
Tiga minggu kemudian....
Sakti menaruh Roller Skatesnya di Rak sepatu yang khusus disediakan bagi dirinya.
Dan selang beberapa detik, ada seseorang yang datang, dengan menaiki Skateboard.
Orang itu bernama Rendy, Senior di perusahaan game tersebut yang awal jabatannya sama dengan Surya. Rendy menaruh papan Skatenya di sebelah laci Sakti.
“Bagus juga RollerSkatenya,” puji Rendy kepada Sakti yang baru saja menutup lacinya.
“Terimakasih. Padahal RollerSkatesku biasa saja. Justru punya Kau yang lebih bagus,” kata Sakti dan mereka berjalan ka arah yang sama, yaitu kantor Divisi Pengembangan/Programing,
“Hmh... Bagaimana jika kita mengajukan saran kepada pimpinan tim, untuk membuat Game bertemakan RollerSkate and Skateboard?” kata Rendy.
“Entahlah. Aku kurang tertarik sepertinya.”
“Hei,hei,hei. Jangan menghina ideku seperti itu. Ideku ini bagus tahu!”
“Maaf, bukan menyinggung. Tapi, Aku lebih suka game bergenre fantasi.”
“Ya sudahlah. Aku juga bukan tipe orang yang memaksa. Hm.. Bagaimana kapan-kapan kita battle Skate? Sepertinya seru dan menarik.”
“Maaf Senior! Aku hanya menggunakannya sebagai tarnsportasi saja, sekaligus berolahraga. Tapi jika untuk bertanding, Aku tidak Ahli, apalagi dalam hal Akrobatik.”
“Begitu ya. Ya sudahlah.”
Akhirnya mereka telah sampai di lantai lima dan keluar dari lift...
Mereka masuk ke kantor Divisi Pengembangan dan berpisah, di meja kerja masing-masing. Surya yang telah sampai di kantor lebih dulu dan melihat mereka masuk bersamaan, berkata kepada Sakti,
“Hei, apa Rendy baru saja pindah rumah ke komplek mu?”
“Tidak. Kenapa Kau berkata seperti itu?” heran Sakti yang baru saja duduk di meja kerjanya.
“Kau datang bersamaan dengannya.”
“Tidak, Aku sampai kantor lebih dulu sepuluh detik sebelumnya.”
“Oh begitu ya. Lebih baik, Kau sedikit berhati-hati dengannya,” saran Surya.
“Kenapa?”
“Aku pernah bertengkar dengannya, karena Dia selalu membohongiku dengan janji-janji manisnya. Maka dari itu, Aku sudah tak percaya pada Rendy.”
“Bukannya, itu hanya urusan pribadimu dengannya? Kau kan satu pelatihan dengannya sebelum bekerja disini?”
“Iya, benar. Tapi Aku hanya memperingatkanmu saja! Jika Dia sudah mengeluarkan janji manisnya, berhati-hatilah.”
“Baik, terimakasih.”
Satu menit berlalu, bel masuk berbunyi dan bertepatan dengan Pak Dharma membuka pintu.
“Selamat pagi semuanya,” salam Pak Dharma.
“Pagi Pak!”
Pak Dharma berdiri di depan tengah-tengah mereka, seratus orang itu.
“Baiklah, saya mulai dengan presentasi hasil dari game online terbaru kita. Game online yang sudah kita kembangkan, telah selesai seratus persen. Dan, sudah diACC oleh Pak Direktur. Saya juga telah mendiskusikan tanggal perilisannya bersama Pak Direktur dan beberapa petinggi perusahaan.
Tanggal perilisannya jatuh pada tanggal, dua puluh tujuh bulan depan.”
Terlihat seseorang mengacungkan tangannya, ketika Pak Dharma berhenti berbicara.
“Ada apa Sakti?” ucapnya.
“Selanjutnya, kita mengerjakan apa?” tanya Sakti dan serentak membuat orang-orang yang berada disana tertawa.
“Memangnya, ketika Saya bilang seratus persen selesai, sudah pasti selesai semuanya? Bukankah, ketika gamenya dirilis masih ada bug-bug yang terbaru? Bukankah, masih ada perbaikan yang harus dilakukan, untuk mengatasi bug baru pada game yang baru rilis itu?”
“Ya, Aku sudah mengerti.”
“Baguslah, terimakasih banyak.”
Pak Dharma kembali melakukan pekerjaannya, dan mereka yang tertawa juga kembali pada tugasnya.
Pulang bekerja.....
Jam lima tepat menunjukan waktu pulang di perusahaan game itu. Namun, Sakti tak langsung pulang ke istananya dan bertemu dengan seorang Putri, seperti biasanya.
Sakti dengan Rollerskatesnya, berkunjung ke Restoran yang berada tak jauh dari tempatnya bekerja.
“Sudah, terbiasa sekali Aku menggunakan RollerSkate ini dan jarang menggunakan kendaraan umum, ataupun pribadi. Maka dari itu, Aku tak pernah gemuk,” dalam hatinya saat dalam perjalanan.
Sakti menoleh ke arah sebrang saat masih meluncur dengan RollerSkatenya.
“Syukurlah, ternyata aplikasi itu... sudah berjalan dengan baik ya,” ucap Sakti saat melihat Montir memperbaiki mobile, yang memesan jasanya.
Dan, terlihat mengenakan logo aplikasi Bengkel Kemana Saja, pada wearpacknya.
Kemudian sampailah Sakti di restoran tujuannya, lalu memesan sesuatu pada Kasir.
“Tolong, Kopi panasnya satu ya.”
“Baik, akan segera datang,” jawab Kasir itu.
Tak sampai sepuluh menit, pesanannya sudah berada di tangannya Sakti.
Sakti meregangkan tubuhnya serta menikmati hangatnya kopi, dibalik dinginnya hujan yang baru saja turun. Ia dengan sangat santai melakukannya, untuk merilekskan rasa penat yang bersandar padanya.
Lalu, datanglah seseorang yang mengenakan topi dan mengenakan mantel tebal. Lalu ia duduk disebelah persis Sakti yang tengah Rilex.
Saat seseorang bermantel itu telah duduk, ia menoleh ke arah Sakti dan menepuk bahunya, “Sakti!” Sakti menoleh ke arahnya dan mereka berdua saling terkejut.
“Bagas?” reaksi Sakti.
“Ternyata benar, Kau Sakti ya. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tak bertemu.”
“Hehehe, tak kusangka kita bertemu disini. Kabarku baik, bagaimana dengan kabarmu?” tanya Sakti.
“Aku juga baik.”
“Sekarang ini, Kau bekerja dimana?” tanya Bagas.
“Aku bekerja di Perusahaan Game, karena keinginanku sendiri. Kalau Kau, sekarang bekerja dimana? Atau Kau masih kuliah?”
“Aku bekerja di Hubungan Internasional. Tapi Kau tak perlu tau Aku bekerja di bagian apa, karena agak sulit untuk menjelaskannya.”
“Hu-Hubungan Internasional?!” tercengang Sakti.
“Kau kenapa? Sepertinya kaget sekali.”
“Kau benar-benar bekerja di Hubungan Internasional?”
“Iya. Apa kau tak percaya? Atau apa Kau sudah lupa, kalau Aku ini pernah Kuliah di fakultas Hubungan Internasional?”
“Oh iya, Aku teringat. Benar sekali, Kau waktu itu Kuliah di Fakultas Hubungan Internasional. Waktu itu kita pernah bertemu di depan kampusmu, sepertinya.”
“Ya, benar sekali. Omong-omong, kudengar Kau telah berhasil membuat aplikasi ya?” tanya Bagas sebelum menyeruput Kopinya.
“Bukannya semua programer mengembangkan aplikasi? Apalagi untuk tugas akhir kuliah, itu kan hal biasa.”
“Bukan itu maksudku. Yang Kumaksud adalah, Kau berhasil mengembangkan sebuah Aplikasi yang sangat membantu para montir itu, bahkan sudah dibeli patennya.”
“Iya, Kalau itu memang benar. Itu Aku dan dua temanku yang mengembangkannya bersama. Itu juga untuk tugas Akhir kuliah.”
“Begitu ya. Lalu, tujuanmu membuat aplikasi itu apa?”
Srutttt...(Sakti menyeruput Kopinya)
“Kau lihat sendiri kan? Di sepanjang jalan banyak sekali dampak positive dari Aplikasi itu. Banyak sekali orang-orang yang tak perlu meninggalkan mobilnya untuk mencari bengkel.
Padahal, sebelumnya banyak sekali orang-orang yang sangat repot untuk mencari bengkel, apalagi yang letaknya cukup jauh. Maka dari itu, Aku yang mengajukan ideku pada dosen, untuk membuat aplikasi ini bersama timku.”
“Wah, hebat sekali! Apalagi tujuanmu itu sangat mulia.”
“Lalu uangnya Kau apakan?” lanjut Bagas.
“Sudah pasti Kubagi tiga dengan timku. Lalu masing-masing dari kami mendonasikannya, sesuai hati masing-masing. Kalau Aku, sekitar delapan puluh persen, Ku donasikan. Sisanya untuk keperluanku dan investasi.”
“Kau, hebat juga ya.”
“Kalau Kau, bagaimana?” (Duarr..suara gledek)
“Aku? Aku tak pernah mengembangkan aplikasi apapun,” kata Bagas sambil menggaruk pipi sebelah kanannya.
“Aku tak bertanya soal Aplikasi. Tapi, alasanmu dan tujuanmu menjadi seorang yang bekerja di Hubungan Internasional, apa?”
“Tujuanku... Tujuanku adalah mempererat dan menjaga perdamaian Dunia, melalui pekerjaan ini. Kami bisa saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Jika, selalu ada ikatan seperti itu, sama saja mempererat hubungan antar negara.”
“Woah... Justru Kau yang lebih hebat dariku, Bagas!” terkagum Sakti.
“Ah... Aku hanya melakukan bagian terkecil saja. Selebihnya, kuserahkan pada Tuhan, semoga selalu ada perdamaian seperti sekarang ini.”
Bagas melihat ke arah orang-orang yang tengah makan dengan damai.
“Iya, Aku setuju denganmu. Mungkin saja, Kau dapat dibilang, pemegang Light System.”
Bagas menoleh kembali kepada wajah Sakti, “Apa maksudmu?”
“Bagian kecil yang Kau lakukan itu, salah satu contoh dari Light System. Yang dimana membuat suasana atau tempat menjadi merasakan dampak yang baik.
Sederhananya Sistem Keamanan, ataupun Perdamaian.”
“Begitu ya, tapi tetap saja Aku tak mengerti maksudmu.” Bagas mengusap-usap hidungnya.
“Ya sudahlah, memang sulit dimengerti oleh orang awam. Oh iya, setelah masa Sma kita berpisah, kita akan kembali berpisah disini.”
“Apa lagi maksudmu?”
“Kopiku sudah habis. Jadi... Aku ingin pulang, hehehe.”
“Hei, hei, hei. Jangan pulang dulu dong. Kita kan baru bertemu,” kata Bagas dan tiba-tiba satu restoran itu terhening dengan tatapan mata ke arah yang sama.
Dan mereka juga mendengar suara bising dari luar, suara dari sirine Ambulan dan Mobil Pemadam Kebakaran, sedang melintasi jalan yang berada persis di depan Restoran itu.
“Apa itu? Ada kebakaran Dimana?”
“Semoga saja, Jauh dari sini dan tempat tinggal kita...”
**Bersambung...
Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya** :)