Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Sebuah rencana cerdik



Tatapan mereka seketika berubah menjadi Takut, Shock dan ditambah terheran melihat sesuatu yang ditampilkan layar projector tersebut.


“A-Apa ini!” rasa tak percaya yang timbul dari benat mereka, saat melihat layar itu. Dan menghantui pikiran mereka, di mana mereka merasa terancam.


“Kau sudah lihat sendiri kan? Whahahaha....” tawa Sudarma.


“K-Ka-Kau mengawasi seluruh keluarga kami? Jelaskan apa maksudmu? Dan bagaimana Kau melakukannya!” tegas Surya.


“Bagimana ya? Jadi begini, sekarang keputusan berada di tangan kalian loh. Ingin kalian sendiri yang masuk rumah sakit atau, keluarga kesayangan kalian yang masuk rumah sakit?” ancam Sudarma.


Mereka semua terkejut dengan tingkah Sudarma yang sebenarnya, dan sebagian memilih untuk duduk kembali pada kursinya, supaya keluarganya selamat.


“Kurang ajar,” greget Surya.


“Apa yang orang ini incar!” kata Sakti.


“Sudah ya, Aku ingin laporan dahulu,” kata Sudarma yang sudah berdiri di dekat pintu.


Tap.. Tap.. Tap...


Suara langkah Sudarma berjalan keluar dari kantor itu.


“Sejak kapan? Dan bagaimana Dia bisa tahu lokasi rumahKu serta, Adikku ikut terekam!?” kata Sakti.


“Benar! Ini sudah keterlaluan,” sahut Surya dengan tatapan kesal.


 


Datanglah seseorang, menghampiri Sakti dan Surya yang tengah mengkhawatirkan keluarga mereka.


“Kalian baru terkejut sekarang ya?” kata seseorang yang meja kerjanya tak jauh dari Surya.


Mereka menoleh kepadanya, “Apa maskudmu? Aku tak mengerti?” kata Surya.


“Aku sudah mengetahuinya lebih dulu, di saat itu,” kata orang tersebut.


“Coba ceritakan yang lebih jelas,” pinta Sakti.


“Jadi waktu itu....”


Waktu itu....


Pada pagi hari menjelang siang, sekitar jam sembilan, orang itu pergi ke ruangan Pak Sudarma. Dengan tujuan menanyakan beberapa hal tentang pekerjaan, ia masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Lalu badannya tiba-tiba terkaku, tak bisa bergerak seperti membeku, saat melihat kejadian tak terduga di hadapannya.


“Apa-apaan ini? Ini kantor! Bukan tempat untuk mabuk-mabukan, apalagi berfoya-foya,” ucapnya saat Dia melihat Sudarma tengah mabuk dengan dua wanita Sexy, yang berada di sebelah kanan dan kirinya.


Lalu ia mengambil botol kosong bekas minuman keras, yang tergeletak dekat pintu.


“Sayang... sepertinya ada tamu yang sangat polos,” kata salah satu Wanita Sexy sambil mengelus wajahnya Sudarma.


“Hei, Kau mau melakukan apa?” tantang Sudarma yang tengah mabuk.


“Tentu saja, Aku akan melawanmu dengan memukul wajah jelekmu itu.”


 


“Kau yakin?” kata Sudarma sambil mencari sesuatu, lalu menunjukan seuatu yang tak terduga, yaitu foto seorang Kakak dari orang itu.


“A-Apa! Licik sekali,” kesal orang itu.


“Kalau ingin melihat Kakakmu tetap tersenyum, keluarlah dengan sopan. Dan jangan membocorkannya pada siapapun!” kata Sudarma dengan senyuman yang menyebalkan.


Lalu ia pun, dengan terpaksa melakukan yang tadi dikatakan Sudarma, demi menjaga Kakaknya dari ancaman itu. Dengan wajah yang bingung, kesal dan melas, dia berjalan kembali ke kantor.


Kembali lagi ke situasi sekarang...


“A-Apa! Dia melakukan perbuatan seperti itu?” kata Surya.


“Iya benar sekali.”


“Lalu, kenapa Sudarma licik itu berani meminum minuman keras di gedung ini, apalagi dengan dua wanita sexy?”


“Karena di saat itu... Pak Direktur sedang keluar bersama beberapa orangnya, untuk keperluan kerjasama antar perusahaan. Dan di saat itu juga, Kalian sedang berada di rumah sakit yang artinya, lantai ini sedang sangat sepi.”


“Yang menjadi masalah, dia sudah lama menyiapkan sesuatu untuk mengancam kita, yang ingin melawannya!"


“Lalu, kenapa hanya Dimas saja yang dipecat?” sahut Surya.


“Kau tahu darimana, Dimas dipecat karena ulah Sudarma?” tanya Sakti.


“Dimas sendiri yang mengatakan hal itu,” kata Surya.


“Kau tidak memberitahu Mentari kan?” tanya Sakti dengan penuh harap Mentari belum mengetahuinya.


Sakti menarik nafas lega, “Kalau begitu jangan beritahu!


“Kenapa begitu?” heran Surya sambil menggaruk lehernya.


“Sudah kubilang jangan! Bahaya tahu!” tegas Sakti.


“Iya-iya baik,” pasrah Surya pada permintaan Sakti.


“Mungkin, penyebab hanya Dimas yang dipecat, karena Serigala tak mau dicurigai oleh Pak Direktur,” sahut orang itu.


“Sepertinya Kau benar. Dia akan dicurigai jika banyak yang dipecat dari Divisi Pengembangan, bisa saja kan kita berencana melawannya bersama, supaya kita dipecat semua. Maka dari itu, dia menyiapkan sesuatu agar kita benar-benar tak bisa melawan.”


“Dasar si licik! Ingin sekali Ku pukul wajahnya sampai merengek kesakitan” greget Surya.


“Aku akan melakukan sesuatu untuk ini,” sambung Surya.


“Jangan! Kau diam saja dan berlaku seperti biasa saja,” kata Sakti.


“Maksudmu apa?” tanya Surya.


“Sudarma itu bukan orang yang sembarangan kelicikannya. Jadi kita harus main aman, maka dari itu Aku saja yang melakukannya.”


“Jadi Kau ingin melakukannya sendiri, begitu?”


“Benar sekali, hanya ini satu-satunya cara untuk menjatuhkannya.”


“Hey, hey, Aku juga ingin beraksi tahu! Enak saja melakukannya sendiri,” kata Surya yang ingin terlihat hebat di depan mereka.


“Bagianmu diam saja dan berlaku seperti biasa. Artinya Kau menjadi backup Ku! Buat seolah-olah keadaan seperti biasa, supaya Aku tidak dicurigai oleh mata-matanya.”


“Oh, jadi maksudmu begitu toh. Sepertinya menarik juga,” kata Surya yang sangat tertarik dengan ide Sakti.


“Iya! Ini yang dinamakan licik dibalas cerdik.”


“Baiklah, Aku akan melindungimu dari kecurigaan mara-mata Serigala itu.”


“Iya, Aku juga sependapat denganmu Sakti,” kata orang yang sedang bersama mereka.


“Tapi, satu hal lagi yang Aku minta.”


“Apa itu?” tanya mereka berdua.


“Jangan sampai Mentari mengetahui hal ini. Aku takut gagal jika Dia ikut-ikutan, dan Aku juga takut Dia terluka.”


“Baik, Capten! Serahkan pada kami.”


“Memangnya Kau sudah punya rencana?” tanya orang tersebut.


“Sedang kupikirkan.”


Sakti memikirkannya kembali, sewaktu sudah pulang kerja pada jam sebelas malam.


“Duh, masih belum dapat ide rencana, mana mataku sudah mengantuk,” kata Sakti lalu ia menoleh ke arah sebrang jalan.


Kemudian Sakti mendapat ide cermelang setelah menoleh ke sebuah tempat tersebut.


“Sebaiknya, Aku memikirkannya lagi sambil meminum secangkir kopi, di Cafe itu.”


Sakti pun menyebrang, lalu mampir ke Cafe itu untuk memikirkan rencana yang tepat.


Ting,Ting,Ting...


bunyi lonceng pintu Cafe yang terbuka, “Mba, Kopi luwak tanpa serbuk satu ya.”


“Mau yang panas atau dingin?” tanya Barista tersebut.


“Yang panas saja. Terimakasih.”


Barista tersebut, membuatkannya kopi sesuai yang dipinta Sakti dan, kopinya tiba ditangan Sakti setelah lima menit memesan.


Kemudian ia mendapat kursi yang bersebelahan dengan seorang bapak-bapak tua, mengenakan mantel dan topi.


Sakti celingak-celinguk, mencari bangku yang masih kosong selain di sebelah Bapak itu, karena ia merasa tak enak hati.


Namun, tidak ada lagi bangku yang kosong, selain di hadapannya itu.


“Permisi Pak, karena kursi yang kosong hanya tersisa di sebelah Bapak, apa saya boleh duduk di sini?”


“Ya, silahkan Sakti,” jawabnya.


Namun mata Sakti tercengang lebar, ketika mendengar suara Bapak itu yang melintasi telinganya.


Tekan tombol vote dan favorit untuk mendukung Author ya:)