
“Pak Dharmakah? Apa Bapak, Pak Dharmawangsa?” tanya Sakti dan ia langsung terduduk di sebelahnya.
“Apa kabarmu Sakti?” katanya sambil menoleh wajahnya perlahan kepada Sakti.
“Pak Dhrama,” kata Sakti yang tercengang dan tak menyangka.
“Kau kenapa?” kata Pak Dharmawangsa sambil terkekeh.
“Ya kaget lah! Bapak sedang apa disini!? Bukannya Bapak sudah pindah rumah?”
“Pertanyaanmu, banyak sekali ya. Aku akan jawab semuanya, tapi...”
“Tapi apa?” penasaran Sakti.
“Jawab dulu, pertanyaanku yang tadi! Bagaimana kabarmu?”
“Ya-ya, Aku baik kok.”
“Bagus! Artinya Kau tidak mengalami kejadian sepertiku.”
“Maksud Bapak apa?”
“Baik, akan Aku jelaskan dari semua pertanyaanmu itu,” kata Dharmawangsa sambil menyeruput kopi.
“Kabar tentang rumahku terbakar, itu bohong.”
“HAA...!” kaget Sakti.
“Sstt... Kau diam dulu dan dengarkan sampai habis!”
“Iy-iya maaf,” jawab Sakti, “Berarti, Ambulan dan Damkar waktu itu, bukan ke rumah Pak Dharma.”
“Jadi, ini semua Skenario dari Sudarma.”
“Tunggu! Bapak kenal Pak Sudarma?”
“Benar, dia itu teman sekampusku sewaktu kuliah, dan dia adalah orang yang menginginkan sesuatu dengan segala cara,” kata Dharma sambil menyeruput kopi.
“Maka dari itu dia membuat Skenario untuk membuatku Resign dari perusahaan dan digantikan olehnya. Semuanya karena Aku ada hutang dengannya, padahal dari dulu Aku bisa membayarnya. Tapi dia selalu berkata, nanti saja dan Aku tetap bersikeras untuk membayar. Dan dia lagi-lagi berkata nanti saja,” ungkap Dharmawangsa.
“Lalu selanjutnya?” penasaran Sakti sambil meminum kopinya.
“Sampai pada akhirnya, sewaktu pembuatan game oniine yang terbaru itu, dimana Kau baru saja bergabung. Dia datang kerumahku untuk menagih hutang, dan Aku pun sudah siap untuk membayarnya. Tapi yang dia minta bukan uang namun jabatanku.”
“Bapak dipaksa untuk Resign?”
“Benar, Kalau Aku tidak mau menurutinya. Dia akan menyita rumahku dengan paksa, memakai bukti\-bukti palsu.”
“Kejam sekali.”
“Bukan hanya itu, Dia juga akan melaporkanku dengan tuduhan mencuri uangnya dan lagi-lagi memakai bukti palsu. Yang menjadi masalah, kenapa dia bisa membuat bukti palsu yang kuat?”
Brak!! Suara Sakti menggebrak meja, “Keterlaluan!"
Tanpa sadar, mereka yang berada di cafe menoleh ke arahnya.
“Kau tenang dulu Sakti. Aku kan sudah menyelamatkan keluargaku. Sekarang, bagaimana dengan Kau? Bagaimana dengan keadaan perusahaan itu?”
“Sejak awal Sudarma masuk, Aku sudah mencurigai alasan-alasan yang dia buat. Dan sampai akhirnya, ia berhasil memanfaatkan Pak Direktur untuk meminta Deadline, sepenuhnya berada ditangannya.”
“Lalu, apa yang dia lakukan?” tanya Dharmawangsa.
“Awalnya, dia berkata ingin menaikan keuntungan dan demi kebaikan perusahaan, dengan memegang deadline sepenuhnya. Dia juga berjanji untuk tetap dalam batas wajar. Karena itu, Direktur memberikannya kesempatan untuk memegang Deadline.”
“Jadi begitu ya, dia sampai mengubah ketentuan perusahaan.”
“Tapi setelah itu... dia memberi deadline yang tidak wajar pada kami semua. Sehingga Aku dan beberapa temanku, bekorban dengan bekerja lebih banyak. Yang artinya, kami mengambil sebagian pekerjaan sembilan puluh orang. Alhasil mereka hanya mengalami kelelahan, dan hanya kami yang jatuh sakit.”
“Kenapa Kau mau melakukannya?” tanya Dharmawangsa.
“Aku ingin melawan Dark System itu.”
“Begitu ya....” Pak Dharma menyeruput kopinya.
“Tapi, setelah kami pulih dan keluar dari rumah sakit. Aku melihat penghargaan yang diberikan Direktur, hanya pada Sudarma, atas game itu. Padahal kami yang sampai masuk rumah sakit, tapi malah orang itu yang tersenyum.”
“Iya, benar. Semuanya itu dimanipulasi orang licik itu. Direktur tak mengetahui keadaan kami yang sebenarnya dan ia hanya menerima laporan-laporan palsu dari Sudarma."
“Lalu, apa yang akan Kau lakukan?”
“Tapi sebelumnya, Aku ingin menanyakan sesuatu pada Bapak. Apa Bapak mengetahui rencana Sudarma yang sebenarnya?"
Srupptt....
“Tidak, Aku tidak mengetahuinya sama sekali. Karena, Aku tak pernah punya masalah dengannya, apalagi hanya sebatas teman biasa. Aku juga kaget, ketika ia menagih hutang dengan cara seperti itu.”
“Begitu rupanya. Rencanaku untuk mencerahkan kembali perusahaan itu dari tangan gelap. Aku akan berusaha mencari segala kelemahannya,” kata Sakti.
“Jika Kau gagal?” tanya Pak Dharma karena ragu.
Sakti kembali bekerja pada pagi ini, dan secara kebetulan bertemu dengan Surya di lobby.
“Loh, mata Kau kenapa Sakti?” tanya Surya saat melihat mata Sakti berwarna keunguan.
“Dia baru tidur jam dua pagi. Padahal, kemarin pulang jam sebelas, tapi masih sempatnya begadang!” sahut Mentari yang telah menanyakan itu dalam perjalanan.
“Hei, Aku kan bertanya pada Sakti. Kenapa Kau yang menjawab?” Wajah Surya mulai meledek, “Atau jangan\-jangan... kalian sudah pacaran?”
Mendengar itu, sontak reaksi Sakti dan Mentari menjadi canggung, “Ah, itu ehm.. tidak kok.”
“Iya benar sekali. Kami belum pacaran!” sahut Sakti.
“Apa maksudmu belum, Sakti?”
“Ahh, tidak. Tidak usah dipikirkan! Intinya, Aku mendapatkan kantung mata ini, karena kebanyakan minum kopi,” kata Sakti sambil mereka berjalan ke kantor.
“Begitu ya.”
“Ya begitulah,” sahut Sakti.
Sakti mulai teringat sesuatu setelah tiga jam bekerja. “Oh, Aku lupa untuk pergi ke toilet, sejak dari cafe itu Aku tak sempat,” dalam hati Sakti dengan kaki bergemetar.
Sakti pun langsung bergegas menuju toilet untuk membuang air kecil.
“Payah, karena Deadline yang begitu ketat. Untuk buang air kecil saja sampai lupa,” kata Sakti saat sudah tiba di depan pintu toilet.
Dan saat Sakti telah selesai menyiram, kemudian hendak membuka pintu biliknya, tubuhnya tiba-tiba terkaku diam.
Seperti membeku, saat ia mendengar suara Sudarma yang masuk ke toilet, sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
“Kau tenang saja. Ini demi berjalannya rencana selanjutnya,” suara yang didengar Sakti sebelum tubuhnya terkaku diam.
Sudarma mengunci pintu depan, dan menelponnya dengan santai di luar bilik-bilik toilet.
Sakti yang masih tak bisa bergerak di dalam salah satu bilik, melepas tangannya dari gagang pintu.
Lalu ia melihat ke bawah, terlihat bayangan Sudarma yang hendak ke arah biliknya. Sakti pun perlahan-lahan mundur tanpa suara, lalu naik ke atas closet duduk yang barus saja di tutup.
“Ada apa?” suara ditelpon itu.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Sudarma setelah selesai melihat kolong salah satu bilik kosong, yang dimana terdapat Sakti tanpa diketahuinya.
“Huft, Hampir saja,” dalam hati Sakti.
“Pokoknya, Kau bertahan saja dulu! Aku tahu pasti Kau tak mau melakukannya lagi, karena sangat berat bagi Kau dan juga mereka. Tapi itu terserahmu saja, ingin membantu mereka lagi atau tidak.”
“Intinya, Aku memberi Deadline berat lagi, supaya Divisi Pemrograman menjadi kosong, dengan membuat mereka mundur dengan sendirinya, kerena kelelahan dan tak betah."
Kalau rencana itu berhasil, Aku akan cepat mendesak Direktur agar menyerahkan perusahaan ini. Lalu menjualnya dengan harga sesuai dan Kau pasti akan dapat bagian juga.”
Mata Sakti tercengang lebar mendengarkan Rencana dari Sudarma yang sebenarnya.
“Jika Kau memang sudah tak tahan, Kau berpura-pura bekerja saja.”
“Di antara kami ada mata-mata Sudarma, yang menyamar di pihak kita! Artinya, sewaktu Aku tengah berbicara dengan Dimas dirumah sakit. Dia menguping rencananya Dimas,” dalam hati Sakti.
Pak Sudarma menutup telponnya lalu membuka kunci pintu toilet. Kemudian keluar seperti tak ada apa-apa sebelumnya.
Namun Sakti menunggu lima menit, untuk memastikan Pak Sudarma benar-benar sudah menjauh. Kemudian ia turun dari atas closet dan berkata, “Waktunya Beraksi!"