
“Hallo! Ada apa?”
“Aku melihat Pak Direktur bersama Sudarma, sedang ditempat parkir menuju mobilnya. Dan mereka sudah keluar dengan mobilnya.”
“Kau tahu mereka mau kemana?”
“Tidak sama sekali.”
“Kalau begitu rencana B! Kau kejar mobilnya lalu cegat mereka dan beritahu semuanya.”
“Baik!” jawabnya.
Sakti mengeluarkan alat yang sering ia gunakan sebagai transportasinya. Tapi berbeda dari yang biasanya, karena itu adalah Roller Skate yang baru ia buka, dari hadiah perpisahan.
“Roller Skate dari Budi sehebat ini. Sepertinya Aku harus berterimakasih kepedanya setelah ini.”
Sakti melaju dengan pesat mengejar mobil Pak Direktur, sampai akhirnya berhasil menghadang mereka di jalanan yang cukup sepi.
Pak Direktur keluar dari mobil dan berkata, “Kau siapa? Kenapa menghentikan perjalanan kami?”
Dalam hati Sakti ketika melihat Pak Direktur keluar, “Dengan begini Dark System akan lenyap.”
“Begini Pak Direktur. Saya adalah salah seorang yang bekerja di perusahaan Bapak sebagai Programer. Saya tidak masuk kerja, karena ingin membicarakan sesuatu pada Bapak. Jadi saya minta waktu sebentar,” ucap Sakti.
“Kenapa Kau pakai baju selam?” ucap Direktur dengan terheran-heran.
“Ini bukan baju selam Pak, lagi pula itu tidak penting. Sekarang Saya ingin bicara pada Bapak.”
“Kenapa tidak di kantor saja? Sudah, Saya mau jalan lagi,” kata Direktur yang hendak berbalik.
“Pak! Tunggu!” mohon Sakti dengan sangat.
Pak Direktur tidak menggublis ucapan Sakti, Namun, tiba-tiba ia berhenti bergerak saat Sudarma keluar dari mobil.
“Pak Direktur! Tak ada salahnya kan, kita mendengarkan Dia sebentar?” kata Sudarma yang baru keluar dari mobil.
Pak Direktur menolehkan lagi wajahnya kepada Sakti,
“Baiklah, apa yang ingin Kau katakan?”
Sakti mengeluarkan berkas-berkasnya dari dalam tas, kemudian menyerahkannya kepada Direktur.
“Apa ini?” tanya Direktur saat menerimanya, amplop besar yang berisi rahasia Sudarma.
“Tolong baca sampai habis dan perhatikan baik-baik. Karena itu akan mengungkap Serigala yang ada di perusahaan Bapak.”
Pak Direktur membukanya perlahan-lahan dan memeriksanya dengan teliti. Sampai pada akhirnya, Ia terkejut ketika sudah pada lembar terakhir.
“Apa-apaan ini!” kesal Pak Direktur.
Reaksi Sakti saat mendengar Direktur kesal, “Bagus! Aku menang!”
Tiba-tiba, hal itu membuat Pak Direktur menyodorkan berkas-berkas tersebut, pada dada Sakti.
“Aku tidak punya waktu untuk bercanda,” sambung Direktur.
Sakti terkejut mendegarkan ucapan Direktur barusan, di depan wajahnya.
“A-Apa?” heran Sakti.
“Kau lihat saja sendiri!” kata Pak Direktur, sebelum Ia masuk ke dalam mobil.
Sakti mengangkat berkas itu perlahan-lahan dan dilihatnya, “Ba-bagaimana bisa? Aku malah menyerahkan majalah dewasa? Apa Aku salah ambil?” ucap Sakti saat melihat berkas tersebut adalah Majalah Dewasa.
Disisi lain, Sakti melihat Sudarma tersenyum padanya sebelum masuk ke dalam mobil.
Dan Sakti meratapi kegagalannya, kesal, serta terheran-heran, sambil melihat mobil Direktur yang kembali berjalan.
Setelah mobil itu lumayan jauh dari pandangannya, tiba-tiba ada kabar darurat dari Navigator.
“Gawat Sakti!” suara Pak Dharma melalui earphone.
“Huh? Ada apa Pak?” Sakti sedikit memperbesar volumenya.
“Sudarma berencana membawa Direktur ke bangunan Gedung Kosong. Dia akan memaksa dan mengancam Pak Direktur, agar melepaskan perusahaan game itu padanya.”
“Apa! Bapak tahu dari mana?”
“Kau dengarkan saja sendiri, dari rekaman yang tadi Kau taruh di ruang Sudarma.” Pak Dharma memperdengarkan bukti rekaman tersebut, melalui Earphone Sakti.
“Suara ini!” reaksi Sakti, saat mendengar rekaman dari alat sadap yang tadi ia taruh.
“Pak Dharma, apa Bapak bisa melacak mobilnya?”
“Tentu saja bisa, Aku sudah melacaknya melalui Aplikasi Bengkel kemana saja, buatanmu itu. Accountnya telah terdaftar di aplikasi itu dan, dengan mudah Aku melacak Ip address dari Smartphonenya.”
“Master IT(information Tecnology) memang hebat!” kagum Sakti.
“Pujiannya nanti saja. Kau kejar dulu mereka sebelum terlambat.”
“Baik!” jawab Sakti. Kemudian ia mengirim pesan singkat kepada Surya melalui Chat, untuk membungkam mata-mata Sudarma, yang selama ini menyamar di antara mereka.
Sakti melaju dengan sangat cepat, usai mengirim pesan singkat itu kepada Surya. Melaju cepat sambil merobek-robek majalah dewasa tersebut, menjadi bagian-bagian kecil sepanjang jalan.
Sakti dapat melaju lebih cepat dari biasanya, karena memakai Roller Skate yang mendorong penggunanya, dapat melaju dengan cepat.
Roller Skates, yang diberikan Budi kepada Sakti sebagai hadiah perpisahan. Bukanlah Roller Skate biasa, yang sama dengan punyanya.
Roller Skate itu di rancang oleh Ahli mobil Formula dan teknisi pesawat. Bentuknya seramping ikan hiu dengan moncong seperti pesawat, agar memudahkan kaki pengguna menembus angin.
Apalagi ringan saat digunakan, ditambah lagi tiga lubang seperti insang hiu, di keempat bagian pada kedua sepatu tersebut. Agar menarik angin dari depan, lalu membuatnya memotong angin lebih kuat.
* * *
Keadaan Surya yang telah menerima pesan singkat dari Sakti, ia mengajak sembilan orang untuk memojokan satu mata-mata Sudarma, yang berpura-pura berada di pihak mereka.
“Apa Kau serius?” tanya Aryo, salah satu yang bersamanya. Surya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
“Ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi. Pertama, dia pergi ke toilet untuk menghubungi Sudarma. Atau, dia menjaga berkas-berkas asli, yang disembunyikan di ruangan pribadi Sudarma.”
“Jadi maksudmu, Sudarma menyembunyikan laporan yang asli dan palsu, di tempat yang sulit dijangkau? Dan mata-matanya itu diperintahkan untuk menjaganya, karena Sudarma sedang keluar?”
“Benar, karena tadi temanKu salah ambil,” ucap Surya.
“Baiklah! Kita kepung dia di ruangan Sudarma. Dan kita ambil berkas yang bisa dijadikan bukti, lalu membebaskan kita.”
“Ayo!” kata mereka.
* * *
Keadaan Sakti yang sebelumnya mengejar mobil Pak Direktur, berhasil dijangkau kembali oleh pandangannya.
“Akhirnya, terlihat juga mobilnya.”
“Ingat! Kau harus menjaga jarak jika sudah tiga meter lagi.”
“Iya, tenang saja.”
Sakti pun mengikuti mobil itu, sampai di tempat tujuannya Sudarma, yaitu Gedung Kosong.
Keadaan Pak Direktur yang berada di dalam mobil, “Pak Sudarma! Bukannya kita mau bertemu Client?” tanya Direktur saat memasuki kawasan gedung kosong itu.
“Iya, memang benar kok.”
“Tapi kenapa di bangunan kosong seperti ini?”
“Itu juga, Saya kurang tahu. Maka dari itu kita harus berhati-hati.”
“Baiklah.”
Mereka sampai di halaman gedung kosong itu dan, memijakan kakinya di tempat yang sangat meragukan sekali. Sudarma dan Direktur berjalan ke pintu masuk gedung itu.
Saat telah di dalam gedung kosong tersebut, Sudarma menyalakan lampu gedung tersebut.
"Sudarma, Aku tak melihat ada orang di sini?" heran Pak Direktur saat celingak-celinguk.
Dari belakang Pak Direktur, dengan cepat Sudarma mengunci tangan Direktur dan menahan pergerakannya, sehingga tak bisa bergerak apalagi melawan.
“Apa-apaan ini!” kata Direktur sambil meronta-ronta.
“Bingo! Kau sudah terperangkap!”
“Apa maksudmu? Supir! Cepat Kau bantu Saya! Jangan diam saja! Mau kupecat?”
“Oh sayang sekali. Supir itu bukanlah Supirmu. Whahaha...”
“Sial! Seharusnya sejak awal Aku tak mempercayaimu! Seharusnya, Aku lebih memilih percaya pada pegawaiku tadi.”
“Hei, menyesallah ketika urusan kita sudah selesai.”
“Siapapun tolong Saya!” teriak Pak Direktur dengan keras.
“Ini kan tempat sepi. Siapa yang dapat mendengarkanmu? Berteriaklah sesuka hatimu, tapi jangan sampai Aku budek.”
“Awas saja Kau!” tegas Pak Direktur dengan tatapan tajam.
“Awas? Awas apa? Memangnya Kau akan melakukan apa? Supir! Cepat borgol tangannya.”
Supir itu memborgol tangan Direktur, kemudian membawanya ke sebuah bangku yang barada di lantai dua.
Gedung itu seperti gedung perpustakaan, jadi lantai dua dan seterusnya berbentuk Koridor dan bukan lorong. Jadi bisa dilihat dari lantai dasar layaknya Mall. Dan juga ukuran lantai dasarnya yang sangat luas.
“Sebenarnya apa yang Kau mau?” tanya Direktur dengan posisi terikat pada kursi tersebut, dan tangan yang terborgol.
“Keterlaluan,” desis Sakti yang melihat dan mendengar itu dari Corong udara. Dia berhasil menyelinap masuk ke gedung tua tersebut, hingga dapat mengintai dari corong udara.
“Apa mauKu? Sebenarnya kemauanku sangatlah sederhana. Tanda tangani surat ini!” kata Sudarma sambil menunjukan suratnya.
“Untuk apa, Kau menyuruhku tanda tangan?”
“Untuk apa ya? Ya apalagi kalau bukan, untuk menyerahkan perusahaanmu kepadaku. Dengan begitu, Aku bisa menjualnya dengan harga yang tepat dan sesuai.”
“Tapi, kenapa Kau melakukan pekerjaan yang menguntungkan perusahaan, pada waktu itu?”
“Keuntungan?” tanya balik Sudarma.
“Iya! Kau saat itu meminta game rilis lebih awal, dan membuahkan keuntungan yang sangat besar. Dan karena itu, Kau memintaku untuk menyerahkan kekuasaan deadline padamu.”
“Demi keuntungan? Kau mudah sekali ditipu ya.... itu semua palsu! Itu hanya keuntungan semata-mata dari skenarioku, Aku membayar sepuluh juta orang untuk menginstal game Anda. Item yang dibeli pun, hanya tipuan semata-mata dari uang perusahaan, yang Aku bobol,” terang Sudarma dengan senyum menyebalkan.
“Kau orang yang sangat licik! Seharusnya Aku tak mempercayaimu dari awal. Bodoh sekali Aku.”
“Sudah Aku bilang, menyesalnya nanti saja. Cepat tanda tangan!”
“Jadi rencana sebenarnya Sudarma, ingin membajak Perusahaan game ini, lalu menjualnya,” kata Sakti yang masih mengintai dari atas.
“Kenapa Kau diam saja! Cepat tanda tangan!” paksa Sudarma.
“....” tak ada respon dari Direktur.
“Oh melawannya.”
“AAA....” teriakan Direktur yang dikejut oleh Sudarma.
Sakti yang melihat itu, membuatnya tambah kesal, “Keterlaluan!”
Lalu terdengarlah langit-langit yang roboh, yang dimana Sakti turun bersamaan dengan puing-puing, dari corong udara tersebut ke lantai dasar.
“Cukup!” tegas Sakti dengan berpose epic. Saat telah berdiri di balik kebulnya debu puing.
Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya:)