Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Terungkap



Sepertinya Sakti mengetahui, di mana sebagian besar uang perusahaan yang dibobol oleh Sudarma.


 “Kau tahu dimana?” kata Dimas yang sudah tak sabar.


“Amplop Coklat, yang berisi selembar kertas CEK! Letaknya berada di bawah meja keyboard, pada setiap komputer yang ada di sana.”


“Amplop coklat? CEK?”


Sakti mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yang berada persis di bawah kasur tempatnya terbaring.


“Ini dia! Amplop yang Kuambil dari bawah Keyboard, pada meja kerjaKu,” kata Sakti sambil menjulurkan Amplop itu kepada Dimas.


Dimas memegang Amplopnya lalu membukanya dan seperti yang dikatakan oleh Sakti, yaitu berisi selembar CEK.


“No-nominalnya banyak sekali?” kata Dimas saat mengeluarkan CEK tersebut.


“Ya, Aku juga kaget awalnya.”


“Tapi, kenapa belum Kau cairkan? Sebelum Kau tahu ini uang curian?”


“Aku berniat mencairkannya tapi ragu untuk menggunakannya. Jadi, Aku hanya pergi ke ATM untuk mengambil uang yang dikirim oleh orang tuaku, dari luar negeri.”


“Untung saja, tidak Kau pakai. Mungkin ini bisa jadi barang bukti.”


“Sepertinya juga begitu. Tapi, tidak bisa hanya dengan amplop coklat dariku. Setidaknya harus mengumpulkan dari lima puluh orang lebih. Maka dari itu, saat Aku sembuh. Aku akan mencari amplop-amplop itu, siapa tahu masih banyak yang belum sadar dan mengambilnya.”


“Lalu, apa yang harus Aku lakukan untuk membantumu?” tanya Dimas.


“Tidak ada, tak usah membantuku.”


“Woi, Aku tak bisa diam saja untuk menunggu perubahan!”


“Tidak usah. Biar Aku saja yang melakukannya, agar Perusahaan Game kita kembali cerah,” jawab Sakti.


“Kenapa Kau bersikeras untuk melakukannya sendiri?”


“Sudarma itu sangat licik, bahkan membuat bukti palsu untuk menjatuhkanmu.”


“Benar juga, Aku baru terpikirkan. Bagaimana dia bisa tahu kalau Aku ingin membongkar kelakuannya?”


“Pasti dia punya kaki tangan, untuk mengawasi kita. Maka dari itu, Aku harus berhati-hati untuk melakukan ini. Dan Kau cari pekerjaan lain saja dan jangan lagi mencampuri urusan ini lagi.”


“Tetap saja, Aku kan pernah bekerja di sana. Aku ingin membela mereka dan teman-temanku juga!”


“Sudah berapa kali AKU bilang tidak! Kau kan telah dipecat karena tuduhan palsu. Jika Kau datang lagi untuk mengurusi Sudarma, kita tidak tahu apa lagi yang terjadi padamu. Artinya, Jika Kau mengganggunya lagi, Kau juga akan diganggu olehnya.


Dan karena itu, hanya bisa dilakukan oleh orang yang masih bekerja di sana, supaya tak dicurigai.”


“Dan.. apa Kau tak memikirkan nasib Adikmu? Bagaimana jika Adikmu kena imbasnya?” sambung Sakti.


“Kau benar sekali, kenapa Aku tak terpikirkan, Adikku bisa saja terancam. Lagi-lagi, Aku berterima kasih padamu setelah Adikmu.”


“Tidak. Aku yang harusnya berterimakasih. Berkatmu, Aku mendapatkan informasi tentang kelakuan Serigala itu.”


“Baiklah, Aku akan melakukan bagianku. Mencari pekerjaan lain dan tidak lagi mengurusi serigala itu, demi keselamatanku juga Adikku.”


Sekian lama Sakti dan teman-temannya terbaring di rumah sakit, termasuk sebagian Senior yang turut membantu. Akhirnya mereka keluar dari rumah sakit dengan keadaan pulih total.


Dan mereka sudah bisa kembali bekerja di Perusahaan Game tersebut. Dalam perjalanan berangkat kerja, di hari pertama masuk setelah sakit. Mentari dan Sakti berangkat bersama di pagi itu dengan berjalan kaki.


 “Mentari!”


“Iya?” ia menatap Sakti.


“Kau kenapa mengikutiku, untuk melakukan bagian yang lebih? Padahal tujuanku, untuk meringankan pekerjaanmu.”


“Aku tak mau Kau berjuang sendiri! Apapun yang terjadi, akan kita lakukan bersama.” 


Sakti tersipu mendengar perkataan Mentari, yang dilontarkannya seperti dari hati.


“Lagi pula, mana mungkin Kau kuat menanggung beban sebagian sembilan puluh orang.”


“Tapi Aku kan dibantu oleh Surya, Aryo, Rendy, dan juga Lima Senior lain.”


“Aku kan juga seniormu. Apa masalah?”


“I-itu-i-tu..., Tetap saja Kau kan perempuan. Masa ikut-ikutan melakukan pekerjaan yang berat ini.”


“Setidaknya, Aku juga ikut berjasa bagi mereka semua,” jawab Mentari.


Sakti termenung, “Kalau begitu, Aku tak bisa memberitahumu soal Dimas. Untung saja, Dimas tidak memberitahu Kau tentang masalah itu.”


“Ini semua, demi keselamatmu Mentari. Kali ini Aku akan melindungimu.”


Tibalah mereka di depan Gedung yang di dalamnya terdapat kantor mereka. Tapi ketika mereka baru datang, mereka disambut oleh hal yang merayakan sesuatu.


“Ada apa ini? Banyak sekali ucapan-ucapan selamat di lobby?” kata Sakti sambil melihat papan bunga ucapan di depan lobby.


“Selamat atas prestasi dari pimpinan tim,” salah satu tulisan yang Mentari baca.


“Sepertinya, Pak Sudarma mendapatkan pengharggan dari Pak Direktur, dari Game yang Deadlinenya kejam itu.”


“Dari mana Kau tahu Mentari?” tanya Sakti, lalu ia melihat wajah Mentari yang masih menatap sesuatu di dinding.


“HAA...! Bisa-bisanya dia dapat penghargaan. Kami yang masuk rumah sakit, tapi Si Sudarma itu yang disanjung,” dalam hati Sakti ketika melihat foto besar yang terpampang dihadapannya.


Dan di dalam foto itu terdapat Pak Sudarma dengan Pak Direktur sambil menyerahkan piagam penghargaan.


Belum berhenti sampai di situ, saat mereka memasuki kantor Divisi Pengembangan. Mentari dikejutkan oleh seseorang yang tengah dibicarakan oleh orang-orang disana.


 Bisik,Bisik...


“Aku tak menyangka, Dimas melakukan ini pada perusahaan.”


“Iya. Untuk apa uang sebanyak itu dia bobol?”


“Entahlah, yang jelas dia sudah dipecat.” 


Begitulah gosip yang dibicarakan oleh beberapa orang di dekat pintu.


“Kabarnya sih begitu.”


“Hah? Apakah itu benar dia melakukan itu?”


“Tidak. Jangan percaya kabar yang belum tentu benar. Aku sedang mencari tahu yang sebenarnya.”


Dalam hati Mentari, “Waktu itu, dia menjengkukKu seperti biasa. Dan tak terlihat sedang mengalami masalah.”


“Baiklah, kalau begitu Aku ikut denganmu.”


“Jangan Mentari! Karena... (Aku akan melindungimu kali ini.)”


“Karena apa?” tanya Mentari yang penasaran dengan kallimat Sakti yang belum selesai.


“Karena, jangan sampai ada yang tahu sedikit pun. Cukup Kau saja ya, please...," mohon Sakti dengan sangat.


Mentari termenung memikirkan permintaan Sakti, yang cukup membuatnya tak tega.


“Ya? Tolong biar Aku saja ya?” ucap Sakti sekali lagi dengan mohon.


Mentari tersenyum, “Baiklah, tapi beri kabar ya! Jika Kau sudah menemukan sesuatu!”


“Siap, Komandan. Terima kasih banyak.”


Sakti bergegas ke meja Dimas dan mencoba mencari bukti yang dibicarakan waktu itu.


“Jika memang benar masih ada, bisa kujadikan bukti yang kuat!” dalam hati Sakti saat memeriksa bawah Keyboard Dimas, serta meja sekitarnya.


“Ternyata sudah diambil,” kata Sakti ketika sudah meja kesepuluh diperiksanya.


“Kau sedang mencari apa?” kata seseorang yang mejanya ikut diperiksa Sakti.


“Kau pernah melihat amplop coklat tidak? Atau melihat seseorang membawa amplop coklat?”


“Tidak pernah melihat siapapun yang membawa amplop coklat, apalagi melihat amplopnya.”


“Ada dua kemungkinan, pertama Dia berbohong karena isi nominalnya besar. Atau kedua, Sudah diambil oleh suruhan Sudarma,” termenung Sakti.


“Kau kenapa diam?”


“Ah tidak. Tidak apa.”


Sakti melanjutkan pencariannya lagi saat sudah jam istirahat, dimana semua orang telah keluar dari kantor itu.


“Teman-teman, Aku ke toilet dulu ya, kalian duluan saja,” kata Sakti kepada Mentari, dan Surya saat berjalan menuju kantin.


“Iya, kami tunggu di meja biasa.”


“Oke,” Sakti dengan cepat bergegas menuju kantornya, lalu memeriksa lagi meja-meja keyboard lainnya.


Namun sudah lima puluh meja, ia tidak menemukan apapun, kemudian ia mencari lagi di meja yang belum diperiksa.


“Aku harus cepat mendapatkannya. Setidaknya diatas sepuluh amplop.”


Dan sudah tersisa satu meja lagi, ia belum menemukan amplop berwarna coklat itu.


“Baiklah, satu saja pasti ada.” Sakti membuka Keyboardnya yang tersisa tersebut secara perlahan-lahan....


Lalu terlihatlah kertas berwarna coklat, kemudian ia dengan sigap mengangkat Keyboardnya.


“Akhirnya masih ada, walaupun hanya satu.”


Sakti membuka amplop tersebut tapi tidak sesuai perkiraannya karena isinya kosong.


“Hah? Yang benar saja!”


Ia memeriksa amplop itu sekali lagi, “Mungkin sudah diambil sama orang yang duduk di sini,” kata Sakti lalu meremas amplopnya.


Setelah jam makan siang berakhir, datanglah Sudarma kepada mereka, saat mereka semua telah mengenyangkan perut.


“Kuucapkan, selamat datang kembali, bagi kalian yang baru saja kembali dari Rumah Sakit,” kata Sudarma sambil tersenyum.


Mereka terhening lalu seseorang menyahut, “Maksud Kau apa?”


“Whahaha.... sepertinya Kau terburu-buru sekali ingin mendengar selanjutnya. Baiklah, selanjutnya yang ingin Kukatakan adalah, Deadline yang sama untuk kedua kalinya dimulai.”


“HAA...!” serentak kaget mereka semua dan satu per satu berdiri, bahkan sampai ada yang berdiri di atas meja.


“Kau sudah gila ya? Yang kemarin saja hampir membuat kami masuk rumah sakit. Jika saja bukan karena mereka yang berkorban, pasti kami semua sedang berbaring sekarang.”


“Hei, Aku kan sudah bilang. Ini untuk kebaikan perusahaan, agar lebih maju.”


“Apanya yang maju! Jika kami semua jatuh sakit,” tegas seseorang.


“Kalau sudah tak mau percaya ya sudah. Aku sudah cukup memiliki kekuasaan di sini,” jawab Sudarma dengan wajah menyebalkan.


“Apa! Apa-apaan Kau!”


“Jadi, selama ini Dia berencana untuk membentuk Dark System? Untuk kepentingannya sendiri?” desis (suara pelan) Sakti.


Suara dumelan Sakti terdengar oleh Pak Sudarma yang berada tak jauh, dari posisi Sakti berdiri.


“Apa? Dark System?”


“Hah!! Orang sepertimu mana tahu!” jawab Sakti.


“Whahahah...,” Pak Sudarma mendekat kepada Sakti lalu membisikan sesuatu padanya, “Aku tahu kok. Itu kan ocehan belaka si Dharma.”


Mata Sakti tercengang ketika mendengar itu, kemudian dengan tanpa merasa bersalah, Sudarma berjalan keluar.


“Woi! Mau kemana Kau!” sahut seseorang saat Sudarma hendak keluar. Sudarma pun menengok ke arahnya, “Ada apa lagi?”


“Urusan kita belum selesai!” kata seorang itu, sambil mengumpulkan beberapa orang yang sudah bersiap untuk melakukan kekerasan pada Sudarma.


“Jika kalian berani mendekat, kalian akan menyesal!” kata Sudarma sambil menekan sebuah remot di tangannya.


Pandangan mereka semua, menjadi teralihkan oleh layar proyektor yang menyala di hadapan mereka, termasuk orang-orang tersebut.