
Tak terduga juga, Ivana mau menolehkan wajahnya kepada Sakti yang baru saja memanggilnya, “Ada apa?” ujarnya.
Sakti kaget sekaligus terheran, dan dalam hatinya, “Dia menjawabku?”
“Kau satu Kampus denganku kan, sewaktu kuliah?”
“Iya, lalu kenapa?” jawab Ivana dengan suara datar(no smile).
“Ternyata Kau bekerja disini?” lanjut Sakti.
“Aku tak ada waktu untuk berbicara denganmu. Jam sudah menunjukan waktu untuk bekerja lagi.” Lalu ivana pergi meninggalkan Sakti begitu saja.
Sakti terdiam seperti orang yang baru saja salah bicara, “Aku lupa! Dia kan orang yang tidak suka basa-basi.”
“Yah, begitulah cewek,” sahut seseorang yang berada di belakang Sakti.
Sakti menoleh kepadanya, yang tiba-tiba mengajaknya bicara. “Siapa Kau?” tanya Sakti dengan curiga.
“Namaku Dimas, kita berada di Divisi yang sama, yaitu Programing atau pengembangan. Kau Sakti kan?”
“Bukan. Aku hanya orang biasa, dan tak punya kesaktian.”
“Maksudku namamu Sakti kan?” terang Dimas.
“Iya, kenapa?” tanya Sakti kemudian mereka lanjut berbincang-bincang nya sambil menaruh piring dan berjalan ke Kantor.
“Kau, barusan sedang mendekati seorang wanita cantik kan? Dan ditinggal begitu saja. Pasti sakit banget rasanya ya,” kata Dimas.
“Memangnya, Kau kenal dengan wanita barusan?”
“Tidak sama sekali.”
“Lalu apa urusannya denganmu?” tegas Sakti sambil mengepal tangannya ke atas.
“Sebenarnya Aku hanya ingin mencari teman curhat saja.”
“Yang lain saja, memang tidak ada?” respon Sakti dengan malas.
“Aku punya kebiasaan unik, selalu ingin curhat dengan orang yang belum Ku kenali.”
“Kalau begitu, kenapa Kau tidak curhat dengan wanita tadi? Ketahuan sekali Kau bohongnya.”
“Akhirnya ketahuan juga. Bodoh sekali Aku,” dalam hati Dimas.
“Sudahlah, lain kali saja kita bicaranya. Aku ingin kembali bekerja,” kata Sakti.
“Baiklah...”
“Omong-omong, Kau tinggi juga. Berapa tinggimu?”
“Seratus delapan puluh, kenapa?”
“Kau makan apa saja?” tanya Sakti sambil mengaruk jambangnya.
“Aku, hanya makan nasi dan lauk yang tadi di kantin.”
Begitulah mereka berbincang-bincang saat berjalan menuju Kantor, setelah dari kantin. Dan sampailah LIMA bulan kemudian, yang dimana Game Online yang mereka kembangkan hampir selesai.
“Baik, saudara-saudari sekalian! Game Online Survival kita, hampir selesai. Dan saya telah menentukan tanggal perilisannya, dua bulan lagi tanggal dua puluh satu. Jadi saya sangat mohon sekali, bantuannya!” kata Pak Dharmawangsa.
“Baik Pak Dharmawangsa!”
“Akhirnya, Game Karyaku hampir jadi. Pasti sangat seru, apalagi Design salah satu hero yang kubuat!” dalam hati Sakti yang sangat girang.
“Sepertinya Kau senang sekali?” kata Surya yang melihat ekspresi girang Sakti keluar.
Sakti terkejut ketika menoleh ke sebelahnya, ternyata bukan Surya yang mengajaknya bicara.
“HAA...! Kenapa Kau berada di sebelahku?”
“Hehehe, jadi Kau terkejut ya? Aku sengaja meminta Surya untuk bertukar tempat denganku.”
“Kenapa Kau meminta Surya bertukar tempat? Apakah tempatmu tidak nyaman?”
“Bukan seperti itu. Sejak lima bulan lalu, kita belum bicara lagi. Maka dari itu, Aku meminta Surya bertukar tempat denganku, hari ini saja.”
“Kau ini aneh sekali ya! Justru Aku selalu ingin menjauh darimu.”
“Maaf jika membuatmu tidak nyaman. Tapi Aku ingin berbicara sesuatu padamu. Kau punya Adik perempuan kan?”
“Iya punya. Kau tau dari mana? Apakah Surya yang memberi tahumu?”
“Tidak. Aku sudah lama sekali mengetahuinya, sejak Kau belum bekerja di sini. Kau mempunyai Adik Perempuan."
“Dari mana Kau bisa tahu? Apalagi sebelum Aku berada di sini,” ucap Sakti yang masih heran.
“Aku mengenal Adikmu dari Adikku. Adik kita sama-sama perempuan. Dulu, sewaktu kelas sepuluh, Adikku selalu dibully oleh teman sekelasnya, dan Aku merasa tak becus menjadi seorang Kakak.
Bahkan, mental Adikku hampir terganggu karena kejadian itu. Disisi lain, Aku tak menyerah untuk menguatkan mental Adikku.
Dan tak lama kemudian, Adikmu datang ke sekolah Adikku, karena Adikmu baru pindah sekolah, ya kan?”
“Iya, karena rumah kami pindah. Sekolah Adikku juga pindah,” jawab Sakti.
“Sejak, Adikmu pindah ke sekolah Adikku. Dia ditempatkan sekelas dengan Adikku, dan dari situ Adikku sudah tidak dibully lagi oleh teman sekelasnya. Aku sangat berterima kasih sekali pada Adikmu. Karena Adikmu memiliki sifat yang sangat baik dan dia bisa bela diri, dan membela yang lemah.”
“Tapi, bagaimana Kau bisa tau Aku Kakaknya?” tanya Sakti.
“Waktu itu, Aku tak sengaja melihatmu sedang mengatarkan Adikmu, sewaktu Aku juga mengantarkan Adikku. Dan ketika Kau mulai bekerja disini, Aku masih teringat dengan wajahmu itu. Maka dari itu, Aku sangat berterima kasih sekali setelah bertemu denganmu. Ucapkan juga pada Adikmu ya!”
“Tidak usah dipikirkan. Aku dan Adikku selalu tulus membantu orang lain. Jadi, santai saja.”
“Tidak, Aku tetap berhutang budi padamu!”
“Terserah Kau saja lah,” dalam hati Sakti.
“Oh, iya! Jangan sampai Surya mengetahui, alamat sekolah Adik kita ya!” pinta Sakti kepada Dimas.
“Memangnya kenapa?” tanya Dimas.
Sakti mendekatkan mulutnya pada telinga Dimas, “Dia itu, Om-om genit....” bisik Sakti.
“Oh... jadi begitu ya. Untung saja, Aku tak pernah cerita tentang Adikku.”
Jam Istirahat...
“Memangnya kenapa? Aku kan sudah membayarmu untuk satu hari.”
“Oh, jadi Kau dibayar Surya? Kalau begitu duitnya dikembalikan saja,” kata Sakti.
“Hey, hey, hey. Kalian sedang memperdebatkan apa?” tanya Mentari yang melihat tingkah mereka, di hadapannya.
“Sudahlah, bukan urusan penting.”
“Kalau begitu, besok kita jadi jalan kan?” ajak Mentari.
“Jalan ke mana?” tanya Sakti balik.
“Ke Kafe! Lima bulan yang lalu, Kau mengajakku ke Kafe kan? Tapi belum kesampaian karena kerjaan kita, dan akhirnya ditunda dulu deh.”
Sakti terdiam usai mendengarkannya, “Oh iya! Bagaimana Aku bisa lupa...”
“Baiklah. Kita besok ke Cafe, nanti Aku Chat ya, untuk tanggal dan waktunya,” jawab Sakti dengan lapang dada.
“Terimakasih Sakti,” senang Mentari mendengarnya.
“Apa... boleh ajak kami juga?” sahut Dimas.
“Apa-apaan Kau hey? Tentu saja Aku tidak akan mengajak kalian berdua!” jawab Sakti dengan lugas.
“Benar sekali! Kau tidak peka ya Dimas?” sahut Surya sambil menikmati makanannya.
“Jadi, Kau tidak mau ikut?” polos Dimas.
“Hey! Tadi Dia sudah bilang, tidak akan mengajak kita berdua! Kau kenapa maksa sekali Dimas!” tegas Surya.
Dan lagi-lagi mereka dibuat penasaran dengan Sakti yang tiba-tiba terdiam sambil memandangi sesuatu. “Sakti! Kau kenapa begong lagi?” tanya Mentari, kemudian Dimas dan Surya ikut menoleh kepada Sakti.
“Aku merasa, ada yang memperhatikanku.”
“Hanya perasaan Kau saja kali,” kata Surya.
“Tidak, memang benar ada yang memperhatikanku. Cewek yang duduk di sana!” Sakti menunjuk dengan tatapannya, yang membuat mereka semua, ikut menoleh.
“Yang mana? Orang-orang yang disana lagi pada makan tuh.”
“Yang pakai kacamata itu. Aku selalu di perhatikan dan diamati terus olehnya, sejak lima bulan yang lalu. Ketika Aku sedang di lobby, ketika sedang berjalan sendirian, ketika berada di halaman lobby, Bahkan ketika Aku ke toilet, Dia tetap memperhatikanku dari jauh.”
“HAA...! Yang benar saja?” kaget mereka dengan hal yang diceritakan Sakti.
“Kenapa Kau tidak menegur Dia!” kata Mentari.
“Ketika Aku hendak menegurnya, Dia selalu pergi begitu saja. Seperti tidak sedang membuntutiku, seperti sekarang ini. Saat kalian baru saja menoleh ke arahnya, Dia terlihat sedang asik makan. Padahal, itu hanya pura-pura dan jelas sekali Aku melihat Dia, tengah memperhatikanku dari jauh.”
“Eh! Mentari mana?” tanya Dimas.
Mereka semuanya celingak-celinguk dan didapati mereka, Mentari sedang berjalan menghampiri si cewek kacamata itu.
“Mentari kenapa ke sana?” bingung Surya.
“Tidak tahu. Sepertinya Dia ingin menegur cewek kacamata itu. Kuharap Mentari tidak membullynya,” kata Dimas.
Surya dan Sakti saling bertatapan, “Hehehe...” tawa Surya dan Sakti seperti sedang meledeknya.
“Kenapa kalian tertawa?” heran Dimas si rambut duri.
“Kau suka padanya ya. Sudahlah, jangan bohong pada kami.”
“Tidak. Aku hanya teringat tentang Adikku, jangan sampai mental Dia terganggu, seperti yang dialami oleh Adikku,” kata Dimas sambil termenung.
“Memangnya, Adikmu sekolah dimana?” tanya Surya.
“Adik-“ tangan Sakti dengan cepat menutup mulut Dimas, sehingga ucapannya terpotong.
“Hehehe, tidak. Bukan apa-apa kok!” kata Sakti untuk membuat suasana terlihat biasa saja.
Lalu Sakti mendekatkan mulutnya ke sebelah telinga Dimas.
“Hey, Kau lupa ya? Kubilang, jangan ceritakan tentang Adikmu kepada Surya,” bisik Sakti.
“Kalian kenapa bisik-bisik?” Surya yang mulai curiga.
“Oh, tidak ada apa-apa kok,” jawab Sakti.
Dimas langsung melepaskan tangannya Sakti dari mulutnya. “Iya, benar. Tidak ada apa-apa kok. Om-om Genit,” sahut Dimas tapi dengan sambungan meledek.
“Hey! Siapa yang mengajarimu, untuk memanggilku dengan sebutan Om-om genit, Dimas? Pasti Kau Sakti yang membeberkannya!”
“Tidak kok,” kata Sakti sambil mengalihkan wajahnya dari pandangan Surya.
“Jangan bohong!” ngotot Surya.
“Tanya saja Dimas.”
“Iya benar,” sahut Dimas.
“Apa Aku bil-“
“Sakti yang memberi tahuku,” potong Dimas.
“Nah! Kau dengar sendiri kan! Memangnya Aku sudah Om-om?”
“Kalau itu memang benar, kumismu tebal sekali,” sahut Dimas.
“Apa Kau bilang!”
Tiba-tiba mereka bertiga terhening dan terdiam, melihat Mentari yang baru saja kembali dari meja cewek kacamata itu.
Datang dan duduk, dengan senyum-senyum sendiri dihadapan mereka bertiga, sekaligus membuat mereka penasaran.
“Kau kenapa senyum-senyum begitu?”
“Apa Kau habis menegur cewek itu?”
Tak ada angin dan Tak ada hujan, tiba-tiba Mentari tertawa di depan mereka,
“Hahahah...”
**Bersambung...
Tekan vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya**:)