Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Babak kedua



“Cepat, kalian bawa Dia ke Ruang Pengobatan! Dan bantu tahan pendarahannya,” teriak Aryo.


Dengan cepat, empat orang termasuk Gondrong dan Pesek, membawa Si Botak yang terjatuh di dekat rak buku. Lalu salah satu dari mereka membantu menahan pendarahannya, memakai jaketnya.


Mereka berempat dengan cepat, membawa keluar Si botak agar segera ditangani.


Kembali ke posisi Sakti yang sedang bertarung denga Robot Raksasa itu.


Sakti mengambil jarak yang cukup jauh dari kedua tangan Robot itu,


“Mungkin dengan tegangan tinggi, Robot Raksasa itu akan rusak ataupun error. Baiklah!” ucap Sakti setelah menyeting tegangan tinggi pada Taser Gunnya.


Kemudian Sakti memasang ancang-ancang siap membidik, sebelum melepaskan tembakan dari Taser Gunnya. Dan ia menunggu wajah Robot itu berputar ke arahnya,


“Voltage Arrow!”


Terdengar suara bidikan dari Taser Gun itu, setelah mendapatkan titik bidik yang dimaksud.


Reaksi Robot itu, saat terkena serangan listrik bertegangan tinggi pada bagian wajahnya. Membuat gerakan dari Robot tersebut terbata-bata. Sampai pada akhirnya, berhenti total dan tak menyala, seperti baterai ponsel Lowbat.


“Bingo! Tepat sasaran,” ucap Sakti, setelah berhasil membidik tepat sasaran.


Pak Direktur yang masih didesak oleh Sudarma, sejak tadi tak berkutik. Karena menonton pertarungan Sakti dengan Robot itu. Padahal, ia sampai ditampar berkali-kali oleh Sudarma.


“Hei, dari tadi Kau tidak mendengarkanku ya? Sudah Ku bilang, tanda tangan ini maka pertarungan akan cepat berakhir! Atau, Kau mau Aku setrum lagi?”


“Ha! Tak perlu tanda tangan, pertandingannya sudah berakhir!" Direktur menghela nafas, "Pegawaiku, Kau akan Kuangkat menjadi asistenku!” teriaknya.


Sudarma menoleh ke bawah, “Sepertinya Kau percaya diri sekali. Baiklah, karena Kau sangat asik sekali menonton. Mari kita nobar babak kedua.”


“Apa? Babak kedua?”


“Iya. Mari kita lihat siapa yang akan menjadi juara di pertunjukan ini.”


Baru saja Sakti menghela nafas lega, tiba-tiba Robot itu kembali berkutik, dengan mengerakkan tangannya kembali dan wajahnya kembali menyala.


 “APA!” teriak Sakti dan Direktur.


* * *


Surya terdiam bersama empat orang yang tersisa, termasuk Aryo yang masih berada di sampingnya. Mereka berdua terdiam untuk memikirkan strategi, dan tiga orang lagi berada di belakang mereka, dengan siaga.


“Beruntung, Aku hanya menggoresnya sedikit saja, tapi tetap saja ini bahaya. Kerena, sekali tergores cukup membuat daging kalian menjadi robek!” ucap Rendy yang diterangi dari Kilauan senjatanya.


Mereka bergemetar, setelah mengetahui tentang bahaya dari senjata yang dipegang Rendy tersebut.


“Kenapa? Kenapa kalian tidak berkutik sama sekali? Aku suka sekali dengan tatapan kalian,” kata Rendy sambil tersenyum, dengan Light Sword di genggamannya.


Namun disisi lain, telah terlintas ide cermelang oleh Aryo yang sejak tadi berpikir. Ia perlahan-lahan mundur, menghampiri salah seorang, yang bersiaga di belakangnya.


Terlihat, ia menempelkan mulutnya pada telinga orang itu, dan membisikan sesuatu.


Orang itu kemudian, berlari keluar setelah mendengar ucapan Aryo.


“Ha! Apa kalian meminta bantuan? Tetap saja Aku tidak akan takut, karena Aku tak segan melukai siapapun! Termasuk Kau Surya, teman seperjuanganku.”


“Surya, coba Kau lihat ke atas,” bisik Aryo kepada Surya.


“Iya, Aku mengerti,” jawab Surya.


Lalu seseorang yang tadi berlari keluar, kembali dengan membawa sapu di tangannya.


“Hah! Kenapa hanya membawa sapu? Ku kira, senjata yang bisa menandingi Light Swordku ini,” ledek Rendy.


Aryo mengambil sapu itu dari genggaman orang, yang disuruhnya tadi. Kemudian, Surya merobek selembar kertas, yang berasal dari rak buku di sebelahnya.


Lalu keluarlah Api, setelah Surya menyalakan korek pada selembar kertas tersebut, dan membuat mereka semua terheran-heran, kecuali Aryo dan Surya.


“Hei, Kau hendak melakukan apa? Di sini bukan tempat untuk bakar-bakar! Apa Kau ingin membakar tempat i-“


Belum selesai Rendy berbicara, terdengar bunyi darurat dari pendeteksi kebakaran, yang berada di ruangan Sudarma. Bukan hanya itu, seketika keluar air yang berjatuhan dari atas kepala mereka.


“Apa ini? Hujan-hujanan?”


Kemudian, terjadi sesuatu pada Light Sword yang digengam Rendy, terlihat seperti mengalami konsleting. Karena cahaya dari pedang itu, berasal dari listrik yang terbentuk oleh sebuah konduktor tipis.


“Menunduk!” ucap Aryo yang berada di belakang Surya.


“Lagi-lagi wajah ya,” ucap Rendy saat melihat itu.


Namun Rendy, dengan santai hendak menangkisnya saja, karena sudah pasti gagang sapu itu akan patah.


“Ayo, majulah,” tantang Rendy, saat melihat Aryo hendak memukulnya.


Lalu, sebelum mengenai pedang yang hendak menangkisnya. Aryo dengan cepat mengubah serangannya, ke pergelangan tangan Rendy dengan sabetan kencang.


Alhasil, senjata berbahaya itu terlepas dari tangan Rendy, oleh karena sabetan Aryo yang cukup sakit. Aryo dengan cepat mengambil senjata yang terpental dari tangan penggunanya.


“Aaaaau!” teriak Rendy, yang mengalami kesakitan pada pergelangan tangannya.


“Tak akan Ku biarkan,” kata Rendy yang ingin menghalangi Aryo.


Namun, belum sempat melakukan aksinya, seketika Rendy terjatuh ke lantai. Sebab, Surya mensleding kaki Rendy, ketika menunduk tadi.


“Kena!” kata Surya saat mensleding.


Dengan lincah, Surya mengunci pegerakan Rendy yang sudah terkapar di lantai, dan tiga orang itu tak tinggal diam. Mereka dengan cepat membantu Surya, menahan Rendy sampai tak bisa bergerak.


“Sekarang Kau tak bisa bergerak!” kata Surya, bersama tiga orang yang membantunya.


Aryo pun berhasil mengambil senjata itu dan mengamankannya. “Kerja Bagus!” kata Aryo yang hampir basah kuyup karena, air yang masih berjatuhan.


“Hentikan ini, lepaskan Aku!” rengek Rendy.


“Diam! Kau harus membayar dosamu, karena telah melukai orang, lain” kecam Aryo dengan tatapan tajam.


“Aku lebih mudah menjatuhkannya, karena dari bantuan air yang bercucuran tadi. Sehingga, membuat lantainya menjadi licin. Sepertinya, Aku harus berterima kasih kepada pemasang alarm kebakaran.”


“Jadi, Kau memanfaatkan lantai yang licin karena basah itu, agar lawan mudah terjatuh ya, Senior? Kau memang hebat,” puji salah seorang.


“Sekarang, kita bawa Dia ke tempat yang aman dan tunggu Pak Direktur kembali. Bila perlu, panggil polisi!” ucap Surya yang telah mengikat Rendy dengan jaketnya.


“Baik!”


“Sekarang tinggal Kau Sakti!,” dalam hati Surya.


Di sisi lain, dalam kantor tersebut yang masih sibuk bekerja, sebelum Surya berhasil menangkap Rendy.


Mentari, mencurigai seseorang yang berada di dalam kantor, saat bekerja.


“Ivana mau kemana ya?” kata Mentari, saat melihat Ivana terburu-buru keluar, setelah mendapat telpon dari seseorang.


Akhirnya, Mentari memustuskan untuk mengikutinya diam-diam, sampai tiba di lobby. Mentari semakin penasaran, dengan apa yang ingin dilakukan Ivana.


Terlihat, Ivana berjalan ke tempat parkir, kemudian mengambil kendaraan pribadinya. Tak ingin tertinggal, Mentari juga mengambil motornya, untuk mengikuti Ivana keluar.


Ivana berhasil keluar dari pertanyaan Satpam, kemudian satpam itu membuka portalnya. Mentari yang tak lama datang setelahnya, dihadang oleh Satpam tersebut.


“Kamu mau kemana?” tanya salah seorang dari satpam itu.


“Saya mau keluar!” tegas Mentari.


“Apa sudah ada surat izinnya?”


“Justru saya tidak punya waktu untuk membuat surat izin. Karena cewek yang tadi, memakai surat izin palsu! Saya ingin mengejarnya, minggir!”


“Ha? Yang benarkah?”


“Apa wajah Saya terlihat bercanda?” kata Mentari dengan tatapan tajam, sambil menggas-gas motor gede, seratus lima puluh ccnya.


“I-Iya-iya.” Satpam itu langsung membuka portalnya, dan Mentari dengan cepat menancapkan gasnya.


“Untung saja masih terkejar,” kata Mentari, setelah melihat Ivana di depannya.


Sewaktu Mentari berhasil mengikuti Ivana keluar dari perusahan, barulah disaat itu, Surya telah mengalahkan Rendy.


Kembali pada posisi Sakti yang dikejutkan dua kali, oleh Robot raksasa itu.


“Apa? Kok bisa bangun lagi?” terheran-heran Sakti.


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya:)