Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Siapa orang ini!



Semua programmer telah duduk di meja mereka masing-masing, setelah jam masuk tiba. Namun, mereka tengah terheran-heran, karena tak seperti biasanya...


“Dimana Pak Dharma?” kata Rendy yang baru saja telat ke kantor.


“Akh.., Aku kira yang telat Pak Dharma, ternyata malah Kau,” ujar salah seorang yang berada di kantor itu.


“Ya sudah, kita tunggu kabar saja.”


Mereka kembali melakukan pekerjaan pengembangannya, di kompuer Apel masing-masing. Dan di samping itu, terlintaslah sebuah ide di dalam kepala Sakti.


“Aku buka saja Facebook Pak Dharma, siapa tau ada informasi sesuatu.”


“TIK, TIK, TIK,” suara mouse dari komputer Sakti.


Mata Sakti tercengang melihat sesuatu di layar monitornya, “Ah, Kenapa tidak bisa dibuka?”


“Apanya yang tidak bisa dibuka?” sahut Surya, lalu menjulurkan wajahnya ke Monitor Sakti.


“Kau, ingin membuka Facebook ya?”


“Iya, tapi tidak bisa.”


Surya mengangkat wajahnya kembali, dari depan monitor Sakti, ”Ya memang tidak bisa.”


“Kenapa begitu? Apa Aku harus bayar?”


“Lihat peraturan yang dipajang di sana itu,” tunjuk Surya.


“Tidak boleh membuka Sosial Media ataupun Game di area Kantor!” tulisan yang Sakti baca.


“Ke-kenapa tidak boleh?”


“Ya jelas sekali Sakti. Karena Kau tidak memberitahuku tentang Adik-“


Sebelum selesai bicara, Sakti begerak cepat menjitak Surya, “Apa urusannya dengan AdikKu!” kata Sakti dengan tatapan tajam kepadanya.


“Cepat! Katakan yang sebenarnya!” tegas Sakti.


“Aduh..” Surya mengusap bagian yang terjitak Sakti,


“Ya baiklah. Alasan yang sebenarnya, karena hanya akan mengganggu kinerja kita. Maka dari itu dibuatlah peraturan ini dan semua yang mengganggu diblokir.”


Sakti menundukan kepalanya, “Jika disaat itu, Aku tak sengaja menghapus semua kontak. Mungkin, sekarang Aku bisa menghubungi Pak Dharma ataupun Bu Ningsih,” dalam hati Sakti.


“Kau kenapa termenung?” Surya tiba-tiba tersenyum, “Ah.. Aku mengerti. Pasti Kau menyesal karena telah menjitakku Kan?”


“Buk” suara jitakan lagi dari Sakti, “Sudah, kembali bekerja.”


Sepuluh menit kemudian, datanglah Pak Direktur dengan Seseorang, yang wajahnya tidak dikenali oleh satupun dari mereka.


“Pagi Pak Direktur!” sambut salah seorang dari mereka.


“Ya, Pagi,” jawab Pak Direktur, “Perhatian semuanya! Kedatangan saya kemari untuk membawa dua kabar. Yaitu Kabar Pak Dharmaswangsa dan Kabar Seseorang yang disamping saya ini.”


Bisik,bisik, bisik,


“Iya, Pak Dharma kira-kira kenapa ya?”


“Orang yang disamping Pak Direktur siapa tuh?”


“Sepertinya Pak Dharma sakit.”


“Baik, akan saya mulai!” mereka semua seketika terdiam.


“Kabar pertama yaitu, dari keadaan Pak Dharmawangsa. Kemarin malam, terjadi kebakaran di rumah beliau.”


“Hah...!” terkejut sangat mereka.


“Tapi, Keluarga serta Pak Dharmawangsa.... mereka semua selamat. Hanya barang-barang dan rumahnya saja yang terbakar.”


“Syukurlah,” kata Sakti sambil mengelus dadanya.


Bisik, Bisik, “Untung Pak Dharma dan keluarganya selamat.”


“Baguslah kalau begitu.”


“Karena rumahnya sudah tidak bisa ditinggali lagi. Mereka semua harus pindah rumah dan juga pindah tempat kerja.”


Mereka semua terkejut sekaligus terheran-heran, dan semuanya serentak berdiri.


“Kenapa Pak Dharmawanga pindah bekerja? Apakah dia melakukan kesalahan?” sahut salah seorang.


“Bisa saja kan Pak Dharma merenovasi rumahnya?” kata Rendy yang tak jauh dari posisi Pak Direktur berdiri.


“Kalian semua tolong diam sebentar. Jadi, karena kebakaran itu Pak Dharma mengungsi sementara di rumah saudaranya. Dan mereka bersiap-siap akan pindah rumah, tapi jauh dari kota ini. Alias di luar kota.”


“Pak! Kenapa Pak Dharma harus pindah keluar kota? Disini kan masih banyak tempat tinggal!” kata Rendy dengan tatapan curiga kepada Pak Direktur.


“Soal itu, Saya tidak tahu. Itu urusan keluarga Pak Dharma, jadi tanyakan saja sendiri. Intinya, Saya sudah mengirim orang untuk mengurus surat Resign kepada Pak Dharma.”


“Tetap saja sangat aneh. Kenapa Pak Dharma Resign begitu saja? Paling tidak, dia datang ke sini untuk membuktikan dirinya ingin Resign.”


“Apa Kau tidak dengar yang kukatakan tadi?” tegas Direktur.


“.....” (tak ada yang merespon)


“Pak Dharma baru saja mengalami musibah tahu! Dan sekarang keadaannya sedang sangat sedih, apalagi banyak hal yang harus dia urus bersama keluarganya. Bisa-bisanya Kau menyuruh Pak Dharma datang ke Perusahaan, tak ada hatikah Kau?” celoteh Pak Direktur dengan tegas.


“Justru, sebagai penghargaan karena telah berjasa bagi perusahaan ini. Kami memberinya Reward sekaligus mengantarkan surat Resignnya, ke kediaman Pak Dharma yang sementara itu.”


“Apa buktinya kalau Pak Dharma ingin berhenti?” sahut Rendy dengan menaikan alis sebelahnya.


Mereka semua yang masih berdiri, tercengang mendengar celotehan dua orang di depan itu.


“Sudah-sudah, jangan emosi begitu kepada pegawaimu,” sahut orang yang berdiri disebelah Pak Direktur.


“Nih buktinya,” orang itu membuka proyektor lalu menampilkan video dari Pak Dharma.


“Hallo Pak Direktur. Saya membuat video singkat ini, ingin menyatakan bahwa akan berhenti dari perusahaan Bapak. Karena saya akan langsung pindah rumah yang berada di luar kota. Terimakasih, telah menerima saya di perusahaan Bapak dan sempat menjadi bagian keluarga besar perusahaan Bapak.”


“Kenapa singkat sekali?” bisik salah seorang kepada sebelahnya.


Setelah layar proyektornya mati, Pak Direktur menatap orang yang tadi bersamanya itu.


“Kenapa Kau menunjukan itu Sudarma? Aku menjadi tidak enak hati dengan Pak Dharma.”


“Daripada ada keributan disini, lebih baik langsung beri tahu saja,” jawab seorang itu.


 


Sakti termenung usai menonton cuplikan, dari video singkat itu, “Apa benar? Apa video itu asli? Kalau begitu, Bu Ningsih juga pindah dari kampus Ubi Ungu?”


“Kau kenapa Sakti?” tanya Surya yang melihat Sakti termenung.


“Tak apa.”


“Kalau saja Aku tidak menghapus semua kontak, karena kejadian tak sengaja itu. Mungkin, Aku bisa lebih cepat tahu keadaan rumah Pak Dharma saat kebakaran kemarin, dan Mungkin Aku bisa sedikit membantu. Arggh... seandainya tak ada kejadian itu!”


Kejadian itu....


Sewaktu Sakti masih berkuliah di kampus ubi ungu dan sebelum bekerja di Perusahaan Game Pak Dharma. Ia sedang berada diperpustakaan kampus dalam rangka Study Group, namun hanya berdua saja.


“Sakti, Kau sedang kontakan dengan Senior Bella ya?” kata seorang cewek, yang sekelompok dengan Sakti.


“A... tidak kok,” kata Sakti sambil bercucuran keringat di wajahnya.


“Lalu, kenapa keringatan?” tanya temannya itu, yang masih kepo pada layar ponsel Sakti.


“Coba dong, Aku lihat kontakmu, ayolah...” bujuk Cewek itu.


Sakti menyembunyikan ponselnya di dalam tas miliknya, sembari menghapus kontaknya Bella, seseorang yang disebut cewek tadi.


“Ah dapat!” kata Cewek tersebut, usai berhasil merebut ponsel milik Sakti, dari dalam tasnya.


“Fuhh, untung saja sudah terhapus,” desis(suara pelan) Sakti.


“Kau....”


Sakti tiba-tiba kembali panik, “Kenapa? Apa belum terhapus?” dalam hatinya.


“Kau tidak punya Kontak siapapun ya? Kasihan.”


“Hah...! Masa sih? Coba sini perlihatkan.” Sakti memeriksa ponselnya, “Waduh, terhapus semua. Jariku salah tekan tadi.”


Kembali lagi ke waktu sekarang...


“Baik, saya akan memperkenalkan diri saya. Nama Saya adalah Pak Sudarma, dan Saya akan menggantikan posisi Pak Dharma yaitu sebagai Pimpinan Tim disini. Mulai hari ini, salam kenal.”


Mereka semua tercengang mendengar perkataan Pak Sudarma yang baru saja dilontarkan.


“Apa! Kenapa Dia hari ini langsung bekerja?” ucap salah seorang.


“Itu benar! Bukankah, jika ada yang baru Resign dari sini, digantikan dulu oleh seseorang yang bekerja disini?”


“Tidak! Kita tidak punya waktu untuk itu! Sebelum perilisan Gamenya, kita harus cepat mencari Pimpinan Tim di Divisi ini. Lagipula, tidak ada yang sempat menggantikannya sementara waktu, sebagai Pimpinan Tim cadangan,” jawab Pak Direktur.


“Kenapa Pak Direktur menjadi sangat bersikeras sekali?” desis (suara pelan) Surya.


“Memangnya, Dia tidak seperti itu dari sikap biasanya?” tanya Sakti yang mendengar dumelan Surya.


“Pak Direktur tak akan bersikap sekeras itu, kecuali ada seseorang yang sangat ia perayai.”


“Artinya, Pak Sudarma sangat dipercayai oleh Pak Direktur?”


“Bisa dibilang begitu,” begitulah bisik-bisik mereka berdua.


“Baiklah! Sisanya Saya serahkan kepada Pimpinan Tim yang baru. Saya kembali ke ruangan saya.” Pak Direktur berjalan keluar dari kantor Divisi tersebut, kemudian Sudarma melanjutkan tugasnya.


“Hmhh, kita mulai dari mana ya, kawan-kawan?” sok akrab Pak Sudarma.


“Jangan-jangan, Bapak tidak tau cara bekerja disini? Apalagi sebagai seorang Pimpinan Tim?” kata Surya.


“Bukan begitu. Saya tahu kok, Saya sudah baca semuanya tentang Perusahaan ini,” kata Pak Sudarma dengan senyum ramah.


“Sepertinya, Saya harus mengubah Algoritma di bagian ini,” desis(suara pelan) Pak Sudarma.


“Apa? Barusan Bapak ngedumel apa?” Sahut Rendy, yang berdiri tak jauh dari posisi Sudarma.


“Ah, tidak kok. Saya hanya mengingat-ingat kunci mobil Saya.”Pak Sudarma meraba-raba celananya, “Tadi dimana ya? Ah, ketemu!” ucap Pak Sudarma saat mengeluarkan kunci mobil dari kantongnya.


“Ya sudah kalian semua. Kembali ke tempat masing-masing dan lanjut bekerja.”


Tak berselang lama, datanglah seseorang dari Bagian Keamanan Data dan Penyimpanan data. Membuka pintu sangat keras, setelah mengetuknya tiga kali dengan keras.


“Maaf Kalau tak sopan, tapi ini sangat genting!” ujarnya dan seketika membuat mata mereka tertuju padanya.


**Bersambung...


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya**:)