Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Misi di jalankan



Ketika sudah pulang pada malam seperti biasa, ia memutuskan untuk tidak masuk esok hari.


Jam dua belas malam ia meminta cuti, pada Staf absensi dengan alasan, “Maaf, Aku harus menjenguk nenekKu. Sekitar dua hari, Aku akan disana.”


Sakti menutup telponnya ketika sukses meminta cuti pada Staf itu. Kemudian ia menjalankan rencana yang sudah didiskusikan sewaktu bertemu Pak Dharmawangsa.


Waktu itu....


“Jika Kau gagal?” tanya Pak Dharmawangsa.


“Entahlah, sepertinya memang membutuhkan waktu yang lama untuk mencari celah. Apalagi celah yang kuat untuk menjatuhkannya, dan Aku belum menemukan ide.”


“Kalau begitu, akan Aku beri tahu apa yang harus Kau lakukan. Kau mau?”


“Iya, sangat mau!”


“Bagus. Kau kan programmer handal dan pasti bisa untuk membuat alat sadap dan alat untuk mengendap-endap.”


“Tapi yang menjadi masalah, Aku butuh tim untuk membuat itu.”


“Tak usah khawatir, Aku sudah menyiapkan alat-alatnya. Nanti Ku kirim ke alamat rumahmu. Alat-alat itu diantaranya, Alat Sadap, Camera yang seukuran bola Golf, Alat Pengintai, Alat peredam suara kaki, Alat panjat yang berbentuk jangkar, Sarung tangan Selaput Cecak dan Aplikasi Maps yang terhubung pada smartwacth mu.”


“Oh iya, satu lagi Taser Gun untuk melumpuhkan lawan,” sambung Pak Dharma.


*Taser Gun, pistol kejut.


“Sejak kapan Bapak membuat itu semua?”


“Setelah tiga bulan, sejak Aku Resign. Aku berinisiatif untuk melakukan sesuatu pada perusahaan itu. Dan sekarang, tibalah saatnya.”


“Oke, untuk alat sudah ada. Sekarang rencana Bapak apa?” tanya Sakti.


“Kau kan sudah tahu, kapan Sudarma keluar dari ruangannya. Di saat itu lah, Kau masuk dari jendala.”


“HAA...! itu kan bahaya. Lantainya saja, lantai empat!”


“Ya sudah, Kau masuk melalui corong udara saja. Lalu pakai alat penyadap suara, apakah masih ada orang di dalam ruangan Sudarma atau tidak. Ketika Sudarma sudah keluar, barulah Kau turun dari corong udara yang berada di ruang Sudarma.


Lalu Kau taruh alat penyadap yang berukuran kecil, di bawah meja kerja Sudarma. Dengan begitu, Kau bisa tahu apa yang dibicarakan Sudarma tentang rahasianya dan bisa menjadi bukti. Tapi lebih bagus, Kau menaruhnya ke aksesoris yang dia lepas di kantornya, lalu dia pakai lagi saat pulang.”


“Aku tahu, biasanya dia selalu menaggalkan dasi di ruangannya, lalu dipakai lagi saat keluar atau ada orang penting yang masuk ke ruangannya.”


“Kalau begitu, Kau taruh pada dasinya saja. Jika tak ada, cari barang lain. Jika tak ada juga, Kau taruh saja di bawah meja.”


“Baik, lalu selanjutnya apa?” ucap Surya.


“Setelah Kau menaruh alat sadap berukuran kecil, Kau ambil bukti-bukti palsu dan asli yang disembunyikan Sudarma. Itu bisa dijadikan senjata untuk menjatuhkannya.”


“Tapi, kalau saya belum selesai mencari, lalu tiba-tiba ada yang masuk, bagaimana?”


“Tenang saja! Sebelum Kau mancari dokumennya, pasang alat pemindai suhu di belakang pintu. Alat itu bisa memindai suhu tubuh sejauh dua meter dan terhubung ke Smartwatchmu. Jika ada seseorang yang menuju ruangan Sudarma, Smartwatchmu akan menyala merah, sebagai sinyal ada orang yang mendekat. Lalu Kau langsung bersembunyi atau naik ke corong lagi, dengan Alat panjat itu. Dan dengan cepat Kau tekan tombolnya, maka alatnya akan menarikmu.”


“Woow, keren.”


“Tapi ingat! Jangan meninggalkan jejak saat Kau bersembunyi. Saat Smartwatchmu memberi sinyal, segeralah merapihkannya lagi.”


“Baik. Aku akan melakukannya,” kata Sakti.


“Tapi, Kau butuh Navigator. Dan Aku siap untuk posisi itu.”


“Pak Dharma ingin menjadi navigator saya?”


“Iya, karena Kau butuh seorang Navigator.”


“Ya sudah, Kalau begitu Aku minta nomor Bapak,”


Kembali lagi ke waktu sekarang, yang dimana Sakti baru saja meminta cuti untuk esok hari.


“Hallo, Pak Sudarma!” kata Sakti di telefon.


“Iya Hallo Sakti.”


“Besok malam, Aku akan beraksi. Karena, Sudarma lebih sering keluar dari kantornya, pada waktu malam.”


“Ya sudah, Sekarang Kau siapkan dirimu dan segala alatnya. Aku juga akan menyiapkan monitorku dan alat komunikasi.”


Pada pagi buta itu, mereka mulai menyiapkan diri yaitu pergi tidur. Supaya di pagi hari sekitar jam enam, mereka menyiapkan segala yang diperlukan.


Dan tibalah malam hari yang di maksud Sakti, serta Pak Dharmawangsa juga sudah Standby di ruang Navigator. Sakti mengenakan baju ketat berwarna hitam, supaya dapat mengelabui mata orang.


“Cek! Tes! Apakah terhubung?” kata Sakti ketika sampai di depan gedung itu.


“Iya, sudah terhubung,” jawab Pak Dharma melalui Earphone Wireless.


Terlihatlah dua orang Satpam yang sedang berjaga, lalu Sakti bersembunyi di belakang mobil yang terparkir di dekat gerbang masuk.


Sakti mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan singkat kepada Surya.


“Surya, awasi keadaan sekitar. Buat keadaan seperti biasa saja dan jangan lupa awasi Mentari. Kau tak perlu tahu, Aku sedang melakukan apa.”


“Baik, serahkan padaku.”


Sakti mengantongi ponselnya lagi, dan mulai mencari celah untuk mengelabui dua satpam itu. Sakti melihat botol yang berada dipinggir trotoar, lalu melemparnya untuk megalihkan perhatian satpam-satpam itu.


Dengan sigap, Sakti langsung memanjat tembok yang berada di sebelah mobil tempat ia bersembunyi, dan di balik tembok itu adalah tempat parkir perusahaan game tersebut. Di situlah ia turun tanpa hentakan suara kaki, karena peredam suara yang ia pakai pada sepatunya.


“Wow, keren,” desis Sakti yang mengaggumi Peredam suara pada kakinya.


Sakti memperhatikan keadaan sekitar tempat parkir, untuk memastikan tak ada yang melihatnya. Ketika dirasa cukup aman, Sakti mengendap-endap dari mobil ke mobil, sampai tiba pada corong udara di area tempat parkir.


“Ternyata membukanya mudah. Tidak seperti di film action yang harus pakai obeng apalagi laser,” kata Sakti saat membuka penutup corong udara, yang bentuknya garis-garis.


Ia pun masuk dengan lancar dan tidak lupa untuk menutupnya lagi, supaya tak ada yang curiga. Tidak lupa juga Sakti memakai Sarung tangan Selaput Cecaknya, agar dapat memanjat corong berbetuk vertical.


Kemudian, tibalah Sakti tepat di atas langit-langit kantor pribadi Sudarma, meskipun sebelumnya sedikit nyasar.


“Hah..hah..ha..” lelah Sakti.


“Melelahkan juga ke lantai empat lewat corong. Untung saja ada Sarung Tangan Selaput Cecak,” desis Sakti.


Ia memeriksa keadaan kantor Sudarma untuk memastikan tidak ada orang termasuk Sudarma, dengan melirak-lirik dari atas corong udara.


Sakti turun ke bawah dengan yakin setelah situasi dirasa cukup aman. Lalu seperti yang dikatakan Pak Dharma, Sakti menempelkan terlebih dahulu Pemindai Suhu tubuh di balik pintu masuk.


Baru setelah itu, ia mencari dasi Pak Sudarma yang berada di samping pintu.


“Untuk apa Aku mencari dasi? Saat itu Aku bilang, Dia hanya memakai dasi jika keluar dari ruangan ini. Sudahlah,” kata Sakti yang melihat gantungan dasi terpampang kosong.


Alhasil, Sakti menempelkannya di bawah meja kerja Sudarma, di tempat yang tak ketahuan.


Sakti membuka setiap laci yang berada dalam ruangan itu, dengan teliti serta berhati-hati. Tapi kemudian, ia menemukan berkas yang ia cari, yang ternyata ada di atas meja Sudarma. Yang berarti dapat dilihat dengan mata telanjang, dan sia sia sekali membuka laci sebelumnya.


Suara jangkar telah menyangkut dengan sempurna, sudah siap menariknya ke atas corong lagi, setelah berkas-berkas itu sudah dalam tasnya.


Tak ketinggalan juga, ia merapihkan laci-laci tadi agar tak meninggalkan jejak, sehingga tak ada satupun yang curiga.


Namun suara macet dari jangkar timbul, setelah Sakti menekan tombil UP.


“Seharusnya, tadi Pak Dharma memberitahuku. Alat ini harus dilumasi sebelum digunakan.”


“Gawat!” reaksi Sakti ketika Cahaya merah dari Smartwatchnya semakin silau. Itu artinya, sedang ada orang yang mendekat ke ruangan Pak Sudarma.


“Klek”


suara pintu terbuka dan terlihatlah dua orang yang masuk ke ruangan Pak Sudarma. Tapi mereka tidak menyadari kehadiran Sakti.


“Ternyata dua orang Office Boy,” dalam hati Sakti yang tengah menempel pada langit-langit mengunakan Sarung tangan tersebut, layaknya Spiderman.


Terlihat juga, tali dari alat jangkar tersebut, ia lilitkan pada salah satu kakinya, agar tak ketahuan.


“Padahal Aku capek sekali, tapi malah disuruh ambil Jaz,” kata seorang dengan yang lain.


“Sudahlah, dari pada kita dipecat.”


Sakti yang masih memperhatikan mereka dari atas, menyesali satu perbuatannya. “Tahu gini, Ku taruh pada jaz saja tadi.”


Dua orang Office Boy tersebut, keluar dari ruangan Pak Sudarma dan Sakti sudah masuk ke corong itu lagi. Kali ini, Sakti keluar dengan lancar tanpa tersesat, karena Sakti telah membuat jejak dari Lakban putih.


“Terimakasih, Lakban punya Adikku,” kata Sakti ketika sampai di corong udara semula.. Sakti menutup corong tersebut, sambil memperhatikan keadaan, dan memastikan tetap aman.


Ia mengendap-endap dari mobil ke mobil dan bersembunyi di salah satu belakang mobil, sebelum hendak keluar.


“Okay, Berkas-berkas yang akan menjadi bukti sudah dalam tanganku,” kata Sakti sambil memantau.


“Kau akan menyerahkannya kapan? Kita belum mendapatkan bukti suaranya.”


“Tapi, sepertinya ini ***-“


perkataan Sakti terpotong karena melihat Pak Direktur sedang menuju mobilnya, bersama Sudarma. Sakti menyembunyikan wajahnya, ketika Pak Direktur hendak menoleh ke arahnya.


“Hallo! Ada apa?”


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya:)