Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
The Real of Light System



Setelah menarik nafas lega, mereka berkumpul di depan gedung itu. Terlihat juga, Sakti yang tengah diobati Ivana dan Mentari yang tengah minum.


“Untunglah, Kalian semua selamat,” kata Bagas.


“Iya terima kasih, dan terimakasih juga untuk ini,” kata Sakti yang baru selesai diobati oleh Ivana.


“Wah, kalian semua hebat sekali. Aku tidak menyangka ada kejadian seperti ini,” kata Direktur.


“Si Serigala itu, mau Kau apakan?” tanya Sakti sambil menoleh ke mobil milik Bagas, yang di dalamnya terdapat Sudarma sedang pingsan.


“Akan Kami bawa ke markas, karena Dia buronan yang kami cari. Ya, anggap saja kami bagian dari polisi.”


“Tapi, sebelum Kau melompat untuk menghadapi Robot itu. Kau bilang padaku Hubungan Internasional. Apa maksudnya?” tanya Sakti.


“Benar juga. Ditambah lagi senjata-senjata aneh itu, jangan-jangan Kau-“ 


“Mata-mata. Kami agen mata-mata yang ditugaskan oleh markas rahasia kami,” sahut Ivana yang menyela ucapan Mentari.


Mereka bertiga terkejut, sekaligus tak menyangka bisa bertemu dengan mata-mata, apalagi dua orang itu adalah kenalan Sakti sejak lama.


 “Apa Kau bisa menjaga rahasia ini?” pertanyaan Bagas yang ditujukan pada Sakti.


“Apa Aku pernah membeberkanmu tentang kejadian itu, sewaktu SMA? Apa kau masih tak percaya?” ucap Sakti yang mengungkit masa lalu mereka.


“Iya, Aku percaya. Kalau yang berada di sampingmu bagaimana?”


Sakti mengangguk, “Dia sangat bisa menjaga rahasia. Aku sudah mengenalnya dekat. Apa selama Sma Aku pernah berbohong padamu? Jikalau masih ragu, Aku bisa mengawasinya.”


 “Baiklah, kalau Direk-“


Kalimat Bagas terpotong oleh karena Pak Direktur yang tiba-tiba heboh sendiri, setelah beberapa menit terdiam.


“WAA... Mata-Mata! Apakah Aku mimpi?” ucap Direkur sambil menampar-nampar pipinya, “Keren sekali! Aku bisa bertemu dengan kalian... Aku pasti bisa terkenal jika berfoto dengan kalian berdua.”


Bagas dan Ivana saling bertatapan satu sama lain, usai melihat tingkah laku Pak Direktur tersebut.


 “Baiklah,” jawab Bagas sebelum memakai sebuah topeng. Kemudian Ivana memberi topeng yang sama kepada Sakti dan Mentari.


“Untuk apa ini?” tanya Sakti sambil menerima topengnya.


“Sudah pakai saja.” 


Mereka berempat memakai topeng itu kecuali Pak Direktur, “Kenapa Saya tidak ada?” heran Pak Direktur.


“Yang ingin meminta foto kan Bapak, jadi kami saja yang memakai topeng. Karena, kami berempat tidak pernah pede saat foto ataupun selfie,” jawab Bagas.


“Oh begitu ya. Baiklah,” setuju Pak Direktur. Dan Ivana telah bersiap dengan camera yang ia keluarkan, dari dalam tasnya.


 “Satu, dua tiga, Cisss...” mereka berfoto selfie dengan camera itu, dan mucul kilauan cahaya ketika sedang memotret.


Kamera yang dipegang Ivana tersebut, bukanlah kamera biasa apalagi sembarangan. Saat menekan tombol potret, akan mengeluarkan cahaya yang dapat membuat orang yang difoto hilang ingatan, bagi orang yang tak memakai topeng khusus tersebut.


 Jangka waktu hilang ingatannya tak sampai lupa diri, karena dapat disetting sesuai keinginan penggunanya. Mulai dari dua puluh jam sebelumnya tak ingat kejadian apapun, bahkan satu tahun sebelumnya tak ingat kejadian apapun.


Ivana hanya menyetingnya sebelum kedatangan mereka berdua, yakni sebelum kedatangan Bagas dan Ivana termasuk Mentari.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” kata Direktur setelah mereka berfoto selfie.


“Kemana Sudarma? Dan bukannya Kau tadi terpental dan tak bisa bangun?”


“Semuanya sudah beres, jadi Bapak tenang saja dan tak usah memikirkannya lagi. Mereka adalah polisi yang sudah menangani kejadian ini dan menyelamatkan kita. Lalu Saya dan Mentari adalah pegawai Bapak.”


 “Benar, kami sudah menanganinya dengan baik. Jadi Bapak pulang saja ya.”


Dengan wajah yang masih terheran-heran, Pak Direktur pun pergi meninggalkan mereka.


Kemudian naik dan mengemudikan mobil yang tadi ia gunakan saat bersama Sudarma,


“Tiba-tiba saja, Aku sudah berada di luar bangunan kosong itu. Apa yang sebenarnya terjadi?” kata Direktur dalam mobilnya.


Tak berselang lama, setelah Pak Direktur pergi dari hadapan mereka. Terdengar bunyi pesan masuk, dari ponsel milik Mentari.


“Ha?” kaget Mentari sewaktu membuka pesannya.


Serentak, mereka menoleh ke arahnya yang terlihat terkejut, “Ada apa?” tanya Sakti.


“ID Card yang dari Sudarma itu?” sahut Sakti.


“Iya, ini pesan dari Surya. Katanya, harus segera dimusnahkan. Dan mereka telah memusnahkan semua Id Cardnya, kecuali Aku dan Ivana,” jawabnya.


 “Berikan ID Card mu!” ucap Ivana kepada Mentari sambil menjulurkan tangannya.


Mentari mengeluarkannya dan memberikannya kepada Ivana.


Kemudian, Ivana mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya, termasuk ID Card miliknya. Terlihat, ia sedang memindai dua ID Card yang tersisa itu.


“Kenapa benda itu berbahaya? Apa Surya tidak mengatakan alasannya?” tanya Sakti kepada Mentari.


“Tidak, dia hanya mengatakan ID Card ini berbahaya dan harus segera dimusnahkan. Yang tersisa sekarang hanya milikku dan Ivana, dan Surya akan menjelaskannya nanti,” jawab Mentari, sesuai dengan yang dibacanya.


 “Ada sebuah Chip, di dalam ID Card ini!” sahut Ivana usai memindai kedua Card tersebut. Kemudian Ivana mengambil senjata bola listrik Bagas, dan dengan sigap menghancurkan ID Card milik Mentari, di hadapan mereka berempat.


Terlihat, tak ada sisa sedikit pun setelah ID Card Mentari dimusnahkan, oleh senjata aneh itu. “Kenapa hanya punyaku? Bukannya ID Card itu berbahaya?” tanya Mentari.


“Iya, memang benar ini sangat membahayakan. Karena, Chip ini dapat mengirim sinyal kepada pusatnya, untuk memberitahu lokasi seseorang. Kemudian, pusat akan mengirimkan Drone sesuai sinyal dari Chip itu,” terang Bagas.


“Bagaimana Kau bisa tahu?” tanya Sakti.


“Karena, benda ini adalah alat pengintai yang hanya dipakai oleh mata-mata.”


“Pantas saja, dia bisa merekam kediaman keluarga kami semua. Liciknya tidak bisa diragukan.”


“Maka dari itu, Kami hanya memusnahkan punya Mentari saja. Karena satu ID Card milik Ivana, sudah cukup bagi kami. Untuk melacak dan menemukan pihak-pihak yang terkait.”


“Sebenarnya, kalian melakukan misi apa? Kenapa sampai membawa Sudarma?”


“Kau ini bicara apa Sakti, apa Kau ingin membela Sudarma?” ucap Mentari yang merasa jengkel terhadap Sakti.


“Bukan itu maksudku. Tapi, Aku hanya menanyakan misi yang sebenarnya kalian lakukan. Karena, tadi Kau bilang akan melacak pihak yang lainnya. Artinya, Kau menangkap Sudarma karena, ia berhubungan dengan orang yang sedang kalian cari kan?”


“Apa maskudmu, Sakti? Aku masih tak paham?” ucap Mentari yang heran dengan perkataan Sakti.


“Karena, barang-barang yang Sudarma pakai itu, illegal semua. Sudarma pasti bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai benda-benda itu, karena tidak mudah didapatkan. Dan orang yang berkaitan dengan ini, yang kalian cari sebenarnya kan? Maka dari itu, kalian membawa Sudarma dan Chip itu?” terang Sakti.


“Wah, ada benarnya juga. Aku baru menyadarinya.”


“Ya, Kau benar sekali Sakti. Namun sebelumnya, bagaimana kalian bisa terlibat dengan hal ini?” tanya Bagas.


“Aku berencana untuk melawan Dark System yang dibuat oleh Serigala itu. Aku bekerja sama dengan pimpinan tim, yang menjadi korban resign paksa, yaitu Pak Dharma. Dia yang menyiapkan alat-alat canggih, untuk mengendap-endap ke ruangan Sudarma, agar dapat mengambil bukti-bukti palsunya. Sebagai senjata untuk membebaskan kami. Namun, Aku tak menyangka bisa terlibat sampai sini. Itu karena, Aku mendapat kabar bahwa Direktur sedang dibawa ke Gedung Kosong ini oleh Sudarma. Dan Aku juga akhirnya mengetahui rencana sebenarnya dari Sudarma, yaitu membajak Perusahaan Game kami, lalu menjualnya.”


“Jadi karena itu, Kau tadi mengatakan Sudarma bekerja sama dengan mereka. Hanya untuk mendapatkan senjata aneh, agar bisa menipu dan mengancam kita semua?” jelas Mentari usai mendengarkan detail dari Sakti.


“Iya, Kau pintar sekali. Lalu, bagaimana Kau bisa sampai sini?” tanya Sakti.


“Aku, hanya mengikuti Ivana yang tiba-tiba mencurigakan gerak-geriknya. Tak menyangka, Aku telah mengikutinya sampai sini, dan Aku melihatmu tak berdaya. Maka dari itu, sewaktu Aku membantumu tadi. Aku meminta penjelasan setelah masalah ini selesai,” terang Mentari.


“Oh, jadi seperti itu cerita lengkapnya.” Bagas tersenyum, “Sepertinya, kalian cocok dengan Light of System”


Sontak mereka heran dan terkejut, “Apa? Apa maksudmu?” tanya Mentari.


“Dan, apa maksudnya dengan Light System? Bukannya Kau yang tak mengerti waktu itu?” tanya Sakti, yang sama herannya dengan Mentari.


Bagas terkekeh, “Sebenarnya, Light System yang pernah Kau katakan itu, Aku sudah tahu lebih dulu dan lebih detail. Alias bukan hanya itu yang sebenarnya.”


“Jelaskan lebih rinci lagi?”


“Light System dan Dark System yang Kau katakan itu, hanyalah kata pengantar. Aku pura-pura tidak tahu, karena Aku tak ingin terbongkar tentang Light Sytem yang sebenarnya.”


“Light System? Sebenarnya? Apa Kau mengetahui lebih, mengenai Light System yang Aku katakan itu.”


“Tepat sekali. Light System yang sebenarnya adalah organisasi mata-mata rahasia di seluruh Dunia. Maka dari itu, Aku selalu bilang padamu hubungan internasional.”


“Jangan-jangan, yang Kau maksud tadi, Kau mengajak kami untuk bergabung menjadi anggota mata-mata?” ucap Mentari yang terkejut dengan keadaan tersebut.


“Iya, tepat sekali,” sahut Ivana. “Apa kalian ingin bergabung dengan Light System?” tanya Ivana.


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya :)