata Surya dan Aryo yang ditahan dua orang itu.


Tinju dari botak tengah melayang di hadapan wajah Rendy, namun wajah Rendy tetap terlihat tenang.


“Rasakan ini B*bi!” ucap Botak saat melayangkan tinjunya.


Namun mereka semua terkejut saat melihat Rendy, lebih cepat menyerang Botak, sebelum persis mengenai wajahnya. Selisih tiga detik, dari hantaman yang hampir mengenai wajah Rendy.


“AAA....” teriak si Botak yang terjatuh.


Darah mengalir keluar dari lengan kiri Si Botak, yang terlihat jelas di depan mata mereka semua. Si Botak, menahan rasa sakit dengan satu tanganya menahan pendarahan, pada lengan sebelah kirinya.


Terlihat juga, ada sebuah kilauan cahaya membentuk seperti pedang, yang tiba-tiba muncul dari benda yang dikeluarkan Rendy sebelumnya.


“Be-benda apa itu?” panik mereka.


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya:)